Scroll untuk baca artikel
Kisah Viral Misteri

Viral! Layar Ini Diketuk Tiga Kali Setiap Tengah Malam — Siapa Pelakunya?

11
×

Viral! Layar Ini Diketuk Tiga Kali Setiap Tengah Malam — Siapa Pelakunya?

Share this article

Viral! Layar Ini Diketuk Tiga Kali Setiap Tengah Malam — Siapa Pelakunya?

Ketukan Tiga Kali di Layar Malam

Malam itu, dingin menusuk kulit. Risa menyalakan laptopnya. Layar Zoom memancarkan cahaya biru. Kuliah Sejarah Asia Tenggara dimulai. Ruangan sunyi, hanya suara dosen mengisi udara. Mahasiswa lain terlihat lelah di kotak-kotak kecil.

Tiba-tiba, sebuah ketukan terdengar. Tiga kali, pelan tapi jelas. Bukan dari dalam kamarnya. Suara itu seolah muncul dari balik layar. Risa mengerutkan kening, menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.

Ia mengira itu hanya imajinasinya. Atau mungkin tetangga sebelah. Tapi ketukan itu terulang lagi. Selalu tiga kali. Selalu saat suasana paling hening. Hanya Risa yang tampaknya mendengarnya.

Jantung Risa mulai berdebar. Ia mencoba fokus pada presentasi. Namun, pikirannya melayang. Siapa atau apa yang mengetuk? Dan mengapa hanya dia yang peka? Kecemasan merayapi benaknya perlahan.

Minggu-minggu berikutnya, ketukan itu menjadi teman setianya. Setiap kuliah malam, tanpa gagal. Tiga ketukan misterius. Kadang berbarengan dengan suara dosen. Kadang saat Risa hendak bertanya.

Ia mulai merasa terisolasi. Mencoba bercerita pada teman-teman. Mereka hanya menertawakan. Mengira Risa terlalu stres. Atau kurang tidur akibat begadang. Tidak ada yang percaya padanya.

Profesornya pun menanggapi santai. “Mungkin gangguan sinyal, Risa. Atau suara rumahmu sendiri.” Tapi Risa tahu. Suara itu bukan dari sana. Itu datang dari sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak terlihat.

Paranoia mulai menggerogoti. Risa memeriksa setiap sudut kamarnya. Mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Bahkan menutupi cermin. Tapi ketukan itu tetap ada. Tepat di telinganya.

Ia mencoba merekam suara itu. Menyalakan perekam audio. Namun, setiap kali diputar ulang, rekamannya bersih. Seolah ketukan itu tak pernah ada. Atau hanya untuknya, dan tidak untuk teknologi.

Ketukan itu semakin mendesak. Terkadang terasa lebih dekat. Seolah ada di dalam laptopnya. Atau bahkan di dalam kepalanya. Membuatnya sulit berkonsentrasi. Nilainya mulai menurun drastis.

Suatu malam, ketukan itu disertai hal lain. Layar Zoomnya berkedip-kedip. Seperti ada gangguan. Namun, koneksi internetnya stabil. Hanya Risa yang mengalami fenomena ini.

Kemudian, ia mulai melihat bayangan. Sekilas, di sudut layar. Seperti siluet hitam pekat. Bergerak cepat, tak jelas bentuknya. Lalu menghilang secepat ia muncul. Membuat bulu kuduknya merinding.

Risa mulai mencari tahu. Membaca forum-forum daring. Tentang gangguan spiritual. Atau fenomena aneh pada perangkat elektronik. Kebanyakan hanya cerita tak masuk akal. Sampai ia menemukan sebuah postingan.

Seorang pengguna anonim menulis. Tentang ketukan tiga kali. Pada malam hari. Yang sering terjadi di sekitar area kampus lama. Terutama pada mahasiswa yang belajar keras. Atau mengerjakan tesis.

“Itu adalah ‘Arwah Penjaga Ilmu’,” tulisnya. “Roh seorang mahasiswa. Yang tak sempat lulus. Ia meninggal di masa lalu. Kini mencari teman, atau penerus.” Risa merasa mual. Itu terlalu kebetulan.

Ia mengabaikan postingan itu. Berusaha berpikir logis. Pasti ada penjelasan ilmiah. Semua ini hanya halusinasi. Akibat stres dan kurang tidur. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Namun, ketukan itu semakin intens. Seolah makhluk itu tidak suka diabaikan. Ketukan itu menjadi lebih keras. Lebih mendesak. Seperti ingin menarik perhatian penuhnya. Menuntut sebuah respons.

Suatu malam, saat dosennya menjelaskan materi rumit. Ketukan itu datang lagi. Kali ini, lebih kuat dari sebelumnya. Risa menahan napas. Tiba-tiba, suara statis memenuhi earphone-nya.

Suara-suara berbisik muncul. Sangat pelan, hampir tak terdengar. Tapi Risa bisa merasakan getarannya. Kata-kata yang tak jelas. Seperti gumaman kuno. Membuatnya merinding.

Kemudian, ketukan itu beresonansi. Bukan hanya di telinganya. Tapi di seluruh ruangan. Meja bergetar pelan. Buku-buku di rak bergoyang. Suasana berubah menjadi dingin yang mencekam.

Beberapa mahasiswa di Zoom terlihat bingung. Mereka saling pandang. “Ada yang dengar suara itu?” tanya seseorang. Risa terkesiap. Berarti bukan hanya dia yang mendengarnya.

Namun, suara itu terlalu samar bagi mereka. Hanya Risa yang mendengarnya dengan jelas. Ketukan dan bisikan itu. Ia merasa seperti pusat badai. Yang tak terlihat oleh orang lain.

Lalu, sebuah kejadian aneh terjadi. Saat Risa membuka mikrofon untuk bertanya. Layar Zoom-nya membeku. Gambarnya terdistorsi. Kemudian, muncul sesosok bayangan hitam. Tepat di belakang kepalanya.

Bayangan itu sangat jelas. Bentuk manusia. Dengan rambut panjang terurai. Namun tanpa wajah. Hanya kehampaan gelap. Seperti lubang hitam. Menatap lurus ke arahnya. Dari balik layar.

Risa menjerit tertahan. Ia mematikan laptopnya. Lalu berlari keluar kamar. Jantungnya berdebar kencang. Nafasnya terengah-engah. Keringat dingin membanjiri tubuhnya.

Ia tak bisa tidur malam itu. Bayangan tanpa wajah itu. Terus menghantuinya. Ketukan tiga kali itu. Kini terasa sangat nyata. Bukan lagi halusinasi. Tapi sebuah peringatan.

Keesokan harinya, Risa mencari informasi lebih lanjut. Ia mengunjungi perpustakaan kampus. Menggali arsip-arsip lama. Mencari tahu tentang “Mahasiswa Abadi” itu. Atau apapun yang terkait.

Ia menemukan sebuah artikel lama. Tentang seorang mahasiswa. Bernama Dimas. Ia menghilang misterius. Saat mengerjakan skripsinya. Di tahun 1970-an. Dengan topik yang sama persis dengannya.

Dimas adalah mahasiswa cerdas. Dikenal sangat tekun belajar. Ia sering begadang di perpustakaan. Atau di kamarnya sendiri. Hanya untuk menyelesaikan penelitiannya. Persis seperti Risa.

Ia tidak pernah ditemukan. Skripsinya pun lenyap. Kabar angin mengatakan. Ia meninggal di dalam kampus. Akibat kelelahan. Atau hal yang lebih mengerikan. Kisahnya menjadi legenda.

Risa merasa terhubung. Mungkinkah Dimas yang mengetuk? Mencari bantuan untuk skripsinya? Atau ingin menyampaikan sesuatu? Yang tak sempat ia selesaikan. Sebelum kematian menjemput.

Sejak malam itu, ketukan itu tak pernah terdengar lagi. Risa menyelesaikan kuliahnya. Ia lulus dengan nilai baik. Namun, pengalaman itu tak pernah pudar. Mengendap di dasar ingatannya.

Setiap kali ia membuka laptop. Terutama di malam hari. Sebuah perasaan dingin menyelimuti. Ia tahu. Sesuatu yang tak kasat mata. Masih ada di sana. Mengawasinya dari balik layar.

Dan setiap kali ia melihat sebuah bayangan. Atau mendengar suara samar. Jantungnya selalu berdebar. Karena ia tahu. Tiga ketukan itu. Bukan hanya suara biasa. Tapi bisikan dari masa lalu.

Sebuah misteri yang belum terpecahkan. Sebuah kehadiran yang abadi. Menunggu di kegelapan. Untuk didengar. Untuk diingat. Oleh mereka yang berani. Belajar di tengah sunyi malam.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *