Scroll untuk baca artikel
Provinsi Aceh

Makhluk Itu Muncul Saat Air Surut… dan Hanya di Sungai Ini

9
×

Makhluk Itu Muncul Saat Air Surut… dan Hanya di Sungai Ini

Share this article

 

Penjaga Berbisik: Misteri Sungai Kelam

Matahari terbit memecah kabut tipis di atas Sungai Berbisik, namun sinarnya tak mampu mengusir bayangan kelam yang telah lama berdiam di sana. Bagi penduduk Desa Purba, sungai itu bukan sekadar aliran air, melainkan sebuah entitas hidup yang menyimpan rahasia dan kengerian. Cerita tentang “Penjaga Berbisik” telah diwariskan turun-temurun, sebuah legenda yang kini mulai terasa nyata.

Arya, seorang peneliti lingkungan dengan reputasi skeptis, datang ke desa itu dengan misi yang jelas: membuktikan fenomena hilangnya beberapa warga dan aktivitas ilegal di hulu sungai hanyalah kebetulan belaka. Ia percaya pada logika, pada data, bukan pada bisikan gaib atau cerita hantu. Namun, Sungai Berbisik punya caranya sendiri untuk mengubah keyakinan.

Desa Purba terasa sunyi, seolah menahan napas. Penduduknya ramah, namun sorot mata mereka menyiratkan ketakutan yang dalam. Mereka bercerita tentang suara-suara aneh di malam hari, desiran air yang terdengar seperti bisikan peringatan, dan bau amis yang menusuk hidung tanpa sumber yang jelas. Semua mengarah pada sungai.

Pekan pertama Arya berlalu dengan pengamatan rutin. Ia mengukur kualitas air, mencatat keanekaragaman hayati, dan memetakan area yang dicurigai sebagai lokasi penambangan ilegal. Semuanya tampak normal, kecuali satu hal: keheningan yang mencekam di sekitar sungai, bahkan di siang bolong. Burung-burung enggan hinggap di dahan yang menjulur di atasnya.

Malam ketiga, bisikan itu datang. Arya terbangun dari tidurnya, telinganya menangkap suara gemericik air yang tidak biasa dari arah sungai. Bukan suara arus deras, melainkan ritmis, seolah ada sesuatu yang bergerak perlahan di kedalaman. Ia bangkit, mendekati jendela, dan melihat kabut tebal menyelimuti permukaan sungai.

Di antara kabut itu, Arya bersumpah melihat siluet. Besar, memanjang, dan bergerak dengan anggun namun menakutkan. Matanya mengerjap, mencoba memastikan, namun siluet itu menghilang secepat ia muncul, ditelan kegelapan malam dan kabut yang semakin pekat. Jantungnya berdebar kencang, menolak untuk percaya pada apa yang baru saja disaksikannya.

Keesokan harinya, seorang nelayan bernama Pak Tua, yang dikenal paling berani di antara mereka, ditemukan tak sadarkan diri di tepi sungai. Perahunya terbalik, jaringnya sobek, dan tubuhnya dipenuhi luka cakaran aneh. Ketika sadar, matanya membelalak ketakutan, ia hanya bisa bergumam, “Jangan… jangan sentuh… dia ada…”

Kepala desa, seorang pria paruh baya dengan wajah lelah, menceritakan kisah lama. Dahulu, Sungai Berbisik adalah sumber kehidupan, suci dan dihormati. Namun, ketika keserakahan mulai merayap, ketika orang-orang mulai mengambil lebih dari yang seharusnya, Penjaga Berbisik terbangun dari tidurnya yang panjang.

“Ia bukan makhluk biasa, Nak,” kata Kepala Desa, suaranya bergetar. “Ia adalah roh sungai itu sendiri, penjaga keseimbangan. Ia hanya muncul ketika sungai disakiti, ketika batas dilanggar. Dan ketika ia muncul, ia menuntut balas.” Arya mendengarkan, namun benaknya masih mencari penjelasan logis.

Beberapa hari kemudian, rombongan penambang ilegal dari luar desa tiba. Mereka datang dengan alat berat, meremehkan peringatan penduduk. Tawa mereka menggelegar di sepanjang tepi sungai, memecah keheningan yang sakral. Arya memperingatkan mereka, namun kata-katanya diabaikan, dianggap sebagai omong kosong lokal.

Malam itu, Arya memutuskan untuk berkemah di dekat area penambangan, ingin mendokumentasikan pelanggaran yang terjadi. Ia menyiapkan kamera dan peralatannya, namun perasaan tidak nyaman terus merayap di benaknya. Udara terasa dingin, lebih dingin dari biasanya, dan bau amis semakin kuat.

Tepat tengah malam, suara gemuruh tiba-tiba mengguncang bumi. Bukan suara alat berat, melainkan raungan yang dalam, seolah berasal dari perut bumi itu sendiri. Air sungai mulai bergolak hebat, menciptakan riak-riak raksasa yang menerjang tepi. Arya mencengkeram kameranya, terkejut.

Dari balik kabut yang kini sangat tebal, bayangan hitam raksasa muncul. Lebih besar dari yang pernah ia bayangkan, dengan tubuh bersisik yang memantulkan cahaya rembulan yang samar. Matanya bersinar merah menyala, memancarkan kemarahan yang tak terhingga. Itu bukan ikan, bukan buaya, bukan makhluk yang dikenalnya.

Penjaga Berbisik.

Makhluk itu bergerak dengan kecepatan yang mengerikan, menerjang perahu-perahu penambang. Bukan dengan fisik, melainkan dengan kekuatan tak kasat mata. Perahu-perahu itu terangkat, terbalik, dan hancur berkeping-keping. Peralatan berat terlempar ke dalam sungai seolah-olah mainan.

Para penambang berteriak panik, berlarian mencoba menyelamatkan diri. Beberapa terpeleset dan jatuh ke dalam air yang bergolak. Arya menyaksikan dengan ngeri bagaimana mereka ditarik ke bawah, tanpa perlawanan, menghilang ditelan kegelapan sungai yang kini memancarkan aura maut.

Ia melihat salah satu penambang mencoba berenang ke tepi. Tiba-tiba, sebuah tentakel hitam besar muncul dari dalam air, melilit tubuhnya dan menariknya ke dasar dengan cepat. Suara teriakan terputus, digantikan oleh suara gemuruh air yang mengerikan. Arya tak bisa bergerak, kakinya seolah terpaku.

Makhluk itu tidak mengejar Arya. Matanya yang menyala merah menatap lurus ke arahnya, seolah membaca niatnya. Dalam tatapan itu, Arya tidak menemukan kejahatan murni, melainkan kemarahan dan peringatan. Ia adalah penjaga, bukan pembunuh tanpa tujuan. Ia melindungi rumahnya.

Rasa dingin yang membekukan merayap dari kakinya, naik ke seluruh tubuh. Arya merasakan kehadiran makhluk itu begitu dekat, seolah napasnya sendiri terhenti. Ia tidak merasakan sentuhan fisik, namun sensasi tekanan yang luar biasa, seolah diperingatkan untuk tidak ikut campur.

Ketika fajar mulai menyingsing, kemarahan di Sungai Berbisik perlahan mereda. Kabut menipis, dan makhluk itu menghilang kembali ke kedalaman. Yang tersisa hanyalah puing-puing perahu, peralatan yang hancur, dan kengerian yang membekas di udara. Tidak ada jejak para penambang, seolah mereka tak pernah ada.

Arya kembali ke desa dengan tubuh gemetar dan pikiran kacau. Ia tidak bisa menjelaskan apa yang dilihatnya secara logis. Data dan angka-angkanya terasa tak berarti di hadapan kekuatan primal itu. Ia telah menyaksikan sendiri kebenaran di balik legenda, kebenaran yang menakutkan.

Ia tahu, jika ia melaporkan ini, ia akan dianggap gila. Namun, jika ia diam, ia akan mengkhianati peringatan yang diberikan oleh Penjaga Berbisik. Konflik batinnya berkecamuk. Akhirnya, ia membuat keputusan yang mengubah seluruh pandangannya terhadap dunia.

Arya menulis laporannya, namun bukan tentang makhluk itu. Ia menulis tentang bahaya penambangan ilegal, tentang kerusakan lingkungan yang tak terpulihkan, dan tentang pentingnya menghormati alam. Ia menyertakan foto-foto kerusakan yang dilakukan para penambang, namun foto-foto tentang Penjaga Berbisik ia simpan rapat-rapat.

Ia meninggalkan Desa Purba dengan perasaan campur aduk. Ketakutan masih mencengkeram, namun ada juga rasa hormat yang mendalam. Sungai Berbisik kembali tenang, namun keheningan itu kini terasa berbeda. Itu bukan lagi keheningan biasa, melainkan keheningan yang mengawasi, yang menunggu.

Penduduk desa kembali ke kehidupan mereka, dengan kewaspadaan yang lebih besar. Mereka tahu, Penjaga Berbisik telah berbicara. Dan selama manusia terus menghormati batas, selama sungai tidak dilanggar, maka ia akan tetap tenang di kedalamannya, hanya menjadi bisikan dalam cerita.

Namun, Arya tahu, bisikan itu lebih dari sekadar cerita. Itu adalah peringatan abadi. Dan setiap kali ia mendengar gemericik air sungai, setiap kali kabut turun, ia akan teringat akan mata merah menyala itu, dan rahasia kelam yang bersemayam di jantung Sungai Berbisik. Misteri itu tetap hidup, dan Arya adalah salah satu dari sedikit orang yang mengetahui kebenarannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *