Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Siapa Pun yang Lewat di Rel Ini Selalu Merasa Dingin… Bahkan di Siang Bolong

9
×

Siapa Pun yang Lewat di Rel Ini Selalu Merasa Dingin… Bahkan di Siang Bolong

Share this article

Jalur Rel Utara: Misteri Dingin Abadi

Jalur Rel Utara adalah legenda. Bukan karena kemegahannya, melainkan karena bisikan kengerian yang menyelimutinya. Mereka bilang, dinginnya tak pernah sirna, bahkan di teriknya musim kemarau.

Ini bukan dingin biasa yang menusuk tulang. Ini dingin yang merampas kehangatan, menguras kehidupan dari sekitarnya. Udara di sana selalu berkabut, bahkan tanpa uap air.

Bertahun-tahun lamanya, jalur itu ditinggalkan. Rel-relnya berkarat, bantalan kayunya lapuk, ditelan semak belukar yang membeku. Tak ada lagi kereta yang melintasinya.

Namun, desas-desus tak pernah padam. Kisah-kisah tentang orang hilang, tentang suara-suara aneh, tentang bayangan yang melintas dalam kabut es. Semua bermuara pada satu titik: Jalur Rel Utara.

Detektif Aris Wijaya adalah seorang pragmatis. Ia tidak percaya takhayul, hanya fakta dan bukti. Namun, kasus terakhirnya membawanya ke ambang batas rasionalitas.

Seorang tim peneliti geologi menghilang tanpa jejak di dekat jalur itu. Mereka hanya meninggalkan peralatan yang membeku, padahal suhu di luar batas normal.

Aris memimpin tim kecil menuju lokasi. Udara langsung mencekik, dinginnya bagai pisau bermata seribu. Bahkan alat pengukur suhu canggih mereka berkedip-kedip liar.

Minus 30 derajat Celsius, di tengah hari bolong. Ini adalah anomali yang mustahil dijelaskan secara ilmiah. Aris merasakan keraguan mulai menyusup ke dalam keyakinannya.

Mereka menemukan jejak kaki di atas tanah beku. Jejak itu berhenti tiba-tiba, seolah orangnya menguap ke udara. Tak ada tanda-tanda perjuangan, tak ada tetesan darah.

Hanya keheningan yang memekakkan, dipecahkan oleh suara napas mereka yang berembun tebal. Keheningan yang terasa berat, seolah mengamati setiap gerakan mereka.

Semakin dalam mereka melangkah, semakin pekat kabut es itu. Bentuk-bentuk tak jelas menari di dalamnya, bayangan panjang seolah mengulurkan tangan.

Aris memerintahkan timnya untuk tetap fokus. Mereka mengikuti arah rel, yang kini hampir seluruhnya tertutup es tebal. Sebuah terowongan tua terlihat di kejauhan.

Terowongan itu seperti lubang hitam yang menganga. Dinginnya memancar keluar, lebih intens dari tempat mana pun yang pernah mereka rasakan. Aroma apek dan sesuatu yang sulit didefinisikan tercium kuat.

Salah satu anggota tim, Maya, mulai terbatuk-batuk. Bibirnya membiru, tubuhnya gemetar tak terkendali. Alat komunikasinya berdenging lalu mati total.

“Suhu inti tubuhnya turun drastis, Pak!” seru rekannya panik. “Ini bukan hipotermia biasa. Ada sesuatu yang menguras panasnya!”

Aris merasa dingin itu mulai merambat ke dalam dirinya. Bukan hanya pada kulit, melainkan ke dalam sumsum tulangnya, mengancam untuk membekukan pikirannya.

Ia teringat laporan-laporan lama. Dulu, jalur ini digunakan untuk mengangkut material dari sebuah fasilitas penelitian rahasia. Fasilitas itu ditutup mendadak puluhan tahun lalu.

Desas-desus mengatakan ada sebuah percobaan energi yang gagal. Ledakan yang tak terlihat, yang hanya meninggalkan jejak berupa resonansi dingin abadi.

Mereka memutuskan memasuki terowongan. Lampu senter mereka menembus kegelapan, memperlihatkan dinding batu yang diselimuti kristal es tebal. Suara tetesan air beku terdengar samar.

Di tengah terowongan, Aris melihat sesuatu. Sebuah gerbong kereta tua yang terbalik, sebagian hancur dan membeku. Gerbong itu tampak aneh, bukan gerbong pengangkut biasa.

Pintu gerbong itu terbuka sedikit. Dari celah itu, Aris merasakan hembusan dingin yang paling mengerikan. Dingin yang disertai bisikan tak beraturan.

Bisikan itu seperti ribuan suara yang tumpang tindih. Rintihan, tangisan, jeritan yang tak terucap, semua terperangkap dalam resonansi dingin.

Aris mendekat, rasa ingin tahu mengalahkan ketakutannya. Ia mengintip ke dalam gerbong. Pemandangan di dalamnya membuat darahnya membeku.

Di dalam, teronggok jasad-jasad manusia yang membeku sempurna. Mereka tidak membusuk, melainkan terawetkan dalam lapisan es yang transparan. Wajah-wajah mereka menunjukkan kengerian abadi.

Ini bukan korban hipotermia. Ini adalah patung-patung es yang hidup, dengan ekspresi ketakutan yang tak terhingga. Mereka seperti sedang menjangkau, meminta pertolongan.

Tiba-tiba, salah satu jasad membuka mata. Bola matanya yang beku memancarkan cahaya biru redup. Bisikan di telinga Aris berubah menjadi raungan.

“Pergi… sebelum kau… menjadi… kami…” suara itu bergetar, seperti es yang pecah.

Aris tersentak mundur. Ia merasakan sentuhan dingin di pergelangan tangannya. Seperti cengkeraman tangan yang membeku, berusaha menariknya masuk.

Ia tahu mereka harus pergi. Ini bukan kasus kriminal biasa. Ini adalah ranah yang melampaui pemahaman manusia, sebuah anomali yang hidup.

Mereka berbalik, berlari sekuat tenaga keluar dari terowongan. Dingin itu mengejar mereka, menembus setiap lapisan pakaian, mengancam untuk menelan mereka.

Di luar terowongan, Maya ambruk. Wajahnya pucat pasi, napasnya tersengal. Aris dan rekannya segera menolongnya, menyeretnya menjauh dari jalur terkutuk itu.

Mereka berhasil keluar, meski dengan luka batin yang mendalam. Maya selamat, tetapi ia tak pernah lagi sama. Ia sering terbangun dengan jeritan, merasa dingin mencekiknya.

Aris Wijaya tak lagi percaya pada kepastian. Ia tahu, di dunia ini, ada misteri yang tak bisa dipecahkan oleh logika atau ilmu pengetahuan.

Jalur Rel Utara tetap dingin. Kabut es abadi menyelimutinya, menjadi monumen bisu bagi kengerian yang tersembunyi di baliknya.

Dan terkadang, di malam-malam tanpa bulan, orang-orang di desa terdekat bersumpah mendengar bisikan. Bisikan dingin, mengundang siapa saja yang berani mendekat.

Undangan menuju kebekuan abadi, di Jalur Rel yang Selalu Dingin. Sebuah misteri yang tak akan pernah terpecahkan, hanya menunggu korban selanjutnya.

Siapa Pun yang Lewat di Rel Ini Selalu Merasa Dingin… Bahkan di Siang Bolong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *