Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Pohon Trembesi Raksasa Itu Menyimpan Makam yang Tak Pernah Disentuh

9
×

Pohon Trembesi Raksasa Itu Menyimpan Makam yang Tak Pernah Disentuh

Share this article

Pohon Trembesi Raksasa Itu Menyimpan Makam yang Tak Pernah Disentuh

Makam Tua di Bawah Pohon Trembesi: Bisikan dari Kegelapan

Ardi mencari ketenangan. Sebagai seorang penulis yang terjebak dalam blokade ide, ia memutuskan menyewa sebuah rumah tua di pelosok desa terpencil. Udara di sana terasa berbeda, membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua, seolah menyimpan rahasia abadi. Ia berharap, kesunyian pedesaan akan membangkitkan kembali imajinasinya yang tumpul.

Namun, ketenangan itu segera terusik oleh sebuah pemandangan tak terduga. Di halaman belakang rumahnya, menjulanglah pohon Trembesi raksasa, akarnya mencengkeram tanah seperti jari-jari naga purba. Batangnya yang besar dan rimbunnya dedaunan menciptakan kanopi gelap yang abadi, bahkan di siang bolong.

Tepat di bawah lindungan raksasa hijau itu, tergeletak sebuah makam tua. Batu nisannya pudar termakan usia, nyaris tak terbaca, diselimuti lumut tebal dan sulur-sulur tanaman liar. Makam itu tampak tak terawat, seolah sengaja dilupakan, atau justru, dihindari oleh penghuni desa.

Penduduk desa menjauhinya. Mata mereka menghindar setiap kali Ardi menanyakan tentang makam itu. Bisikan-bisikan samar tentang “roh yang tak tenang” dan “kutukan” melayang di udara, membuat bulu kuduk Ardi merinding sekaligus membangkitkan rasa penasaran yang tak terbendung. Ini bukan lagi sekadar inspirasi, ini adalah panggilan misteri.

Malam pertama, Ardi terbangun oleh suara bisikan. Samar, seperti angin yang mengelus daun, namun jelas terdengar melafalkan nama yang tak ia kenali. Jendela kamarnya menghadap langsung ke arah pohon Trembesi. Di antara cabang-cabang gelapnya, ia bersumpah melihat bayangan bergerak, secepat kilat, menghilang dalam pekatnya malam.

Pagi harinya, Ardi mendekati makam itu. Udara di sekitarnya terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, seolah hawa dingin dari dunia lain merembes keluar. Ia mencoba membersihkan lumut pada nisan, berharap menemukan petunjuk, namun batu itu terasa beku, seolah menolak sentuhannya.

Ia kembali ke dalam rumah, namun makam itu terus menghantuinya. Setiap sudut rumah tua itu seolah menguar aura melankolis, diwarnai dengan cerita-cerita yang belum terungkap. Ardi merasa seperti pengamat, atau mungkin, bagian dari sebuah kisah yang sudah berlangsung berabad-abad sebelum kedatangannya.

Tekadnya bulat. Ia harus mengungkap misteri di balik makam tua itu. Ia mulai mencari informasi dari perpustakaan desa, yang ternyata hanya menyimpan sedikit catatan sejarah. Namun, ia menemukan sebuah arsip tua tentang “peristiwa yang dilupakan” yang terjadi berabad-abad lalu di desa itu.

Ardi membaca setiap baris dengan cermat. Ada nama-nama yang disebutkan, peristiwa yang disamarkan, dan sebuah tragedi yang disebut-sebut melibatkan seorang wanita muda. Namun, detailnya sangat kabur, seolah sengaja dihapus dari ingatan kolektif, meninggalkan lubang hitam dalam sejarah desa.

Malam kedua, bisikan itu datang lagi, lebih jelas. Kali ini, Ardi bisa membedakan beberapa kata: “Anjani… pengkhianatan… keadilan.” Suara itu terdahulu halus, kini terdengar lebih mendesak, seolah meminta sesuatu darinya. Jantung Ardi berdegup kencang, namun rasa takutnya bercampur dengan dorongan untuk mengerti.

Ia memutuskan untuk menggambar denah makam dan sekitarnya. Saat mengukur jarak dari pohon Trembesi ke nisan, tangannya menyentuh sesuatu yang keras di bawah lapisan tanah. Ia menggali perlahan, dengan napas tertahan, dan menemukan sebuah kotak kayu lapuk, terkubur dangkal di samping makam.

Kotak itu, meski usang, masih tertutup rapat. Ardi membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku harian tua, terbuat dari kulit yang kini rapuh, dengan tulisan tangan yang pudar namun masih terbaca. Aroma apak dan masa lalu menyeruak begitu kotak itu terbuka.

Ia membawa buku harian itu ke dalam, duduk di bawah cahaya lampu redup. Setiap halaman mengungkapkan kisah tragis seorang wanita bernama Anjani, yang hidup berabad-abad lalu. Anjani adalah seorang tabib desa yang baik hati, dicintai semua orang, namun ia menyimpan rahasia cinta terlarang dengan seorang pria dari kalangan bangsawan.

Hubungan mereka terungkap, dan ini memicu kemarahan besar di desa yang menjunjung tinggi tradisi. Anjani dituduh melakukan sihir dan membawa aib. Ia dikucilkan, dihakimi secara tidak adil, dan akhirnya, dibunuh secara keji oleh sekelompok orang yang tak disebutkan namanya dalam buku harian itu.

Tubuhnya, menurut catatan terakhir, dikuburkan secara diam-diam di bawah pohon Trembesi muda, yang saat itu baru tumbuh. Pembunuhnya ingin menghapus jejaknya, mengubur kejahatan mereka bersama jasad Anjani. Buku harian itu adalah pengakuan dosa terakhir salah seorang saksi yang merasa bersalah.

Saat membaca bagian itu, Ardi merasakan hembusan angin dingin menusuk dari belakang. Pintu dan jendela yang terkunci seolah bergetar. Sebuah bayangan hitam melintas di dinding, membentuk siluet seorang wanita yang merana, lalu menghilang secepat kilat. Ardi merasakan kehadiran Anjani, yang kini bukan lagi bisikan, melainkan jeritan hati.

Ardi menyadari, makam itu bukan hanya tempat peristirahatan, melainkan penjara bagi roh yang tidak tenang. Pohon Trembesi, yang kini menjulang besar, telah menjadi saksi bisu, menyerap kesedihan dan kemarahan Anjani selama berabad-abad. Aura mencekam di sekitarnya adalah luapan energi dari penderitaan yang tak terbalaskan.

Ia merasa berkewajiban untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai. Buku harian itu mengisyaratkan sebuah benda penting yang dikuburkan bersama Anjani, sebuah bukti yang akan membersihkan namanya. Ardi memutuskan untuk menggali lebih dalam, meskipun rasa takutnya kian membesar.

Dengan sekop dan senter, Ardi kembali ke makam di tengah malam yang pekat. Suara jangkrik seolah berhenti, digantikan oleh detak jantungnya sendiri yang bergemuruh. Pohon Trembesi tampak lebih gelap, cabang-cabangnya seolah mengulur, mengawasinya, atau mungkin, melindunginya.

Ia mulai menggali di sisi makam, mengikuti petunjuk samar dari buku harian. Tanah terasa keras dan dingin, namun Ardi terus bekerja, didorong oleh tekad yang kuat. Ia merasakan hawa dingin yang luar biasa, seolah ada entitas tak kasat mata yang berdiri di sampingnya, mengawasinya setiap gerakan.

Tiba-tiba, sekopnya membentur sesuatu yang keras. Bukan batu, melainkan sebuah peti kecil yang terkubur lebih dalam. Ardi membersihkan tanahnya, lalu mengangkat peti itu keluar. Peti itu terbuat dari perunggu tua, berukir simbol-simbol kuno yang asing baginya.

Ia membukanya dengan gemetar. Di dalamnya, tergeletak sebuah kalung perak dengan liontin giok yang indah, dan sebuah gulungan perkamen yang rapuh. Gulungan itu berisi pengakuan tertulis dari para tetua desa yang telah menghakimi dan membunuh Anjani, lengkap dengan nama-nama mereka. Itu adalah bukti yang tak terbantahkan.

Pada saat yang sama, sebuah cahaya putih terang tiba-tiba muncul dari arah makam, memancar ke langit. Cahaya itu berputar-putar di sekitar pohon Trembesi, lalu perlahan memudar. Bisikan-bisikan yang tadinya penuh kesedihan kini berubah menjadi nada yang damai, seolah beban berat telah terangkat.

Ardi tahu, roh Anjani telah menemukan kedamaian. Kebenaran telah terungkap, bukti telah ditemukan. Ia telah menjadi perantara bagi keadilan yang tertunda selama berabad-abad. Namun, ia juga tahu, tugasnya belum sepenuhnya selesai.

Pagi harinya, Ardi membawa buku harian dan gulungan perkamen itu ke kepala desa. Ia menceritakan semua yang ia temukan, menunjukkan bukti-bukti tak terbantahkan. Kepala desa dan para sesepuh terkejut, beberapa di antaranya terlihat pucat, seolah masa lalu yang gelap kini menghantui mereka.

Kisah Anjani dan kejahatan yang menimpanya akhirnya tersebar luas. Desa itu tergoncang, namun pada akhirnya, mereka memutuskan untuk menerima kebenaran. Makam Anjani tidak lagi dihindari, melainkan dihormati. Sebuah monumen kecil didirikan di samping nisannya, menceritakan kisahnya dengan jujur.

Ardi tetap tinggal di desa itu untuk beberapa waktu. Ia menulis seluruh kisahnya, dari awal hingga akhir, sebuah cerita yang lebih misterius dan mencekam dari yang pernah ia bayangkan. Blokade penulisnya telah hilang, digantikan oleh pengalaman yang mengubah hidupnya.

Meskipun kebenaran telah terungkap dan kedamaian telah ditemukan, pohon Trembesi raksasa itu tetap berdiri tegak, menjulang tinggi. Ardi masih merasakan aura khusus darinya, namun kini bukan lagi rasa takut, melainkan rasa hormat. Ia tahu, di balik keheningan desa, Trembesi itu akan selalu menjadi penjaga bisu sebuah kisah yang tak akan pernah terlupakan.

Terkadang, di malam hari, Ardi masih mendengar bisikan angin yang melintasi dedaunan Trembesi. Namun, kini bisikan itu terdengar seperti lagu pengantar tidur, sebuah janji bahwa meskipun kegelapan pernah berkuasa, kebenaran pada akhirnya akan selalu menemukan jalannya untuk terungkap, bahkan dari bawah makam tua yang terlupakan.

Makam Tua di Bawah Pohon Trembesi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *