Scroll untuk baca artikel
DIY

Giri Dharma, Makam Tua yang Konon Dijaga oleh Sosok Tak Kasat Mata

9
×

Giri Dharma, Makam Tua yang Konon Dijaga oleh Sosok Tak Kasat Mata

Share this article

Giri Dharma, Makam Tua yang Konon Dijaga oleh Sosok Tak Kasat Mata

Makam Giri Dharma: Bisikan Abadi dari Kegelapan

Dunia ini penuh dengan cerita yang tak terungkap, gema dari masa lalu yang bergetar dalam bayang-bayang. Salah satunya adalah kisah Makam Giri Dharma, sebuah kompleks pemakaman kuno yang tersembunyi jauh di pelosok. Namanya sendiri terdengar agung, “Giri” berarti gunung, “Dharma” berarti kebajikan, namun di balik kemegahan itu, tersimpan misteri yang mencekam.

Bagi penduduk sekitar, Makam Giri Dharma bukanlah sekadar tempat peristirahatan terakhir. Ia adalah entitas hidup, bernapas dengan bisikan angin dan desiran dedaunan tua. Legenda yang mengelilinginya tak pernah mati, diwariskan dari generasi ke generasi, selalu dibarengi dengan peringatan keras: jangan pernah mengusik kedamaiannya, terutama saat senja merayap.

Ardan, seorang penulis lepas yang haus akan kisah-kisah tak biasa, terpikat oleh aura misteri ini. Ia mendengar desas-desus, bisikan samar tentang hilangnya orang-orang yang berani melangkahkan kaki terlalu jauh ke dalamnya. Ada pula cerita tentang penampakan, suara tangisan, dan hawa dingin yang menusuk tulang, bahkan di tengah terik matahari.

Skepticismenya yang kuat tak mampu membendung rasa penasarannya. Berbekal kamera dan catatan, ia memutuskan untuk mengungkap kebenaran di balik Makam Giri Dharma. Perjalanannya dimulai, memasuki desa terpencil yang menjadi gerbang menuju kegelapan abadi itu.

Penduduk desa menyambutnya dengan tatapan waspada, seolah membaca niatnya. Mata tua mereka memancarkan ketakutan yang mendalam, dicampur dengan semacam penerimaan terhadap takdir yang tak terhindarkan. Mereka tahu, Makam Giri Dharma memiliki caranya sendiri untuk memanggil.

“Jangan pernah mencari apa pun di sana, Nak,” ujar seorang tetua, suaranya serak. “Ada sesuatu yang tertidur, dan ia tak suka diganggu.” Kata-kata itu, alih-alih mengurungkan niat Ardan, justru semakin memantik api keinginannya.

Pagi berikutnya, Ardan melangkahkan kaki menuju Makam Giri Dharma. Jalan setapak yang dulunya mungkin terawat, kini ditelan semak belukar liar. Pohon-pohon raksasa dengan akar menjulang tinggi seolah menjadi penjaga gerbang tak kasat mata.

Udara di sekitar makam terasa berbeda, lebih dingin, lebih berat. Aroma tanah basah bercampur lumut dan bau aneh yang tak bisa ia definisikan, menusuk hidungnya. Ia merasa seolah memasuki dimensi lain, jauh dari hiruk pikuk dunia luar.

Nisan-nisan tua berdiri tegak, beberapa di antaranya telah roboh dimakan usia. Lumut tebal menyelimuti prasasti, membuatnya mustahil dibaca. Ini adalah kuburan yang terlupakan, namun entah mengapa, terasa begitu hidup.

Semakin dalam Ardan melangkah, semakin pekat aura yang menyelimuti. Suara-suara alam seakan meredup, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Ia merasa seperti ada ribuan pasang mata yang mengawasinya dari balik bayangan.

Tiba-tiba, sebuah bisikan samar menyapu telinganya. Ardan menoleh, mencari sumber suara. Tidak ada siapa pun. Angin? Ia mencoba meyakinkan dirinya, namun bisikan itu terlalu jelas, seperti sebuah nama yang dipanggil dengan lirih.

Ia menemukan sebuah area yang lebih tua dari yang lain. Di sana, berdiri sebuah mausoleum batu yang kokoh, namun retak di sana-sini. Di depannya, sebuah pohon beringin raksasa dengan akar-akar menggantung menjulur ke tanah, menyerupai tentakel raksasa.

Mausoleum itu tampak seperti pusat dari segalanya, sebuah magnet bagi energi misterius. Udara di sekitarnya terasa jauh lebih dingin, seolah berada di bawah tanah. Ardan merasakan bulu kuduknya berdiri tegak.

Ia mengeluarkan senter, menyorotkan cahayanya ke dalam mausoleum yang gelap. Hanya kegelapan pekat yang menyambutnya, namun ia bisa merasakan kehadiran yang kuat di dalamnya. Ini bukan sekadar tempat kosong.

Malam itu, Ardan kembali ke penginapannya di desa. Ia mencoba menuliskan pengalamannya, namun tangannya bergetar. Bisikan itu masih terngiang, dan bayangan-bayangan aneh melintas di benak. Makam Giri Dharma telah menancapkan cengkeramannya.

Keesokan harinya, rasa penasaran itu mendorongnya untuk kembali, kali ini membawa peralatan yang lebih lengkap. Ia ingin merekam suara, memotret, mencari bukti konkret. Kali ini, ia berencana untuk tinggal hingga senja.

Saat ia mendekati mausoleum lagi, ia melihat sesuatu yang aneh. Sebuah ukiran kuno, yang kemarin tidak ia perhatikan, kini tampak jelas di dinding batu. Itu adalah simbol yang rumit, menyerupai lingkaran dengan garis-garis berputar.

Ketika ia menyentuh ukiran itu, hawa dingin menusuk hingga ke sumsum tulang. Simbol itu terasa berdenyut, seolah memiliki energi sendiri. Ia segera menarik tangannya, merasakan sensasi kesemutan yang aneh.

Sore menjelang, dan langit mulai memerah. Cahaya senja menembus celah dedaunan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari. Suasana makam berubah, menjadi lebih gelap, lebih mengancam.

Bisikan-bisikan mulai terdengar lagi, kali ini lebih jelas, lebih banyak. Mereka terdengar seperti desahan, rintihan, dan kadang-kadang, tawa yang menusuk telinga. Ardan merasakan jantungnya berdebar kencang.

Ia menyalakan perekam suara, berharap menangkap fenomena ini. Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki yang berat, menyeret. Suara itu berasal dari dalam mausoleum. Ia menahan napas, menegang.

“Siapa di sana?” gumamnya, suaranya sendiri terdengar gemetar. Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang tiba-tiba, lebih menakutkan dari suara apa pun. Lalu, suara itu kembali, semakin dekat.

Senter di tangannya berkedip-kedip, lalu mati total. Kegelapan menyelimuti Ardan, pekat dan mencekik. Ia mencoba menyalakan senternya lagi, namun tak ada hasil. Ia kini sepenuhnya buta dalam kegelapan makam.

Panik mulai merayap. Ia meraba-raba dinding mausoleum, mencoba mencari jalan keluar. Lalu, ia merasakan sentuhan dingin di tengkuknya, seperti jari-jari es yang merayap perlahan.

Sebuah suara berat, dalam, berbisik tepat di telinganya. Kata-kata itu tak jelas, namun nadanya dipenuhi kemarahan dan kesedihan yang mendalam. Ardan merasakan napasnya tertahan.

Ia merasakan sesuatu melingkari pergelangan kakinya, menyeretnya ke belakang, menuju kegelapan mausoleum. Ardan berteriak, meronta, namun cengkeraman itu begitu kuat, tak terlepaskan.

Tubuhnya terseret ke dalam mausoleum yang dingin, bau apak dan lembap memenuhi indra penciumannya. Ia mencoba melawan, menendang, namun seolah ia sedang bergulat dengan sesuatu yang tak berwujud.

Dalam keputusasaan, Ardan teringat ukiran di dinding. Ia mengulurkan tangan, meraba-raba dalam gelap, mencoba menemukan simbol itu lagi. Jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang dingin.

Saat jari-jarinya menyentuh ukiran, sensasi aneh menjalar di seluruh tubuhnya. Sebuah kilatan cahaya keperakan muncul dari simbol itu, menyilaukan mata Ardan. Cengkeraman di kakinya seketika melonggar.

Ia tidak menunggu lagi. Dengan sisa tenaga, ia merangkak keluar dari mausoleum, lalu bangkit dan berlari sekencang-kencangnya. Ia tak tahu ke mana ia berlari, yang penting menjauh dari tempat terkutuk itu.

Ia berlari menembus semak belukar, tak peduli dengan ranting yang menggores kulitnya. Suara bisikan dan rintihan masih mengejarnya, seolah makam itu sendiri bernapas di belakangnya.

Akhirnya, ia melihat cahaya redup dari desa. Ia terjatuh, terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Penduduk desa yang melihatnya, menatapnya dengan pandangan penuh kasihan, seolah mereka tahu apa yang telah ia alami.

Ardan tak pernah lagi menulis tentang Makam Giri Dharma. Pengalamannya terlalu nyata, terlalu mengerikan untuk diubah menjadi sekadar kata-kata. Ia kini mengerti, ada batas yang tak boleh dilintasi.

Makam Giri Dharma tetap berdiri, tenang di permukaan, namun menyimpan rahasia kelam di kedalamannya. Bisikan-bisikan dari masa lalu masih terus bergema, menunggu korban selanjutnya yang berani mengusik tidur abadi mereka.

Konon, mereka yang pernah merasakan sentuhan dingin dari “Sang Penjaga” mausoleum tak akan pernah sama lagi. Sebagian hilang, sebagian gila, dan sebagian, seperti Ardan, membawa luka tak terlihat yang tak akan pernah sembuh.

Hingga hari ini, Makam Giri Dharma tetap menjadi misteri yang tak terpecahkan. Sebuah tempat di mana kebajikan “Dharma” berubah menjadi kutukan abadi, menjebak jiwa-jiwa di antara dua dunia.

Dan setiap kali angin bertiup kencang di malam hari, penduduk desa masih bisa mendengar bisikan-bisikan samar dari arah makam. Sebuah peringatan, sebuah janji, bahwa Makam Giri Dharma tak akan pernah melepaskan rahasianya begitu saja.

Ia akan terus memanggil, menarik mereka yang penasaran, ke dalam pelukannya yang dingin dan gelap. Sebuah misteri abadi, tersembunyi di balik nama yang agung, menunggu untuk mengungkapkan kengeriannya.

Kisah Mistis Makam Giri Dharma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *