Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Bandung

Gunung Manglayang Setelah Tengah Malam Bukan Tempat untuk Manusia

10
×

Gunung Manglayang Setelah Tengah Malam Bukan Tempat untuk Manusia

Share this article

Gunung Manglayang Setelah Tengah Malam Bukan Tempat untuk Manusia

Malam Mistis di Gunung Manglayang: Bisikan dari Alam Gaib

Gunung Manglayang, di Jawa Barat, selalu diselimuti aura misteri. Puncaknya yang menjulang, hutannya yang lebat, menyimpan bisikan-bisikan purba. Kami, empat sahabat pencinta alam, nekad menelusuri kisahnya. Arif, sang pemimpin; Rina, yang peka; Budi, yang logis; dan aku, Naratama, si pencatat.

Tujuan kami sederhana: menaklukkan Manglayang, menikmati keindahan senjanya. Namun, ada tujuan lain yang tak terucap. Kami ingin merasakan langsung desas-desus mistis yang beredar. Konon, Manglayang adalah gerbang antara dua dunia.

Pendakian dimulai siang hari. Awalnya cerah, riang, penuh tawa. Pepohonan menjulang tinggi menyambut kami. Udara pegunungan yang sejuk menusuk kulit. Aroma tanah basah dan dedaunan memenuhi indera.

Namun, seiring langkah yang menanjak, suasana berubah. Hutan terasa semakin pekat, sunyi mencekam. Burung-burung berhenti berkicau, serangga tak lagi bersuara. Hanya derap langkah kami yang memecah kesunyian.

Rina berbisik, “Aku merasa seperti ada yang mengawasi.” Pandangannya menyapu sekeliling, penuh kegelisahan. Kami mencoba menenangkan, menganggap itu hanya kelelahan. Tapi sensasi aneh itu mulai merayap.

Setibanya di area camp, senja mulai memudar. Langit barat memancarkan jingga keunguan, memukau. Namun, keindahan itu terasa semu, seperti tirai yang menyembunyikan sesuatu. Dingin mulai menusuk tulang.

Kami segera mendirikan tenda, menyalakan api unggun. Cahaya api menari-nari, memproyeksikan bayangan raksasa. Cerita-cerita seram Manglayang mulai kami lontarkan, awalnya sebagai candaan. Namun, tawa kami terasa hambar.

“Katanya ada pasar gaib di sini,” Budi memulai. “Muncul saat bulan purnama, lengkap dengan pedagang tak kasat mata.” Arif menimpali, “Dan ada juga penunggu setia, sosok tinggi besar penjaga hutan.”

Tiba-tiba, suara dahan patah terdengar dari balik semak. Kami serentak menoleh. Keheningan kembali meraja. Hanya suara desir angin yang menelusup dedaunan. Api unggun berkedip, seolah ikut menahan napas.

“Mungkin monyet,” Arif mencoba meyakinkan. Tapi kami tahu, itu bukan suara monyet. Ada bobot, ada kekuatan di baliknya. Sesuatu yang lebih besar, lebih berat. Jantung kami berdegup kencang.

Malam semakin larut, pekat. Kabut tebal mulai turun, menyelimuti area camp. Jarak pandang berkurang drastis. Api unggun kami terasa seperti satu-satunya benteng di tengah kegelapan yang melahap.

Tiba-tiba, Rina menjerit. Tangannya menunjuk ke arah hutan. “Itu! Ada mata merah di sana!” Kami mengikuti arah pandangnya. Di antara sela-sela kabut, dua titik merah menyala redup.

Mata itu bergerak, perlahan mendekat. Bentuknya tak jelas, hanya siluet. Tinggi, sangat tinggi. Nafas kami tertahan. Rasa dingin bukan lagi karena suhu, tapi karena kengerian yang menusup sumsum.

“Ambil senter!” Arif berteriak panik. Budi dengan gemetar menyalakannya, mengarahkan ke arah mata merah itu. Sinar senter menembus kabut, namun tak ada apa-apa. Mata itu lenyap secepat kemunculannya.

Kami saling pandang, pucat pasi. Itu bukan halusinasi. Kami semua melihatnya. Ketegangan mencengkeram. Malam di Manglayang baru saja dimulai, dan ia sudah menunjukkan taringnya.

Tak ada yang bisa tidur. Kami duduk meringkuk di sekitar api, menajamkan indera. Setiap bunyi, setiap hembusan angin, terasa seperti ancaman. Malam terasa berlipat ganda panjangnya.

Sekitar pukul dua dini hari, suara itu terdengar. Bisikan. Lirih, namun jelas. Berasal dari segala arah, seolah Manglayang sendiri yang berbisik. Bahasa yang tak kami mengerti, namun intonasinya menyeramkan.

“Apa itu?” Rina menutup telinganya. Budi mengambil golok kecilnya, menggenggam erat. Aku hanya bisa memeluk lutut, merasakan setiap bulu kuduk berdiri. Suara itu seperti mantra kuno.

Bisikan itu makin intens, membentuk harmoni yang mengerikan. Ada tawa di baliknya, tawa yang bukan manusia. Dinginnya udara semakin menusuk, seolah membekukan darah di dalam nadi.

Tenda kami bergetar. Bukan karena angin. Ada sentuhan. Seolah tangan tak terlihat meraba kain tenda. Kami semua terdiam, tak berani bergerak. Nafas kami tertahan di tenggorokan.

Kemudian, suara langkah kaki. Berat, menyeret. Berputar mengelilingi tenda kami. Kami bisa merasakan getarannya di tanah. Langkah itu berhenti tepat di depan tenda Arif dan Rina.

Desiran nafas berat terdengar jelas. Bau tanah basah bercampur aroma aneh, seperti bunga melati yang membusuk, memenuhi udara. Ketakutan mencengkeram, kami tak bisa bersuara.

Tiba-tiba, tenda Arif dan Rina tercabik. Robekan besar menganga di sisi tenda. Kami melihatnya. Sekilas. Sosok. Hitam. Tinggi. Melarut kembali ke dalam kegelapan kabut.

Arif dan Rina menjerit. Mereka merangkak keluar dari tenda, gemetar. “Cepat! Kita harus pergi!” Arif berteriak, suaranya parau. Panik melanda. Kami segera mengemasi barang seadanya.

Senter kami menyala, menembus kabut. Kami berlari tanpa arah. Jalur pendakian hilang ditelan pekatnya malam. Setiap pohon tampak sama, menyesatkan. Suara langkah berat itu mengikuti.

Bisikan-bisikan itu kembali, lebih jelas, lebih menakutkan. Kini ada suara lolongan anjing, melengking. Bukan anjing biasa. Lolongan itu seperti ratapan, mengoyak gendang telinga.

Kami terpisah. Aku mendengar teriakan Budi dari kejauhan. Kemudian keheningan. Jantungku berdebar tak karuan. Aku tak bisa menoleh. Aku harus terus berlari, menjauhi suara itu.

Rina di sampingku terhuyung. Ia menunjuk ke depan. “Itu… itu apa?” Di tengah kabut, sebuah formasi batu purba terlihat samar. Lingkaran batu dengan ukiran aneh. Ada cahaya samar.

Cahaya itu bukan dari api. Itu seperti cahaya eterik, tembus pandang. Di tengah lingkaran, ada sosok. Duduk bersila. Membelakangi kami. Rambutnya panjang, menyentuh tanah.

Sosok itu tak bergerak. Namun, energi dingin yang memancar darinya luar biasa. Ini bukan manusia. Ini bukan makhluk hidup yang kami kenal. Ini adalah inti dari kengerian Manglayang.

Kami memutar arah, lari sekuat tenaga. Tidak ada lagi pikiran tentang jalur. Hanya keinginan untuk menjauh. Kabut seolah menarik-narik kaki kami, menghambat setiap langkah.

Kami mendengar suara Budi lagi. Kali ini lebih dekat. Ia muncul dari kabut, terengah-engah, dengan wajah pucat pasi. “Aku melihatnya! Makhluk itu!” Ia tergagap, tak bisa melanjutkan.

Kami bertiga berlari menyusuri lereng curam. Terjatuh, bangkit lagi. Setiap detik terasa seperti berabad-abad. Suara-suara di belakang kami semakin meredup, tapi ketakutan masih membekas.

Hingga akhirnya, kami melihat cahaya. Samar. Cahaya fajar. Kelegaan membanjiri kami. Kami terus berlari, tak berhenti, sampai benar-benar keluar dari batas hutan Manglayang.

Kami ditemukan oleh tim SAR di kaki gunung, pagi hari. Kondisi kami menyedihkan. Pakaian compang-camping, wajah pucat, mata merah. Tapi kami selamat. Fisik kami.

Jiwa kami? Itu adalah pertanyaan lain. Pengalaman di Manglayang meninggalkan luka tak terlihat. Kami tak pernah membicarakannya secara detail. Terlalu mengerikan.

Manglayang tetap berdiri tegak, memendam rahasianya. Kami tak pernah berani kembali. Dan setiap kali malam tiba, bisikan dari hutan itu seolah masih terngiang. Memperingatkan.

Mungkin, Manglayang memang bukan sekadar gunung. Ia adalah gerbang. Dan kami, tanpa sadar, telah mengintip ke sisi lain. Sebuah sisi yang sebaiknya tetap menjadi misteri abadi.

Malam Mistis di Gunung Manglayang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *