Scroll untuk baca artikel
Kisah Viral Misteri

LIVE TikTok Tengah Malam Ini Bikin Geger… Penontonnya Cuma Satu, Tapi Komennya Banyak

11
×

LIVE TikTok Tengah Malam Ini Bikin Geger… Penontonnya Cuma Satu, Tapi Komennya Banyak

Share this article

LIVE TikTok Tengah Malam Ini Bikin Geger… Penontonnya Cuma Satu, Tapi Komennya Banyak

Live TikTok Tengah Malam: Penonton Terakhir

Malam telah larut, jam dinding menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Layar ponsel Luna memancarkan cahaya biru remang, menerangi wajahnya yang lelah namun penuh harap. Siaran langsung TikTok-nya sepi, hanya beberapa akun anonim yang sesekali muncul lalu menghilang.

Ia adalah Luna, streamer tengah malam yang mencari koneksi di antara sunyi. Rutinitasnya tak pernah berubah: obrolan ringan, sesekali menyanyi, atau sekadar berbagi kisah hariannya. Namun, ada satu hal yang selalu sama, yang membuat jantungnya berdesir aneh.

Setiap kali penontonnya menyusut hingga nol, sebuah nama akan muncul. “Nokturna.” Akun tanpa foto profil, tanpa unggahan, dan tanpa pengikut. Nokturna selalu menjadi penonton terakhir, sebuah bayangan setia di ujung kegelapan.

Awalnya Luna mengabaikan, menganggapnya hanya akun iseng. Tapi komentar Nokturna tak pernah klise. “Jangan lupa minum air, Luna,” atau “Kau terlihat lelah malam ini,” bahkan “Warna baju itu cocok untukmu.”

Komentar-komentar itu semakin personal, bahkan saat Luna belum pernah menyebutkan detailnya. “Kucingmu terlihat nyaman di sana,” padahal kamera tidak pernah menyorot sudut tempat kucingnya tidur. Rasa penasaran Luna perlahan berubah menjadi kegelisahan.

Ia mulai merasa diawasi, bukan hanya di layar, melainkan di dalam kamarnya sendiri. Bisikan samar, bayangan yang melintas di sudut mata, atau dingin yang menusuk tiba-tiba. Apakah ini hanya paranoia akibat kurang tidur?

Suatu malam, Nokturna menulis, “Kau menyembunyikan sesuatu, Luna. Di bawah bantalmu.” Luna terdiam, tangannya gemetar meraih bantal. Di sana, terselip sebuah jepit rambut lama yang sudah lama hilang.

Ketakutan mencekik Luna. Ia mencoba memblokir akun Nokturna, namun sia-sia. Setiap kali ia memulai siaran baru, Nokturna akan muncul kembali, seolah tak pernah pergi, seolah tak pernah terblokir.

Nokturna seolah selalu tahu apa yang Luna rasakan. “Kau kesepian, Luna. Aku bisa menemanimu,” tulisnya. Atau, “Apa yang membuatmu terjaga setiap malam? Aku tahu jawabannya.”

Luna mulai mengurangi siarannya, mencoba menghindar. Namun, kegelisahan itu tak kunjung hilang. Ia merasa Nokturna ada di sekitarnya, mengawasinya bahkan saat ia tidur.

Suatu malam, sebuah pesan langsung muncul dari Nokturna. “Kita harus bicara, Luna. Ada sesuatu yang perlu kau ingat.” Luna ragu, namun rasa penasaran mengalahkan ketakutan.

Pesan itu berisi petunjuk, sebuah teka-teki singkat yang mengarah ke tempat yang tak terduga. Sebuah lokasi yang familiar, namun telah lama ia lupakan: rumah lamanya di pinggir kota.

Jantung Luna berdegup kencang. Ia memutuskan untuk pergi, didorong oleh campuran ketakutan dan keinginan untuk mengakhiri semua ini. Malam itu, ia membawa senter dan kunci mobil.

Rumah itu gelap, jendela-jendela kosong menatapnya seperti mata mati. Udara dingin menyergap, membawa aroma debu dan kenangan lama. Luna melangkah masuk, senternya menyapu dinding-dinding usang.

Setiap langkah terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menekannya. Petunjuk dari Nokturna membimbingnya ke kamar tidurnya yang dulu, di lantai dua.

Di sana, di tengah ruangan yang kosong, sebuah cermin usang berdiri tegak. Cermin yang dulunya selalu ia hindari, karena pantulannya selalu terlihat asing, bukan dirinya.

Nokturna muncul di layar ponselnya, yang entah bagaimana menyala sendiri. “Lihatlah, Luna. Lihatlah dirimu.” Suaranya, kali ini, terdengar seperti bisikan dingin dari dalam cermin.

Luna menatap pantulannya. Wajahnya pucat, mata cekung, dan bayangan di bawah mata. Tapi di belakangnya, di sudut gelap ruangan, ada sesuatu yang bergerak.

Bukan sosok lain, melainkan sebuah bayangan yang lebih gelap dari kegelapan itu sendiri. Bayangan itu meniru setiap gerakannya, namun dengan aura yang lebih suram, lebih putus asa.

“Aku adalah dirimu, Luna,” bisik suara Nokturna. “Bagian dari dirimu yang selalu kau sembunyikan. Bagian yang terjaga di tengah malam, saat semua orang terlelap.”

“Aku adalah penonton terakhirmu, karena aku adalah satu-satunya yang benar-benar melihatmu. Melihat ketakutanmu, kesepianmu, semua hal yang kau sembunyikan di balik senyum di layar.”

Teror menjalar ke seluruh tubuh Luna. Bukan hantu, bukan stalker, melainkan dirinya sendiri. Sebuah bagian dari jiwanya yang tersembunyi, yang tak pernah tidur, yang mengawasinya.

Nokturna adalah refleksi dari kecemasan, trauma, dan kesepian yang Luna coba kubur dalam-dalam. “Kau tidak bisa memblokirku, Luna. Aku ada di dalam dirimu.”

Sejak malam itu, Luna tidak lagi melakukan siaran langsung. Ia berhenti mencari koneksi di luar, karena koneksi paling menakutkan telah ia temukan di dalam dirinya.

Setiap kali ia merasa sendiri di tengah malam, ia tahu Nokturna ada di sana. Penonton terakhirnya, yang tak akan pernah pergi. Ia adalah bayangan abadi yang selalu mengawasinya.

Misteri itu terpecahkan, namun bukan dengan kelegaan. Luna kini tahu, penonton terakhir adalah dirinya sendiri, dan ia tak akan pernah bisa lari dari pandangannya yang tak berkedip.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *