Scroll untuk baca artikel
DIY

Kenapa Ada Jejak Kaki Tiga di Masjid Tua Ini? Warga Tak Berani Masuk Lagi

9
×

Kenapa Ada Jejak Kaki Tiga di Masjid Tua Ini? Warga Tak Berani Masuk Lagi

Share this article

Di jantung kota tua, tersembunyi di balik lorong-lorong sempit, berdiri sebuah masjid lama yang nyaris terlupakan. Dindingnya yang usang mengisahkan ribuan tahun, bata-batanya berlumut hijau, dan kubahnya retak di sana-sini. Udara di dalamnya terasa berat, dipenuhi aroma lembap dan debu zaman.

Ardi, seorang fotografer dan sejarawan amatir, terobsesi dengan tempat-tempat yang ditinggalkan. Ia mencari kisah yang tak terucap, keindahan yang tersembunyi. Masjid ini, dengan kesunyiannya yang mencekam, adalah permata yang sempurna untuk lensa kameranya.

Ia melangkah masuk, suara langkahnya menggema di ruang kosong. Cahaya senja menembus jendela kaca patri yang kusam, menari-nari di atas karpet beludru yang lapuk. Setiap sudut seolah menyimpan bisikan masa lalu.

Kemudian, matanya menangkap sesuatu yang ganjil. Di tengah mihrab, tepat di lantai yang seharusnya bersih, berdiri sebuah kaki tiga. Bukan kaki tiga kayu tua, melainkan tripod kamera modern, hitam dan ramping.

Tripod itu tampak asing, mencolok di antara kesunyian dan kehampaan. Tidak ada kamera terpasang di atasnya, hanya dudukan yang kosong. Ardi mengerutkan kening, kebingungan merayapi benaknya.

Siapa yang meninggalkannya? Mengapa di sini? Tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia lain, tidak ada jejak kaki baru di debu tebal lantai. Seolah tripod itu muncul begitu saja.

Ia mendekat, langkahnya hati-hati. Permukaan tripod itu bebas dari debu, mengindikasikan bahwa ia baru saja diletakkan. Sebuah perasaan aneh merambat di punggung Ardi, bukan takut, tapi kebingungan yang dingin.

Tripod itu mengarah lurus ke dinding mihrab, seolah-olah sedang mengamati sesuatu yang tak terlihat. Ardi menggeser pandangannya ke arah yang ditunjuk, namun hanya ada dinding batu yang polos, tanpa ukiran atau tulisan khusus.

Ia mengelilingi tripod itu, memeriksa setiap detailnya. Tidak ada merek yang dikenal, tidak ada nomor seri. Hanya sebuah benda mati, namun entah mengapa, terasa seperti memiliki tujuan yang sangat spesifik.

Ardi mengambil beberapa foto, mendokumentasikan keanehan itu. Pikiran-pikiran liar mulai menari di kepalanya. Apakah ini semacam seni instalasi? Atau sebuah lelucon? Namun suasana masjid terlalu sakral untuk hal semacam itu.

Ia memutuskan untuk pergi, namun bayangan kaki tiga itu terus membayangi pikirannya. Rasa penasaran yang kuat memaksanya kembali keesokan harinya, jauh sebelum fajar menyingsing, dengan harapan menemukan pemiliknya.

Namun masjid itu masih sepi, diselimuti kegelapan pagi. Ardi menyalakan senternya, sorot cahayanya menyapu lantai, mencari tripod yang misterius itu. Jantungnya berdebar kencang.

Kaki tiga itu masih di sana. Namun, ada yang berbeda. Posisinya sedikit bergeser, hanya beberapa inci dari tempat semula. Pergeseran itu nyaris tak terlihat, namun Ardi yakin ia tidak salah ingat.

Sebuah kerudung dingin merayapi Ardi. Bagaimana mungkin? Tidak ada yang masuk ke masjid sejak ia pergi. Pintu terkunci dari dalam, dan ia adalah satu-satunya yang memegang kunci cadangan yang ia dapat dari penjaga tua yang sakit.

Ia memeriksa lagi, jejak debu di sekitar kaki tripod menunjukkan pergeseran itu. Seolah-olah benda itu bergerak sendiri, atau dipindahkan oleh sesuatu yang tak terlihat, tak terdengar.

Rasa takut mulai menusuk, menggantikan rasa penasaran. Ardi merasa seperti ada mata yang mengawasinya dari kegelapan. Udara di sekitarnya terasa lebih dingin, lebih padat.

Ia memutuskan untuk menunggu. Bersembunyi di balik pilar besar, Ardi mengamati kaki tiga itu selama berjam-jam. Fajar menyingsing, lalu siang datang, namun tak ada yang terjadi. Kaki tiga itu tetap diam.

Namun, perasaan diawasi itu tak pernah hilang. Ardi bisa merasakan getaran aneh di udara, seolah ada frekuensi yang tak tertangkap oleh indra manusia normal, berputar di sekitar objek itu.

Ia berbicara dengan beberapa penduduk lokal, mencoba mencari tahu apakah ada yang pernah melihat tripod itu atau orang yang mencurigakan. Namun mereka hanya menggelengkan kepala, wajah mereka dipenuhi ketakutan dan keengganan.

“Masjid itu… punya kisahnya sendiri, Nak,” ujar seorang kakek tua, suaranya serak. “Jangan ganggu apa yang ada di dalamnya.” Matanya menyiratkan peringatan yang tak terucap.

Kata-kata itu hanya memicu rasa penasaran Ardi. Ia kembali ke masjid, kali ini membawa peralatan lengkap: kamera infra merah, perekam suara sensitif, dan detektor medan elektromagnetik.

Ia meletakkan semua peralatannya di sekitar kaki tiga. Detektor medan elektromagnetik menunjukkan lonjakan aktivitas sporadis, seolah ada energi tak terlihat yang mengalir di sekitar objek itu.

Perekam suara menangkap bisikan samar, sangat rendah sehingga nyaris tak terdengar, seperti hembusan angin yang terjebak di dalam dinding. Bisikan itu tak membentuk kata-kata, hanya desah dan dengung yang tak beraturan.

Ardi mengarahkan kamera infra merahnya ke dinding yang menjadi fokus tripod. Tidak ada yang terlihat, hanya pantulan panas biasa dari permukaan batu. Namun, ia merasa ada sesuatu yang luput dari pandangannya.

Ia menyadari bahwa tripod itu tidak hanya mengarah ke dinding, tetapi juga ke sebuah titik spesifik di lantai, tepat di bawahnya. Sebuah lingkaran samar, nyaris tak terlihat, terukir di sana.

Lingkaran itu terasa dingin di bawah sentuhannya, lebih dingin dari bagian lantai lainnya. Ardi menyapu debu di sekitarnya, berharap menemukan petunjuk, namun tak ada apa-apa selain ukiran yang tak jelas itu.

Ia teringat cerita-cerita kuno tentang titik-titik energi, portal tersembunyi, atau tempat-tempat di mana dimensi bertemu. Mungkinkah kaki tiga itu adalah alat untuk mengamati, atau bahkan memanipulasi, sesuatu yang tak kasat mata?

Malam ketiga, Ardi kembali. Kali ini ia datang tanpa kamera, tanpa peralatan. Ia hanya ingin merasakan, memahami. Bulan purnama menyinari masjid, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari.

Udara di dalam masjid terasa lebih dingin, lebih mencekam. Bisikan-bisikan samar kini terdengar lebih jelas, seolah memenuhi setiap sudut, mengelilinginya, berbicara dalam bahasa yang tak ia pahami.

Ia melihat kaki tiga itu, masih di tempatnya, menghadap dinding yang sama. Namun kini, ia merasa objek itu memancarkan aura yang berbeda, seolah lebih hidup, lebih “hadir.”

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Bukan langkah manusia, melainkan suara gesekan logam yang menyeret, sangat pelan, namun jelas. Suara itu datang dari arah kaki tiga.

Jantung Ardi berpacu. Ia mematikan senternya, bersembunyi di balik pilar yang sama. Ia menahan napas, matanya tak lepas dari tripod di tengah mihrab.

Suara gesekan itu berlanjut, semakin mendekat. Lalu, ia melihatnya. Kaki tiga itu bergerak. Bukan digeser, tapi seolah meluncur, bergeser perlahan di lantai yang berdebu, tanpa sentuhan.

Objek itu melayang beberapa inci di atas lantai, bergerak menuju pintu keluar. Gerakannya lambat, tak tergesa-gesa, namun penuh tujuan. Seolah ia telah menyelesaikan tugasnya.

Ardi merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsumnya. Ini bukan lelucon. Ini bukan halusinasi. Ia menyaksikan sesuatu yang melampaui pemahaman manusia.

Kaki tiga itu akhirnya mencapai ambang pintu, berhenti sejenak, lalu meluncur keluar ke dalam kegelapan malam. Suara gesekannya memudar, hilang ditelan kesunyian.

Ardi menunggu, terdiam, tak berani bergerak. Masjid itu kembali hening, namun keheningan kali ini terasa lebih dalam, lebih menakutkan, seperti keheningan setelah badai besar.

Ia memberanikan diri mendekati mihrab. Kaki tiga itu telah pergi. Yang tersisa hanyalah lingkaran samar di lantai, kini terasa lebih dingin dari sebelumnya, memancarkan aura misterius.

Di tengah lingkaran itu, Ardi melihat sesuatu yang kecil, berkilau samar. Sebuah kepingan logam kecil, dengan ukiran yang sangat rumit, mirip simbol kuno yang ia tak kenali.

Ia tidak berani menyentuhnya. Sebuah kesadaran mengerikan menghantamnya: kaki tiga itu bukanlah benda yang ditinggalkan. Itu adalah sebuah “pengamat.” Sebuah alat.

Alat itu mungkin telah mengamati sesuatu di dinding itu selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Sesuatu yang tak kasat mata, yang hanya bisa ditangkap oleh “lensa” tak terlihat dari tripod itu.

Dan kini, tugasnya telah selesai. Ia telah mengumpulkan datanya, merekam apa pun yang ia butuhkan, lalu pergi. Meninggalkan Ardi dengan pertanyaan yang tak terjawab dan ketakutan yang mendalam.

Ardi berbalik, berlari keluar dari masjid tanpa menoleh lagi. Ia tidak pernah kembali ke sana. Masjid tua itu tetap berdiri, menyimpan rahasia-rahasianya di balik dinding berlumut.

Kisah tentang kaki tiga itu menjadi mimpi buruk yang tak pernah pudar. Sebuah pengingat bahwa di dunia ini, ada hal-hal yang melampaui nalar, entitas yang mengamati kita dari balik tabir yang tak terlihat.

Dan masjid itu, kini bukan lagi hanya bangunan tua, melainkan sebuah portal, sebuah jendela, di mana batas antara dunia nyata dan yang tak terlihat menjadi sangat tipis. Sebuah tempat yang diamati oleh “kaki tiga” yang tak dikenal itu.

Kaki Tiga di Lantai Masjid Lama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *