Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Apa yang Terjadi di Kabin Ini? Lorong Terlihat Normal, Tapi Tak Pernah Sampai Ujung

10
×

Apa yang Terjadi di Kabin Ini? Lorong Terlihat Normal, Tapi Tak Pernah Sampai Ujung

Share this article

 

Lorong Kabin yang Tak Pernah Habis

Angin laut berdesir lembut, membawa aroma garam dan janji petualangan. Ardi bersandar pada pagar dek, menatap cakrawala yang memudar. Kapal pesiar megah, “SS Serenity,” adalah pelarian sempurna dari rutinitas.

Malam itu, setelah makan malam mewah, ia memutuskan kembali ke kabinnya. Nomor B-17, mudah diingat. Koridor dek B tampak familiar, dihiasi karpet biru tua dan lampu temaram.

Namun, sesuatu terasa sedikit berbeda. Ardi melewati beberapa pintu, mencari nomornya. B-10, B-11, B-12… Harusnya B-17 tidak jauh dari sini.

Ia terus melangkah, namun angka-angka itu seolah tak bergerak maju. B-13, B-14, B-15… Lalu, kembali lagi ke B-10. Jantungnya berdebar pelan.

Mungkin ia salah belok? Ardi berbalik, mencoba jalur lain. Lorong ini seharusnya lurus, dengan beberapa persimpangan kecil. Tapi semua tampak sama.

Setiap pintu identik: kayu gelap dengan kenop kuningan mengkilap. Tak ada jendela, tak ada petunjuk arah, hanya deretan angka yang berulang tak terduga. B-17 tak kunjung ditemukan.

Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ardi mempercepat langkah, mencoba mencapai ujung lorong. Namun, ujung itu seolah menjauh, tak pernah mendekat.

Lorong itu membentang tanpa batas, deretan pintu yang sama berulang kali. Sunyi mencekam, hanya suara langkah kakinya yang memantul. Bahkan suara mesin kapal pun tak terdengar lagi.

Ia mencoba mengetuk salah satu pintu. “Halo? Ada orang di dalam?” Tak ada jawaban, hanya keheningan yang lebih pekat. Ia mencoba pintu lain, dan lagi.

Setiap ketukan terasa hampa, seperti memukul dinding kosong. Rasanya seperti satu-satunya orang yang terjebak dalam labirin tanpa akhir ini.

Panik mulai merayapi. Ia merogoh saku, mencari peta kapal. Peta itu ada, tapi anehnya, koridor ini tidak cocok dengan denah yang tercetak.

Peta itu menunjukkan lorong-lorong pendek, berakhir di tangga atau lift. Lorong tempatnya berdiri sekarang tak memiliki ujung, tak memiliki persimpangan.

Ia mencoba berteriak, memanggil nama siapa saja. Suaranya terdengar serak, menakutkan, dan lenyap ditelan kesunyian lorong yang tak berujung.

Kehangatan AC kapal mulai memudar, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk. Bau aneh mulai tercium, seperti kombinasi karat dan sesuatu yang membusuk.

Ardi melihat lebih dekat pada salah satu pintu. Ada goresan samar di kenop kuningan, seolah bekas kuku yang putus asa. Ia tak mengingatnya ada sebelumnya.

Di pintu lain, ia melihat bayangan samar seperti noda. Saat disentuh, rasanya seperti jelaga kering, namun tak meninggalkan bekas di jarinya.

Lampu-lampu temaram di atas kepala mulai berkedip-kedip. Beberapa padam, meninggalkan bagian lorong dalam kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh cahaya dari kejauhan.

Ia terus berjalan, tak tahu lagi berapa lama. Jam tangannya berhenti di angka 03.17. Apakah itu kebetulan? Atau sebuah pertanda?

Kakinya sakit, tenggorokannya kering. Rasa lapar dan haus mulai menyiksa. Namun, yang paling parah adalah rasa putus asa yang semakin membesar.

Tiba-tiba, ia mendengar suara. Samar, seperti bisikan jauh. Ardi menajamkan pendengaran, hatinya berdebar kencang. Apakah itu orang lain?

Bisikan itu terdengar seperti rintihan, lalu tawa yang sangat pelan. Tawa seorang anak kecil. Bulu kuduknya merinding.

Ia mempercepat langkah, menuju arah suara itu. Tapi semakin cepat ia berjalan, suara itu semakin menjauh, atau mungkin hanya ilusinya.

Lorong itu mulai berubah. Beberapa pintu tampak lebih tua, catnya mengelupas. Ada yang terlihat lebih modern, dengan panel digital yang mati.

Ini bukan lagi koridor kapal pesiar. Ini adalah kumpulan lorong dari berbagai era, digabung menjadi satu. Mimpi buruk arsitektur yang tak masuk akal.

Ardi mencoba membuka salah satu pintu yang tampak usang. Kenopnya terasa dingin, menolak diputar. Ia menariknya, mendorongnya, sia-sia.

Lalu, ia melihatnya. Di salah satu pintu yang paling jauh, sebuah celah kecil terlihat. Pintu itu sedikit terbuka.

Jantungnya berdebar kencang. Rasa takut bercampur dengan harapan. Ia mendorong pintu itu perlahan. Engselnya berdecit pelan.

Di balik pintu itu, bukan kabin. Bukan kamar mandi, bukan ruang staf. Melainkan, lorong yang lain. Persis sama.

Deretan pintu identik, karpet biru tua yang sama, lampu temaram yang sama. Hanya saja, lorong ini tampak lebih gelap, lebih dingin.

Seolah lorong ini melahirkan lorong lain, ad infinitum. Sebuah ilusi yang tak berujung, penjara tak terlihat yang terbuat dari kayu dan kesunyian.

Ardi merasakan kegilaan merayapi setiap serat otaknya. Ia jatuh terduduk, punggungnya menempel pada pintu yang baru saja ia buka.

Pandangannya nanar menatap lorong di depannya. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada akhir. Hanya pengulangan yang tak masuk akal.

Waktu kehilangan maknanya. Hari berganti malam, atau mungkin tidak. Ia hanya terus berjalan, terkadang berlari, terkadang merangkak.

Ia pernah melihat bayangan melintas di ujung lorong, terlalu cepat untuk diidentifikasi. Pernah mendengar langkah kaki di belakangnya, namun saat menoleh, tak ada siapa pun.

Ada kalanya ia melihat pantulan dirinya di kenop kuningan, namun pantulan itu berkedip, menunjukkan wajah lain. Wajah yang kosong, tanpa emosi.

Air matanya sudah mengering. Rasa lapar dan haus sudah menjadi bagian dari keberadaannya. Ia adalah bagian dari lorong ini sekarang.

Terkadang, ia melihat secercah cahaya redup di kejauhan. Ia akan berlari sekuat tenaga, berharap itu adalah ujung, pintu keluar.

Namun, setiap kali ia mendekat, cahaya itu akan meredup, lenyap, dan lorong itu akan terus membentang di hadapannya, tak berubah.

Ia tak lagi mencari kabin B-17. Ia tak lagi mencari jalan keluar. Ia hanya berjalan, selangkah demi selangkah, dalam keabadian yang mencekam.

Lorong kabin itu adalah dunianya sekarang. Sebuah penjara tak berwujud, di mana waktu dan ruang melengkung tak beraturan.

Ia bertanya-tanya, apakah ada orang lain di lorong ini? Apakah ia hanya satu-satunya yang terjebak dalam lingkaran tanpa batas ini?

Atau mungkin, setiap pintu yang ia lewati menyimpan cerita serupa, korban lain dari lorong kabin yang tak pernah habis ini.

Dan di suatu tempat, di kedalaman SS Serenity, kabin B-17 mungkin tetap kosong, menunggu penghuninya yang tak akan pernah kembali.

Ardi terus melangkah, bayangannya memanjang di karpet biru tua. Menuju ke mana? Ia sendiri tak tahu. Ia hanya tahu, lorong ini akan selalu ada. Selamanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *