Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Anak Kecil Itu Selalu Muncul di Sumber Air Panas… Tapi Tak Pernah Bicara

9
×

Anak Kecil Itu Selalu Muncul di Sumber Air Panas… Tapi Tak Pernah Bicara

Share this article

Anak Kecil Itu Selalu Muncul di Sumber Air Panas… Tapi Tak Pernah Bicara

Udara dingin menusuk kulit, namun kehangatan uap belerang dari sumber air panas itu membalut tubuh Arif. Bocah delapan tahun itu duduk di tepi kolam alami, menatap kabut tebal yang melayang di atas permukaan air. Liburan keluarga mereka di pedalaman hutan ini adalah pelarian dari hiruk-pikuk kota.

Sumber air panas itu terpencil, jauh dari keramaian, dan dikelilingi oleh pepohonan raksasa. Penduduk lokal jarang mengunjunginya, konon karena ada kisah-kisah aneh yang menyelimutinya. Namun, bagi Arif, tempat itu terasa seperti negeri dongeng.

Malam kedua mereka tiba, setelah semua orang dewasa tertidur di tenda masing-masing, Arif merasakan sesuatu yang aneh. Bukan hanya uap belerang yang memenuhi udara, melainkan sebuah bisikan samar. Bisikan itu seolah memanggil namanya, lembut namun mendesak.

Jantung Arif berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya. Rasa penasaran mengalahkan takutnya. Ia melangkah perlahan keluar dari tenda, menembus dinginnya malam. Cahaya bulan purnama menyaring melalui celah-celah dedaunan, menciptakan bayangan menari di tanah.

Bisikan itu kini lebih jelas, seolah datang dari arah hutan di balik kolam utama. Arif tahu ia seharusnya tidak pergi sendiri, tetapi ada dorongan tak terlihat yang menariknya. Langkah kakinya terasa ringan, seolah bukan ia yang mengendalikannya.

Ia menyusuri jalan setapak kecil yang jarang dilewati, melewati semak belukar yang basah. Pepohonan tua menjulang tinggi, dahan-dahannya saling bertautan, membentuk terowongan gelap. Udara menjadi lebih dingin, dan uap belerang semakin pekat.

Tiba-tiba, ia mendengar suara lain. Bukan bisikan, melainkan desahan panjang, seperti tarikan napas raksasa. Suara itu berasal dari arah kolam tersembunyi yang ia lihat dari jauh pada siang hari. Kolam yang selalu diselimuti kabut tebal.

Arif mempercepat langkahnya, matanya mencoba menembus kegelapan. Ia tiba di sebuah ceruk alami yang tersembunyi, di mana sebuah kolam air panas kecil bersembunyi. Air di sana tampak lebih gelap, memancarkan cahaya kebiruan samar dari dasarnya.

Kabut di atas kolam itu berputar-putar, bukan lagi sekadar uap biasa. Kabut itu membentuk pusaran, perlahan-lahan mengambil wujud. Jantung Arif nyaris berhenti berdetak. Ia ingin lari, namun kakinya terpaku di tanah.

Wujud itu semakin jelas: siluet seorang anak kecil, terbentuk dari uap dan cahaya kebiruan. Matanya kosong, namun memancarkan kesedihan yang mendalam. Arif merasakan hawa dingin yang menusuk, padahal ia berada di dekat air panas.

“Jangan takut,” sebuah suara melayang, bukan dengan telinga, melainkan langsung ke dalam pikiran Arif. Suara itu milik anak kecil di hadapannya, suara yang sama dengan bisikan yang memanggilnya. “Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu.”

Arif tak bisa bicara, hanya menatap. Siluet itu perlahan mengulurkan tangannya yang tembus pandang, menunjuk ke dasar kolam. Cahaya kebiruan di sana berkedip-kedip, seolah mengundang. Sebuah rasa penasaran yang aneh menguasai dirinya.

Ia melangkah maju, mendekati kolam. Airnya hangat, namun terasa ada arus dingin di dalamnya, menariknya ke tengah. Siluet anak itu mengikutinya, melayang di atas permukaan air, matanya terus menatapnya tanpa berkedip.

“Di sini, tersembunyi sebuah kebenaran,” suara itu bergema lagi dalam benaknya. “Kebenaran yang terlupakan, kekuatan yang tertidur.” Arif bisa merasakan energi kuno yang terpancar dari dasar kolam.

Tiba-tiba, permukaan air bergejolak. Bukan karena gelembung belerang, melainkan karena sesuatu yang bergerak di bawah sana. Siluet anak itu mundur sedikit, seolah memberi ruang. Lalu, sebuah objek perlahan muncul ke permukaan.

Itu adalah sebuah liontin, terbuat dari batu obsidian hitam legam, dengan ukiran simbol kuno yang belum pernah Arif lihat sebelumnya. Liontin itu memancarkan cahaya kebiruan yang sama dengan kolam dan siluet anak itu.

“Ini milikmu,” suara itu berkata. “Kau adalah yang terpilih. Hanya kau yang bisa melihatnya, merasakannya.” Liontin itu melayang di udara, bergerak mendekat ke arah Arif.

Dengan tangan gemetar, Arif meraih liontin itu. Dinginnya obsidian terasa menusuk, namun segera digantikan oleh kehangatan yang aneh. Simbol-simbol ukiran di permukaannya seolah hidup, berdenyut pelan.

Begitu liontin itu ada di genggamannya, siluet anak itu mulai memudar. Cahaya kebiruan meredup, dan kabut kembali menjadi uap biasa. Dalam sekejap, ia menghilang sepenuhnya, meninggalkan Arif sendirian di tepi kolam.

Namun, rasa takutnya telah tergantikan oleh kebingungan dan keheranan. Apa yang baru saja terjadi? Siapa anak itu? Dan apa arti liontin ini? Ia menatap liontin di tangannya, lalu ke kolam gelap di hadapannya.

Ia kembali ke tendanya sebelum fajar menyingsing, dengan liontin itu tersimpan aman di balik bajunya. Orang tuanya tidak menyadari petualangannya semalam. Arif mencoba tidur, namun pikirannya terus berputar.

Keesokan harinya, ia mencoba mencari tahu. Ia bertanya kepada orang tuanya tentang cerita-cerita kuno di sekitar sumber air panas itu. Ayahnya hanya tertawa, mengatakan itu hanya takhayul orang tua.

“Kata kakek buyutmu, dulu ada sebuah desa tersembunyi di sini,” kata ibunya, membersihkan sayuran. “Desa yang punya penjaga spiritual, yang melindungi mata air itu dari orang-orang serakah.”

“Tapi desanya menghilang tanpa jejak,” sambung ayahnya. “Ditelan bumi atau kabut, entahlah. Makanya orang tak berani mendekat.” Arif mendengarkan dengan seksama, menyadari bahwa ia telah bertemu dengan salah satu penjaga itu.

Selama sisa liburan, Arif tidak lagi mendekati kolam tersembunyi itu. Namun, setiap kali ia memandang sumber air panas utama, ia tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar uap dan belerang. Sebuah rahasia yang ia pegang.

Liontin obsidian itu selalu bersamanya. Terkadang, di malam hari, ia akan merasakan denyutan samar dari batu itu, dan bisikan yang sama akan terlintas di benaknya. Bukan lagi bisikan menakutkan, melainkan sebuah melodi.

Melodi kuno yang menceritakan tentang kekuatan alam, tentang keseimbangan yang harus dijaga, dan tentang tanggung jawab yang kini diemban olehnya. Ia tahu, ia telah menjadi bagian dari misteri yang tak terpecahkan.

Ia tak pernah menceritakan pengalamannya itu kepada siapa pun. Itu adalah rahasianya, jembatannya ke dunia lain. Dunia yang hanya bisa ia lihat, dunia yang memanggilnya di malam hari, dari kedalaman hutan dan uap belerang.

Sumber air panas itu kini bukan hanya tempat liburan. Itu adalah gerbang. Gerbang menuju kebenaran yang tersembunyi, yang hanya diketahui oleh seorang anak kecil bernama Arif, dan penjaga misterius yang menghuni kabut.

Setiap tahun, Arif selalu meminta untuk kembali ke sumber air panas itu. Ia akan duduk di tepi kolam, merasakan denyutan liontin di dadanya, dan tahu bahwa di bawah kabut tebal itu, sebuah dunia menunggu. Sebuah dunia yang memanggilnya pulang.

Dan kadang-kadang, di tengah keheningan malam, ia akan melihatnya lagi. Siluet samar dari uap dan cahaya, melayang di atas kolam tersembunyi. Sebuah pengingat akan perjanjian yang tak terucapkan, dan misteri yang takkan pernah berakhir.

Kisah Arif di sumber air panas itu menjadi legendanya sendiri, sebuah rahasia yang terukir di jiwanya. Sebuah ikatan abadi antara seorang anak kecil dan penjaga dunia yang terlupakan.

Kisah Anak Kecil di Sumber Air Panas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *