Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Ada Sosok Misterius di Goa Jomblang — dan Aku Merekamnya

10
×

Ada Sosok Misterius di Goa Jomblang — dan Aku Merekamnya

Share this article

Ada Sosok Misterius di Goa Jomblang — dan Aku Merekamnya

Goa Jomblang: Jurang Cahaya, Jurang Bayangan Tak Terucap

Goa Jomblang. Namanya menggema, memanggil para petualang ke jantung Bumi. Sebuah keajaiban geologi di Gunung Kidul, Yogyakarta, di mana jurang vertikal menelan cahaya, lalu memuntahkannya kembali dalam pendaran “cahaya surga” yang memukau.

Namun, di balik pesona surgawi itu, tersimpan kisah-kisah bisikan, desas-desus dingin yang menari di antara bebatuan purba. Kisah tentang mata tak terlihat, langkah tanpa suara, dan bayangan yang lebih dari sekadar pantulan cahaya. Jomblang, konon, tak hanya dihuni keindahan alam, tapi juga entitas dari dimensi lain.

Cerita ini bermula dari seorang fotografer lanskap bernama Raka, yang terobsesi menangkap esensi Goa Jomblang. Bukan hanya pendar cahaya ikoniknya, tapi juga kedalaman misteri yang ia rasakan setiap kali menginjakkan kaki di mulut gua. Ada sesuatu yang memanggilnya, sekaligus menahannya.

Sejak kunjungan pertamanya, Raka merasakan kehadiran yang ganjil. Bukan hawa dingin biasa gua, melainkan sensasi merinding yang menjalar. Seolah ada sepasang mata tak kasat memandangnya dari kegelapan abadi di bawah sana, jauh sebelum ia mencapai dasar.

Ia sering mendengar bisikan samar, menyerupai gumaman atau tawa lirih, yang seolah terbawa angin dari lorong-lorong tak terjamah. Guide lokal selalu menampik, mengklaim itu hanya gema atau imajinasi. Namun Raka tahu, itu berbeda.

Suatu kali, ia bersikeras untuk bermalam di area luar gua, ditemani seorang guide senior bernama Pak Hadi yang enggan. Pak Hadi dikenal sebagai sosok yang sangat memahami Jomblang, namun selalu bungkam saat ditanya tentang hal-hal tak kasat mata.

Malam itu, bulan menggantung tipis di langit, nyaris tak menembus kanopi hutan. Udara di sekitar mulut gua terasa dingin, lebih dingin dari biasanya. Suara jangkrik dan binatang malam seolah berhenti, digantikan keheningan yang menyesakkan.

Raka menyiapkan peralatannya, berharap menangkap keindahan bintang dari jurang. Pak Hadi duduk termangu, sesekali melirik ke arah mulut gua dengan pandangan gelisah. Ada rahasia yang ia simpan rapat, terpancar jelas dari sorot matanya.

Sekitar pukul dua dini hari, ketika kelelahan mulai mendera, Raka mendengar suara. Bukan bisikan lagi, melainkan rintihan pelan, seolah seseorang tengah menahan sakit. Suara itu datang dari kedalaman jurang, dari arah lorong menuju dasar gua.

Jantung Raka berdegup kencang. Ia melirik Pak Hadi, yang kini bangkit berdiri, wajahnya pucat pasi. “Sudah kubilang, jangan cari masalah di sini, Den,” bisiknya, suaranya bergetar. “Mereka tidak suka diganggu.”

Raka memberanikan diri, menyalakan senter yang kuat dan mengarahkannya ke dalam jurang. Cahaya menembus kegelapan, memperlihatkan dinding-dinding batu yang lembab. Tidak ada apa-apa, hanya bayangan yang menari.

Namun, saat senter itu menyapu sudut yang lebih dalam, di celah bebatuan yang jarang terjamah, matanya menangkap sesuatu. Sebuah siluet. Samar, nyaris tak berbentuk, namun jelas bukan formasi batu. Itu adalah sosok.

Tingginya sekitar dua meter, ramping, seolah terbuat dari kabut. Tidak ada wajah, tidak ada detail, hanya garis besar yang bergerak perlahan. Sosok itu tampak melayang, tidak berpijak, menembus dinding gua seolah tak berwujud.

Raka terpaku, napasnya tertahan. Ia ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Sosok itu berputar perlahan, seolah menyadari tatapan Raka, lalu menghilang ke dalam kegelapan terdalam, tanpa jejak.

Keringat dingin membasahi tubuh Raka. Ia jatuh terduduk, senter di tangannya bergetar hebat. Pak Hadi segera menghampirinya, menepuk pundaknya dengan tatapan penuh iba. “Apa yang kau lihat, Den?” tanyanya lirih.

Raka mencoba menjelaskan, namun kata-katanya kacau. Sosok tak berwujud, melayang, menembus batu. Pak Hadi hanya mengangguk, seolah sudah menduganya. “Mereka adalah penjaga. Atau mungkin, yang terperangkap di sini.”

Pak Hadi kemudian menceritakan kisah-kisah kuno yang beredar di kalangan penduduk lokal. Konon, ratusan tahun lalu, Goa Jomblang adalah tempat ritual persembahan kuno. Ada yang menyebutnya sebagai gerbang ke alam lain.

Ada juga kisah tentang sekelompok penjelajah yang hilang di sana, tak pernah kembali. Arwah mereka, kata Pak Hadi, mungkin masih terperangkap, mencari jalan keluar, atau menjaga rahasia yang terkubur dalam kegelapan.

Sejak kejadian itu, pandangan Raka terhadap Goa Jomblang berubah total. Keindahan alamnya masih memukau, namun kini diselimuti lapisan misteri yang lebih dalam, lebih mencekam. Ia tahu, ia telah menyaksikan sesuatu yang tak bisa dijelaskan logika.

Ia tak lagi berani bermalam di sana, atau menjelajahi sudut-sudut yang terlalu sunyi. Setiap kali ia kembali, ia merasakan kehadiran itu lagi, bisikan itu, tatapan itu. Goa Jomblang adalah surga dan neraka, terang dan gelap, hidup dan mati.

Dan di antara pendar cahaya surga yang memukau, bayangan tak terucap itu tetap bersemayam. Menunggu. Mengawasi. Menjadi pengingat abadi bahwa di balik keindahan paling memesona, seringkali tersembunyi misteri yang tak terpecahkan, siap untuk menampakkan diri kepada mereka yang berani melihatnya.

Goa Jomblang tetaplah sebuah enigma. Sebuah jurang yang menelan cahaya, namun menyimpan bayangan abadi. Dan setiap bisikan angin di mulutnya, mungkin adalah desahan dari mereka yang tak pernah menemukan jalan pulang.

Apakah itu hanya halusinasi Raka? Atau apakah benar, Goa Jomblang adalah portal ke alam yang tak kasat mata? Pertanyaan itu menggantung di udara, seiring dengan bisikan angin dan dinginnya bebatuan purba.

Misteri ini akan terus hidup, diwariskan dari mulut ke mulut, di antara gemuruh air di dasar jurang dan pendar cahaya yang menipu mata. Goa Jomblang menunggu, dengan segala pesona dan kengeriannya yang tak terhingga.

Kisah Penampakan di Goa Jomblang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *