Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sulawesi Selatan

Warga Bilang Jangan Ketuk Makam Batu Itu — Sekali Aja Bisa Celaka

7
×

Warga Bilang Jangan Ketuk Makam Batu Itu — Sekali Aja Bisa Celaka

Share this article

Warga Bilang Jangan Ketuk Makam Batu Itu — Sekali Aja Bisa Celaka

Di jantung pegunungan yang terlupakan, tersembunyi sebuah legenda. Kisah Makam Batu Angker, tempat terlarang yang dijauhi setiap langkah manusia. Arya, seorang peneliti sejarah lokal yang berani, terobsesi mengungkap tabir kelamnya.

Catatan kuno dan peta samar yang ia temukan mengarah pada sebuah lembah terpencil. Penduduk desa berbisik tentang kutukan dan jiwa-jiwa yang terperangkap. Mereka memperingatkan Arya, namun rasa ingin tahunya lebih kuat dari rasa takut.

Perjalanan menuju Lembah Naga Hitam—begitu nama yang terukir di peta—memakan waktu berhari-hari. Hutan belantara menelan jejak, dan pepohonan raksasa menjulang, menghalangi cahaya matahari. Udara semakin dingin, dipenuhi kelembaban yang menusuk.

Ketika akhirnya ia tiba, pemandangan itu menghentikan napasnya. Barisan monolit batu hitam, menjulang tinggi seperti gigi-gigi naga purba. Bentuknya tak beraturan, dihiasi ukiran-ukiran aneh yang seolah hidup di bawah tatapan matanya.

Ini bukan sekadar makam, melainkan sebuah kompleks pemakaman kuno. Aura yang terpancar begitu kuat, dingin, dan pekat. Arya merasakan kehadiran tak kasat mata yang menusuk hingga ke tulang sumsumnya.

Langkah pertamanya memasuki area itu disambut keheningan absolut. Tidak ada suara serangga, tidak ada desiran daun. Hanya detak jantungnya sendiri yang menggema di telinganya, memecah kesunyian yang mencekam.

Ia mulai memeriksa ukiran-ukiran pada batu. Simbol-simbol yang tak pernah ia lihat sebelumnya, mengisahkan ritual yang mengerikan. Ada gambar sosok-sosok berjubah, mengelilingi sesuatu yang tampak seperti portal.

Ketika jemarinya menyentuh permukaan batu, hawa dingin merambat. Sebuah bisikan samar terdengar, seolah berasal dari dalam batu itu sendiri. Arya menarik tangannya, merinding.

Semakin dalam ia menjelajah, semakin kuat sensasi diawasi. Bulu kuduknya berdiri. Sebuah bayangan melintas di ujung pandangannya, terlalu cepat untuk ditangkap. Apakah itu hanya ilusi, atau sesuatu yang nyata?

Ia menemukan sebuah celah sempit, mengarah ke bawah tanah. Rasa penasaran mengalahkan keraguan. Dengan senter di tangan, ia memberanikan diri masuk ke dalam kegelapan yang pekat.

Lorong itu sempit dan berbau apek, seperti tanah yang telah lama tidak menghirup udara. Suara tetesan air menggema dari kejauhan, menciptakan ritme yang monoton dan menakutkan.

Di ujung lorong, sebuah ruang besar terbuka. Pusatnya didominasi oleh sebuah altar batu yang masif. Di atasnya, tergeletak artefak kuno, bersinar redup seolah memiliki energi sendiri.

Arya mendekat, terpukau. Artefak itu berbentuk cakram obsidian dengan ukiran yang sama dengan yang ada di luar. Ketika ia menjulurkan tangan, udara di sekitarnya menjadi berat.

Sebuah suara berat, bergemuruh dari dinding-dinding gua, langsung masuk ke dalam benaknya. Bukan suara yang didengar telinga, melainkan getaran yang dirasakan jiwa. “Kau telah membangunkan kami,” bisik suara itu.

Arya tersentak mundur, jantungnya berdebar seperti genderang perang. Senternya berkedip, lalu mati total, meninggalkan dirinya dalam kegelapan yang mencekam. Ketakutan nyata mulai mencengkeramnya.

Bayangan-bayangan mulai menari di dinding, terbentuk dari kegelapan itu sendiri. Sosok-sosok berjubah, sama seperti yang terukir di batu, kini mengelilinginya. Mereka tidak memiliki wajah, hanya lubang kosong yang memancarkan kengerian.

“Kami telah menunggu,” bisik suara itu lagi, kali ini dari segala arah. “Terperangkap di antara dunia, oleh kutukan yang abadi.” Arya berusaha mundur, namun kakinya terasa terpaku di tanah.

Visi mengerikan melintas di benaknya. Ia melihat ritual kuno, pengorbanan yang dilakukan di altar ini. Jiwa-jiwa yang terenggut, energi gelap yang terkumpul, dan sebuah gerbang yang terbuka.

Makam-makam batu di luar bukan tempat peristirahatan, melainkan penjara. Tempat untuk menahan entitas-entitas yang terlalu kuat, terlalu jahat, untuk dilepaskan ke dunia. Dan Arya, telah membuka kuncinya.

Udara menjadi sangat dingin, hingga Arya bisa melihat napasnya sendiri. Sebuah kekuatan tak terlihat mendorongnya ke arah altar. Artefak obsidian itu bersinar lebih terang, memanggilnya.

Ia melawan, berteriak, namun suaranya tertelan oleh gemuruh gaib. Jiwa-jiwa yang terperangkap itu meratap, suaranya bercampur dengan bisikan entitas kuno yang haus kebebasan.

“Bergabunglah dengan kami,” suara itu menggodanya. “Menjadi bagian dari keabadian, atau menjadi mangsa yang terlupakan.” Arya tahu ini adalah ujian terakhirnya.

Dengan sisa tenaga, ia meraih artefak obsidian di altar. Bukan untuk mengaktifkannya, melainkan untuk menghancurkannya. Ia membantingnya ke lantai batu dengan sekuat tenaga.

Suara retakan bergema, diikuti jeritan memekakkan telinga. Artefak itu pecah berkeping-keping, memancarkan cahaya biru menyilaukan yang memenuhi ruangan. Sosok-sosok bayangan itu mundur, menjerit kesakitan.

Cahaya itu perlahan meredup, dan kegelapan kembali. Namun kali ini, kegelapan yang berbeda. Udara terasa ringan, dan hawa dingin yang menusuk perlahan menghilang.

Arya terhuyung-huyung keluar dari lorong itu, kembali ke cahaya rembulan. Ia berlari tanpa henti, tidak peduli dengan luka atau lelah. Ia hanya ingin sejauh mungkin dari tempat terkutuk itu.

Ia tidak pernah menoleh ke belakang. Rasa takut yang ia alami telah mengubahnya. Obsesinya telah terbayar dengan harga yang sangat mahal, sebuah pengalaman yang akan menghantuinya selamanya.

Ketika ia kembali ke peradaban, ia tidak menceritakan detail lengkapnya. Hanya bisikan samar tentang kengerian yang tak terlukiskan. Penduduk desa mengangguk, mengerti tanpa perlu banyak kata.

Lembah Naga Hitam tetap menjadi tempat terlarang, dijauhi oleh semua orang. Makam-makam batu itu berdiri tegak, menjadi saksi bisu rahasia kelam yang nyaris dilepaskan. Sebuah peringatan abadi.

Arya tidak pernah lagi menyentuh peta kuno atau artefak misterius. Setiap malam, ia masih mendengar bisikan dan melihat bayangan yang menari di sudut matanya. Ia tahu, ia telah membawa pulang sesuatu dari sana.

Sesuatu yang akan terus mengingatkannya, bahwa di dunia ini, ada rahasia yang lebih baik tetap terkubur. Tersembunyi di dalam keheningan Makam Batu Angker, menunggu korban selanjutnya.

Dan kadang-kadang, di malam yang paling gelap, ia bisa merasakan tarikan halus dari Lembah Naga Hitam. Sebuah panggilan yang tak pernah berhenti, dari entitas yang masih terperangkap.

Makam-makam itu bukan hanya batu. Mereka adalah pintu gerbang. Dan di baliknya, sesuatu yang kuno dan jahat, selalu menanti. Menanti saat ketika seseorang cukup bodoh untuk membangunkannya lagi.

Makam Batu yang Angker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *