Scroll untuk baca artikel
Kisah Viral Misteri

Viral! Jalan Tikus di Pinggir Desa Ini Dianggap Gerbang ke Dunia Lain

10
×

Viral! Jalan Tikus di Pinggir Desa Ini Dianggap Gerbang ke Dunia Lain

Share this article

Viral! Jalan Tikus di Pinggir Desa Ini Dianggap Gerbang ke Dunia Lain

Jalan Tikus Menuju Dunia Lain

Arya bukan sekadar penjelajah urban biasa. Ia adalah seorang fotografer amatir yang terobsesi dengan sudut-sudut kota yang terlupakan, tempat-tempat di mana waktu seolah berhenti dan rahasia berbisik dari balik tembok kusam. Koleksinya penuh dengan potret bangunan-bangunan terbengkalai dan lorong-lorong gelap.

Suatu sore yang lembap, di sebuah toko barang antik yang nyaris tak terlihat, ia menemukan sebuah peta tua. Kertasnya menguning, rapuh di setiap lipatan, dan sebagian besar tulisannya sudah pudar termakan usia. Namun, satu bagian menarik perhatiannya: sketsa samar sebuah “jalan tikus” yang tidak masuk akal.

Jalan itu digambarkan membentang di bawah kota, menembus lapisan-lapisan tanah yang seharusnya padat. Simbol-simbol aneh mengelilinginya, menyerupai rune kuno atau coretan gila. Arya merasakan tarikan aneh, campuran rasa ingin tahu dan ketakutan yang dingin.

Peta itu menunjuk ke sebuah lokasi di pinggiran kota yang jarang terjamah. Sebuah lorong sempit, tersembunyi di balik bangunan tua yang terlupakan, diselimuti tanaman merambat dan lumut tebal. Udara di sana terasa lebih dingin, seolah tempat itu tidak pernah tersentuh sinar matahari.

Dengan hati-hati, Arya melangkah masuk. Kegelapan langsung menelannya. Ia menyalakan senter, sinarnya menari-nari di dinding bata yang lembap dan berlumut. Bau apek tanah basah dan sesuatu yang tak bisa ia definisikan menusuk hidungnya.

Lorong itu semakin menyempit, memaksanya membungkuk. Dinding-dindingnya terasa dingin dan licin di bawah sentuhannya. Ia bisa mendengar tetesan air jatuh di kejauhan, menciptakan simfoni monoton yang justru menambah ketegangan.

Beberapa meter ke dalam, ia menemukan sebuah pintu besi tua, berkarat parah dan nyaris menyatu dengan dinding. Pintu itu seolah tak pernah dibuka selama berabad-abad, namun ada sebuah pegangan yang masih utuh. Arya menariknya dengan susah payah.

Derit panjang yang memekakkan telinga memenuhi lorong saat pintu terbuka. Di baliknya, bukan lagi tanah atau batu, melainkan sebuah terowongan yang lebih gelap, lebih dalam. Udara di sini terasa berat, berdenyut dengan energi yang tidak ia kenal.

Ia melangkah masuk, merasakan gravitasi yang aneh. Seolah-olah ia sedang menuruni sebuah lereng tak terlihat. Senter di tangannya mulai berkedip, cahaya redupnya nyaris tak mampu menembus kegelapan pekat di depannya.

Dinding terowongan itu tidak lagi terbuat dari bata. Kini, permukaannya terasa aneh, seperti campuran kulit dan batu, dingin dan sedikit lengket. Pola-pola abstrak terukir di sana, memantulkan sedikit cahaya senternya yang sekarat.

Dari kejauhan, ia mulai mendengar suara. Bukan suara tetesan air, melainkan desisan rendah yang ritmis, seperti napas raksasa yang tersembunyi. Suara itu semakin keras seiring langkahnya yang semakin dalam.

Arya memeriksa ponselnya. Tidak ada sinyal sama sekali. Baterai senternya pun semakin lemah, mengancam untuk memadamkan satu-satunya sumber cahayanya di tengah kegelapan yang absolut ini. Ketakutan mulai merayapi benaknya.

Namun, rasa ingin tahu yang tak tertahankan mendorongnya maju. Ia harus melihat apa yang ada di ujung jalan tikus ini. Apa yang bisa begitu tersembunyi di bawah kota, jauh dari mata manusia?

Terowongan itu tiba-tiba melebar, membuka ke sebuah ruang yang jauh lebih besar. Di tengahnya, berdiri sebuah pilar batu hitam, menjulang tinggi hingga ke langit-langit yang tak terlihat. Udara terasa dingin menusuk tulang.

Pilar itu memancarkan cahaya redup, keunguan, yang membuat bayangan-bayangan menari di sekeliling Arya. Ia bisa melihat lebih jelas sekarang: dinding-dindingnya ditutupi ukiran-ukiran kompleks yang bergerak, seolah hidup.

Ukiran itu bukan sekadar gambar. Mereka adalah relief tiga dimensi, menggambarkan makhluk-makhluk tak dikenal, kota-kota yang aneh, dan lanskap yang tak wajar. Semuanya terasa asing, namun sekaligus akrab.

Arya mendekati pilar, tangannya terangkat untuk menyentuh permukaannya yang halus dan dingin. Saat jari-jarinya bersentuhan, pilar itu berdenyut, dan ukiran di dinding bergerak lebih cepat, seolah merespons kehadirannya.

Tiba-tiba, sebuah celah terbuka di pilar. Bukan retakan, melainkan sebuah bukaan yang mulus, memancarkan cahaya putih menyilaukan. Dari dalamnya, terdengar bisikan, ribuan suara yang tumpang tindih, memanggil namanya.

Arya ragu sejenak. Naluri memperingatkannya untuk mundur, untuk lari. Namun, bisikan itu terlalu memikat, janji akan pengetahuan yang tak terhingga terlalu kuat. Ia melangkah maju, melewati celah cahaya itu.

Sensasi yang menghantamnya saat ia melangkah melampaui deskripsi. Bukan hanya perpindahan ruang, melainkan pergeseran seluruh realitas. Ia merasa tubuhnya ditarik, diregangkan, lalu disusun kembali.

Ketika matanya terbuka, ia berdiri di sebuah jalan. Jalan yang familiar, namun sekaligus asing. Ini adalah jalan di depan rumahnya, lengkap dengan pohon ek tua dan pagar kayu yang reot. Namun, ada yang salah.

Langit bukan lagi biru yang ia kenal. Warnanya ungu gelap, dengan dua bulan sabit samar tergantung di kejauhan. Pepohonan memiliki dedaunan berwarna merah marun, dan rumah-rumah tampak sedikit melengkung, seolah meleleh.

Keheningan mencekam. Tidak ada suara burung, tidak ada desiran angin, tidak ada hiruk pikuk kota. Hanya keheningan absolut yang membuat telinganya berdenging. Arya mencoba berteriak, namun suaranya tercekat.

Ia melangkah hati-hati, melewati rumahnya sendiri. Jendela-jendela gelap, memantulkan bayangan-bayangan yang menari tanpa sumber cahaya. Pintu depannya sedikit terbuka, memperlihatkan kegelapan yang lebih dalam di dalamnya.

Arya mencoba membuka pintu, namun tangannya melewati gagang pintu seolah itu hanya ilusi. Ia adalah pengamat, seorang hantu di tempat yang seharusnya menjadi rumahnya. Rasa panik mulai mencengkeramnya.

Ia melihat bayangannya di genangan air di jalanan. Bayangan itu terlihat normal, namun matanya memancarkan cahaya keunguan yang sama dengan pilar. Ia bukan lagi Arya yang sama.

Dari kejauhan, ia melihat sebuah sosok bergerak. Sosok itu mirip manusia, namun posturnya terlalu tinggi, terlalu kurus. Ia berjalan perlahan, langkahnya nyaris tanpa suara, menuju ke arah Arya.

Sosok itu berhenti beberapa meter di depannya. Arya bisa melihat fitur-fiturnya sekarang: wajahnya tanpa ekspresi, kulitnya pucat pasi, dan matanya kosong, hitam legam seperti lubang tak berdasar.

Sosok itu mengangkat tangan, menunjuk ke arahnya. Lalu, suara bisikan yang sama, ribuan suara tumpang tindih, kembali terdengar, kali ini lebih jelas, lebih mendesak. Mereka memanggil namanya.

Arya berbalik, berlari sekuat tenaga. Ia tidak peduli ke mana, asalkan menjauh dari tempat ini, dari sosok itu, dari bisikan-bisikan mengerikan yang menggerogoti kewarasannya.

Ia berlari melewati jalan-jalan yang bengkok, melewati bangunan-bangunan yang tak beraturan. Setiap langkah adalah perjuangan melawan ketakutan yang membutakan. Ia hanya ingin kembali, kembali ke dunianya sendiri.

Tiba-tiba, ia melihatnya: celah cahaya di tengah kegelapan, sama seperti tempat ia masuk. Ia tidak tahu bagaimana ia menemukannya, namun nalurinya berteriak untuk melompat ke dalamnya.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Arya menerjang masuk. Sensasi ditarik dan diregangkan kembali menghantamnya. Kali ini, rasa sakitnya lebih parah, seolah setiap serat tubuhnya dirobek.

Ia terbatuk-batuk, terengah-engah, tergeletak di lantai lorong gelap yang lembap. Senter di tangannya kini benar-benar mati. Namun, ia bisa merasakan udara yang familiar, bau tanah yang dikenalnya.

Ia meraba-raba di kegelapan, mencari pintu besi tua itu. Tangannya menyentuh permukaan yang kasar, berkarat. Ia menariknya dengan seluruh kekuatannya, dan pintu itu kembali berderit.

Cahaya samar dari luar lorong menyambutnya. Arya merangkak keluar, napasnya tersengal-sengal, tubuhnya gemetar tak terkendali. Ia mendapati dirinya kembali di gang sempit yang diselimuti tanaman merambat.

Langit biru yang dikenalnya terhampar di atas. Suara klakson mobil dan deru kehidupan kota kembali menyapa telinganya. Semuanya normal, seolah tidak ada yang terjadi.

Arya menoleh ke belakang, ke arah lorong. Namun, pintu besi tua itu telah lenyap. Dindingnya kembali rata, diselimuti lumut tebal, seolah tak pernah ada celah atau terowongan di sana.

Peta di tangannya pun telah berubah. Garis-garis yang menunjukkan “jalan tikus” telah menghilang, seolah tidak pernah ada. Hanya tersisa kertas tua yang rapuh dan kosong.

Ia kembali ke rumah, tubuhnya lelah, pikirannya kacau. Setiap malam, ia mendengar bisikan-bisikan itu, memanggil namanya dari kegelapan. Ia melihat bayangan-bayangan menari di sudut matanya.

Dunia Arya tidak lagi sama. Ia telah melihat apa yang tersembunyi di balik tabir realitas, dan rahasia itu menghantuinya. Jalan tikus itu mungkin telah menutup dirinya, namun pintunya di dalam benaknya kini terbuka lebar.

Ia tidak tahu apakah ia pernah benar-benar kembali, atau apakah sebagian dari dirinya masih terjebak di dunia lain itu. Yang jelas, ia tahu ada lebih dari yang bisa dilihat mata, dan beberapa rahasia seharusnya tetap terkunci selamanya.

Setiap bayangan di lorong, setiap keheningan yang tak wajar, kini memicu ketakutan yang dalam. Arya tahu, di suatu tempat di bawah kota yang bising, “jalan tikus” itu mungkin masih menunggu, siap membuka portal ke kengerian yang tak terbayangkan bagi siapa pun yang berani melangkah masuk. Dan ia, kini, selamanya terhubung dengan dunia di baliknya.

Jalan Tikus Menuju Dunia Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *