Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Keranda Terbang di Tengah Senja: Misteri Desa Sukamaju

10
×

Keranda Terbang di Tengah Senja: Misteri Desa Sukamaju

Share this article

Keranda Terbang di Tengah Senja: Misteri Desa Sukamaju

Keranda Terbang di Tengah Senja: Misteri Desa Sukamaju

Senja merayap perlahan di atas Desa Sukamaju. Warna jingga dan ungu berpadu, melukis langit dengan kuas keindahan yang semu. Namun, keindahan itu tak mampu menepis selubung ketakutan yang kini mencengkeram erat.

Desir angin membawa bisikan-bisikan, bukan dari dedaunan, melainkan dari mulut-mulut ketakutan. Keranda terbang. Sebuah legenda lama, kini menjadi kenyataan yang mengerikan.

Awalnya hanya gumaman, cerita-cerita yang beredar dari satu rumah ke rumah lain. Sebuah bayangan gelap melayang tanpa suara di cakrawala, saat mentari hampir tenggelam.

Kemudian, bisikan itu berubah menjadi jeritan. Nenek Tua itu membeku. Matanya menatap langit senja. Sebuah siluet melayang perlahan.

Jeritan pilu merobek kesunyian. Ketakutan menancap dalam hati. Di tengah langit senja yang memudar, sebuah keranda terlihat jelas. Melayang. Tanpa pengusung. Tanpa tali.

Warga desa mulai mengunci pintu rapat-rapat. Jendela ditutup, tirai ditarik. Cahaya lampu minyak yang redup menjadi satu-satunya pelipur lara dalam kegelapan yang menakutkan.

Arifin, seorang jurnalis investigasi yang skeptis, mendengar kabar itu. Ia tertarik oleh keanehan yang melampaui logika. Tugasnya adalah mencari kebenaran, menyingkap ilusi.

Ia tiba di Sukamaju saat senja kembali menyelimuti desa. Udara dingin menyambutnya, membawa serta aroma tanah basah dan ketegangan yang pekat.

Wajah-wajah penduduk desa tampak kuyu. Mata mereka menyimpan ketakutan mendalam. Mereka bercerita dengan suara bergetar, tentang penampakan itu.

"Ia muncul saat senja," ujar seorang kepala desa dengan suara serak. "Selalu saat senja, Pak. Seolah ia mencari sesuatu. Atau seseorang."

Arifin mencatat setiap detail. Ia memeriksa lokasi penampakan, mencari jejak. Namun, tidak ada apa pun. Hanya tanah yang lembap dan rerumputan yang bergoyang.

Skeptismenya masih kuat. Ini pasti ulah iseng, atau mungkin halusinasi massal yang dipicu oleh ketakutan kolektif. Ia harus menemukan penjelasan logis.

Malam-malam berikutnya, Arifin berjaga. Ia memilih tempat strategis, sebuah bukit kecil di pinggir desa, yang memberinya pandangan luas ke arah langit barat.

Ia membawa kamera, teropong, dan catatan. Siap membongkar misteri ini, mengubahnya menjadi berita utama yang akan menghebohkan.

Senja kembali tiba. Warna merah membara, lalu memudar menjadi ungu pekat. Arifin menahan napas, matanya terpaku pada cakrawala.

Angin berdesir pelan, menggoyangkan dedaunan. Jam demi jam berlalu. Tidak ada apa-apa. Hanya burung-burung yang pulang ke sarang.

Kekecewaan mulai menyelinap. Mungkin ini memang hanya cerita kosong. Atau ia melewatkan momennya. Arifin memutuskan untuk bertahan semalam lagi.

Pada senja berikutnya, Arifin merasakan ada yang berbeda. Udara terasa lebih berat, lebih dingin dari biasanya. Bulu kuduknya merinding tanpa sebab.

Ia memegang teropongnya erat-erat. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Sebuah firasat aneh menyelimuti dirinya.

Tepat ketika garis terakhir matahari menghilang di balik bukit, ia melihatnya. Sebuah titik hitam di kejauhan. Perlahan membesar.

Arifin menahan napas. Tangannya gemetar saat ia mengangkat teropongnya. Siluet itu semakin jelas. Keranda.

Ia melayang dengan kecepatan konstan, tanpa suara. Warnanya hitam pekat, kontras dengan sisa-sisa cahaya senja. Tidak ada tali, tidak ada tiang.

Keranda itu tampak tua, lapuk, seolah sudah melewati ribuan tahun. Sebuah kain putih kusam terlihat menutupi bagian atasnya.

Arifin terpaku. Logikanya berteriak, ini tidak mungkin. Matanya sendiri menyaksikan hal yang mustahil. Ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya.

Keranda itu semakin mendekat. Ia tidak terbang tinggi, melainkan cukup rendah, seolah sedang menyisir pepohonan.

Arifin bisa melihat detailnya sekarang. Ukiran-ukiran kuno samar terlihat di sisinya. Kain putih itu tampak kotor, bernoda.

Ia mencoba mengambil gambar, namun tangannya terlalu gemetar. Fokus kameranya bergeser. Ketakutan melumpuhkannya.

Keranda itu kini berada tepat di atas desa. Melayang perlahan, mengelilingi rumah-rumah. Seolah mencari pintu yang terbuka.

Warga desa pasti melihatnya. Arifin membayangkan mereka meringkuk ketakutan di dalam rumah masing-masing, memanjatkan doa.

Keranda itu berhenti di atas sebuah rumah tua, di ujung desa. Rumah itu dikenal angker, telah lama tak berpenghuni.

Arifin memberanikan diri. Ia harus tahu. Ia harus mencari tahu apa yang ada di dalamnya, atau mengapa ia memilih tempat itu.

Ia berlari menuruni bukit, menuju desa. Kakinya terasa berat, namun tekadnya mendorongnya maju. Ketakutan berganti penasaran.

Sesampainya di dekat rumah tua itu, ia memperlambat langkah. Halaman rumah ditumbuhi semak belukar liar. Jendela-jendela pecah, menganga seperti mata kosong.

Keranda itu masih melayang di atas atap rumah. Diam. Menyeramkan. Arifin merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Ia memberanikan diri masuk ke halaman. Semak-semak kering berderak di bawah kakinya. Jantungnya berdetak tak karuan.

Ia mendongak ke atas. Keranda itu bergerak. Perlahan, ia mulai turun. Menuju salah satu jendela yang pecah.

Arifin mempercepat langkahnya. Ia ingin mencapai jendela itu sebelum keranda itu masuk sepenuhnya. Ia harus melihat apa yang ada di dalamnya.

Ia berhasil mencapai jendela. Namun, keranda itu sudah masuk, separuh badannya telah melewati kusen. Arifin mengulurkan tangan.

Ia meraih kain putih yang menjuntai. Dingin. Keras. Seperti kain kafan yang sudah lama. Ia menariknya.

Kain itu lepas. Terjatuh ke tangan Arifin. Ia melihat ke dalam keranda. Kosong. Tidak ada mayat. Tidak ada apa-apa.

Hanya kegelapan. Sebuah lubang kosong yang menganga. Keranda itu kemudian meluncur masuk sepenuhnya ke dalam rumah.

Arifin terdiam. Kosong? Lalu, mengapa ia terbang? Apa yang dicari? Siapa yang mengendalikannya?

Ia melihat kain di tangannya. Bukan kain putih biasa. Ia merasa ada yang aneh. Kain itu tampak sangat tua, usang.

Ia menyentuhnya lagi. Ada tekstur aneh. Kemudian, ia melihatnya. Tulisan. Samar-samar. Sebuah tulisan kuno, tersembunyi.

Tulisan itu bukan bahasa biasa. Mirip aksara Jawa kuno, namun dengan simbol-simbol yang tidak dikenal. Arifin merinding.

Ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih gelap di balik semua ini. Bukan sekadar penampakan biasa.

Ia membalik kain itu. Di sisi lain, sebuah gambar. Gambar yang digambar dengan tinta hitam pekat.

Gambar itu adalah peta. Peta Desa Sukamaju. Dengan sebuah tanda silang merah di tengahnya. Tepat di lokasi rumah tua itu.

Arifin menatap peta itu, lalu ke rumah tua yang gelap. Ia kembali melihat keranda terbang tadi. Sebuah keranda kosong.

Misteri ini tidak terpecahkan. Ia justru semakin dalam. Keranda itu bukan membawa sesuatu, melainkan mencari sesuatu. Atau mengklaim sesuatu.

Apa yang ada di rumah itu? Mengapa keranda itu memilih tempat ini? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di benak Arifin.

Ia kembali ke bukit, membawa serta kain misterius itu. Senja telah sepenuhnya hilang. Malam pekat menelan Sukamaju.

Keranda itu tidak terlihat lagi. Ia telah menghilang ke dalam kegelapan rumah tua itu. Meninggalkan Arifin dengan ketakutan baru.

Ia tidak lagi skeptis. Ada hal-hal di dunia ini yang melampaui logika. Hal-hal yang hanya muncul saat senja.

Misteri keranda terbang Desa Sukamaju tidak terpecahkan. Ia hanya menyisakan jejak ketakutan dan sebuah kain tua bertuliskan aksara misterius.

Dan Arifin, sang jurnalis, tahu ia tidak akan pernah bisa tidur nyenyak lagi saat senja tiba. Ia akan selalu bertanya, apa yang sebenarnya ada di dalam keranda itu.

Atau, lebih mengerikan lagi, apa yang akan dimasukkan ke dalamnya. Keranda itu mungkin kosong, tapi ia sedang menunggu.

Menunggu senja berikutnya. Menunggu korban berikutnya. Misteri itu tetap menggantung, seiring teror yang membayangi Desa Sukamaju.

Keranda Terbang di Tengah Senja: Misteri Desa Sukamaju

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *