Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Selatan

Kabut Talang Padang: Bisikan dari Kehampaan

10
×

Kabut Talang Padang: Bisikan dari Kehampaan

Share this article

Kabut Talang Padang: Bisikan dari Kehampaan

Kabut Talang Padang: Bisikan dari Kehampaan

Arya tiba di Talang Padang. Udara dingin langsung memeluknya erat. Kabut tebal sudah menyelimuti perbukitan. Seolah menyembunyikan rahasia.

Ia seorang penulis mencari inspirasi. Talang Padang terkenal dengan kabutnya. Legenda misteri pun mengikutinya. Sebuah tempat sempurna untuk melarikan diri.

Desa kecil itu tampak sunyi. Rumah-rumah penduduk berdiri kokoh. Namun, ada aura aneh terasa. Seolah desa itu menahan napas.

Penduduk setempat tampak enggan bicara. Mereka hanya melirik Arya dengan tatapan aneh. Sebuah keheningan misterius menyelimuti desa. Seolah ada sesuatu yang tak boleh diucapkan.

Arya menyewa sebuah pondok kayu. Letaknya agak terpencil di pinggir desa. Dikelilingi pepohonan tua menjulang. Kabut seolah selalu mengelilinginya.

Malam pertama terasa panjang. Kabut merayap masuk ke celah jendela. Suara angin berdesir terdengar aneh. Seperti bisikan-bisikan tanpa makna.

Arya mencoba menulis. Namun, pikirannya terusik. Ada perasaan tak nyaman menyelimutinya. Seolah ia tidak sendirian di pondok itu.

Beberapa kali ia merasa melihat bayangan. Melintas cepat di sudut mata. Ketika ia menoleh, tak ada apa-apa. Hanya kabut dan kegelapan.

Pagi harinya, kabut belum juga sirna. Malah semakin pekat menyelimuti. Arya memutuskan menjelajahi bukit. Mencari inspirasi yang ia inginkan.

Ia membawa kamera dan buku catatan. Langkah kakinya menembus keheningan. Pohon-pohon pinus berdiri menjulang tinggi. Batangnya basah oleh embun.

Semakin dalam Arya melangkah, semakin tebal kabutnya. Jarak pandang menjadi sangat terbatas. Hanya beberapa meter di depannya. Dunianya menyempit drastis.

Suara-suara alam seolah diredam kabut. Hanya desah napasnya sendiri terdengar. Kemudian, ia mendengar sesuatu yang lain. Sebuah suara lirih, samar-samar.

Suara itu seperti panggilan jauh. Atau mungkin sebuah tangisan tertahan. Arya berhenti melangkah, menajamkan pendengarannya. Namun, suara itu menghilang.

Ia mencoba meyakinkan diri. Mungkin hanya tipuan angin belaka. Atau mungkin hewan hutan yang lewat. Namun, perasaan gelisah tak sirna.

Arya melanjutkan perjalanannya. Kabut seolah bergerak bersamanya. Mengikuti setiap langkahnya dengan setia. Membentuk lorong-lorong tak berujung.

Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin menusuk. Lebih dari sekadar suhu kabut. Seperti kehadiran tak kasat mata. Berdiri tepat di belakangnya.

Jantungnya berdebar kencang tak beraturan. Ia berbalik dengan cepat. Tak ada siapa pun di sana. Hanya kabut putih membisu.

Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Arya mempercepat langkahnya. Ia ingin segera kembali ke pondok. Namun, ia merasa tersesat.

Arah menjadi tidak jelas. Pohon-pohon tampak sama semua. Kabut menelan setiap jejak. Ia berputar-putar di tempat yang sama.

Suara lirih itu kembali terdengar. Kali ini lebih jelas, lebih dekat. Seperti bisikan langsung di telinganya. Arya merasa merinding hebat.

"Pulanglah…" bisik suara itu. Sangat dekat, sangat nyata. Arya terkesiap, melompat mundur. Ia hampir terjatuh ke jurang.

Di depannya, kabut membentuk bayangan. Mirip sosok manusia kurus tinggi. Berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun. Mata Arya membelalak ketakutan.

Sosok itu tidak memiliki wajah jelas. Hanya siluet samar di balik kabut. Namun, kehadirannya sangat kuat. Memancarkan aura dingin yang mencekam.

Arya menjatuhkan kameranya tanpa sadar. Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga. Tanpa arah, tanpa tujuan. Hanya ingin menjauh dari sosok itu.

Langkah kakinya tersandung akar pohon. Ia jatuh tersungkur di tanah basah. Kabut seolah menertawakan dirinya. Mengelilinginya dengan tarian mengerikan.

Ia mencoba bangkit, tapi kakinya gemetar. Suara lirih itu mengikutinya. Kini menjadi tawa pelan, serak. Tawa yang menggetarkan jiwa.

Arya merangkak sekuat tenaga. Ia bisa merasakan sentuhan dingin. Seperti jari-jari tak terlihat menyentuh punggungnya. Membuat bulu kuduknya berdiri.

Akhirnya, ia melihat cahaya samar. Itu adalah jalan setapak menuju desa. Dengan sisa tenaga, ia bangkit. Dan berlari seperti kesetanan.

Ia sampai di pondoknya dengan napas terengah-engah. Jantungnya berdetak tak karuan. Pakaiannya basah kuyup dan kotor. Wajahnya pucat pasi.

Arya mengunci pintu dan jendela. Ia duduk bersandar di dinding. Berusaha menenangkan dirinya. Namun, bayangan sosok itu terus menghantuinya.

Ia tahu harus pergi dari sana. Talang Padang bukan lagi tempat inspirasi. Melainkan penjara kabut yang mencekam. Sebuah tempat terkutuk.

Pagi berikutnya, kabut masih ada. Namun, Arya tidak peduli lagi. Ia mengemasi barang-barangnya cepat. Meninggalkan pondok tanpa menoleh.

Ketika ia melewati desa, penduduk menatapnya. Tatapan mereka kali ini berbeda. Ada campuran kasihan dan pengertian. Seolah mereka sudah tahu.

Arya tidak bertanya apa pun. Ia hanya ingin pergi. Meninggalkan Talang Padang dan misterinya. Jauh dari kabut yang berbisik.

Mobilnya melaju meninggalkan desa. Kabut tebal perlahan menipis di belakang. Namun, bayangan bukit tetap mengerikan. Menyimpan rahasia abadi.

Arya tidak pernah kembali ke sana. Pengalaman itu mengubahnya selamanya. Ia tidak lagi mencari inspirasi di tempat sunyi. Ketakutan itu terlalu nyata.

Ia mencoba menuliskan kisahnya. Namun, setiap kata terasa hampa. Tak bisa menggambarkan kengerian itu. Apa yang ia alami di balik kabut.

Talang Padang menyimpan rahasianya. Kabut tebal adalah tirai abadi. Melindungi apa yang tak terucapkan. Dan apa yang tak seharusnya ditemukan.

Bisikan lirih itu masih kadang terdengar. Dalam sunyi malam yang pekat. Mengingatkannya pada kengerian itu. Pada sosok di balik kabut tebal.

Dan Arya tahu pasti. Ada sesuatu yang hidup di sana. Bersembunyi di balik selimut putih. Menunggu korban berikutnya. Di Talang Padang yang misterius.

Kabut Talang Padang: Bisikan dari Kehampaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *