Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Penampakan Lelaki Berbaju Kuno Ini Bukan Cuma Cerita Lama

10
×

Penampakan Lelaki Berbaju Kuno Ini Bukan Cuma Cerita Lama

Share this article

 

Di tengah hiruk pikuk Stasiun Kota Lama, Aris adalah seorang pegawai arsip yang hidup dalam rutinitas. Pagi yang sama, kereta yang sama, wajah-wajah yang familiar di kerumunan yang bergerak cepat. Segalanya terasa biasa, hingga suatu pagi yang dingin, matanya menangkap sesuatu yang aneh.

Di sudut peron, berdiri seorang lelaki. Bukan sekadar aneh, tapi sepenuhnya anomali. Pakaiannya tampak kuno, jubah lusuh berwarna tanah yang entah bagaimana tidak terlihat seperti kostum atau mode retro.

Rambutnya panjang tergerai, wajahnya pucat pasi, dan matanya—matanya kosong, namun entah mengapa terasa menatap langsung ke arah Aris. Lelaki itu tidak bergerak, tidak bicara, hanya berdiri mematung di antara lautan manusia modern.

Aris mengabaikannya, mungkin seorang aktor jalanan atau orang dengan gangguan mental. Kereta datang, dan ketika ia menoleh lagi, lelaki berbaju kuno itu sudah lenyap, seolah tidak pernah ada.

Beberapa hari kemudian, kejadian itu terulang. Kali ini, lelaki itu muncul di halte bus yang biasa Aris gunakan, jauh dari stasiun. Pakaian yang sama, wajah yang sama, tatapan kosong yang sama menusuknya.

Rasa penasaran perlahan berubah menjadi kegelisahan. Bagaimana mungkin orang yang sama muncul di dua tempat berbeda dalam waktu singkat, dan selalu menghilang tanpa jejak? Aris mulai mengamati lebih seksama.

Setiap detail lelaki itu terasa asing. Kain jubahnya tampak seperti tenunan tangan kuno, bukan replika modern. Aroma apek, seperti lumut dan tanah basah, samar tercium saat angin berembus melewatinya.

Yang paling mengganggu adalah matanya. Begitu gelap, begitu dalam, seolah melihat menembus dirinya, melihat sesuatu yang tak kasat mata di baliknya. Tidak ada emosi, hanya kehampaan yang dingin.

Suatu sore, Aris memberanikan diri. Setelah melihat lelaki itu lagi di perpustakaan kota, ia mencoba mendekat, melangkah perlahan sewaspada mungkin. Jantungnya berdebar kencang di dada.

Namun, setiap langkah yang diambil Aris, lelaki itu seperti memudar. Bukan bergerak mundur, tapi seolah tubuhnya perlahan menjadi transparan, seperti ilusi optik yang menghilang di depan mata.

Ketika Aris mencapai titik di mana lelaki itu berdiri, hanya ada udara dingin yang menusuk dan sisa aroma apek itu. Tidak ada jejak, tidak ada petunjuk. Ia benar-benar lenyap.

Sejak saat itu, lelaki berbaju kuno itu mulai muncul lebih sering. Di taman saat Aris makan siang, di kafe tempat ia biasa membaca, bahkan di lorong mal yang ramai. Selalu di kejauhan, selalu mengamati.

Hidup Aris yang dulunya rutin kini dipenuhi bayangan. Setiap kali ia berbalik, ia setengah berharap atau setengah takut melihat sosok itu di sana, menunggu, mengawasi. Tidurnya pun mulai terganggu.

Rasa diawasi tak pernah sirna. Bahkan ketika ia tak melihatnya, Aris merasa tatapan kosong itu mengikutinya, menembus dinding, menembus waktu. Ia merasa seperti buruan, tanpa tahu apa pemburunya.

Ia mencoba mencari informasi, menggali buku-buku sejarah dan cerita rakyat lokal. Apakah ada legenda tentang seorang pria berpakaian kuno yang menghantui kota ini? Hasilnya nihil, tak ada yang cocok.

Internet pun tak banyak membantu. Tidak ada laporan penampakan serupa, tidak ada berita orang hilang dengan deskripsi yang sesuai. Lelaki itu seolah eksklusif hanya untuk Aris.

Mimpi buruk mulai menghantuinya. Dalam tidurnya, lelaki berbaju kuno itu berdiri di samping tempat tidurnya, dengan mata yang kini tidak lagi kosong, melainkan penuh kesedihan yang tak terhingga.

Tangan kurusnya terulur, seolah ingin meraih sesuatu. Dalam mimpi itu, Aris merasa kedinginan, seperti jiwa ditarik dari raganya. Ia terbangun dengan napas terengah-engah, diselimuti keringat dingin.

Garis antara mimpi dan kenyataan mulai kabur. Apakah ia benar-benar melihatnya? Atau hanya otaknya yang menciptakan sosok itu dari ketakutannya sendiri? Keraguan mulai menyelimuti Aris.

Suatu malam, ketika Aris baru pulang kerja, ia melihatnya. Bukan di luar gedung, bukan di jalanan, tapi di dalam lobi apartemennya sendiri. Lelaki itu berdiri di dekat lift, memunggunginya.

Kali ini, Aris tidak ragu. Ia harus tahu. Ia berlari mengejar, memanggil, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Lelaki itu berbalik, dan tatapannya kali ini bukan kosong, melainkan mengundang.

Lelaki itu melangkah perlahan menuju pintu belakang, menuju gang gelap yang jarang dilewati. Aris mengikutinya, didorong oleh campuran ketakutan dan dorongan yang tak tertahankan.

Di tengah gang yang remang-remang, lelaki itu berhenti. Cahaya bulan menembus celah gedung, menyoroti tangannya yang terangkat. Ia menjatuhkan sesuatu ke tanah.

Sebuah medali perunggu kuno. Bukan sembarang medali, melainkan sebuah artefak yang sangat familiar bagi Aris. Ia pernah melihatnya dalam buku sejarah keluarga, lambang klan nenek moyangnya.

Di bagian belakang medali itu, terukir sebuah simbol aneh, dan di leher lelaki itu, di balik kerah jubahnya yang lusuh, Aris melihat tato yang sama persis. Sebuah kaitan yang mengerikan.

Lalu, untuk pertama kalinya, lelaki itu mengeluarkan suara. Sebuah bisikan yang nyaris tak terdengar, seperti angin yang lewat, namun sangat jelas di telinga Aris. “Aris…”

Nama itu, namanya sendiri, terucap dari bibir pucat lelaki asing berbaju kuno itu. Suara itu begitu sedih, begitu kuno, seolah datang dari kedalaman waktu yang terlupakan.

Dalam sekejap mata, lelaki itu buyar, menghilang menjadi kabut tipis yang diserap kegelapan gang. Medali itu tergeletak dingin di tanah, satu-satunya bukti dari pertemuan mengerikan itu.

Aris berdiri membeku, napasnya tersangkut di tenggorokan. Medali di tangannya terasa berat, dingin, dan penuh misteri. Siapa lelaki itu? Mengapa ia memiliki lambang klan Aris?

Dan yang paling menakutkan, mengapa ia mengetahui namanya? Apakah ini sebuah peringatan, sebuah pesan dari masa lalu, atau sebuah kutukan yang baru saja dimulai?

Sejak malam itu, lelaki berbaju kuno itu tak pernah muncul lagi. Namun, Aris tak pernah merasa sendirian. Ia tahu, di suatu tempat, di antara dimensi yang tak terlihat, ia masih diawasi.

Medali itu kini menjadi beban di hatinya, sebuah penghubung ke masa lalu yang tak ia mengerti, sebuah misteri yang mungkin takkan pernah terpecahkan. Ia hidup dalam bayangan lelaki berbaju kuno itu.

Dan setiap kali ia melihat bayangannya sendiri di cermin, ia merasa matanya sendiri mulai sedikit lebih kosong, sedikit lebih dingin, sedikit lebih menyerupai mata lelaki dari masa lalu itu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *