Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Kain Pelikat yang Melayang di Halaman Kosong

10
×

Kain Pelikat yang Melayang di Halaman Kosong

Share this article

Kain Pelikat yang Melayang di Halaman Kosong

Kain Pelikat yang Melayang di Halaman Kosong: Sebuah Misteri Tanpa Jawaban

Di kedalaman rumah tua itu, sebuah rumah yang napasnya berbau debu dan rahasia, Arif menemukan sesuatu yang tak terlukiskan. Bukan harta karun, bukan pula pusaka berharga. Hanya selembar kain pelikat.

Namun, kain itu tidak terlipat rapi di lemari atau terhampar di ranjang. Kain pelikat itu melayang. Tepat di tengah dinding yang dulunya putih bersih, kini menguning karena usia.

Dinding itu kosong, tak ada lukisan atau bingkai foto. Hanya sebuah "halaman kosong" yang sempurna, menjadi panggung bagi anomali yang tak masuk akal ini. Kain itu melayang stabil, seolah terpaku oleh kekuatan tak terlihat.

Arif, seorang peneliti sejarah yang skeptis, awalnya mengira itu ilusi optik. Mungkin pantulan cahaya, atau jebakan mata yang lelah. Ia mengedipkan mata berkali-kali, mengusap pelipisnya.

Namun, kain itu tetap di sana. Motif kotak-kotaknya yang pudar terlihat jelas, seolah sebuah lukisan realis yang hidup. Tak ada benang penopang, tak ada hembusan angin yang menyentuhnya.

Jantung Arif berdebar kencang. Ini bukan fisika, bukan logika. Ini adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang membisikkan keganjilan purba. Rasa penasaran bercampur ketakutan mulai merayap di benaknya.

Ia mendekat perlahan, langkahnya mengendap-endap di lantai kayu yang berderit. Aroma apek dan jamur memenuhi indranya. Setiap derit seolah memperkuat ketegangan di antara dirinya dan objek melayang itu.

Tangan Arif terulur ragu. Ujung jarinya menyentuh permukaan kain. Dingin. Bukan dingin biasa, tapi dingin yang menusuk, seolah menyerap kehangatan dari sekitarnya. Kain itu sedikit bergetar, seolah hidup.

Sebuah sensasi aneh menjalar dari ujung jarinya, naik ke lengan, lalu ke seluruh tubuhnya. Sebuah bisikan samar, seperti desiran angin di padang pasir, mengisi telinganya. Tapi tidak ada angin.

Arif menarik tangannya, terhuyung mundur. Matanya tak lepas dari kain pelikat itu. Motifnya, yang tadinya statis, kini tampak bergerak perlahan. Kotak-kotak itu seolah bergeser, saling menindih.

Warna-warna pudar itu perlahan menjadi lebih pekat, lebih gelap. Hitam dan coklat tua mendominasi, seperti bayangan yang merayap. Kain itu bukan lagi benda mati, ia seolah berevolusi.

Malam tiba, membawa kegelapan yang pekat. Arif tak bisa tidur. Setiap kali ia menutup mata, gambaran kain pelikat itu muncul. Mengambang, berbisik, memanggilnya kembali ke ruangan itu.

Keesokan paginya, ia kembali. Kali ini membawa kamera, meteran, dan catatan. Ia harus mendokumentasikan keanehan ini. Harus ada penjelasan ilmiah, meskipun otaknya menolak kemungkinan itu.

Namun, saat ia memasuki ruangan, kain itu telah berubah. Ukurannya sedikit membesar. Dan di tengah motifnya yang bergeser, muncul sebuah pusaran kecil, seperti lubang hitam mini.

Pusaran itu memancarkan cahaya redup, kebiruan. Aroma apek kini bercampur dengan bau aneh, seperti ozon atau logam panas. Suhu ruangan juga terasa lebih dingin, menusuk hingga ke tulang.

Arif mencoba menyentuhnya lagi. Kali ini ia lebih berhati-hati. Jarinya hampir menyentuh pusaran itu ketika sebuah dorongan tak terlihat menghantamnya, membuatnya terlempar ke belakang.

Ia membentur dinding, napasnya tercekat. Kain pelikat itu bergetar hebat. Pusarannya membesar, mengeluarkan suara mendesing rendah, seperti bisikan ribuan serangga yang terperangkap.

Rasa takut yang nyata mencekiknya. Ini bukan sekadar anomali. Ini adalah entitas. Sebuah gerbang. Sebuah misteri yang kini terasa mengancam jiwanya. Ia harus mencari tahu asal-usulnya.

Arif menghabiskan hari-hari berikutnya di perpustakaan, menelusuri arsip keluarga, membaca buku-buku lama tentang mitos dan legenda. Ia mencari petunjuk tentang kain pelikat, tentang "halaman kosong."

Ia menemukan catatan kuno milik kakek buyutnya. Sebuah tulisan tangan yang gemetar, menceritakan tentang sebuah "kain pembawa jiwa" yang digunakan dalam ritual kuno. Kain itu bisa membuka celah.

Celah menuju alam lain. Sebuah dimensi paralel yang dihuni oleh "ingatan yang hilang" atau "roh yang tersesat." Kain itu, menurut catatan, adalah penjaga sekaligus pintu.

Kakek buyutnya menuliskan peringatan: Jangan biarkan kain itu "lapar." Jangan biarkan ia melayang terlalu lama di "halaman kosong." Jika tidak, ia akan menarik semua yang ada di sekitarnya.

Arif kembali ke ruangan itu. Kain pelikat kini telah memenuhi sepertiga dinding. Pusaran di tengahnya menganga lebar, memancarkan cahaya yang lebih terang dan suara yang lebih nyaring.

Ia melihat debu-debu di lantai terangkat, berputar mendekati kain itu, lalu menghilang ke dalam pusaran. Bahkan buku-buku di rak dekat dinding mulai bergetar, seolah ditarik oleh gravitasi tak kasat mata.

Rasa dingin di ruangan itu kini menjadi menusuk, seolah semua kehangatan telah disedot. Arif bisa merasakan energi kain itu menarik napasnya, menguras kekuatannya. Ia harus menghentikannya.

Tapi bagaimana? Catatan kakek buyutnya tidak menyebutkan cara menutup celah itu. Hanya peringatan untuk tidak membukanya. Arif merasa terjebak dalam teka-teki kuno yang kini mengancam eksistensinya.

Ia melihat bayangan samar berkelebat di dalam pusaran. Bentuk-bentuk tak jelas, seperti siluet manusia atau hewan, melayang di sana. Apakah itu "jiwa-jiwa yang tersesat" yang disebut dalam catatan?

Kain pelikat itu bergetar hebat, membengkak, seolah ingin merobek dimensi. Suara desingan berubah menjadi lolongan melengking, memekakkan telinga. Arif berpegangan pada kusen pintu, kakinya lemas.

Ia tahu, jika kain itu terus membesar, seluruh ruangan akan tersedot. Bahkan mungkin seluruh rumah. Dan dirinya sendiri. Ia harus melakukan sesuatu, apa pun itu.

Arif teringat detail kecil dalam catatan: "Kain itu akan berhenti jika diberi apa yang dicarinya: sebuah ingatan yang kuat, sebuah cerita yang belum selesai."

Ia menatap kain pelikat itu. Ingatan apa? Cerita apa? Rumah ini menyimpan banyak kisah. Kisah-kisah keluarga, kisah-kisah lama. Tapi mana yang relevan?

Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu di pojok ruangan. Sebuah kotak kayu tua yang tertutup debu, di bawah meja yang sudah lapuk. Ia belum pernah membukanya.

Dengan sisa tenaganya, Arif merangkak menuju kotak itu. Tangan gemetar membuka pengaitnya. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku harian lusuh dan sebuah kalung berliontin perak.

Buku harian itu milik nenek buyutnya, Fatimah. Ia mulai membaca. Sebuah kisah cinta terlarang, sebuah kehilangan mendalam, dan janji untuk bertemu kembali "di tempat yang kosong."

Nenek buyutnya meninggal muda, hatinya hancur karena kekasihnya tak pernah kembali dari perang. Ia selalu menatap dinding kosong itu, berharap kekasihnya akan muncul di sana.

Kain pelikat itu adalah pemberian kekasihnya. Kain terakhir yang ia sentuh sebelum pergi. Nenek buyut selalu memeluknya, berharap ingatan mereka terjalin abadi.

Arif mengerti. Kain itu adalah manifestasi dari kerinduan dan janji yang tak terpenuhi. "Halaman kosong" itu adalah tempat nenek buyutnya menunggu, dan kini, kain itu menarik ingatan itu kembali.

Dengan gemetar, Arif memegang kalung itu. Ia mendekatkan kalung dan buku harian itu ke kain pelikat yang kini berputar semakin gila. "Ini ceritanya," bisiknya, "ini ingatan yang belum selesai."

Begitu kalung dan buku harian itu menyentuh pusaran, keajaiban terjadi. Desingan mereda. Pusaran mulai mengecil. Cahaya kebiruan meredup, lalu menghilang sepenuhnya.

Kain pelikat itu berhenti bergetar. Motifnya kembali pudar, stabil. Ukurannya menyusut perlahan, kembali ke bentuk aslinya. Dan kemudian, perlahan tapi pasti, kain itu mulai turun.

Mendarat lembut di lantai, seolah beban berat telah terangkat darinya. Ruangan itu kembali hening. Aroma ozon menghilang, digantikan bau apek yang familiar. Suhu kembali normal.

Arif terengah-engah, bersandar di dinding. Ia telah selamat. Misteri itu terpecahkan, setidaknya sebagian. Kain itu adalah penjaga ingatan, menunggu ceritanya diselesaikan.

Namun, saat ia menatap dinding yang kini benar-benar kosong itu, sebuah pertanyaan baru muncul. Jika kain itu telah mendarat, mengapa dinding itu terasa lebih kosong dari sebelumnya?

Seolah sesuatu telah diambil, bukan hanya ingatan, tetapi juga esensi dari "halaman kosong" itu sendiri. Sebuah celah telah terbuka, dan entah apa yang telah melintas.

Arif mengambil kain pelikat itu. Dinginnya tidak lagi menusuk, hanya sejuk. Ia melipatnya dengan hati-hati. Misteri telah usai, namun jejaknya tertinggal.

Mulai malam itu, Arif tidak bisa lagi melihat dinding kosong sebagai dinding biasa. Setiap kali ia memandangnya, ia merasakan tarikan halus, sebuah bisikan samar dari sesuatu yang tak terlihat.

Ia tahu, kain pelikat itu mungkin tidak akan pernah melayang lagi. Tapi "halaman kosong" itu, kini selamanya, menyimpan potensi untuk membuka kembali rahasia yang lebih gelap.

Dan Arif, sang peneliti skeptis, kini hidup dengan ketakutan baru: ketakutan akan ruang kosong. Karena di sanalah, di antara ketiadaan, batas antara dunia ini dan yang lain menjadi kabur.

Kain Pelikat yang Melayang di Halaman Kosong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *