Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Utara

Misteri Makam Tua Samosir: Siapa yang Dikubur di Sana Sebenarnya?

10
×

Misteri Makam Tua Samosir: Siapa yang Dikubur di Sana Sebenarnya?

Share this article

Misteri Makam Tua Samosir: Siapa yang Dikubur di Sana Sebenarnya?

Kabut tipis menyelimuti Danau Toba pagi itu. Dr. Ardi, seorang arkeolog muda dengan reputasi gemilang, tiba di Samosir. Tujuan utamanya: menyingkap misteri makam-makam kuno Batak yang tersembunyi.

Ia telah mendengar bisikan tentang situs-situs yang terlupakan. Bukan sekadar kuburan biasa, melainkan tempat yang dijaga oleh sesuatu yang lebih tua dari waktu itu sendiri. Penduduk lokal enggan bercerita.

Mata mereka memancarkan ketakutan yang dalam. Mereka hanya menyebutnya “Makam Nini”, kuburan para leluhur yang tak boleh diganggu. Konon, arwah mereka bersemayam di sana, menjaga rahasia abadi.

Ardi, dengan sifat ilmiahnya, menganggap itu takhayul. Namun, ada getaran aneh di udara. Dingin yang menusuk, bahkan di bawah terik matahari Samosir.

Ia memulai penelusuran dari desa terpencil. Jalur setapak yang nyaris tak terlihat, tertutup semak belukar dan lumut tebal. Udara semakin berat, seolah menekan paru-parunya.

Pohon-pohon raksasa menjulang, kanopi daunnya membentuk lorong gelap. Cahaya matahari nyaris tak mampu menembus. Hanya suara langkah kakinya yang memecah keheningan.

Kemudian, ia melihatnya. Sebuah struktur batu besar, ditutupi ukiran kuno yang nyaris tak terbaca. Makam pertama yang ia temukan. Bukan seperti makam Batak pada umumnya.

Ukiran itu ganjil, bukan simbol kesuburan atau kemakmuran. Melainkan pola-pola spiral yang menghipnotis, mata-mata tanpa kelopak, dan bentuk-bentuk yang tak dikenal. Rasa penasaran Ardi membuncah.

Ia mengeluarkan peralatan, mulai membersihkan lumut. Semakin banyak ukiran yang terungkap, semakin aneh bentuknya. Seolah mereka bukan dari dunia ini.

Tiba-tiba, hembusan angin dingin menerpa. Bukan angin biasa, melainkan seperti napas yang berbau tanah basah dan sesuatu yang busuk. Ardi merinding.

Ia melihat sekeliling, namun tak ada apa pun. Hanya hutan yang sunyi, dan makam itu. Perasaan diamati mulai menyelimuti dirinya.

Malam harinya, di penginapan sederhana, ia mencoba menganalisis sketsa ukiran. Pola-pola itu seperti sandi. Ia merasa ada pesan tersembunyi di dalamnya.

Namun, ia tak bisa fokus. Bayangan melintas di sudut matanya. Bisikan samar terdengar, seperti gumaman dari kedalaman bumi.

Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya kelelahan. Tapi setiap kali ia menutup mata, ia melihat ukiran-ukiran itu menari dalam gelap. Mata tanpa kelopak itu menatapnya.

Keesokan harinya, ia kembali ke makam. Kali ini ia membawa Pak Tua, seorang pemandu lokal yang akhirnya bersedia menemaninya. Wajah Pak Tua pucat pasi.

“Makam ini, Tuan,” bisik Pak Tua. “Bukan untuk orang hidup. Ini adalah gerbang.” Ia menolak mendekat, hanya berdiri di kejauhan dengan tatapan ketakutan.

Ardi mendekat, kali ini dengan perasaan yang berbeda. Ada daya tarik tak kasat mata dari makam itu. Seperti ada magnet yang menariknya lebih dalam.

Ia menyentuh salah satu ukiran. Permukaan batunya terasa dingin, namun ada denyutan samar di bawah telapak tangannya. Ukiran itu seolah hidup.

Tiba-tiba, tanah bergetar pelan. Suara gemuruh rendah terdengar dari bawah tanah. Pak Tua berteriak, “Tuan, jangan! Anda membangunkan mereka!”

Ardi mengabaikannya. Rasa penasaran lebih kuat dari rasa takut. Ia merasa sangat dekat dengan sesuatu yang luar biasa. Rahasia yang terkubur ribuan tahun.

Ia menemukan celah kecil di antara batu-batu. Sebuah lorong sempit yang mengarah ke bawah. Udara di sana pengap dan berbau aneh.

“Saya harus masuk,” kata Ardi, suaranya tercekat. Pak Tua menggelengkan kepala, air mata mulai mengalir di pipinya. “Jangan, Tuan. Anda akan terkutuk.”

Ardi menyalakan senter, merangkak masuk ke dalam lorong gelap itu. Lorong itu sempit dan licin. Lumut dan akar pohon menjalar di mana-mana.

Semakin dalam ia merangkak, semakin dingin udara. Suara-suara aneh mulai terdengar jelas. Bisikan-bisikan, seperti ribuan suara yang tumpang tindih.

Ia mencapai sebuah ruangan kecil. Di tengah ruangan, sebuah peti batu yang sangat tua. Ukirannya lebih rumit, lebih mengerikan dari yang di luar.

Di atas peti itu, terukir sebuah simbol yang belum pernah ia lihat. Sebuah lingkaran dengan garis-garis patah yang mengelilingi mata tunggal. Mata itu seolah menatapnya.

Tiba-tiba, senternya berkedip-kedip, lalu mati total. Kegelapan pekat menyelimutinya. Napas Ardi tercekat. Suara bisikan semakin keras, mengelilinginya.

Ia merasakan kehadiran yang sangat kuat. Bukan sekadar arwah, melainkan sesuatu yang purba, haus, dan sangat marah. Dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Sebuah bayangan hitam pekat melintas di depannya. Tidak ada bentuk yang jelas, hanya massa kegelapan yang bergerak. Ardi memejamkan mata erat-erat.

Bisikan-bisikan itu kini membentuk kata-kata. Bukan bahasa Batak, bukan bahasa manusia. Namun, maknanya meresap langsung ke otaknya: “Kau telah mengganggu…”

“Kau telah membangunkan kami…”

“Dan kini kau akan bergabung…”

Ardi mencoba bergerak, namun tubuhnya kaku. Ia merasa ada sesuatu yang menyentuh kakinya. Dingin, lembap, dan seolah memiliki jari-jari panjang.

Rasa panik yang luar biasa melandanya. Ia berteriak sekuat tenaga, namun suaranya hanya menjadi serak, tertelan oleh bisikan-bisikan mengerikan itu.

Ia merasakan cengkeraman di pergelangan kakinya. Tarikan kuat menyeretnya ke arah peti batu. Ardi meronta, namun kekuatannya tak sebanding.

Ia melihat kilasan cahaya dari luar, mungkin Pak Tua. Namun, cahaya itu terlalu jauh, dan Ardi terlalu dalam terperangkap.

Suara teriakan Pak Tua terdengar samar, memudar. Ardi merasakan tubuhnya ditarik mendekat ke peti. Udara di sekitarnya semakin berat, seolah ruang itu sendiri runtuh.

Tiba-tiba, ia merasakan sakit menusuk di dadanya. Bukan sakit fisik, melainkan rasa sakit di jiwanya. Seolah ada sesuatu yang merobek bagian dari dirinya.

Visi-visi aneh menyerbu benaknya. Wajah-wajah kuno, ritual-ritual mengerikan, pengorbanan yang dilupakan sejarah. Semua itu membanjiri kesadarannya.

Ia melihat orang-orang Batak kuno, bukan leluhur yang dihormati, melainkan penyembah entitas yang gelap. Makam ini bukan kuburan, melainkan penjara. Atau tempat pemujaan.

Dan ia telah membuka segelnya.

Rasa takut yang mematikan kini berubah menjadi kengerian yang dingin. Ia bukan hanya akan mati, tetapi jiwanya akan terperangkap di sini. Menjadi bagian dari bisikan itu.

Sebuah suara lain muncul di benaknya. Lebih dalam, lebih tua, lebih jahat. Suara itu bergemuruh, bukan dalam bahasa, melainkan dalam perasaan. Kebencian murni.

Ardi tak tahu berapa lama ia terperangkap dalam kegelapan itu. Setiap detik terasa seperti keabadian, setiap bisikan menusuk otaknya.

Ia merasakan sentuhan di wajahnya. Bukan sentuhan manusia. Dingin, lengket, dan berbau tanah kuburan. Jemari tak terlihat menjelajahi kulitnya.

Tiba-tiba, ada cahaya terang dari luar. Pak Tua, dengan wajah pucat, memegang obor yang menyala. Cahaya obor itu seolah mengusir kegelapan sejenak.

Entitas itu mundur sesaat. Ardi merasakan cengkeraman di kakinya mengendur. Dengan sisa tenaga, ia merangkak keluar dari lorong itu.

Ia tak tahu bagaimana ia melakukannya. Pak Tua menariknya keluar, tubuhnya gemetar hebat. Mereka berlari tanpa henti, meninggalkan makam itu di belakang.

Ardi tak menoleh. Ia hanya berlari, napasnya terengah-engah, jantungnya berdegup tak karuan. Ia tak pernah berhenti sampai mereka kembali ke desa.

Sejak hari itu, Dr. Ardi bukan lagi orang yang sama. Ia kembali ke kota, namun bayangan Makam Nini tak pernah meninggalkannya.

Malam-malamnya diisi mimpi buruk. Bisikan-bisikan itu masih mengikutinya. Ia sering terbangun dengan keringat dingin, merasa ada yang mengawasinya.

Penelitiannya tentang makam kuno terhenti. Ia tak pernah lagi berani menyentuh ukiran atau simbol yang berhubungan dengan situs itu.

Ia tahu kebenaran yang mengerikan: Makam Nini bukan hanya kuburan. Itu adalah pintu, atau mungkin sebuah penjara. Dan sesuatu telah dilepaskan.

Sesuatu yang masih bersembunyi di kegelapan Samosir. Menunggu. Dan Ardi tahu, ia hanyalah salah satu dari sekian banyak yang pernah mencoba mengungkap rahasianya.

Ia tak akan pernah kembali ke Samosir. Namun, Samosir, dan Makam Nini, akan selalu menjadi bagian gelap dari jiwanya. Rahasia yang terkubur, tapi tak pernah mati.

Makam Tua di Samosir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *