Miss K dari Lantai 13: Senandung dalam Kegelapan
Rizky, satpam baru, memulai shift malam. Gedung Arandra menjulang tinggi di hadapannya. Sebuah labirin baja dan kaca, sunyi dan megah. Malam pertama terasa panjang.
Lift utama di lobi memancarkan cahaya redup. Ia melihat deretan angka lantai, namun ada yang aneh. Angka 13 tidak ada. Dari 12, langsung melompat ke 14.
“Itu lantai kosong, Mas,” kata Pak Hadi, satpam senior. Wajahnya keruh, seperti menyimpan rahasia. “Tak ada yang mau menyewanya. Dulu ada insiden.”
Rizky hanya mengangguk, mencoba tak ambil pusing. Cerita seram kantor adalah hal biasa. Ia pun mulai berpatroli, menembus lorong-lorong dingin.
Namun, setiap kali melintas di sekitar area lift, hawa dingin menusuk. Terutama saat melewati angka 12, seolah ada dinding tak terlihat di baliknya. Sebuah ketidaknyamanan samar.
Malam kedua, saat semua karyawan pulang, Rizky mendengar sesuatu. Senandung lirih, seperti melodi lama. Sumbernya tak jelas, namun terasa berasal dari atas.
“Itu Miss K,” bisik Pak Hadi saat mereka bersimpangan. “Penghuni abadi lantai 13.” Matanya menerawang, penuh ketakutan yang nyata.
Rizky tertawa hambar, mencoba menepis. “Hantu? Di gedung semodern ini?” Tapi senandung itu terus terngiang, membelai telinganya dengan lembut namun mencekam.
Malam-malam berikutnya, kejadian aneh makin sering. Lampu berkedip di lantai kosong. Suara langkah pelan terdengar di atas, padahal tak ada siapa pun.
Terkadang, Rizky merasa diperhatikan. Dari pantulan kaca, ia melihat bayangan samar. Siluet seorang wanita, berdiri di ambang kegelapan lantai 13.
Bayangan itu selalu menghilang secepat kilat. Hanya menyisakan jejak wangi melati, tajam menusuk hidung. Aroma yang seharusnya tak ada di gedung kantor.
Rizky mulai mencari tahu. Ia bertanya pada OB, pada teknisi listrik. Semua punya cerita yang sama, tentang seorang wanita bernama Karina.
Karina, seorang desainer grafis yang brilian. Ia pernah bekerja di lantai 12, lima belas tahun lalu. Sebuah kisah cinta tragis mengakhiri hidupnya.
Ia bunuh diri, melompat dari jendela kantornya. Tepat di bagian yang kini menjadi lantai 13. Sejak itu, aura gedung berubah, terutama di sana.
“Ia masih mencari kekasihnya,” bisik Pak Hadi suatu malam. “Atau mungkin, ia mencari cara untuk kembali.” Wajahnya pucat pasi.
Rizky sering mendapati lift berhenti di lantai 13. Tanpa ditekan, tanpa alasan. Pintu terbuka, menampakkan kegelapan pekat di dalamnya.
Ia tak pernah berani masuk. Hanya menatap ke dalam, merasakan hawa dingin yang menguar. Seolah ada sesuatu yang menunggu di sana.
Suatu dini hari, senandung itu berubah. Bukan lagi melodi, melainkan bisikan. Lembut, namun jelas, memanggil namanya. “Rizky…”
Jantung Rizky berdebar kencang. Ia tahu itu bukan halusinasi. Suara itu begitu nyata, begitu dekat, seolah Miss K berdiri di sampingnya.
Rasa takut bercampur penasaran menguasainya. Ia harus tahu. Ia harus menghadapi misteri lantai 13 ini, atau ia takkan pernah tenang.
Ia memegang senter erat, melangkah menuju lift. Jari gemetar menekan tombol angka 13. Kali ini, ia sengaja menekannya.
Lift bergerak naik, berderit pelan. Setiap lantai yang terlewati terasa seperti hitungan mundur. Detik-detik menuju kegelapan.
Pintu terbuka. Lantai 13 menyambutnya dengan sunyi mencekam. Udara di sana jauh lebih dingin, menusuk hingga ke tulang.
Ruangan-ruangan kantor tampak kosong, berdebu. Meja-meja tertutup kain putih, seperti makam-makam kecil. Suasana pengap, menyesakkan.
Rizky menyusuri koridor, senternya menari di dinding. Ia melihat lukisan-lukisan pudar, peninggalan masa lalu. Lalu, ia menemukan sebuah ruangan.
Pintunya terbuka sedikit. Dari celah itu, terpancar cahaya remang, seperti bulan purnama di malam berkabut. Rizky mendorongnya pelan.
Di dalamnya, sebuah meja kerja berantakan. Ada beberapa sketsa desain, sebuah pena, dan sebuah foto usang. Foto seorang wanita tersenyum.
Itu Karina. Cantik, dengan mata yang memancarkan kesedihan. Di belakangnya, tertulis tanggal dan sebuah nama pria. Bukan kekasihnya.
Rizky membaca nama itu: “Pak Wijaya.” Atasan Karina. Dan tanggal di foto itu, adalah hari sebelum ia bunuh diri. Sebuah kebenaran tersembunyi.
Bukan cinta, melainkan putus asa. Bukan kekasih, melainkan tekanan pekerjaan. Cerita yang beredar hanyalah topeng.
Tiba-tiba, wangi melati menusuk tajam. Lampu ruangan berkedip gila, lalu mati total. Kegelapan pekat menyelimuti Rizky.
Ia merasakan hembusan napas dingin di lehernya. Lalu, bisikan itu, kini terdengar jelas di telinganya. “Aku tidak mencari cinta…”
“Aku mencari keadilan,” lanjut suara itu. Senandung lirih kembali terdengar, namun kali ini penuh kepedihan dan amarah.
Rizky menjatuhkan senternya. Ia tak bisa bergerak. Tubuhnya kaku, terpaku oleh kehadiran yang tak terlihat, namun begitu nyata.
Ia merasakan sentuhan dingin di tangannya. Seperti jari-jari es, menggenggam erat. Miss K ada di sana, di sisinya.
“Bantu aku,” bisik suara itu, memohon. “Jangan biarkan aku sendiri di sini.” Rizky merasakan energinya terkuras, ditarik ke dalam jurang.
Pandangannya mulai kabur. Wajah Karina muncul di benaknya, bukan lagi tersenyum, melainkan menangis. Ia ingin menolongnya.
Namun, sesuatu yang lebih kuat menariknya. Kegelapan lantai 13. Dan senandung yang kini berubah menjadi jeritan.
Keesokan paginya, Pak Hadi menemukan senter Rizky tergeletak di lantai 13. Pintu ruangan itu terbuka lebar. Kosong.
Rizky menghilang tanpa jejak. Seperti banyak satpam lain sebelumnya. Legenda Miss K dari Lantai 13 terus berlanjut.
Dan setiap malam, di gedung Arandra yang megah, senandung lirih itu masih terdengar. Menjanjikan misteri, dan menyambut penghuni baru.








