Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Jangan Pernah Duduk di Kursi Goyang Teras Belakang — Kata Nenek

10
×

Jangan Pernah Duduk di Kursi Goyang Teras Belakang — Kata Nenek

Share this article

Kursi Goyang di Teras Belakang

Elara menemukan rumah itu di ujung jalan. Tua, sepi, dengan teras belakang yang menghadap hutan lebat. Di sana, sebuah kursi goyang kayu jati tua menunggu.

Ukirannya rumit, kayunya gelap, dan terasa dingin saat disentuh. Elara merasa aneh, seolah kursi itu telah menunggunya. Ia meletakkannya di sudut teras.

Malam pertama, angin berdesir lembut. Elara mendengar suara derit halus dari teras. Ia mengira itu hanya rumah tua yang beradaptasi.

Pagi harinya, kursi itu sedikit bergeser. Bukan karena angin, jendelanya tertutup rapat. Elara mengabaikannya, mungkin ia lupa posisinya semalam.

Namun, setiap fajar, kursi itu semakin maju. Seperti perlahan-lahan merayap. Ketakutan tipis mulai merayap di benak Elara.

Ia mencoba mengunci pintu teras. Tapi derit itu tetap terdengar setiap malam. Kadang lebih cepat, kadang lebih lambat, seperti ada yang duduk di sana.

Suatu dini hari, Elara terbangun. Suara goyangan itu jelas sekali. Bukan derit kayu, melainkan suara gesekan kain. Ada seseorang di sana.

Jantungnya berdebar kencang. Ia mengintip dari tirai tipis. Kursi itu bergoyang, kosong. Tapi udara di sekitarnya terasa dingin menusuk.

Lalu, sebuah bisikan samar terdengar. Seperti nama, atau desahan. Elara merinding, ia yakin itu bukan imajinasinya lagi.

Ia mulai meneliti sejarah rumah itu. Tetangga tua di seberang jalan, Nyonya Irma, adalah sumber informasinya. Wanita itu tampak enggan berbicara.

“Rumah itu… memiliki cerita,” kata Nyonya Irma, matanya gelisah. “Seorang anak perempuan hilang di sana, bertahun-tahun lalu.”

Nama anak itu Lily. Ia sangat menyukai kursi goyang itu. Setiap senja, ia akan duduk di sana, menunggu ayahnya pulang dari hutan.

Lily menghilang tanpa jejak. Orang-orang mencari, namun tak pernah ditemukan. Rumah itu kosong sejak saat itu, penuh kesedihan.

“Kursi itu… dia tidak pernah berhenti menunggu,” bisik Nyonya Irma. Wajahnya pucat pasi. “Dia masih di sana, Lily.”

Elara kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ketakutan, penasaran, dan iba. Ia menatap kursi goyang itu dengan pandangan baru.

Malam itu, ia duduk di sofa ruang keluarga. Suara goyangan terdengar lebih keras dari biasanya. Kali ini diiringi suara isakan.

Isakan kecil, seperti anak-anak. Elara menahan napas. Ia ingin lari, tapi kakinya terpaku. Rasa ingin tahu mengalahkan ketakutannya.

Ia melangkah perlahan ke teras. Bulan bersinar redup. Kursi itu bergoyang hebat, seolah seseorang di dalamnya sedang meronta.

Lalu, bayangan tipis muncul. Siluet kecil duduk di kursi itu. Rambut panjang terurai, punggungnya menghadap Elara.

“Lily?” bisik Elara. Bayangan itu berhenti bergoyang. Keheningan mencekam menyelimuti teras.

Perlahan, bayangan itu berbalik. Wajahnya samar, tapi matanya… matanya kosong dan gelap. Tatapannya menembus Elara.

Ketakutan murni mencengkeram Elara. Itu bukan kesedihan, melainkan kehampaan. Sebuah kesunyian yang menuntut jawaban.

“Kau menungguku?” tanya Elara, suaranya bergetar. Bayangan itu tidak menjawab, hanya menatapnya tanpa ekspresi.

Udara semakin dingin. Elara merasakan sentuhan es di lengannya. Sebuah jari dingin merayap perlahan.

Jari itu menunjuk ke arah hutan. Lily ingin menunjukkan sesuatu. Atau meminta Elara melakukan sesuatu.

“Apa yang kau inginkan?” Elara hampir berteriak. Bayangan itu bangkit, melayang dari kursi.

Ia melayang menuju hutan. Perlahan, mengundang Elara untuk mengikuti. Namun, Elara tak berani bergerak.

Ia tahu, jika ia melangkah keluar teras, ia mungkin tak akan kembali. Misteri Lily akan menjadi misterinya sendiri.

Bayangan itu berhenti di tepi hutan. Menoleh ke belakang, matanya masih gelap. Lalu, ia melayang masuk ke dalam kegelapan.

Kursi goyang itu berhenti bergerak. Teras kembali sunyi. Tapi dinginnya masih menusuk. Lily telah pergi.

Namun, Elara tahu, ia akan kembali. Setiap malam, isakan itu akan terdengar lagi. Isakan yang menuntut penyelesaian.

Elara tidak bisa tidur lagi di rumah itu. Setiap sudut terasa mengawasinya. Setiap bayangan adalah bayangan Lily.

Ia mencoba menjual rumah itu. Tapi tak ada yang mau. Cerita tentang Lily sudah menyebar, membekukan setiap minat.

Elara terjebak. Ia adalah satu-satunya yang tersisa di rumah itu, bersama kenangan Lily. Dan kursi goyangnya.

Malam-malam berikutnya, Elara mulai mendengar bisikan yang lebih jelas. Bukan nama, tapi kalimat-kalimat pendek.

“Ayah… pulang…” “Dingin…” “Sendiri…” Suara itu merayap dari kursi.

Elara mencoba menutupinya, memindahkannya. Tapi kursi itu selalu kembali ke teras. Seolah memiliki kemauan sendiri.

Suatu senja, Elara duduk di teras. Bukan di kursi goyang itu. Ia hanya memandanginya dari jauh.

Kursi itu mulai bergoyang perlahan. Kali ini tanpa bayangan. Hanya derit kayu tua yang melodi.

Lalu, ia melihatnya. Di bawah salah satu ukiran rumit kursi, ada celah kecil. Sebuah laci rahasia.

Tangannya bergetar saat membukanya. Di dalamnya, ada sebuah sapu tangan lusuh. Dan sebuah liontin perak.

Liontin itu terbuka. Di dalamnya, ada foto seorang pria dan seorang anak perempuan kecil. Lily dan ayahnya.

Ada juga selembar kertas terlipat rapi. Tulisan tangan anak-anak, coretan pensil yang pudar.

“Ayah, aku akan selalu menunggu di kursi ini.” Kalimat itu menusuk hati Elara. Lily tak pernah menyerah.

Tiba-tiba, suara di belakangnya. Bukan bisikan, tapi suara napas berat. Seperti seseorang berdiri sangat dekat.

Elara menoleh cepat. Di ambang pintu teras, berdiri sesosok bayangan tinggi. Bukan Lily.

Itu adalah bayangan seorang pria. Wajahnya kabur, tapi ia memegang kapak berlumuran tanah. Matanya merah menyala.

Napas Elara tercekat. Itu bukan hantu yang sama. Ini adalah kehadiran lain. Lebih gelap, lebih jahat.

Sosok itu melangkah maju. Satu langkah. Lalu yang kedua. Udara di sekitarnya terasa panas, bukan dingin.

Ia menatap kursi goyang itu. Lalu menatap Elara. Ada kilatan kemarahan dan kegilaan di matanya.

“Kau menemukannya,” suara serak menggelegar. “Rahasia Lily. Rahasia kita.”

Elara menjerit. Ia tahu, ia telah menemukan bukan hanya misteri Lily, tapi juga misteri di balik kepergiannya.

Dan sekarang, ia menjadi bagian dari misteri itu. Bagian yang mungkin tak akan pernah bisa keluar.

Pintu teras tiba-tiba tertutup, mengunci Elara di dalam. Bersama kursi goyang itu. Dan sosok mengerikan itu.

Derit kursi goyang kembali terdengar. Lebih cepat, lebih gila. Menjadi latar belakang jeritan Elara.

Rumah itu kembali sunyi setelah itu. Hanya angin malam yang berdesir. Dan kursi goyang yang terus bergoyang.

Di teras belakang, di bawah bulan purnama, kursi itu bergoyang. Menunggu korban berikutnya. Dan rahasia yang takkan pernah terungkap.

Jangan Pernah Duduk di Kursi Goyang Teras Belakang — Kata Nenek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *