Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Joglo Senja Punya Kursi yang Tak Boleh Diduduki — Ini Alasannya

9
×

Joglo Senja Punya Kursi yang Tak Boleh Diduduki — Ini Alasannya

Share this article

Joglo Senja Punya Kursi yang Tak Boleh Diduduki — Ini Alasannya

Kursi Penantian di Joglo Senja

Ardi tiba di Joglo Senja, sebuah rumah ukiran jati yang menjulang megah di tengah perkebunan teh. Debu tebal menyelimuti setiap sudut, dan aroma kayu tua bercampur lumut memenuhi udara. Ia datang mencari inspirasi, namun menemukan ketenangan yang ganjil.

Rumah itu begitu luas, lorong-lorongnya seolah berbisik cerita lama. Jendela-jendela besar membiarkan cahaya senja masuk, menciptakan bayangan menari di dinding. Ardi merasakan tatapan yang tak terlihat, seolah ada mata mengawasinya dari balik kegelapan.

Di ruang utama, persis di bawah tiang soko guru, sebuah kursi ukiran jati tampak mencolok. Kursi itu kosong, namun entah mengapa, Ardi merasa ada kehadiran kuat di sana. Ia bahkan bisa merasakan dingin yang aneh memancar dari sandarannya.

Kursi itu berukuran besar, dengan ukiran naga yang melilit sandaran tangannya. Permukaannya mulus, seolah baru saja dipoles, kontras dengan lapisan debu di perabot lain. Ardi mencoba duduk, namun tiba-tiba merasakan dorongan tak kasat mata.

Ia terhuyung mundur, jantungnya berdegup kencang. Dingin itu menusuk tulang, seolah peringatan. Sejak saat itu, kursi itu menjadi pusat perhatian Ardi, sebuah anomali misterius di tengah kemegahan yang usang.

Malam pertama Ardi di Joglo Senja adalah mimpi buruk yang nyata. Suara langkah samar sering terdengar dari ruang utama, seolah seseorang berjalan mengelilingi kursi kosong itu. Terkadang, Ardi mendengar desahan pelan, seperti napas berat.

Ia berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya suara rumah tua, angin yang masuk melalui celah. Namun, sensasi dingin yang menyertai setiap suara itu tak bisa ia abaikan. Dingin itu selalu berpusat di sekitar kursi.

Suatu dini hari, ia terbangun oleh melodi gamelan yang sayup-sayup. Iramanya begitu sendu, seolah tangisan yang diubah menjadi lagu. Suara itu berasal dari ruang utama, tepat di mana kursi itu berada.

Ardi memberanikan diri mendekat. Melodi itu berhenti tiba-tiba saat ia menginjak ambang pintu. Ruangan itu gelap, namun ia bisa melihat siluet samar di kursi, seolah seseorang baru saja bangkit dari sana.

Ia menyalakan senter, namun kursi itu kosong, seperti biasa. Hanya ada jejak embun tipis di permukaannya, padahal tidak ada kelembaban di dalam ruangan. Ketakutan merayap, melumpuhkan keberaniannya.

Keesokan harinya, Ardi mencari informasi tentang Joglo Senja. Ia menemukan beberapa catatan tua milik Ki Harjo, pemilik terakhir yang meninggal tanpa ahli waris. Catatan itu penuh coretan, seolah ditulis oleh tangan yang gemetar.

Ia bertanya kepada Pak Tua, penjaga rumah yang sudah renta. Pak Tua selalu menghindar saat ditanya tentang kursi itu, matanya memancarkan ketakutan. “Jangan pernah sentuh kursi itu, Nak,” bisiknya suatu kali.

“Mengapa?” desak Ardi. Pak Tua hanya menggelengkan kepala, bibirnya terkunci rapat. “Ada yang menunggu. Selalu menunggu,” ucapnya, lalu bergegas pergi, meninggalkan Ardi dengan lebih banyak pertanyaan.

Dari arsip desa, Ardi menemukan kisah tragis Ki Harjo. Ia adalah seorang pria kaya raya yang sangat mencintai istrinya, Dewi. Dewi terkenal akan kecantikannya dan keanggunan tariannya.

Kursi di ruang utama itu adalah hadiah Ki Harjo untuk Dewi, tempat favoritnya saat berlatih menari atau sekadar bersantai. Namun, Dewi menghilang secara misterius saat melakukan perjalanan ke kota lain, tak pernah kembali.

Ki Harjo menunggu. Ia menunggu setiap hari, di kursi itu, menatap jalan setapak. Ia menolak meninggalkan rumah, keyakinannya bahwa Dewi akan kembali tak pernah padam. Ia meninggal di usia tua, sendirian, dengan hati yang hancur.

Setelah kematian Ki Harjo, kursi itu selalu dibiarkan kosong. Penduduk desa percaya, roh Dewi masih menunggu di sana, tidak menyadari bahwa Ki Harjo telah tiada. Atau, mungkin roh Ki Harjo yang masih menunggu Dewi kembali.

Malam itu, badai menggila di luar. Kilat menyambar, menerangi ruangan joglo sesaat. Ardi duduk di ruang tengah, menatap kursi itu. Ia memutuskan untuk mencoba berkomunikasi.

“Dewi? Ki Harjo?” bisiknya ke dalam kegelapan. Udara di sekitarnya mendadak dingin, jauh lebih dingin dari sebelumnya. Jantung Ardi berpacu tak karuan.

Lalu, sebuah bisikan samar terdengar, “Menunggu…” Suara itu begitu dekat, seolah di samping telinganya. Ardi merasakan napas dingin menyapu tengkuknya.

Sebuah siluet tipis, seperti kabut, mulai terbentuk di atas kursi. Bentuknya samar, namun Ardi bisa merasakan kehadirannya yang memilukan. Sosok itu tampak duduk, menatap ke arah pintu utama.

Ia bisa merasakan kesedihan yang mendalam, penantian abadi yang tak berujung. Itu bukan roh jahat, melainkan entitas yang terperangkap dalam kepedihan. Roh yang tak bisa pergi karena janjinya.

Apakah itu Dewi yang menunggu Ki Harjo? Atau Ki Harjo yang menunggu Dewi? Ardi tidak tahu pasti. Yang jelas, kursi itu adalah simpul waktu, tempat dua jiwa terhubung dalam penantian abadi.

Ardi memutuskan untuk tidak lagi mencoba duduk di kursi itu. Ia menghormati penantian itu, kesedihan yang menggantung di udara. Joglo Senja bukan lagi sekadar rumah tua, melainkan sebuah monumen cinta dan kehilangan.

Ia tetap tinggal di sana, namun tidak lagi merasa sendirian. Setiap malam, ia mendengar bisikan, langkah kaki, dan melodi gamelan sendu. Itu adalah pengingat konstan akan penantian yang tak pernah usai.

Kursi kosong itu adalah pusat dari segalanya, sebuah tanda tanya abadi. Ia mewakili janji yang tak terpenuhi, harapan yang tak pernah padam, dan cinta yang melampaui kematian.

Ardi menulis kisahnya, membiarkan dunia tahu tentang kursi penantian itu. Ia berharap suatu hari, penantian itu akan berakhir, dan jiwa-jiwa yang terperangkap akan menemukan kedamaian.

Namun, hingga kini, kursi itu tetap kosong, namun tak pernah benar-benar kosong. Dan di Joglo Senja, di tengah perkebunan teh yang sepi, penantian itu terus berlanjut, abadi.

Setiap senja, saat cahaya memudar, bayangan di sekitar kursi itu tampak memanjang. Seolah sebuah sosok tak kasat mata baru saja duduk, memulai lagi penantiannya. Dan Ardi tahu, ia tak pernah sendirian di sana.

Kursi Penantian di Joglo Senja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *