Scroll untuk baca artikel
Provinsi Nusa Tenggara Barat

Jangan Lewat Jalan Ini ke Air Terjun Tiu Pupus… Ada Bisikan yang Mengikuti

10
×

Jangan Lewat Jalan Ini ke Air Terjun Tiu Pupus… Ada Bisikan yang Mengikuti

Share this article

Jangan Lewat Jalan Ini ke Air Terjun Tiu Pupus… Ada Bisikan yang Mengikuti

Jalan Tua Menuju Air Terjun Tiu Pupus: Bisikan dari Rimba yang Hilang

Arya adalah seorang penjelajah, pencari kisah-kisah tersembunyi. Blognya dipenuhi catatan perjalanan ke tempat-tempat yang jarang dijamah. Kali ini, tujuannya adalah Air Terjun Tiu Pupus.

Ia telah mendengar bisikan tentang keindahannya, namun ada satu hal yang menarik perhatiannya: sebuah jalan lama menuju ke sana, yang konon telah ditinggalkan.

Penduduk desa setempat memperingatkan Arya. Mereka berbicara dengan suara rendah, mata mereka memancarkan ketakutan yang aneh saat menyebut “jalan tua” itu.

“Jangan pernah lewat sana, Nak,” kata seorang tetua. “Ada yang menunggu di sana. Yang hilang tak pernah kembali.”

Arya hanya tersenyum, menganggapnya takhayul belaka. Ia menginginkan petualangan sejati, sesuatu yang tak bisa ditemukan di jalur wisata biasa.

Ia ingin merasakan keheningan hutan yang belum terjamah, menangkap esensi misteri dalam lensa kameranya. Pagi buta, ia memulai perjalanannya.

Gerbang jalan tua itu hanya berupa celah sempit di antara semak belukar yang lebat. Udara segera berubah, menjadi lebih lembap dan berat.

Sinar matahari kesulitan menembus kanopi dedaunan yang rapat. Suara-suara hutan yang biasa lenyap, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan.

Langkah Arya terasa bergema di antara pepohonan raksasa. Ada perasaan aneh, seolah ia bukan hanya berjalan, tapi juga diawasi.

Kompas di pergelangan tangannya mulai berputar liar. Sinyal ponselnya lenyap sepenuhnya, memutusnya dari dunia luar.

Ia mencoba mengabaikannya, mengatakan pada diri sendiri itu hanya imajinasinya. Namun, kegelisahan itu terus merayapi.

Jejak setapak itu semakin samar, tertutup lumut dan akar-akar pohon yang mencuat. Beberapa kali Arya hampir tersandung.

Tiba-tiba, ia mendengar suara. Bukan suara binatang, melainkan bisikan samar, seolah angin membawa percakapan yang tak jelas.

Ia berhenti, menajamkan pendengarannya. Hening kembali, namun perasaan itu tetap ada, menekan, menginvasi.

Lalu, ia melihatnya. Sebuah syal tua, lusuh dan sobek, tersangkut di dahan rendah. Warnanya pudar, hampir menyatu dengan dedaunan.

Jantung Arya berdebar lebih kencang. Ia ingat cerita tetua desa: tentang orang-orang yang hilang, yang tak pernah kembali.

Ia mempercepat langkahnya, ingin segera mencapai air terjun. Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin dalam ia terperosok ke dalam labirin ketakutan.

Pepohonan di sekelilingnya tampak semakin tinggi, batang-batangnya berkelok aneh, seolah membentuk wajah-wajah yang mengawasi.

Ada bau aneh di udara, perpaduan antara tanah basah, lumut, dan sesuatu yang lain—sesuatu yang busuk dan asing.

Bisikan-bisikan itu kembali, lebih jelas sekarang. Bukan lagi angin, tapi suara-suara yang tumpang tindih, memanggil-manggil.

Ia bersumpah mendengar namanya disebut, namun tidak ada seorang pun di sana. Hanya ia, hutan yang sunyi, dan suara-suara itu.

Arya mengeluarkan senter, menyapu cahaya di sekelilingnya. Tidak ada apa-apa, hanya bayangan yang menari-nari.

Namun, di sudut matanya, ia melihat gerakan. Sekilas bayangan hitam melesat di balik semak, terlalu cepat untuk diidentifikasi.

Ia mulai meragukan kewarasannya. Apakah ini hanya kelelahan, ataukah hutan ini benar-benar menyimpan sesuatu yang tak kasat mata?

Path yang semula jelas kini tampak bercabang-cabang, membingungkan. Ia merasa seperti berjalan dalam lingkaran.

Pohon-pohon yang ia lewati beberapa waktu lalu seolah muncul kembali di hadapannya. Ia merasa terjebak.

Keringat dingin membasahi punggungnya, bukan karena panas, tapi karena ketakutan yang mencengkeram.

Ia terus berjalan, kini dengan langkah tergesa. Ia harus keluar, atau setidaknya menemukan air terjun itu sebagai titik acuan.

Akhirnya, suara gemuruh air terdengar samar. Harapan membuncah di dada Arya. Ia mempercepat langkahnya lagi.

Ia menerobos semak belukar terakhir, dan pemandangan itu terhampar di hadapannya. Tiu Pupus.

Namun, air terjun itu tidak seperti yang ia bayangkan. Bukan air yang jernih dan biru, melainkan kelabu, dengan buih putih aneh.

Kabut tebal menyelimutinya, membuatnya tampak seperti tirai raksasa yang bergerak. Tidak ada pelangi, hanya pantulan cahaya yang suram.

Suara gemuruh airnya tidak menenangkan, melainkan terasa seperti raungan, sebuah bisikan ancaman yang terus-menerus.

Di balik tirai kabut itu, Arya melihat siluet. Beberapa siluet, berdiri diam, seolah menunggunya.

Ia mengusap matanya, mengira itu hanya ilusi optik. Namun, siluet itu tidak menghilang. Mereka tampak bergerak mendekat, perlahan.

Bisikan-bisikan dari hutan kini terdengar lebih jelas, seolah berasal dari air terjun itu sendiri. Bukan lagi suara manusia, melainkan ratapan, desahan.

“Mereka yang hilang…” bisik sebuah suara dingin di telinganya, seolah seseorang berdiri tepat di belakangnya.

Arya berbalik dengan cepat. Tidak ada siapa-siapa. Namun, ia merasa sentuhan dingin, seperti jari-jari es merayap di tengkuknya.

Kamera di tangannya terjatuh, lensa pecah. Ia tidak peduli. Seluruh tubuhnya gemetar tak terkendali.

Siluet di balik air terjun itu kini tampak lebih jelas. Bukan manusia. Bentuknya tak beraturan, meliuk-liuk seperti asap.

Wajah-wajah pucat, mata cekung yang menatap kosong, muncul dari balik kabut. Mereka tidak berjalan, melainkan melayang.

Itu adalah mereka yang hilang. Roh-roh yang terjebak di antara dimensi, ditarik ke dalam jurang air terjun.

Dan kini, mereka menginginkan dirinya. Menambahnya ke dalam koleksi bisikan dan ratapan mereka.

Arya mundur selangkah demi selangkah, jantungnya berpacu gila. Jalan kembali yang ia lalui seolah menghilang.

Dedaunan di sekelilingnya mulai bergerak liar, meskipun tidak ada angin. Ranting-ranting mencambuk kulitnya.

Ia terjebak. Tiu Pupus bukan sekadar air terjun, melainkan gerbang, sebuah mulut yang menganga.

Roh-roh itu kini berada sangat dekat, bisikan mereka berubah menjadi raungan yang memekakkan telinga.

Mereka meraih ke arahnya, tangan-tangan tembus pandang yang terasa seperti sengatan listrik.

Arya menjerit, memejamkan mata. Ia berbalik dan berlari, tak peduli arah, hanya ingin menjauh.

Namun, hutan itu kini bukan lagi sekadar hutan. Ia hidup, bernapas, dan memburunya.

Pepohonan menahan langkahnya, akar-akar mencengkeram pergelangan kakinya. Bisikan-bisikan itu kini diucapkan tepat di telinganya.

Ia merasakan tarikan kuat, seolah ada tangan tak terlihat yang menariknya kembali ke arah air terjun.

Ia jatuh, tersandung akar. Matanya terbuka, menatap langit-langit daun yang gelap.

Di atasnya, siluet-siluet itu berkerumun, wajah-wajah pucat menatapnya dengan kekosongan.

Suara gemuruh air terjun semakin keras, menariknya lebih dekat. Ia merasa tubuhnya melayang.

Arya meronta, berteriak sekuat tenaga, memohon ampun dari entitas yang tak terlihat itu.

Namun, jeritannya tenggelam dalam raungan air terjun yang kini terasa seperti tawa iblis.

Sentuhan dingin itu melingkari seluruh tubuhnya, menariknya ke dalam kabut putih yang bergolak.

Lalu, keheningan. Jalan tua menuju Air Terjun Tiu Pupus kembali sunyi.

Hanya suara gemuruh air yang tak pernah berhenti, dan bisikan-bisikan samar yang terkadang terbawa angin.

Menyimpan rahasia, menunggu korban berikutnya yang berani menantang kutukannya.

Dan Arya, ia kini menjadi bagian dari bisikan-bisikan itu, selamanya terjebak dalam misteri Tiu Pupus.

Jalan Tua Menuju Air Terjun Tiu Pupus: Bisikan dari Rimba yang Hilang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *