Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Siapa Lelaki Berpakaian Hitam yang Selalu Muncul di Pura Tepi Jurang?

9
×

Siapa Lelaki Berpakaian Hitam yang Selalu Muncul di Pura Tepi Jurang?

Share this article

Siapa Lelaki Berpakaian Hitam yang Selalu Muncul di Pura Tepi Jurang?

Bayangan di Pura Watu Ireng: Sebuah Misteri Abadi

Matahari Bali, keemasan seperti janji surga, menyinari bebatuan kuno Pura Watu Ireng. Aku, Arya, seorang fotografer, telah mendengar bisikan tentang keindahan tersembunyi pura ini. Terletak di tepi jurang yang curam, pura ini seolah menggantung antara langit dan samudra, memanggil jiwa-jiwa yang mencari kedamaian atau, mungkin, sesuatu yang lain.

Aku datang dengan kamera dan harapan akan bidikan yang sempurna. Angin laut berdesir di antara relief batu, membawa aroma dupa dan kelembaban. Para peziarah bergerak perlahan, khusyuk, menawarkan sesajen di setiap sudut. Suasana sakral terasa kental, hampir bisa disentuh.

Namun, di antara kerumunan itu, ada satu sosok yang ganjil. Berdiri tak bergerak di titik paling berbahaya di tepi jurang, di mana ombak pecah di bawah sana. Sebuah siluet yang menonjol, seolah dipahat dari kegelapan malam.

Dia adalah seorang lelaki, namun detailnya kabur oleh jarak dan aura yang aneh. Kulitnya gelap pekat, kontras mencolok dengan kain putih sederhana yang membalut tubuhnya. Dia tidak bergerak, hanya menatap kosong ke arah cakrawala biru yang tak berujung.

Aku mengira dia hanyalah seorang peziarah asing, mungkin dari benua lain. Tapi ada sesuatu dalam ketidakbergerakannya, dalam intensitas tatapannya, yang terasa tidak wajar. Dia seperti bagian dari batu karang itu sendiri, sebuah anomali di tengah hiruk pikuk ritual.

Aku mengabaikannya, fokus pada lensa dan cahaya yang sempurna. Mengambil gambar pura dari berbagai sudut, mengabadikan setiap detail arsitektur kuno. Namun, setiap kali pandanganku melintas, sosok itu masih di sana, tak berubah, seolah waktu tak berlaku baginya.

Keesokan harinya, aku kembali. Rasa penasaran mulai menggerogoti. Pura Watu Ireng memang memikat, tetapi sosok lelaki itu lebih memikat rasa ingin tahuku. Apakah dia masih di sana? Atau hanya kebetulan?

Dan benar saja, di tempat yang sama persis, dia berdiri. Dengan postur yang sama, kain putih yang sama, dan tatapan yang sama. Tidak ada peziarah lain yang berani mendekatinya. Mereka melewatinya dengan langkah cepat, beberapa bahkan menunduk seolah menghindari tatapannya.

Kali ini, aku mencoba mendekat. Perlahan, langkah demi langkah, aku menyusuri jalan setapak batu. Jantungku berdebar, bukan karena takut, melainkan karena perpaduan rasa ingin tahu dan kegelisahan yang tak dapat dijelaskan.

Saat aku berjarak sekitar dua puluh meter, hawa dingin yang menusuk tiba-tiba menyergap. Bukan dingin angin laut, melainkan dingin yang berasal dari dalam, seolah menembus tulang. Bulu kudukku meremang.

Lelaki itu sedikit menoleh. Matanya, meski tak terlihat jelas dari kejauhan, terasa menembusku. Ada kedalaman yang tak berdasar di sana, sebuah kekosongan yang membuatku mundur selangkah. Aku merasakan tarikan aneh, seperti gravitasi yang terbalik.

Aku berhenti di tempat. Mengangkat kamera, mencoba menangkap gambarnya. Namun, setiap kali aku mengarahkan lensa, fokusnya buyar. Seolah ada distorsi di sekelilingnya, menolak untuk diabadikan.

Beberapa hari berikutnya, aku terus kembali. Lelaki itu selalu ada. Di pagi hari, di siang hari, bahkan saat senja. Dia seperti penjaga bisu, patung hidup yang terpaku di tepi jurang. Rasa penasaran berubah menjadi obsesi.

Aku mulai bertanya pada penduduk lokal, para pedagang canang, dan para pemangku pura. Mereka semua bereaksi dengan cara yang sama: mata melebar, bisikan tertahan, dan gelengan kepala yang enggan. Tak ada yang mau membahasnya secara terbuka.

“Dia bukan dari sini,” bisik seorang wanita tua, matanya melirik ketakutan ke arah pura. “Dia sudah ada di sana jauh sebelum kita.” Dia menolak menjelaskan lebih lanjut, berbalik dengan tergesa-gesa.

Bisikan-bisikan samar mulai kudengar. Ada yang bilang dia adalah arwah penjaga pura. Yang lain menyebutnya sebagai utusan dunia lain, datang untuk mengamati manusia. Kisah-kisah horor lokal mulai melebur dengan pengalamanku sendiri.

Suatu malam, bulan purnama penuh menggantung di atas Pura Watu Ireng. Aku memutuskan untuk melakukan pengamatan malam. Sebuah ide gila, mungkin, tetapi rasa ingin tahu telah menguasai akal sehatku.

Aku bersembunyi di balik sebuah pohon beringin tua, akarnya menjalar seperti urat nadi raksasa. Angin bertiup lebih kencang, membawa suara ombak yang menderu di bawah jurang. Suasana menjadi mencekam, sunyi, hanya dipecah oleh suara alam.

Pukul dua dini hari, ketika kegelapan mencapai puncaknya, aku melihatnya. Lelaki itu, masih di tempatnya. Namun kali ini, dia tidak hanya berdiri. Dia bergerak. Gerakannya lambat, seperti dalam mimpi, tetapi pasti.

Dia mengangkat tangannya, telapak tangannya menghadap ke langit. Tidak ada suara, tidak ada mantra yang terucap. Namun, aku bisa merasakan energi yang memancar darinya. Hawa dingin yang kurasakan sebelumnya semakin pekat.

Tiba-tiba, dari kegelapan di bawah jurang, muncul cahaya kebiruan samar. Cahaya itu menari-nari di atas ombak, seolah merespons gerakan tangannya. Itu bukan cahaya bulan, bukan pantulan, melainkan sesuatu yang bersinar dari dalam air.

Cahaya itu mulai naik, perlahan namun pasti, menuju ke arah pura. Jantungku bergemuruh di dalam dada. Aku ingin berteriak, ingin lari, tetapi tubuhku terpaku. Mataku terpaku pada pemandangan di hadapanku.

Saat cahaya itu mendekat, aku melihatnya. Bentuknya tak jelas, seperti gumpalan energi bercahaya. Ia melayang, bukan terbang, menuju ke arah lelaki hitam itu. Lelaki itu tidak menunjukkan ekspresi apapun.

Gumpalan cahaya itu berhenti tepat di depannya. Lelaki itu menurunkan tangannya, dan cahaya itu seolah terserap ke dalam tubuhnya. Seperti tetesan air yang jatuh ke spons kering. Seketika, cahaya itu lenyap.

Namun, sesuatu yang lain terjadi. Setelah cahaya itu terserap, tubuh lelaki itu tampak bergetar samar. Ada aura yang lebih gelap, lebih berat, yang terpancar darinya. Udara di sekelilingnya menjadi dingin membeku.

Aku bisa mendengar bisikan-bisikan, bukan dari angin, melainkan dari dalam kepalaku. Kata-kata yang tak jelas, seperti bahasa kuno yang terlupakan. Suara-suara itu seolah ingin memaksakan diri masuk ke dalam pikiranku.

Tiba-tiba, lelaki itu menoleh. Pandangannya langsung mengarah ke tempat persembunyianku. Tidak ada keraguan, tidak ada pencarian. Dia tahu aku ada di sana. Matanya, meskipun gelap, terasa menusuk.

Ketakutan yang luar biasa merayapiku. Ini bukan lagi rasa ingin tahu. Ini adalah naluri bertahan hidup. Aku merasa seperti mangsa yang tertangkap basah oleh predator. Aku bisa merasakan tatapannya menyentuh kulitku, membakar.

Aku tidak bisa bergerak. Terperangkap oleh tatapannya, oleh aura misteriusnya. Lalu, dia mengangkat tangannya lagi, bukan ke langit, melainkan menunjuk langsung padaku. Gerakan itu lambat, namun penuh ancaman.

Pada saat itu, aku mendengar suara. Suara retakan kecil, seperti ranting kering yang patah. Itu berasal dari bawah kakiku. Ranting yang kuintai, ternyata sudah lapuk dan tidak kuat menopang bobotku.

Aku kehilangan keseimbangan. Terjatuh ke belakang, berguling menjauhi pohon. Kamera terlepas dari genggamanku, berdentang di atas batu. Rasa sakit menjalar di punggungku, tetapi rasa takut jauh lebih dominan.

Ketika aku berhasil bangkit, terhuyung-huyung, lelaki itu tidak lagi ada di sana. Jurang di bawahnya kosong. Hawa dingin masih terasa, tetapi bisikan-bisikan itu telah mereda. Dia menghilang. Seolah ditelan kabut.

Aku tidak pernah kembali ke Pura Watu Ireng setelah malam itu. Pengalaman itu terlalu nyata, terlalu menakutkan. Kamera yang terjatuh masih tergeletak di sana, mungkin. Aku tidak berani mengambilnya.

Aku mencoba mencari penjelasan, rasionalisasi. Mungkin itu hanya ilusi, kelelahan, atau imajinasiku yang terlalu liar. Tetapi setiap kali aku memejamkan mata, bayangan lelaki hitam di tepi jurang itu muncul.

Bayangan itu terus menghantuiku. Sebuah misteri abadi yang terukir di tepi jurang Pura Watu Ireng. Hingga kini, aku tak tahu. Apakah dia penjaga, arwah, atau sesuatu yang lain yang tak terdefinisi? Yang jelas, dia adalah Bayangan di Pura Watu Ireng, dan aku, Arya, adalah saksi bisu keberadaannya.

Siapa Lelaki Berpakaian Hitam yang Selalu Muncul di Pura Tepi Jurang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *