Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Timur

Warung Kopi Ini Baru Buka Tengah Malam… Dan Alasan di Baliknya Bikin Merinding

9
×

Warung Kopi Ini Baru Buka Tengah Malam… Dan Alasan di Baliknya Bikin Merinding

Share this article

Warung Kopi Ini Baru Buka Tengah Malam… Dan Alasan di Baliknya Bikin Merinding

Jalan Sunyi Menuju Rowo Bayu: Labirin Ketakutan yang Abadi

Arifin, seorang penulis dan peneliti urban legend, selalu terobsesi dengan Rowo Bayu. Desas-desus kelam tentang tempat itu bagai melodi seram yang memanggilnya. Kisah-kisah hilangnya orang, penampakan bayangan, semua memicu rasa penasarannya. Ia harus menelusuri ‘Jalan Sunyi’ yang legendaris itu.

Penduduk desa di kaki bukit menatapnya dengan pandangan campur aduk. Ada iba, ada ketakutan, dan yang paling jelas: peringatan tak terucap. “Jangan pernah lewat sana, Nak,” bisik seorang nenek tua, jemarinya keriput menunjuk ke arah hutan gelap di kejauhan.

Arifin hanya tersenyum tipis, mencoba menenangkan hati. Peta lusuh dan kompas di tangan adalah satu-satunya teman. Ia melangkah, meninggalkan peradaban, menuju jantung misteri yang konon tak pernah melepaskan mangsanya.

Jalan setapak itu langsung menelan Arifin. Pepohonan menjulang tinggi, kanopinya begitu rapat hingga cahaya matahari pun enggan menembus. Udara seketika berubah dingin, lembap, dan sarat bau tanah basah serta dedaunan busuk.

Keheningan adalah hal pertama yang menyergap. Bukan hening yang damai, melainkan keheningan memekakkan telinga. Seolah semua suara alam – desiran angin, kicau burung – telah dihisap oleh suatu kekuatan tak kasat mata.

Langkah kakinya sendiri terdengar begitu keras, memantul di antara batang-batang pohon raksasa. Arifin merasa seperti satu-satunya makhluk hidup di sana, sebuah titik kecil di tengah lautan kegelapan yang tak berujung.

Pukul menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun hutan terasa seperti senja. Bayang-bayang menari-nari, membentuk ilusi menyeramkan. Ia terus berjalan, mencoba mengabaikan bisikan halus yang seolah memanggil namanya dari balik semak.

Apakah itu hanya imajinasinya? Rasa lelah mulai merayap, dan paranoia adalah kawan setia di tempat seperti ini. Ia mengencangkan genggaman pada ransel, memeriksa lagi peta, memastikan tidak salah arah.

Namun, peta itu seolah tak berguna. Garis-garisnya kabur, penanda-penanda alam yang seharusnya jelas malah tampak asing. Pohon-pohon terlihat sama, bukit-bukit tak memiliki ciri khas. Ia merasa seperti berjalan dalam lingkaran.

Tiba-tiba, ia melihatnya. Sebuah tiang kayu kuno, nyaris roboh, dengan ukiran yang samar. Bukan ukiran biasa, melainkan simbol-simbol aneh yang belum pernah ia lihat dalam buku-buku etnografi manapun.

Simbol itu terasa dingin, seolah memancarkan energi purba yang menakutkan. Arifin mengulurkan tangan, ingin menyentuhnya, namun instingnya berteriak untuk menjauh. Ada sesuatu yang sangat, sangat salah di sini.

Ia melanjutkan perjalanan, langkahnya kini lebih cepat, lebih terburu-buru. Keheningan itu pecah oleh suara gemerisik, bukan dari kakinya, melainkan dari belakang. Seolah ada sesuatu yang mengikutinya, merangkak di antara dedaunan kering.

Arifin menoleh cepat, namun tak ada apa-apa. Hanya pepohonan, bayangan, dan kehampaan. Jantungnya berdebar kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya. Ia tahu, ia tidak sendirian di hutan ini.

Bau amis samar mulai tercium, bercampur dengan aroma tanah. Bau yang menusuk hidung, mengingatkan pada darah atau bangkai yang membusuk. Ia mencoba mengabaikannya, namun aroma itu semakin kuat setiap langkah.

Lalu, ia melihatnya lagi. Bukan tiang ukiran, melainkan gundukan tanah aneh. Seperti kuburan tanpa nisan, tersebar tak beraturan di sepanjang jalan. Apakah ini makam kuno? Atau sesuatu yang lain?

Rasa dingin merayap dari punggungnya hingga ke ubun-ubun. Ia merasakan hembusan napas dingin di tengkuknya, meski tak ada angin. Rambutnya meremang, naluri bertahan hidupnya menjerit histeris.

“Siapa di sana?” suaranya bergetar, lebih seperti bisikan ketakutan. Tak ada jawaban, hanya keheningan yang semakin pekat. Namun, ia tahu, sesuatu itu masih ada di sana, sangat dekat.

Ia mempercepat langkah, nyaris berlari. Semak-semak lebat menggores kulitnya, ranting-ranting mencambuk wajahnya. Ia tak peduli, yang ia inginkan hanyalah keluar dari labirin kehampaan ini.

Tiba-tiba, sebuah suara lirih terdengar. Mirip tangisan, namun terdistorsi, seolah berasal dari kedalaman bumi. Itu adalah suara kesedihan yang tak terhingga, rasa sakit yang abadi.

Arifin berhenti, napasnya terengah-engah. Suara itu begitu pilu, menusuk relung jiwanya. Apakah ini arwah-arwah yang diceritakan legenda? Korban-korban Rowo Bayu yang terjebak di Jalan Sunyi?

Ia melihat kabut mulai turun, sangat tebal, membungkus hutan dalam selimut putih keabu-abuan. Visibilitas menurun drastis, hanya beberapa meter di depannya. Ia merasa terisolasi sepenuhnya.

Lalu, ia melihatnya di tengah kabut. Siluet tipis, buram, namun jelas berbentuk manusia. Berdiri diam, memunggunginya, seolah menunggunya. Arifin merasa seluruh darahnya mengering.

Ia tak bisa bergerak, kakinya seolah terpaku di tanah. Jantungnya berdetak kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinga. Siluet itu tidak bergerak, namun kehadirannya begitu mencekam.

Ia memaksa dirinya untuk berkedip, dan saat matanya terbuka lagi, siluet itu telah hilang. Kabut masih ada, namun kekosongan di depannya terasa lebih menakutkan daripada bayangan tadi.

Arifin berlari, kini benar-benar berlari, tanpa arah. Ia mengabaikan kompas, mengabaikan peta. Yang penting adalah lari, lari sejauh mungkin dari tempat terkutuk ini.

Kaki-kakinya terasa seperti timah, paru-parunya terbakar. Ia tersandung akar pohon, jatuh tersungkur, namun segera bangkit lagi. Ia harus mencapai Rowo Bayu, sumber dari semua misteri ini.

Ia melihat pantulan cahaya samar di depan. Bukan cahaya matahari, melainkan pantulan dari permukaan air. Rowo Bayu. Ia telah tiba.

Danau itu terhampar di depannya, gelap, tenang, dan menyeramkan. Permukaannya seperti cermin hitam yang tak memantulkan apapun kecuali kegelapan itu sendiri. Kabut masih melayang rendah di atasnya.

Di tengah danau, Arifin melihat sebuah pusaran kecil. Bukan pusaran air, melainkan pusaran energi. Dari sana, ia merasakan gelombang kesedihan yang tak terhingga, keputusasaan yang merasuk tulang.

Ia merasa terhisap, ditarik oleh kekuatan tak terlihat menuju tepi danau. Sebuah bisikan kini terdengar lebih jelas, ribuan suara menangis, meratap, berteriak dalam satu paduan suara pilu.

Itu adalah suara dari masa lalu, dari tragedi yang tak terhitung. Jiwa-jiwa yang terperangkap, meronta, mencari kebebasan yang tak pernah datang. Rowo Bayu bukan hanya danau, melainkan kuburan massal bagi arwah-arwah yang gelisah.

Arifin melihat bayangan-bayangan muncul dari dalam danau. Mereka melayang di atas permukaan air, membentuk formasi, seperti sedang menari dalam kesedihan. Wajah-wajah mereka buram, namun penderitaan mereka sangat nyata.

Salah satu bayangan melayang mendekat, menembus kabut. Arifin bisa merasakan hawa dingin yang menusuk. Wajahnya mulai terbentuk, mata cekung, ekspresi penuh kesedihan dan penyesalan yang abadi.

Bayangan itu mengulurkan tangan transparan ke arahnya, seolah memohon, atau mungkin mencoba menariknya ke dalam. Arifin mundur selangkah, namun kakinya terasa lemas, tubuhnya membeku.

Suara-suara tangisan itu semakin keras, memenuhi kepalanya. Ia merasa jiwanya ditarik, energinya terkuras. Ia akan menjadi bagian dari mereka, terperangkap selamanya di danau kegelapan ini.

Namun, sesuatu dalam dirinya menolak. Naluri bertahan hidup yang paling purba. Ia mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, berteriak sekuat tenaga, memutus koneksi tak terlihat itu.

Ia berbalik, tak peduli lagi dengan apa yang ada di Rowo Bayu. Ia hanya ingin pergi, menjauh dari semua kengerian ini. Jalan Sunyi yang tadi terasa panjang, kini terasa lebih panjang lagi.

Langkah-langkahnya tak beraturan, ia berlari tanpa henti, melewati pepohonan yang kini terasa seperti tangan-tangan mencekik. Bisikan-bisikan mengikuti, tawa-tawa sinis mengiringi.

Ia merasa dikejar. Bukan oleh satu, melainkan ratusan bayangan. Hutan itu sendiri seolah hidup, mencoba menahannya, menariknya kembali ke dalam kegelapan abadi Rowo Bayu.

Ia tersandung, jatuh lagi, wajahnya menghantam tanah. Namun, ia tidak menyerah. Ia merangkak, bangkit lagi, dan terus berlari. Ada cahaya samar di kejauhan, harapan terakhirnya.

Akhirnya, ia keluar. Terhuyung-huyung, ia muncul dari batas hutan, ke jalan raya yang ramai. Cahaya matahari terasa begitu menyengat, suara kendaraan begitu bising, namun semuanya terasa seperti surga.

Penduduk desa yang melihatnya hanya menatap dengan mata kosong. Wajah Arifin pucat pasi, rambutnya kusut, pakaiannya compang-camping, dan matanya memancarkan ketakutan yang mendalam.

Ia tidak bisa berbicara, hanya terengah-engah, mencoba mengambil napas sebanyak mungkin. Paru-parunya terasa sesak, seolah ia baru saja melarikan diri dari dasar laut.

Arifin selamat, namun ia tak pernah sama lagi. Jalan Sunyi itu telah mengukir jejak di jiwanya. Bisikan-bisikan Rowo Bayu masih terngiang, bayangan-bayangan masih menari di sudut matanya.

Ia menulis kisahnya, bukan untuk ketenaran, melainkan sebagai peringatan. Sebuah pengakuan akan kegelapan yang bersembunyi di balik keheningan, menunggu mangsa berikutnya.

Jalan Sunyi menuju Rowo Bayu bukan hanya sebuah jalur, melainkan sebuah pintu. Pintu menuju alam lain, tempat masa lalu tak pernah mati, dan ketakutan abadi bersemayam.

Dan Rowo Bayu? Ia tetap di sana, gelap, tenang, dan penuh misteri. Sebuah danau yang berdenyut dengan kesedihan purba, menanti kedatangan jiwa-jiwa penasaran berikutnya yang berani menapaki Jalan Sunyi.

Jalan Sunyi Menuju Rowo Bayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *