
Jumpseat Tengah Malam: Bisikan dari Kegelapan
Jam menunjukkan pukul dua pagi saat telepon itu berdering, merobek keheningan apartemenku. Nama di layar asing, nomor tak dikenal. Keraguan melingkupiku, namun ada dorongan aneh untuk menjawab.
Suara di seberang sana serak, berbisik seperti ditiup angin gurun. “Jumpseat tersedia, kargo malam ini. Penerbangan darurat. Minat?” tawaran itu menggantung di udara dingin.
Sebagai pilot muda yang sedang mencari jam terbang, kesempatan seperti ini adalah anugerah. Tapi ada sesuatu yang salah, nada misterius yang menusuk indraku.
“Ke mana?” tanyaku, merasakan bulu kuduk meremang. Suara itu terkekeh pelan. “Ke mana saja yang penting sampai. Jangan banyak tanya.”
Keesokan malam, aku berdiri di landasan pacu yang sepi, diselimuti kabut tipis. Pesawat kargo tua, tipe Boeing 747-200F, tampak seperti hantu raksasa dalam kegelapan.
Lambungnya usang, catnya mengelupas, seolah menyimpan jutaan rahasia. Tak ada orang lain di sana, hanya aku dan siluet buram pesawat itu.
Seorang pria tinggi kurus, berwajah dingin, muncul dari balik kabut. Dia tak menyapa, hanya menunjuk ke arah pintu kargo. “Kapten Bayu menunggu,” katanya datar.
Aku mengangguk, melangkah masuk ke dalam perut besi yang gelap. Aroma minyak tanah dan sesuatu yang lain, sesuatu yang tak bisa kuidentifikasi, menusuk hidungku.
Kokpitnya remang-remang, hanya diterangi oleh panel instrumen yang berkedip. Kapten Bayu duduk di kursi pilot, wajahnya cekung, matanya seperti lubang kosong.
Di sampingnya, kopilot tak kalah misterius, memandang lurus ke depan. Tak ada senyum, tak ada basa-basi. Hanya keheningan yang mencekam.
“Jumpseat-mu di belakang, Arya,” suara Kapten Bayu serak, tanpa menoleh. “Jangan sentuh apa pun. Jangan bersuara.”
Aku mengikuti instruksinya, melangkah ke kursi lipat kecil di belakang kursi kopilot. Kursi itu terasa dingin, lebih dingin dari suhu di dalam pesawat.
Dinginnya menusuk tulang, seolah kursi itu baru saja ditarik dari dalam lemari es. Aku mencoba mengabaikannya, mungkin hanya sugesti.
Mesin mulai meraung, getarannya menjalari seluruh badan pesawat. Pesawat mulai bergerak perlahan, meluncur di landasan yang gelap.
Kemudian, kami lepas landas. Suara mesin menggelegar, namun di dalam kokpit, keheningan tetap berkuasa. Hanya aku yang merasakan ketegangan yang merayap.
Dari sudut mataku, aku melihat pantulan di jendela. Bukan pantulanku sendiri, melainkan siluet samar di belakangku.
Aku menoleh cepat, tak ada apa-apa. Hanya kursi jumpseat yang kosong di sampingku. Mungkin kelelahan, pikirku, mencoba menenangkan diri.
Tapi hawa dingin itu semakin intens, berpusat di sekitar kursi jumpseat. Seolah ada sesuatu yang tak terlihat, duduk di sana.
Sebuah bisikan samar terdengar di telingaku, seperti desiran angin melewati dedaunan kering. Aku mencoba mengabaikannya, namun bisikan itu semakin jelas.
“Dia… kembali…” bisikan itu berdesir, lebih dekat kali ini. Aku menoleh ke arah Kapten Bayu dan kopilot. Mereka tetap diam, tak bereaksi.
Apakah mereka mendengarnya? Atau hanya aku yang mulai gila? Keringat dingin mulai membasahi dahiku.
Aku mencoba meraih interkom, ingin bertanya apa yang terjadi. Tapi tanganku membeku, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya.
Bisikan itu berubah menjadi desahan panjang, seperti seseorang yang sedang sekarat. Suaranya datang dari arah jumpseat di sebelahku.
Aku menatap kursi itu, mencoba melihat sesuatu dalam kegelapan. Tidak ada, hanya bayangan yang menari-nari karena cahaya panel instrumen.
Tiba-tiba, sebuah suara gedebuk pelan terdengar dari kompartemen kargo di bawah. Aku bisa merasakannya, getaran kecil di lantai kokpit.
Kapten Bayu sedikit tersentak, tangannya mencengkeram kemudi lebih erat. Kopilot akhirnya bergerak, mematikan sebagian lampu di kokpit.
“Ada apa?” bisikku, tak bisa menahan diri lagi. Kapten Bayu mendesis. “Diam! Jangan pancing dia.”
Jantungku berdebar kencang. “Dia? Siapa?” tanyaku lagi, suaraku bergetar. Kopilot menoleh, matanya merah. “Penumpang kesebelas.”
Aku tahu hanya ada sepuluh kursi awak di pesawat ini. Penumpang kesebelas? Siapa yang mereka maksud?
Hawa dingin yang menusuk itu kini terasa seperti cengkeraman es di leherku. Aku menoleh perlahan ke arah jumpseat di sampingku.
Di bawah cahaya redup, aku melihatnya. Sebuah goresan panjang, tipis, seperti bekas kuku, membentang di sandaran kursi.
Tepat di bawah goresan itu, samar-samar, terukir sebuah nama: “Clara”. Siapa Clara? Dan mengapa namanya terukir di sana?
Tiba-tiba, suhu di kokpit turun drastis. Embun mulai terbentuk di jendela. Aku bisa melihat napasku sendiri mengepul di udara.
Sebuah suara retakan pelan terdengar dari belakangku, dari arah jumpseat. Seolah-olah seseorang baru saja bergerak di sana.
Aku merasakan hembusan napas dingin di tengkukku. Bau anyir, seperti darah kering, menusuk hidungku.
Aku beringsut maju, mencoba menjauh dari jumpseat itu. Tapi tak ada tempat untuk lari di kokpit yang sempit ini.
Lampu panel instrumen berkedip tak beraturan, menampilkan angka-angka aneh. Altimeter berputar liar, seolah pesawat kehilangan kendali.
Kapten Bayu mendesis, “Clara, jangan main-main! Kita sedang terbang!” Suaranya penuh ketakutan, bukan kemarahan.
Bisikan itu kembali, lebih jelas, lebih menakutkan. “Dia tidak suka orang asing… di kursinya…”
Aku merasakan rambutku meremang. Clara? Nama itu, goresan itu. Apakah jumpseat ini… berhantu?
Tiba-tiba, sebuah suara tawa yang mengerikan terdengar, tawa seorang wanita. Tawa itu menggema di seluruh kokpit, datang dari segala arah.
Aku menutup telinga, mencoba menyingkirkan suara itu. Kapten Bayu dan kopilot menunduk, seolah tak ingin melihat apa pun.
“Dia… korban kecelakaan itu,” bisik Kapten Bayu, suaranya nyaris tak terdengar. “Kecelakaan sepuluh tahun lalu, pesawat ini.”
“Dia… pilot ketiga. Ditemukan tewas di jumpseat ini. Sejak itu… dia tidak pernah pergi.”
Napasiku tercekat. Pesawat ini adalah kuburan bagi Clara. Dan aku, seorang pilot asing, duduk di kursinya.
Tawa itu berubah menjadi jeritan, jeritan pilu yang memekakkan telinga. Pesawat berguncang hebat, seolah dihantam badai.
Bukan badai fisik, melainkan badai energi, kemarahan yang tak terlihat. Aku mencengkeram kursiku, ketakutan yang tak terhingga melanda.
Aku melihat ke arah jumpseat. Di tengah kegelapan, sebuah siluet samar, buram, mulai terbentuk di sana.
Sosok wanita, rambut panjang terurai, kepalanya terkulai. Matanya, jika ada, menatap lurus ke arahku.
Wajahnya pucat pasi, seperti mayat. Bibirnya bergerak, mengucapkan kata-kata tanpa suara. Namun aku bisa merasakannya, pesan itu menusuk pikiranku.
“Pergi… dari… kursiku…”
Aku berteriak, entah itu di dalam pikiranku atau benar-benar keluar dari mulutku. Aku ingin bangun, ingin lari, tapi kakiku terasa lumpuh.
Pesawat tiba-tiba menukik tajam. Alarm peringatan berbunyi nyaring. Kapten Bayu berteriak, “Tarik! Tarik!”
Kopilot sibuk mencoba menstabilkan pesawat, wajahnya pucat pasi. Guncangan hebat terus terjadi, seolah ada tangan tak terlihat yang mengguncang kami.
Aku melihat ke arah jumpseat lagi. Sosok itu kini lebih jelas, lebih solid. Tangan kurusnya terulur ke arahku.
Jari-jarinya panjang, kuku-kukunya hitam. Aku bisa merasakan hawa dingin yang memancar darinya.
“Dia… tidak suka… kamu di sini…” bisikan itu kini jelas di telingaku. Aku memejamkan mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Ketika aku membuka mata lagi, sosok itu telah menghilang. Hanya hawa dingin yang tersisa, dan goresan nama “Clara” di jumpseat.
Pesawat kembali stabil. Alarm berhenti berbunyi. Keheningan kembali melingkupi kokpit, kali ini lebih berat, lebih menindas.
Sisa penerbangan terasa seperti siksaan. Aku tak berani bergerak, tak berani menoleh ke belakang. Aku hanya menatap lurus ke depan, menunggu.
Akhirnya, landasan pacu muncul di cakrawala. Sebuah bandara kecil, sepi, diselimuti kabut yang lebih pekat dari sebelumnya.
Pesawat mendarat dengan mulus, namun suasana di kokpit masih tegang. Kapten Bayu mematikan mesin, keheningan total menyelimuti kami.
“Keluar,” katanya, suaranya serak. “Jangan pernah kembali ke pesawat ini. Lupakan malam ini.”
Aku tak perlu diperintah dua kali. Aku bangkit, kakiku gemetar. Aku tak berani melihat ke arah jumpseat lagi.
Aku berlari keluar dari pesawat, melewati kabut, tanpa menoleh ke belakang. Aku mendengar langkah kaki Kapten Bayu dan kopilot mengikuti.
Mereka juga tak menoleh, seolah ada sesuatu yang mereka tak ingin lihat di dalam pesawat itu.
Aku tak pernah kembali ke bandara itu. Aku tak pernah mencoba mencari tahu lebih banyak tentang kecelakaan sepuluh tahun yang lalu.
Tapi setiap malam, ketika aku tidur, aku merasakan hawa dingin yang sama. Dingin yang menusuk, seperti ada seseorang yang duduk di sampingku.
Dan terkadang, di tengah keheningan malam, aku bersumpah mendengar bisikan. Sebuah nama yang diukir dalam kegelapan.
“Clara…” bisikan itu berdesir, seolah-olah jumpseat tengah malam itu telah meninggalkan jejak permanen di jiwaku.











