Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Kamar Hotel Ini Viral Setelah Kru Mendengar Bisikan Misterius dari Dinding

10
×

Kamar Hotel Ini Viral Setelah Kru Mendengar Bisikan Misterius dari Dinding

Share this article

Kamar Hotel Ini Viral Setelah Kru Mendengar Bisikan Misterius dari Dinding

Kamar Hotel Kru Lantai 7: Bisikan di Balik Dinding Tua

Arya menatap pintu kamar 707 dengan ragu. Penugasan pertamanya sebagai kru hotel di “Grand Victoria,” sebuah bangunan tua yang megah namun seolah membeku dalam waktu. Kamar itu, katanya, khusus untuk staf.

Aroma apak menyambutnya begitu kunci berkarat itu berputar. Udara dingin menyelimuti, kontras dengan teriknya Jakarta di luar. Perabotannya kuno, selimut tebal dan lemari kayu gelap mendominasi ruang.

Ada yang aneh. Bukan hanya usianya, tapi juga atmosfernya. Seolah dinding-dinding itu menyimpan bisikan, menanti untuk didengar. Arya mencoba mengusir pikiran itu, menata barang-barangnya.

Malam pertama, tidur Arya gelisah. Suara gesekan samar terdengar dari lemari. Ia terbangun, memeriksa, tapi tidak ada apa-apa. Hanya imajinasinya, ia meyakinkan diri.

Beberapa hari berlalu, keanehan itu semakin intens. Kopi yang ia tinggalkan di meja sering kali berpindah posisi, atau keran air menetes sendiri. Ia mulai merasa diawasi.

Suatu dini hari, Arya terbangun oleh embusan napas dingin di telinganya. “Pergi…” bisik sebuah suara, nyaris tak terdengar, namun menggema di benaknya. Jantungnya berdebar kencang.

Ia mulai bertanya-tanya kepada staf senior. Pak Herman, manajer yang sudah puluhan tahun bekerja, hanya tersenyum kecut. “Kamar 707? Ah, itu memang ‘berisi’,” katanya tanpa detail.

Mbok Sumi, juru bersih kamar tertua, menatapnya dengan pandangan iba. “Jangan terlalu banyak bertanya, Nak,” bisiknya, “beberapa rahasia lebih baik tetap terkubur.”

Rasa penasaran Arya semakin membara. Ia mulai mencari tahu sejarah kamar 707. Konon, kamar itu pernah dihuni oleh seorang kru bernama Jati, yang menghilang tanpa jejak belasan tahun lalu.

Jati adalah seorang pemuda pendiam, pekerja keras, dan tak pernah punya masalah. Kepergiannya menjadi misteri yang tak terpecahkan, ditutup-tutupi oleh manajemen hotel kala itu.

Mungkinkah arwah Jati yang bergentayangan? Malam itu, Arya memutuskan untuk tidak tidur. Ia duduk di kursi tua, menunggu. Jam dinding berdetak pelan, mengisi kesunyian.

Pukul tiga pagi. Suhu kamar tiba-tiba menurun drastis. Sebuah bayangan melintas di sudut mata Arya, menuju lemari kayu yang gelap. Pintu lemari sedikit terbuka.

Arya mendekat dengan langkah gemetar. Ia membuka lemari sepenuhnya. Di balik tumpukan selimut usang, ada sebuah celah kecil, seolah menyembunyikan sesuatu.

Tangannya merogoh masuk. Ia merasakan sebuah benda keras. Sebuah buku bersampul kulit tua, nyaris hancur dimakan waktu. Jurnal.

Arya membukanya. Tulisan tangan di dalamnya mulai pudar, namun masih terbaca. Ini adalah jurnal Jati. Ia mulai membaca, setiap kata memicu ketegangan yang mencekam.

Jati menulis tentang kejanggalan yang ia temukan di hotel. Suara-suara aneh dari dinding, bisikan-bisikan, dan jejak kaki di koridor sepi. Bukan, bukan hantu. Ada yang lain.

Ia mencatat tentang “lorong rahasia” di balik dinding kamarnya, yang digunakan untuk sesuatu yang gelap. Penyelundupan, sebutnya. Hotel ini ternyata memiliki sisi tersembunyi.

“Mereka tahu aku tahu,” tulis Jati di halaman terakhir. “Aku harus menemukan bukti. Aku takut. Jika aku menghilang, cari di balik dinding…” Kalimat itu terputus.

Tiba-tiba, suara retakan keras terdengar dari balik lemari. Dinding kayu itu bergetar. Arya mundur, jantungnya berpacu. Dinding itu retak, memperlihatkan celah sempit.

Dari celah itu, hawa dingin yang menusuk keluar. Sebuah tangan pucat, nyaris transparan, muncul dari celah itu. Jari-jarinya menunjuk ke arah lantai di dalam lemari.

Arya menjerit tertahan. Ia melihat dengan jelas. Sosok Jati berdiri di sana, separuh tubuhnya tersembunyi di balik dimensi lain. Matanya memohon, menuntut.

Ia menuruti. Di bawah lantai lemari, ada bagian yang sedikit menonjol. Dengan sekuat tenaga, ia mencongkelnya. Di sana, tersembunyi sebuah kotak besi kecil.

Kotak itu berisi berkas-berkas lama, foto-foto, dan sebuah rekaman audio usang. Bukti-bukti kejahatan yang selama ini tersembunyi. Jaringan penyelundupan yang melibatkan petinggi hotel.

Jati mengangguk perlahan, senyum tipis terukir di wajah pucatnya. Tubuhnya mulai memudar, seolah beban berat telah terangkat darinya. Kamar 707 terasa sedikit lebih hangat.

Arya tidak membuang waktu. Dengan gemetar, ia membawa bukti-bukti itu ke polisi. Skandal besar pecah, mengguncang Grand Victoria hingga ke akarnya.

Petinggi hotel ditangkap, lorong rahasia ditemukan, dan kejahatan mereka terbongkar. Grand Victoria ditutup untuk investigasi, reputasinya hancur berkeping-keping.

Kamar 707 disegel. Tak ada lagi hawa dingin atau bisikan. Roh Jati akhirnya menemukan kedamaian, setelah belasan tahun terperangkap, menunggu kebenaran terungkap.

Arya meninggalkan hotel itu, bukan lagi sebagai kru, melainkan sebagai saksi kunci. Ia membawa serta kenangan tentang bisikan di balik dinding tua, yang mengubah hidupnya selamanya.

Misteri Kamar 707 kini menjadi legenda. Pengingat bahwa beberapa rahasia, tak peduli seberapa dalam terkubur, akan selalu menemukan jalannya untuk terungkap, bahkan dari balik kubur.

Dan di setiap hotel tua, di setiap kamar yang dingin, mungkin ada kisah-kisah yang menunggu untuk didengar, bisikan yang menuntut keadilan. Terkadang, kita hanya perlu mendengarkan.

Kamar Hotel Kru Lantai 7: Bisikan di Balik Dinding Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *