Jejak Kaki Tak Kasat Mata di Sawah Talang Banyu
Talang Banyu, sebuah desa kecil yang damai, terhampar di antara hijaunya sawah. Kehidupan di sana mengalir tenang, seperti air irigasi yang membelah petak-petak padi. Namun, ketenangan itu perlahan terkoyak.
Desas-desus mulai berembus, awalnya hanya bisikan di warung kopi. Para petani mengeluh tentang hal aneh yang terjadi di sawah mereka. Padi-padi roboh, tanggul rusak, seolah ada yang melewati.
Anehnya, tak ada jejak kaki yang tertinggal. Lumpur basah, yang seharusnya mudah merekam langkah, tetap mulus tak terusik. Hanya kehampaan yang mencengkam, dan pola kerusakan yang tak masuk akal.
Pak Karta, seorang petani senior yang pragmatis, menepisnya sebagai ulah binatang malam. "Mungkin babi hutan, atau tikus raksasa," ujarnya, mencoba meredakan kegelisahan warga.
Namun, kejadian itu berulang. Lebih sering, lebih luas, dan semakin membingungkan. Bukan hanya padi yang roboh, beberapa kali ditemukan patok batas sawah tercabut, tergeletak begitu saja.
Bahkan ada yang bersumpah mendengar suara langkah di kegelapan. Suara itu berat, seolah menyeret sesuatu, namun tak pernah ada wujud yang terlihat. Hanya angin dingin yang menusuk tulang.
Malam itu, Pak Karta memutuskan untuk berjaga. Berbekal senter dan parang, ia menyelinap ke sawahnya saat bulan tersembunyi. Kegelapan pekat membalutnya, hanya ditemani suara jangkrik dan kodok.
Berjam-jam berlalu dalam keheningan yang mencekam. Pak Karta mulai merasa kantuk, mengira semua hanya histeria massal. Mungkin memang ada binatang liar yang cerdik.
Tiba-tiba, sebuah desiran aneh terdengar. Bukan angin, bukan pula suara air. Lebih mirip gesekan berat, seolah sesuatu yang besar bergerak melintasi padi di kejauhan.
Napas Pak Karta tertahan. Senter di tangannya bergetar, ia mencoba menyorot ke arah suara. Namun, hanya bayangan padi yang melambai-lambai, seolah menari dalam kegelapan.
Suara itu mendekat. Perlahan namun pasti, gesekan itu semakin jelas. Pak Karta merasakan hawa dingin merayap, bukan dingin malam, melainkan dingin yang menusuk relung jiwanya.
Ia mencium aroma aneh, perpaduan lumpur basah dan sesuatu yang busuk, seperti lumut tua yang sudah lama mati. Aroma itu menyesakkan, membuat perutnya mual.
Tepat di depannya, sekitar sepuluh meter, padi-padi mulai bergoyang. Bukan karena angin, melainkan seolah ada yang berjalan di tengahnya. Sebuah jalur tak kasat mata tercipta.
Pak Karta terpaku, tak sanggup bergerak. Ia melihat padi-padi itu rebah satu per satu, membentuk pola jejak yang sangat besar, namun tak ada wujud sama sekali di baliknya.
Hanya kehampaan yang bergerak, menciptakan kehancuran. Bulu kuduk Pak Karta meremang. Ini bukan binatang. Ini sesuatu yang lain, sesuatu yang tak dapat dijelaskan akal sehat.
Ia merasakan tekanan di dadanya, seolah ada yang mengawasinya dari dalam kegelapan. Sebuah bisikan halus melintas di telinganya, namun terlalu samar untuk dimengerti.
Panik mulai menyergap. Pak Karta memundurkan langkahnya perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia ingin lari, namun kakinya terasa terpaku di tempat.
Jejak tak kasat mata itu terus bergerak, melingkari petak sawahnya. Seolah benda tak berwujud itu sedang mengamati, mengukur, bahkan mungkin mempermainkannya.
Tiba-tiba, sebuah suara gedebuk keras terdengar dari arah tanggul. Pak Karta terlonjak. Senter di tangannya terlepas, jatuh dan padam, meninggalkan ia dalam kegelapan total.
Ia mendengar suara lumpur berdesir cepat, seolah sesuatu yang besar berlari menjauh. Aura dingin yang mencekam perlahan sirna, digantikan oleh keheningan yang lebih mengerikan.
Pak Karta tak berani bergerak. Ia menunggu fajar menyingsing, menggigil ketakutan. Saat mentari akhirnya menyentuh ufuk, ia melihatnya. Jejak raksasa di sawahnya.
Padi-padi rebah membentuk tapak kaki yang sangat besar, lebih besar dari gajah. Namun, tanah di bawahnya tetap rata, tidak ada tekanan, tidak ada bekas injakan yang nyata.
Kisah Pak Karta menyebar bagai api. Warga desa semakin dilanda ketakutan. Beberapa petani bahkan memutuskan untuk tidak lagi menggarap sawah mereka di malam hari.
Upaya dilakukan. Mereka menaburkan abu di pematang, berharap jejak akan terlihat. Hasilnya nihil. Mereka memasang jebakan, tak ada yang tertangkap.
Bahkan seorang tetua adat didatangkan. Ia melakukan ritual, membakar kemenyan, melafalkan doa-doa kuno. Namun, jejak tak kasat mata itu tetap muncul, seolah mengejek.
Misteri "Jejak Kaki Tak Kasat Mata" menjadi bagian tak terpisahkan dari Talang Banyu. Anak-anak dilarang bermain di sawah saat senja, para orang tua berbisik tentangnya.
Ada yang mengatakan itu adalah arwah penunggu sawah yang marah. Ada pula yang percaya itu adalah makhluk astral dari dimensi lain, yang secara tak sengaja melintasi dunia manusia.
Beberapa pemuda pemberani mencoba melacaknya. Mereka mengikuti pola kehancuran itu hingga ke batas hutan, namun jejak itu selalu berakhir begitu saja, seolah menghilang ditelan bumi.
Sawah Talang Banyu kini memiliki reputasi angker. Keindahan hijaunya tak lagi murni, diselimuti aura misteri yang tak terpecahkan. Kehidupan pun tak lagi setenang dulu.
Setiap malam, di balik jendela rumah-rumah, warga Talang Banyu menatap sawah mereka. Mereka mendengarkan angin, berharap tak ada lagi desiran atau gesekan yang tak wajar.
Misteri itu tetap hidup, tanpa jawaban. Jejak kaki tak kasat mata itu mungkin masih melintasi sawah Talang Banyu, meninggalkan tanda kehancuran tanpa jejak, menjaga rahasianya sendiri.
Dan setiap kali padi-padi di suatu petak ditemukan rebah tanpa alasan, penduduk Talang Banyu tahu. Sang pengunjung tak kasat mata itu telah datang lagi, mengingatkan mereka akan keberadaannya.
Sebuah cerita yang menjadi legenda, mengakar kuat dalam benak setiap generasi. Jejak kaki tak kasat mata di Sawah Talang Banyu, sebuah misteri yang abadi.
Ia adalah pengingat bahwa di balik ketenangan sebuah desa, ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan, yang menunggu di balik tabir kegelapan, selamanya tersembunyi namun nyata.
Dan para petani, meski takut, tetap menggarap sawah mereka. Dengan mata waspada, hati berdebar, dan sebuah pertanyaan tak terjawab yang menggantung di udara Talang Banyu.
Siapakah pemilik jejak tak kasat mata itu? Dan apa yang sebenarnya mereka inginkan di tengah hamparan padi yang sunyi? Pertanyaan-pertanyaan itu tetap menjadi bisikan dalam angin malam.





