Makam Sunyi: Bisikan dari Kedalaman Bumi
Dr. Aris, seorang arkeolog berambut acak-acakan, terpaku.
Di depannya, bayangan pepohonan purba menari.
Terselubung lumut dan keheningan abadi, Makam Sunyi.
Lokasi yang ia cari selama lebih dari satu dekade.
Desas-desus tentang makam itu sudah lama beredar.
Bukan hanya sebagai tempat peristirahatan kuno.
Melainkan sebagai gerbang menuju sesuatu yang lain.
Sesuatu yang gelap, terkubur di bawah lapisan waktu.
Udara di sekitar makam terasa dingin, menusuk tulang.
Meskipun matahari bersinar terik di atas kepala.
Sebuah sensasi aneh merayapi kulit Aris.
Seolah tempat itu menahan napas, menunggu.
Ia menarik napas dalam, memegang senter erat.
Pintu masuk makam hanyalah celah sempit di batu.
Tertutup akar-akar raksasa, seperti urat nadi bumi.
Membentuk pola yang menyerupai simbol kuno.
Simbol itu, ia tahu, adalah milik peradaban Rahwana.
Sebuah kerajaan yang lenyap tanpa jejak ribuan tahun lalu.
Hanya menyisakan mitos dan ukiran samar di gua-gua.
Dan kini, di ambang Makam Sunyi ini.
Aris menyalakan senternya, cahayanya menembus kegelapan.
Debu tebal bertebaran, menciptakan kabut halus.
Aroma apek tanah lembab dan sesuatu yang busuk.
Menyengat hidung, memicu alarm di benaknya.
Ia merangkak masuk, merasakan batu dingin di tangannya.
Lorong itu sempit, sesak, dan terasa semakin dalam.
Suara napasnya sendiri memantul, mengisi kekosongan.
Jantungnya berdebar kencang, antara antisipasi dan gentar.
Setelah beberapa meter, lorong mulai melebar.
Menuju sebuah ruangan beratap rendah.
Dinding-dindingnya diukir dengan relief-relief aneh.
Menggambarkan makhluk-makhluk bersayap dan ritual gelap.
Cahaya senternya menari di atas ukiran.
Menghidupkan bayangan yang bergerak-gerak.
Aris merasa sepasang mata mengawasinya dari kegelapan.
Bisikan-bisikan samar seolah melayang di udara.
Ia mengabaikannya, fokus pada penemuan.
Di tengah ruangan, sebuah altar batu berdiri tegak.
Penuh dengan noda kering yang menyerupai darah.
Dan di atasnya, sebuah manuskrip kuno.
Manuskrip itu terbuat dari kulit yang tidak dikenal.
Tulisannya bukan bahasa Rahwana yang ia kenal.
Melainkan simbol-simbol yang lebih kuno, lebih purba.
Seolah berasal dari sebelum peradaban itu sendiri.
Saat tangannya menyentuh kulit manuskrip.
Udara di ruangan itu mendadak menipis.
Cahaya senter berkedip-kedip, hampir padam.
Bisikan-bisikan berubah menjadi raungan pelan.
Aris menarik tangannya, jantungnya berdebar kencang.
Ia tahu ia telah menyentuh sesuatu yang berbahaya.
Sesuatu yang tidak seharusnya diganggu.
Namun rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya.
Ia mengambil beberapa foto manuskrip itu.
Lalu melanjutkan penelusuran ke lorong berikutnya.
Lorong itu lebih gelap, lebih dingin dari sebelumnya.
Dan di ujungnya, sebuah gerbang batu raksasa.
Gerbang itu dihiasi dengan permata hitam kusam.
Tidak memantulkan cahaya senternya sama sekali.
Di tengah gerbang, sebuah lubang kunci rumit.
Bukan untuk kunci biasa, melainkan sesuatu yang lain.
Di samping gerbang, ada serangkaian teka-teki.
Terukir dalam bahasa Rahwana yang sudah punah.
Aris menghabiskan berjam-jam memecahkannya.
Menggabungkan pengetahuannya dengan intuisi.
Setiap jawaban yang benar, gerbang bergetar pelan.
Suara gemuruh rendah memenuhi seluruh makam.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Menciptakan suasana mencekam yang tak terlukiskan.
Akhirnya, teka-teki terakhir terpecahkan.
Lubang kunci terbuka, menampakkan kegelapan pekat.
Bukan hanya ketiadaan cahaya, tapi ketiadaan segalanya.
Seolah ruang itu sendiri telah runtuh.
Aris ragu, namun dorongan naluri mendorongnya maju.
Ia melangkah melalui gerbang yang terbuka.
Memasuki kegelapan yang lebih total.
Yang tidak dapat ditembus oleh senternya.
Ia merasakan kelembaban dingin dan bau busuk yang tajam.
Di sana-sini, terdengar suara tetesan air.
Meskipun ia tidak bisa melihat apapun.
Sensasi kehampaan yang luar biasa merasukinya.
Tiba-tiba, senternya mati total.
Kegelapan sempurna menyelimutinya.
Ia meraba-raba dinding, mencari pegangan.
Namun hanya menemukan kehampaan yang dingin.
Bisikan-bisikan kembali, lebih jelas sekarang.
Bukan lagi suara samar, melainkan kalimat-kalimat.
Dalam bahasa yang tidak ia mengerti.
Namun ia merasakan niat jahat di baliknya.
Suara langkah kaki terdengar di depannya.
Bukan langkahnya sendiri, melainkan langkah lain.
Pelan, menyeret, dan semakin mendekat.
Aris merasakan rambut di tengkuknya berdiri.
Ia mencoba berteriak, namun suaranya tercekat.
Tenggorokannya kering, napasnya memburu.
Ia mencoba berlari, namun kakinya terasa lemas.
Terjebak dalam kegelapan yang menyesakkan.
Kemudian, ia melihatnya. Atau merasakannya.
Seberkas cahaya kebiruan samar di kejauhan.
Bukan cahaya biasa, melainkan berpendar.
Menyinari sesosok bayangan yang bergerak.
Bayangan itu tinggi, kurus, dan tidak manusiawi.
Memiliki lengan yang terlalu panjang.
Dan kepala yang condong ke samping.
Seolah lehernya patah.
Meskipun gelap, Aris bisa merasakan matanya.
Menatap lurus padanya, tanpa emosi.
Dingin, kuno, dan penuh kebencian.
Itu adalah penjaga makam, atau sesuatu yang lebih buruk.
Bisikan-bisikan semakin keras, mengelilinginya.
Membentuk paduan suara yang mengerikan.
Seolah ribuan jiwa terperangkap bersamanya.
Menjerit, meratap, dan menuntut.
Aris merasakan sentuhan dingin di bahunya.
Bukan sentuhan manusia, melainkan seperti es.
Menusuk ke dalam, membakar kulitnya.
Ia menjerit, akhirnya menemukan suaranya.
Dengan kekuatan putus asa, ia berbalik dan lari.
Meninggalkan kegelapan dan bayangan itu.
Ia berlari tanpa arah, menabrak dinding.
Tidak peduli ke mana ia pergi, asal jauh dari sana.
Entah bagaimana, ia menemukan kembali lorong utama.
Cahaya redup dari pintu masuk tampak seperti surga.
Ia merangkak keluar, terengah-engah.
Terjatuh di tanah yang berlumut, di bawah sinar matahari.
Ia menoleh ke belakang, menatap Makam Sunyi.
Pintu masuknya kembali tertutup akar dan bayangan.
Seolah ia tidak pernah ada di dalamnya.
Atau seolah makam itu sendiri ingin melupakannya.
Aris tidak lagi sama setelah hari itu.
Ia membawa pulang manuskrip kuno itu.
Dan kepingan teka-teki yang ia pecahkan.
Namun ia juga membawa sesuatu yang lain.
Bisikan-bisikan itu, mereka mengikutinya.
Kadang samar, kadang jelas di tengah malam.
Membisikkan rahasia-rahasia kuno.
Tentang apa yang tersembunyi di Makam Sunyi.
Makam itu bukan hanya tempat peristirahatan.
Melainkan penjara, atau mungkin gerbang.
Untuk entitas kuno yang tidak boleh dilepaskan.
Sebuah kekuatan yang lebih tua dari waktu itu sendiri.
Aris kini tahu, rahasia makam itu terlalu besar.
Terlalu berbahaya untuk diungkapkan sepenuhnya.
Ia terus meneliti manuskrip itu.
Mencoba memahami apa yang telah ia bangkitkan.
Namun setiap kata yang ia pahami.
Setiap simbol yang ia artikan.
Hanya menambah ketakutan dalam hatinya.
Dan bisikan-bisikan itu semakin kuat, semakin menuntut.
Makam Sunyi tetap sunyi bagi dunia luar.
Namun bagi Dr. Aris, keheningan itu ilusi.
Makam itu terus berbicara kepadanya.
Membisikkan ancaman dan janji yang mengerikan.
Dan ia tahu, suatu hari, ia harus kembali.
Untuk menghadapi apa yang telah ia tinggalkan.
Atau untuk menyerah pada bisikan-bisikan itu.
Dan menjadi bagian dari rahasia Makam Sunyi.





