Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Apa yang Kami Temui di Tengah Jalan Malam Itu Masih Menghantui Sampai Sekarang

9
×

Apa yang Kami Temui di Tengah Jalan Malam Itu Masih Menghantui Sampai Sekarang

Share this article

Apa yang Kami Temui di Tengah Jalan Malam Itu Masih Menghantui Sampai Sekarang

Makhluk Bayangan di Tengah Perjalanan Malam: Kisah Arka dan Jalan Terkutuk

Malam telah menelan segala, menyisakan kegelapan pekat yang membentang. Jalanan aspal, yang seharusnya menjadi jalur pulang, kini terasa seperti lorong tanpa ujung. Hanya deru mesin SUV Arka yang memecah keheningan, menemaninya menembus kegelapan tanpa batas.

Arka, seorang fotografer perjalanan, harus mengejar tenggat waktu. Pekerjaannya membawanya ke pelosok terpencil, dan kini ia terjebak di jalur alternatif yang jarang dilalui. Pukul dua dini hari, rasa kantuk mulai merayap, namun ada sesuatu yang lebih dari sekadar lelah.

Sebuah bayangan tipis melintas di tepi pandangannya, terlalu cepat untuk diidentifikasi. Mungkin hanya pantulan ilusi dari lampu jauh mobilnya. Ia mengabaikannya, memfokuskan diri pada jalanan yang berkelok, berharap segera tiba di kota terdekat.

Namun, sensasi itu datang lagi. Kali ini, sebuah siluet hitam pekat, menyerupai manusia, berdiri sekejap di pinggir jalan. Ketika Arka memicingkan mata, sosok itu lenyap, seolah tak pernah ada. Jantungnya berdebar, napas tertahan sejenak.

Dingin aneh merayap di kabin, bukan dari AC mobilnya. Sebuah rasa merinding menjalar, menusuk hingga ke tulang. Udara terasa lebih berat, seolah dipenuhi sesuatu yang tak terlihat, menekan rongga dadanya.

Bisikan samar mulai mengusik telinga, seperti desau angin yang berbisik rahasia gelap. Suara-suara tak berwujud, tanpa kata-kata yang jelas, namun cukup untuk memicu ketakutan purba. Arka mempercepat laju mobil, berharap bisikan itu sirna.

Namun, semakin cepat ia melaju, semakin nyata kehadiran itu terasa. Bayangan-bayangan kini tak lagi samar, melainkan bergerak di antara pepohonan di sisi jalan. Mereka menari, melompat, seolah mengiringi laju kendaraannya.

Arka mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kelelahan, halusinasi. Ia menggosok matanya keras-keras, mencubit lengannya. Namun, bisikan itu semakin jelas, dan hawa dingin semakin menusuk. Ia tidak sendirian di jalan ini.

Sebuah bayangan hitam pekat tiba-tiba melayang di depan kap mobilnya. Bukan ilusi optik lagi, itu adalah entitas. Arka membanting setir, nyaris menabrak pohon besar. Mobilnya oleng, ban berdecit memekakkan telinga.

Ia berhasil menguasai kemudi, jantungnya berpacu seperti drum yang dipukul liar. Keringat dingin membasahi dahinya. Kini, bayangan-bayangan itu tak lagi bersembunyi. Mereka berkerumun di luar, mengelilingi mobilnya.

Mereka tak memiliki wajah, tak memiliki bentuk yang jelas, hanya siluet hitam yang berdenyut dalam kegelapan. Namun, Arka bisa merasakan tatapan mereka. Tatapan kosong, dingin, dan penuh rasa ingin tahu yang mengerikan.

Lampu sorot mobilnya menembus kerumunan mereka, namun cahaya itu seolah ditelan. Mereka tidak memantulkan cahaya, mereka menyerapnya. Kegelapan yang mereka pancarkan terasa lebih pekat dari malam itu sendiri.

Arka mengunci pintu, memastikan semua jendela tertutup rapat. Tangannya gemetar di kemudi. Ia mencoba menyalakan radio, mencari gelombang apapun, namun hanya ada suara desis dan bisikan-bisikan aneh.

Mereka mulai menempel di jendela, bentuk-bentuk yang tak beraturan itu kini hanya berjarak inci darinya. Arka bisa merasakan hawa dingin yang menusuk menembus kaca, seolah mereka mencoba merasuk ke dalam.

Bentuk-bentuk itu bergerak lambat, namun pasti. Mereka merayap ke atas kap mobil, lalu ke atap. Suara ketukan samar terdengar, seperti jari-jari tak berwujud yang mengetuk perlahan, meminta masuk.

Arka tahu ia tidak bisa tinggal diam. Dengan sisa keberanian, ia menginjak pedal gas dalam-dalam. SUV-nya melaju ke depan, menembus kerumunan bayangan itu. Mereka seolah menembus mobil, namun Arka merasakan tekanan fisik yang kuat.

Rasanya seperti menabrak dinding tak terlihat. Mobilnya bergetar hebat, speedometer melonjak gila. Arka berteriak, entah karena takut atau frustrasi. Ia harus keluar dari tempat terkutuk ini.

Ia terus melaju, tak peduli apa yang ia tabrak. Bayangan-bayangan itu mengejarnya, melayang di belakang, kadang mendahului, lalu kembali mengitarinya. Mereka bermain-main dengannya, mempermainkan kewarasannya.

Tiba-tiba, mesin SUV Arka terbatuk keras. Panel instrumen berkedip gila, lampu peringatan menyala merah menyala. Asap tipis mulai mengepul dari kap mesin, memenuhi kabin dengan bau terbakar.

Arka menginjak rem, dan mobilnya berhenti mendadak di tengah kegelapan total. Lampu depan padam, radio mati, dan keheningan mencekam kembali berkuasa. Hanya desis tipis dari mesin yang masih panas.

Ia terperangkap. Dikelilingi. Melalui jendela yang gelap, ia bisa melihat mereka. Ratusan, ribuan bayangan. Mereka membentuk lingkaran sempurna di sekeliling mobilnya, memblokir setiap jalan keluar.

Bisikan-bisikan kini menjadi koor. Bukan lagi suara-suara samar, melainkan gumaman yang jelas, seolah mereka berbicara dalam bahasa yang tak dikenal. Arka menutup telinga, namun suara itu menembus otaknya.

Mereka bukan sekadar ilusi, mereka adalah entitas. Bukan hantu, bukan iblis dalam bentuk fisik. Mereka adalah resonansi ketakutan. Entitas yang memakan energi kepanikan, kesepian, dan keputusasaan.

Arka menyadari, mereka muncul karena ketakutannya. Semakin ia takut, semakin kuat mereka. Semakin ia merasa sendirian, semakin banyak mereka berdatangan, tertarik pada energinya yang memancar.

Ia harus melawan, bukan dengan fisik, melainkan dengan pikiran. Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang menggila. Ia memejamkan mata, memaksakan diri untuk berpikir logis.

Mereka tidak bisa menyentuhnya secara fisik, mereka hanya bisa memanipulasi persepsinya. Mereka membutuhkan ketakutannya untuk menjadi nyata. Jika ia berhenti takut, mereka akan melemah.

Dengan mata terpejam, Arka memvisualisasikan cahaya terang, memvisualisasikan jalan yang jelas, kota yang ramai. Ia memaksakan pikirannya untuk menolak kepanikan, untuk menemukan secercah harapan.

Perlahan, hawa dingin di kabin mulai berkurang. Bisikan-bisikan mereda menjadi desiran samar. Ketika Arka membuka matanya, lingkaran bayangan itu masih ada, namun mereka tampak sedikit memudar.

Ia mencoba menyalakan mobil lagi. Kunci diputar, dan keajaiban terjadi. Mesin terbatuk, lalu menyala dengan suara gemuruh. Lampu depan menyala, membelah kegelapan. Sebuah celah kecil terlihat di lingkaran bayangan.

Dengan sisa tenaga, Arka menginjak pedal gas. Mobilnya melaju, menembus celah itu. Ia tidak lagi melihat bayangan yang melayang di sampingnya. Hanya jalanan gelap di depannya.

Ia terus melaju, tak berani menoleh ke belakang. Berkilo-kilometer kemudian, ia melihat cahaya kota di kejauhan. Kelegaan yang luar biasa membanjiri dirinya, membuat tubuhnya lemas.

Arka tiba di kota saat fajar menyingsing, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetar. Ia selamat, namun pengalaman malam itu mengubahnya selamanya. Ia tidak lagi melihat kegelapan dengan cara yang sama.

Ia tak pernah lagi melewati jalan itu di malam hari. Namun, bayangan-bayangan itu kadang masih muncul di sudut matanya. Sebuah bisikan dingin di tengah keramaian, pengingat akan entitas yang memakan ketakutan.

Malam telah menelan segala, namun ada hal-hal di dalamnya yang tidak pernah benar-benar lenyap. Mereka menunggu, di kegelapan, untuk jiwa yang tersesat, untuk ketakutan yang bisa mereka santap.

Makhluk Bayangan di Tengah Perjalanan Malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *