Keluarga Wijaya: Lenyap di Pusaran Makam Kuno Cikandang
Keluarga Wijaya, sebuah nama yang kini terukir dalam lembaran misteri Cikandang, semula hanyalah potret kehangatan dan rasa ingin tahu. Bapak Arman, seorang sejarawan amatir, bersama istrinya, Ibu Lestari, selalu menanamkan kecintaan pada peninggalan masa lalu kepada anak-anak mereka. Maya, putri sulung yang remaja, dan Adi, si bungsu yang ceria, seringkali diajak menjelajahi situs-situs bersejarah.
Kali ini, tujuan mereka adalah Makam Kuno Buyut Kalacitra, sebuah lokasi yang diselimuti kabut legenda di pelosok Cikandang. Desas-desus tentang aura mistis dan kisah-kisah orang hilang telah lama mengiringi nama makam itu. Namun, bagi Arman, itu justru menambah daya tarik.
Pagi itu, mobil keluarga Wijaya melaju perlahan menyusuri jalanan terjal. Hawa dingin mulai merayapi, diiringi kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan rimbun. Semakin jauh mereka melangkah, semakin sepi dan mencekam suasana di sekitar.
Pukul sepuluh pagi, mereka tiba di batas hutan yang konon menjadi gerbang menuju makam. Arman berbekal peta kuno dan senter, sementara Lestari membawa bekal makanan ringan. Maya dan Adi mengikuti di belakang, sesekali bersenda gurau, namun mata mereka tak luput mengamati sekeliling.
Jalur setapak itu nyaris tak terlihat, ditelan semak belukar dan lumut tebal. Aroma tanah basah dan dedaunan membusuk memenuhi udara. Pohon-pohon besar menjulang tinggi, dahan-dahannya membentuk kanopi gelap yang menghalangi cahaya matahari.
Tiba-tiba, Adi berhenti melangkah. Matanya menatap ke semak-semak di sisi jalan. “Ayah, Bunda, ada yang melihat kita,” bisiknya, suaranya sedikit bergetar. Arman dan Lestari menoleh, namun tak menemukan apa-apa selain kepekatan hutan.
Mereka melanjutkan perjalanan, namun firasat tak nyaman mulai menyelimuti. Suara-suara hutan seolah membisu, hanya menyisakan derap langkah mereka yang bergaung. Sebuah keheningan aneh mulai mencengkeram, terasa lebih berat dari biasanya.
Setelah hampir satu jam berjalan, siluet Makam Kuno Buyut Kalacitra akhirnya terlihat. Batu-batu nisan kuno berdiri miring, ditelan lumut tebal dan akar pohon yang melilit. Beberapa patung penjaga yang tak jelas bentuknya tampak rusak, seolah terkikis oleh waktu dan sesuatu yang lain.
Arman mengeluarkan kameranya, mulai memotret setiap sudut. Lestari menyiapkan tikar untuk beristirahat, sementara Maya dan Adi mencoba membaca prasasti yang nyaris tak terbaca. Udara di sekitar makam terasa lebih dingin, membawa serta bau apek yang menusuk hidung.
Saat Arman sedang fokus pada sebuah relief kuno, tiba-tiba senternya berkedip-kedip lalu mati total. Ia mencoba mengetuknya, namun tak ada respons. “Aneh,” gumamnya, “baterainya baru diganti.”
Tak lama kemudian, Maya berseru. “Ayah, Bunda! Prasasti ini… tulisannya bergerak!” Arman dan Lestari segera menghampiri. Di bawah cahaya samar yang menembus kanopi pohon, tulisan-tulisan kuno di batu itu memang seolah menggeliat, menciptakan ilusi optik yang membingungkan.
Adi tiba-tiba menangis. “Aku takut! Ada suara aneh!” Ia menunjuk ke arah gundukan tanah di balik makam utama. Semua mata tertuju ke sana, namun hanya ada kegelapan dan keheningan yang menyesakkan.
Lestari mencoba menenangkan Adi, namun ia sendiri merasa cemas. “Arman, kurasa kita harus segera pergi,” bisiknya, suaranya tegang. Arman mengangguk setuju. Atmosfer di sana semakin menyesakkan, terasa ada kehadiran tak kasat mata yang mengawasi.
Saat mereka berbalik untuk meninggalkan makam, sebuah embusan angin dingin yang sangat kuat menerpa mereka. Bukan angin biasa, melainkan seperti desahan panjang yang membawa bisikan-bisikan tak jelas. Bulu kuduk mereka merinding seketika.
Maya berteriak. “Ayah, itu apa?!” Ia menunjuk ke arah makam utama. Dari balik bayangan, sesosok bayangan hitam tinggi menjulang, seolah muncul dari dalam tanah. Bentuknya tak jelas, namun auranya sangat mengancam.
“Lari!” teriak Arman. Mereka berempat bergegas lari, mencoba kembali ke jalur setapak. Namun, hutan yang tadi mereka lewati seolah berubah. Pohon-pohon tampak lebih rapat, jalur menghilang, dan kabut semakin tebal.
Mereka berlari tanpa arah, napas tersengal. Suara bisikan-bisikan aneh semakin jelas, seolah mengejar mereka dari segala arah. Sesekali, mereka merasa disentuh, namun tak ada apa-apa di sekitar.
“Arman, aku tidak bisa melihat!” seru Lestari, suaranya panik. Kabut pekat telah menelan segalanya, jarak pandang hanya beberapa senti. Mereka kehilangan orientasi, terpisah dalam kegelapan yang tiba-tiba datang.
“Maya! Adi! Jawab Ayah!” teriak Arman, suaranya putus asa. Ia mencoba meraba-raba dalam kabut, mencari tangan istri dan anak-anaknya. Namun, ia hanya menemukan kekosongan. Suara terakhir yang ia dengar adalah jeritan samar Maya, lalu sunyi.
Hanya satu kedipan mata. Lalu kekosongan. Seolah keluarga Wijaya ditarik ke dalam dimensi lain, lenyap tanpa jejak. Kabut itu perlahan menipis, namun keheningan yang ditinggalkannya jauh lebih menakutkan.
Dua hari kemudian, kecemasan mulai merayapi warga desa Cikandang. Mobil keluarga Wijaya masih terparkir rapi di batas hutan, namun tak ada seorang pun di dalamnya. Pintu tidak terkunci, barang-barang pribadi mereka masih utuh.
Kepala desa segera melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib. Tim SAR dan kepolisian segera dikerahkan. Namun, setiap jengkal hutan hanya menawarkan kehampaan. Tidak ada jejak kaki baru, tidak ada tanda perlawanan.
Pencarian besar-besaran dilakukan selama berminggu-minggu, melibatkan anjing pelacak dan teknologi pencitraan termal. Namun hasilnya nihil. Keluarga Wijaya seolah lenyap ditelan bumi, tanpa meninggalkan petunjuk sedikit pun.
Investigator kepolisian, Kompol Budi Santoso, adalah salah satu yang paling bingung. “Ini kasus paling aneh yang pernah saya tangani,” ujarnya kepada media. “Tidak ada jejak, tidak ada saksi. Mereka seolah menghilang begitu saja.”
Kasus ini menjadi viral, memicu berbagai spekulasi. Ada yang menduga penculikan, namun tidak ada tebusan yang diminta. Ada pula yang percaya pada serangan hewan buas, namun tidak ditemukan sisa-sisa atau darah.
Namun, desas-desus kuno tentang Makam Kuno Buyut Kalacitra kembali berhembus kencang. Warga desa menceritakan kisah-kisah tentang “penjaga makam” yang tak kasat mata, yang akan menghukum siapa pun yang berani mengganggu ketenangan situs itu.
Seorang ahli spiritual setempat, Mbah Karta, bahkan pernah mencoba melakukan ritual di dekat makam. Namun, ia kembali dengan wajah pucat pasi, menolak berbicara banyak, hanya berbisik tentang “kekuatan purba” yang tak boleh diganggu.
Beberapa peneliti paranormal juga tertarik dengan kasus ini. Mereka mendatangkan peralatan canggih ke lokasi. Alat-alat pendeteksi medan elektromagnetik (EMF) menunjukkan lonjakan energi yang tak biasa di sekitar makam.
Suhu udara di area makam juga tercatat lebih rendah secara signifikan dibandingkan daerah sekitarnya. Beberapa investigator bahkan melaporkan mendengar bisikan-bisikan halus atau merasakan sentuhan dingin saat berada di sana.
“Ada sesuatu yang tidak biasa di sini,” kata seorang parapsikolog. “Energi yang sangat tua dan kuat, seperti ada gerbang yang terbuka sesaat.” Namun, mereka tak bisa memberikan penjelasan konkret tentang nasib keluarga Wijaya.
Pihak kepolisian akhirnya menutup kasus ini sebagai “orang hilang tanpa jejak”, meskipun tanpa resolusi yang memuaskan. File kasus Keluarga Wijaya menjadi arsip dingin yang penuh misteri.
Makam Kuno Buyut Kalacitra kini semakin dihindari. Jalan setapak menuju ke sana ditumbuhi semak belukar yang lebih lebat, seolah alam sendiri enggan membiarkan siapa pun mendekat. Kisah keluarga Wijaya menjadi peringatan.
Hingga hari ini, tidak ada satu pun petunjuk yang mengungkap nasib Arman, Lestari, Maya, dan Adi. Mereka lenyap begitu saja, meninggalkan pertanyaan abadi yang menggantung di udara Cikandang. Apakah mereka masih hidup, terperangkap di dimensi lain?
Atau apakah mereka telah menjadi bagian dari misteri Makam Kuno Buyut Kalacitra itu sendiri? Hanya keheningan makam yang menjawab, menyimpan rahasia kelam tentang keluarga yang lenyap di antara kabut dan bisikan masa lalu.
Makam Buyut Kalacitra tetap berdiri sunyi, menyimpan rahasia di balik batu-batu kunonya. Hanya angin yang berbisik, membawa kisah keluarga yang lenyap, menjadi legenda yang tak terpecahkan di tanah Cikandang. Kisah itu adalah peringatan, bahwa ada tempat-tempat yang sebaiknya dibiarkan tidur dalam damai.





