
Desa Angsana, sebuah permata tersembunyi di kaki gunung, selalu diselimuti kabut tipis. Aku datang untuk meliput pernikahan lokal, berharap menemukan kisah-kisah tradisional. Namun, yang kutemukan jauh melampaui ekspektasiku. Sebuah misteri berbalut kain beludru tua dan aura dingin.
Di sudut balai desa, terpisah dari deretan kursi lain, berdiri singgasana pengantin. Ukiran kayu jati hitamnya tampak begitu megah, namun juga menakutkan. Beludru merah marunnya pudar, seolah menyerap setiap kebahagiaan yang pernah ada.
Para tetua desa berulang kali memperingatkan: “Jangan pernah menyentuhnya. Apalagi mendudukinya.” Suara mereka berbisik, penuh ketakutan yang mendalam. Sebuah larangan yang begitu absolut, tanpa penjelasan.
Rasa penasaran merayapiku seperti sulur-sulur tak terlihat. Mengapa sebuah kursi, benda mati, bisa begitu dihormati sekaligus ditakuti? Aku melihat pengantin baru pun menghindarinya, wajah mereka pucat pasi.
Aku mulai bertanya kepada penduduk setempat, mencoba menguak tabir misteri itu. Namun, setiap pertanyaan hanya disambut tatapan kosong atau gelengan kepala. “Itu bukan tempat untuk diduduki,” adalah jawaban paling umum.
Beberapa dari mereka bahkan bergidik, menunjuk kursi itu dengan jari gemetar. Sebuah firasat buruk mencengkeram hatiku. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar takhayul biasa.
Malam tiba, dan bisikan-bisikan mulai merambat. Kisah-kisah kuno tentang pengantin yang hilang, tentang kutukan abadi. Mereka berbicara tentang “Arum,” seolah nama itu sendiri adalah mantra.
Setiap kali aku mendekat, hawa dingin menusuk tulang, meski cuaca di luar terik. Aroma melati yang samar, bercampur bau tanah basah, tercium dari arah singgasana. Sensasi tak nyaman itu selalu ada.
Aku memperhatikan ekspresi penduduk desa. Ketakutan itu nyata, terukir di setiap garis wajah mereka yang keriput. Mereka memperlakukan kursi itu seperti altar suci, atau mungkin lebih tepatnya, seperti sebuah makam.
Suatu sore, seorang anak kecil yang polos berlari mendekat, berniat menduduki kursi itu. Seketika, neneknya menjerit histeris, menariknya menjauh dengan kekuatan tak terduga. Wajah nenek itu seputih kapas.
Nenek itu memeluk cucunya erat, matanya menatap kursi itu dengan horor yang tak terlukiskan. “Jangan, Nak! Jangan!” bisiknya, suaranya tercekat. Anak itu menangis ketakutan, tanpa tahu alasannya.
Insiden itu semakin mengobarkan keingintahuanku. Aku memutuskan untuk begadang, mengamati kursi itu dari kejauhan. Balai desa yang sepi, diterangi rembulan, menciptakan siluet menyeramkan.
Sekitar tengah malam, aku merasakan perubahan di udara. Suhu turun drastis, dan bulu kudukku merinding. Sebuah bayangan samar seolah melintas di depan kursi, terlalu cepat untuk ditangkap mata.
Aku menajamkan pendengaranku. Ada suara, sangat lirih, seperti desahan pilu atau nyanyian pengantin yang terputus. Itu berasal dari arah kursi, bergaung di keheningan malam.
Tiba-tiba, sebuah tirai di dekat kursi berayun pelan, seolah ada hembusan angin. Padahal, semua jendela dan pintu tertutup rapat. Jantungku berdebar kencang, menyadari aku tidak sendirian.
Aku mundur perlahan, rasa takut mulai menggantikan rasa penasaran. Kursi itu tampak lebih gelap, lebih mengancam di bawah cahaya rembulan. Seolah-olah, ia kini menatapku balik.
Keesokan harinya, aku mencari Mbah Karto, tetua paling bijaksana di Desa Angsana. Setelah dibujuk dengan sabar dan janji untuk tidak menuliskan hal-hal yang tidak seharusnya, ia akhirnya bersedia bercerita.
“Kursi itu, Nak,” Mbah Karto memulai, suaranya serak dan berat, “adalah singgasana Arum.” Arum, pengantin paling cantik di Angsana, yang kisah cintanya berakhir tragis.
Bertahun-tahun silam, Arum dijadwalkan menikah dengan pemuda desa tetangga, Rama. Pernikahan mereka adalah peristiwa besar, dipersiapkan dengan segala kemegahan. Arum duduk di kursi itu, menanti Rama.
Namun, Rama tak pernah datang. Hari demi hari, ia menunggu di kursi yang sama, mengenakan gaun pengantinnya yang indah. Kesedihan dan keputusasaan menggerogoti jiwanya.
“Dia menolak makan, menolak bicara, hanya duduk di sana,” Mbah Karto melanjutkan, matanya menerawang. “Seolah ia terikat pada janji yang tak terpenuhi, pada harapan yang hancur.”
Hingga suatu pagi, ia ditemukan tak bernyawa, tubuhnya dingin membeku di singgasana itu. Senyum pahit terukir di bibirnya, mata terbuka menatap hampa. Konon, rohnya tak pernah pergi.
“Arwah Arum masih mendiami kursi itu, Nak,” bisik Mbah Karto. “Ia menanti Rama, menanti pengantinnya kembali. Dan ia cemburu pada setiap kebahagiaan yang bukan miliknya.”
Siapa pun yang menduduki kursi itu, atau bahkan menyentuhnya dengan niat buruk, akan merasakan kemarahannya. “Ia tak ingin ada yang bahagia di atas penderitaannya,” kata Mbah Karto.
Ia menceritakan beberapa kejadian mengerikan. Seorang pemuda yang tak percaya takhayul, pernah nekat menduduki kursi itu sesaat, hanya untuk membuktikan ia tak berdaya.
Seminggu kemudian, pemuda itu ditemukan tewas mengenaskan, di tepi sungai. Wajahnya pucat pasi, matanya terbelalak ketakutan, seolah melihat sesuatu yang tak terbayangkan.
Ada pula sepasang pengantin baru yang, karena kurangnya perhatian, sempat berpose di dekat kursi itu, tangan sang mempelai wanita menyentuh sandarannya. Malam harinya, pengantin wanita itu dihantui mimpi buruk.
Ia mendengar tangisan pilu Arum, melihat bayangan perempuan bergaun pengantin melayang di kamarnya. Pernikahannya berantakan dalam hitungan bulan, sang suami meninggalkannya tanpa sebab jelas.
“Arum tidak akan membiarkan kebahagiaan itu ada di tempatnya menunggu,” Mbah Karto menyimpulkan. “Kursi itu adalah takhtanya, penjaranya, dan kutukannya.”
Sejak itu, tak ada yang berani melanggar. Kursi itu menjadi monumen kesedihan, simbol kutukan abadi. Kehadirannya selalu terasa, bahkan saat balai desa penuh tawa dan suka cita.
Aku kembali ke balai desa, memandangi kursi itu dengan pandangan yang berbeda. Itu bukan lagi sekadar perabot tua, melainkan sebuah entitas yang hidup, penuh dengan kepedihan dan dendam.
Aku bisa merasakan tatapan Arum, dingin dan menusuk, dari kursi kosong itu. Aroma melati kini terasa lebih kuat, seolah ia hadir, mengawasi setiap gerak-gerikku.
Aku meninggalkan Desa Angsana dengan perasaan yang campur aduk. Cerita tentang kursi pengantin itu bukan lagi sekadar dongeng, melainkan kenyataan yang menghantui. Sebuah peringatan tentang janji yang tak terpenuhi.
Kursi itu tetap di sana, kosong, namun penuh dengan kehadiran yang tak terlihat. Sebuah takhta yang tak boleh diduduki, selamanya menjaga rahasia kelam Desa Angsana. Dan aku, selamanya terbayang oleh bayangan Arum, sang pengantin abadi.






