Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Kru Pesawat Diganggu Tawa Tak Kasat Mata Saat Tidur, Ini yang Terjadi Selanjutnya…

13
×

Kru Pesawat Diganggu Tawa Tak Kasat Mata Saat Tidur, Ini yang Terjadi Selanjutnya…

Share this article

 

Malam-malamku tak lagi tenang. Tidur adalah kemewahan yang tak lagi kumiliki. Setiap kali mata terpejam, tawa itu datang.

Bening, melengking, namun entah mengapa begitu menusuk. Tawa anak kecil yang tak pernah kulihat wajahnya.

Ia tak pernah memberiku kedamaian. Suaranya bergema di sudut-sudut pikiranku, mengikis kewarasanku perlahan.

“Ardi,” bisikku pada diriku sendiri. “Kau harus mencari tahu.”

Awalnya, tawa itu hanyalah bisikan samar. Seperti angin yang menyelinap dari celah jendela yang terbuka.

Aku mengabaikannya, menganggapnya hanya imajinasi karena kelelahan. Namun, ia tumbuh, semakin jelas, semakin mendominasi.

Ia tak hanya muncul saat aku sendirian. Di tengah keramaian pasar, di sela-sela obrolan teman.

Tawa itu menyelip, membuatku menoleh, mencari sosok tak kasat mata. Orang-orang menatapku aneh.

Semua berawal saat aku menjelajahi rumah tua itu. Rumah terbengkalai di pinggir kota, dengan jendela-jendela buta yang menatap kosong.

Aku seorang fotografer amatir, mencari objek-objek unik dan berhantu. Rumah itu sempurna.

Debu tebal melapisi segalanya, bau apek dan lembap menusuk hidung. Lantai papan berderit di setiap langkahku.

Di salah satu kamar, yang dulunya mungkin kamar anak, aku merasakan sesuatu. Udara dingin yang menusuk tulang.

Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, aku mendengarnya. Tawa kecil yang riang, seolah ada anak-anak bermain di ruangan itu.

Aku membeku. Tak ada seorang pun bersamaku. Hanya aku, kamera, dan keheningan yang mencekam.

Aku mencari, mengintip ke bawah ranjang yang reyot, membuka lemari yang kosong. Tak ada apa-apa.

Kukira itu hanya ilusi pendengaran, mungkin karena kelelahan. Aku segera mengambil beberapa foto dan bergegas pergi.

Sejak hari itu, tawa itu tak pernah meninggalkanku. Ia menjadi bayanganku yang tak terlihat.

Ia mengikuti ke mana pun aku pergi, berbisik di telingaku, mengejekku dengan keceriaannya yang ganjil.

Aku mulai melihatnya. Kilasan bayangan kecil di sudut mata. Sebuah gaun putih, rambut terurai.

Selalu menghilang secepat ia muncul, meninggalkan jejak dingin di belakangnya. Aku mulai merasa gila.

Dokter bilang aku kelelahan, stres. Mereka meresepkan obat tidur, tapi itu hanya menenggelamkanku dalam kegelapan yang lebih pekat.

Tawa itu tetap ada, bahkan dalam mimpi burukku, menjadi melodi yang tak putus-putusnya.

Aku mencoba mencari tahu tentang rumah itu. Bertanya pada warga sekitar, mencari arsip koran lama.

Rumah itu sudah lama kosong. Dulunya milik keluarga kaya, tapi mereka pindah tiba-tiba setelah sebuah tragedi.

Tragedi? Tidak ada yang mau bicara banyak. Hanya desas-desus, bisikan-bisikan tentang sebuah sumur tua.

Dan seorang anak perempuan. Laras, namanya. Hilang tanpa jejak, bertahun-tahun yang lalu.

Aku tahu, entah bagaimana, tawa itu terhubung dengan Laras. Dan aku harus kembali ke rumah itu.

Kembali ke tempat horor itu dimulai. Hanya di sana aku bisa menemukan jawaban, atau benar-benar kehilangan akal sehatku.

Malam itu, dengan senter di tangan dan jantung berdebar kencang, aku kembali. Gerbang berkarat berderit menyambutku.

Tawa itu sudah menungguku. Lebih jelas, lebih nyaring dari sebelumnya, seolah ia merayakan kedatanganku.

“Kau datang, Ardi,” bisiknya, bukan dengan kata-kata, tapi dengan resonansi tawa itu sendiri.

Aku masuk, melangkah di antara bayang-bayang yang menari di dinding. Setiap derit lantai adalah iringan tawa itu.

Aku menuju kamar anak, tempat semuanya dimulai. Udara di sana begitu dingin, membuatku merinding.

Di tengah ruangan, aku melihatnya. Sebuah boneka kain lusuh, tergeletak di lantai.

Gaunnya putih, rambutnya terurai. Persis seperti bayangan yang selama ini menghantuiku.

Aku mendekat, lututku gemetar. Tawa itu semakin keras, kini terasa mengelilingiku, membisikkan sesuatu.

Aku mengambil boneka itu. Ada tulisan pudar di punggungnya: “Laras.”

Tiba-tiba, tawa itu berhenti. Hening yang memekakkan telinga. Aku menahan napas, menunggu.

Lalu, sebuah suara. Bukan tawa, melainkan isakan. Isakan pelan, penuh kesedihan, datang dari sudut kamar.

Aku menoleh, mengikuti arah suara itu. Di sana, di balik lemari tua, ada celah kecil.

Aku mendorong lemari itu, dan di baliknya, ada sebuah pintu tersembunyi. Pintu menuju ruang bawah tanah.

Bau tanah basah dan lumut menyeruak. Isakan itu semakin jelas, memanggilku untuk turun.

Aku menuruni tangga yang licin, senterku menyorot kegelapan. Di dasar, ada genangan air.

Dan di tengah genangan itu, sebuah lubang menganga. Sebuah sumur tua, tertutup sebagian oleh puing-puing.

Isakan itu berhenti. Tawa itu kembali, namun kali ini berbeda. Bukan lagi riang, melainkan penuh kepiluan.

Aku melihatnya. Di dasar sumur, samar-samar, ada sesuatu yang berkilau.

Sebuah sepatu kecil. Dan sehelai kain putih yang tersangkut.

Semua potongan teka-teki itu bersatu. Laras. Sumur tua. Tragedi yang disembunyikan.

Laras jatuh ke sumur itu. Mungkin saat bermain, mungkin saat mencari bonekanya.

Keluarganya panik, menyembunyikan kebenaran, lalu pergi. Meninggalkan Laras di sana, sendirian.

Tawa itu. Itu bukan tawa kebahagiaan, bukan tawa yang mengejek.

Itu adalah tawa terakhir seorang anak yang riang, sebelum kegelapan menelannya.

Tawa itu adalah jeritan kesepian, sebuah panggilan agar ia tak dilupakan.

Aku duduk di tepi sumur, memeluk boneka Laras. Tawa itu masih ada, memenuhi ruang bawah tanah.

Namun kini, aku tidak lagi takut. Aku merasakan kesedihan yang mendalam, bukan teror.

Aku menutup mataku, dan dalam kegelapan, aku melihatnya. Gadis kecil itu, Laras.

Ia berdiri di sampingku, tersenyum. Bukan senyum menyeramkan, melainkan senyum damai.

Tawa itu mereda, menjadi bisikan lembut, seperti angin yang berlalu.

Aku menghabiskan sisa malam di sana, di samping sumur, bersama Laras.

Saat fajar menyingsing, aku keluar dari rumah itu. Matahari terasa berbeda, lebih terang.

Tawa itu masih menghantuiku. Ia tak pernah benar-benar pergi.

Namun kini, setiap kali kudengar, aku tidak lagi merasa terancam. Aku merasakan kehadiran.

Sebuah pengingat akan seorang gadis kecil yang tak ingin dilupakan. Sebuah pengingat akan tragedi.

Tawa itu kini bukan lagi kutukan, melainkan sebuah melodi kesepian yang telah kutemukan maknanya.

Ia akan selalu ada, sebuah bisikan abadi dari masa lalu. Dan aku, Ardi, adalah satu-satunya yang mendengarnya.

Malam-malamku tak lagi tenang, tapi kini ada kedamaian dalam kegelisahan itu.

Tawa anak kecil itu, Laras, masih menghantuiku. Tapi kini, ia adalah pengingat, bukan lagi mimpi buruk.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *