Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Rumah Tua Itu Masih Berdiri di Purwokerto — Tapi Kenapa Selalu Kosong?

9
×

Rumah Tua Itu Masih Berdiri di Purwokerto — Tapi Kenapa Selalu Kosong?

Share this article

Rumah Tua Itu Masih Berdiri di Purwokerto — Tapi Kenapa Selalu Kosong?

Kisah Kelam Rumah Tua Purwokerto: Jeritan dari Masa Lalu

Di jantung kota Purwokerto, berdiri tegak sebuah siluet kelam. Rumah tua itu, dengan arsitektur kolonial yang megah, kini hanya tumpukan kenangan berdebu. Dindingnya yang usang mengelupas, mata jendela kosong menatap hampa, seolah menyimpan rahasia kelam tak terucap.

Warga setempat menyebutnya Rumah Angker, sebuah legenda yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kisah-kisah bisikan gaib, penampakan bayangan, dan tangisan pilu selalu menyertai namanya. Tak ada yang berani mendekat, apalagi melangkah masuk.

Namun, Ardi, seorang jurnalis investigasi muda, tak gentar. Ia datang dengan misi: membongkar mitos, mencari kebenaran di balik desas-desus. Skeptisisme adalah perisainya, logika adalah senjatanya. Ia ingin membuktikan bahwa semua itu hanya ilusi.

Suatu sore yang temaram, Ardi memarkir mobilnya di jalan sepi. Gerbang besi berkarat menjulang di depannya, tertutup rapat oleh rantai tebal. Aroma apek dedaunan basah dan tanah lembap menyambutnya, membawa nuansa suram yang pekat.

Dengan susah payah, ia membuka gerbang. Suara deritnya memecah kesunyian, se echoed hingga ke relung terdalam hutan kecil di belakang rumah. Langkah pertamanya di halaman itu terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menekannya.

Rumput liar tumbuh subur, menutupi jalan setapak menuju pintu utama. Pohon beringin tua di sudut halaman tampak seperti raksasa penjaga, cabangnya yang menjulur seolah tangan-tangan keriput yang siap menerkam. Angin berdesir, membawa bisikan-bisikan halus.

Jantung Ardi mulai berdebar, bukan karena takut, melainkan karena antisipasi. Ia mengeluarkan kamera dan perekam suara, siap mendokumentasikan setiap sudut. Cahaya senja mulai memudar, menambah kesan mistis pada bangunan di depannya.

Pintu utama yang terbuat dari kayu jati kokoh, kini lapuk dan terbuka sedikit. Kegelapan di dalamnya seolah menelan sisa-sisa cahaya. Ardi menarik napas dalam-dalam, menguatkan tekad, lalu melangkah masuk ke dalam perut rumah itu.

Udara di dalam terasa dingin menusuk, berbeda jauh dari suhu di luar. Aroma debu tebal, kayu lapuk, dan sesuatu yang tak bisa ia definisikan, menyergap indra penciumannya. Ruang tamu yang luas terhampar di depannya, gelap dan kosong.

Kursi-kursi reyot berserakan, terbalut kain putih kusam. Sebuah piano tua di sudut ruangan, tuts-tutsnya yang kekuningan seolah menunggu sentuhan jemari. Keheningan di sana begitu pekat, seolah waktu telah berhenti berputar puluhan tahun lalu.

Langkah Ardi menggema, memecah kesunyian yang mencekam. Ia menyalakan senter, sorot cahayanya menari di dinding yang ditutupi lumut. Seketika, bayangan-bayangan aneh muncul dan menghilang, seolah makhluk tak kasat mata bergerak di sekelilingnya.

Ia berjalan menuju tangga utama, ukiran kayunya masih terlihat indah meski dipenuhi debu. Di tengah anak tangga, Ardi berhenti. Bisikan samar melintas di telinganya, seperti suara tangisan seorang wanita yang tertahan, sangat pelan.

Ardi mengernyitkan dahi. Ia mengaktifkan perekam suaranya, berharap bisa menangkap apa pun. “Halo? Apa ada orang di sini?” suaranya memecah keheningan, namun hanya pantulan gema yang menjawabnya, kembali menelan kata-katanya.

Ia melanjutkan langkahnya ke lantai dua. Koridor panjang dan gelap membentang di depannya, diapit oleh deretan pintu kamar. Beberapa pintu terbuka sedikit, menampakkan kegelapan di dalamnya, mengundang rasa penasaran sekaligus ketakutan.

Ardi memilih salah satu kamar yang paling dekat. Pintu berderit pelan saat ia membukanya lebar. Ini adalah kamar tidur utama, dengan ranjang besar yang tertutup kelambu robek dan kotor. Di meja rias, cermin besar retak di tengahnya.

Di atas meja rias, tergeletak sebuah sisir tua dan sebotol parfum kosong. Ardi menyentuh sisir itu, merasakan dinginnya logam. Seketika, ia merasa sentuhan lembut di pergelangan tangannya, seolah ada seseorang yang membelai.

Ardi tersentak, menarik tangannya. Tidak ada siapa-siapa. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya imajinasinya. Namun, hawa dingin di ruangan itu semakin menusuk, membuat bulu kuduknya meremang.

Ia beralih ke kamar sebelah, yang tampaknya kamar anak perempuan. Dindingnya dihiasi dengan sisa-sisa wallpaper bunga yang memudar. Sebuah boneka porselen usang tergeletak di lantai, matanya yang kosong seolah mengikuti setiap gerakannya.

Ketika Ardi mengangkat boneka itu, sebuah laci kecil di bawah ranjang terbuka dengan sendirinya. Jantungnya berdebar kencang. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku harian lusuh, terikat pita sutra yang sudah kusam.

Dengan tangan gemetar, Ardi mengambil buku harian itu. Halaman-halaman kertasnya menguning, tulisannya pudar namun masih terbaca. Ini adalah milik seorang gadis bernama Sari, yang hidup di rumah ini pada era 1940-an.

Sari menulis tentang kehidupannya yang sepi, tentang cinta pertamanya yang tak direstui, dan tentang janji-janji palsu. Ia mencintai seorang pemuda miskin, namun orang tuanya memaksanya menikahi seorang saudagar kaya.

“Aku merasa terperangkap,” salah satu baris tertulis. “Jiwaku mati, bahkan sebelum tubuhku.” Kisah Sari begitu pilu, penuh keputusasaan. Ardi terus membaca, setiap kata menariknya lebih dalam ke dalam tragedi masa lalu.

Pada halaman terakhir, tulisan Sari semakin kacau, diakhiri dengan coretan-coretan tak beraturan. “Mereka akan menyesal. Aku akan selalu di sini.” Tepat di bawah tulisan itu, ada bercak cokelat gelap yang sudah mengering.

Ardi terhenyak. Bercak itu, ia yakin, adalah darah. Sebuah kisah bunuh diri? Atau pembunuhan yang ditutupi? Udara di kamar itu tiba-tiba menjadi sangat berat, seolah ada kehadiran yang sangat kuat di dekatnya.

Bisikan-bisikan yang tadinya samar, kini terdengar lebih jelas. Kata-kata yang tidak bisa ia pahami, namun penuh kesedihan dan kemarahan. Lampu senternya mulai berkedip-kedip, lalu padam sepenuhnya, meninggalkan Ardi dalam kegelapan total.

Panik mulai merayap. Ardi meraba-raba sakunya untuk mencari ponsel, namun ia tahu baterainya sudah hampir habis. Dalam kegelapan itu, ia mendengar suara isakan yang sangat dekat, seolah di samping telinganya.

“Kau tahu…” suara itu berbisik, serak dan dingin, “mereka tidak pernah percaya.” Suara itu adalah suara wanita, penuh kepedihan yang mendalam. Ardi merasakan hawa dingin yang luar biasa di belakang lehernya.

Ia memejamkan mata, jantungnya berpacu gila-gilaan. Ketika ia membukanya lagi, sepasang mata merah menyala menatapnya dari kegelapan. Wajah seorang wanita pucat, rambutnya terurai acak-acakan, bayangan gaun putih kotor membungkus tubuhnya.

Itu adalah Sari. Wajahnya dipenuhi amarah dan kesedihan yang tak terhingga. Tangannya yang pucat terulur, seolah ingin meraihnya. “Mereka harus tahu kebenarannya!” bisiknya, suaranya kini melengking.

Ardi merasakan kengerian yang tak pernah ia bayangkan. Semua skeptisisme hancur lebur. Ini bukan ilusi, ini nyata. Roh Sari, terperangkap dalam dendam dan kepedihan, masih menghuni rumah ini.

Ia merasakan dorongan kuat, seolah ada tangan tak kasat mata yang mendorongnya. Ardi terhuyung mundur, terjatuh, dan tanpa pikir panjang, ia merangkak, lalu bangkit berlari sekuat tenaga menuruni tangga.

Suara-suara tangisan dan jeritan mengikuti di belakangnya. “Jangan pergi! Kau harus tahu!” Suara itu menusuk-nusuk telinganya, menuntut keadilan yang tak pernah terwujud. Ia tak berani menoleh.

Ardi berlari keluar dari pintu utama, menembus kegelapan halaman. Ia tersandung akar pohon, namun terus berlari. Udara segar di luar terasa seperti anugerah, namun ia masih merasakan dinginnya sentuhan Sari.

Ia tak berhenti hingga mencapai mobilnya. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan mesin dan melaju pergi secepat mungkin, meninggalkan rumah tua itu di belakangnya, bersama segala kengerian yang ada di dalamnya.

Ardi tak pernah kembali ke rumah itu. Ia menuliskan kisahnya, namun tak semua orang percaya. Beberapa menganggapnya gila, sebagian lagi hanya menggelengkan kepala. Namun, ia tahu kebenarannya.

Rumah Tua Purwokerto tetap berdiri, kelam dan bisu. Namun bagi Ardi, setiap kali ia melewati jalan itu, ia masih bisa mendengar bisikan Sari, dan merasakan dinginnya keberadaan yang terperangkap. Sebuah misteri yang sebagian terungkap, namun keabadiannya masih terus menghantui.

Mungkin, Sari masih menunggu. Menunggu seseorang yang berani mendengarkan kisahnya hingga akhir. Dan rumah tua itu, akan terus menjadi saksi bisu, tempat jeritan masa lalu bergaung abadi dalam keheningan Purwokerto.

Kisah Rumah Tua Purwokerto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *