Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sulawesi Selatan

Lembah Londa Menyimpan Sosok Gaib yang Tak Pernah Pergi…

10
×

Lembah Londa Menyimpan Sosok Gaib yang Tak Pernah Pergi…

Share this article

Lembah Londa Menyimpan Sosok Gaib yang Tak Pernah Pergi…

Misteri Abadi Lembah Londa: Jejak Sosok Gaib yang Menghantui

Lembah Londa. Namanya saja sudah mengandung desisan dingin, bisikan angin yang membawa kisah-kisah lama. Tersembunyi di jantung pegunungan yang belum terjamah, lembah ini telah lama menjadi legenda, bukan karena keindahannya, melainkan karena misteri gelap yang menyelimutinya. Kisah penampakan makhluk gaib di sana bukan sekadar desas-desus.

Sejak berabad-abad, penduduk lokal menghindari Lembah Londa. Mereka percaya, di balik kabut tebal dan rimbunnya hutan, bersemayam entitas kuno. Makhluk yang bukan dari dunia manusia, menunggu untuk menampakkan diri pada jiwa-jiwa yang cukup nekat untuk melintasi batasnya.

Arya, seorang peneliti folklor yang haus akan kebenaran di balik mitos, tertarik oleh daya pikat Londa. Ia adalah seorang skeptis sejati, percaya bahwa setiap legenda memiliki akar rasional. Namun, ada sesuatu dalam sorot mata penduduk desa yang membuatnya ragu.

“Jangan ke sana, Nak,” nasihat seorang sesepuh desa, Pak Tua Harun, dengan suara bergetar. “Lembah itu punya mata, dan ia tidak suka orang asing.” Arya hanya tersenyum tipis, menganggapnya sebagai takhayul biasa. Ia membawa bekal, peralatan penelitian, dan tekad baja.

Perjalanan menuju jantung Lembah Londa adalah sebuah siksaan. Jalan setapak yang nyaris tak terlihat, diselimuti lumut tebal, berkelok di antara pepohonan raksasa yang seolah menatap. Udara mulai terasa berat, dinginnya menusuk tulang meski matahari masih bersinar.

Kabut mulai merayap naik, menyelimuti hutan seperti selimut kelabu. Suara-suara alam seolah meredup, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Arya merasakan bulu kuduknya berdiri, naluri primitifnya berteriak untuk berbalik. Namun, rasa penasaran menguasai dirinya.

Malam pertama di Lembah Londa adalah ujian kesabaran. Arya mendirikan tenda di sebuah dataran kecil yang dikelilingi pohon-pohon purba. Api unggun menari-nari, membuang bayangan-bayangan aneh yang seolah bergerak di balik kegelapan.

Suara gemerisik aneh mulai terdengar. Bukan suara hewan malam, melainkan sesuatu yang lebih halus, seperti desiran kain tua yang diseret. Arya mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya angin, atau mungkin hewan kecil yang lewat. Namun, desiran itu terlalu ritmis.

Kemudian, sebuah bisikan samar menyusup ke telinganya. Bahasa yang tak ia kenali, namun nadanya dingin, mengancam. Arya menegang, memegang erat senternya. Ia menyinarinya ke segala arah, namun hanya kegelapan dan siluet pohon yang menyambutnya.

Ia menghabiskan sisa malam dengan terjaga, jantung berdebar keras. Pagi hari tiba dengan kelegaan, namun juga meninggalkan jejak kelelahan. Arya memeriksa sekeliling tendanya, mencari jejak kaki atau petunjuk lain. Tak ada apa pun, hanya tanah basah yang dingin.

Siang harinya, Arya memutuskan untuk menjelajahi lebih dalam. Ia menemukan sisa-sisa struktur batu kuno yang tertutup lumut, tampak seperti reruntuhan candi yang terlupakan. Energi aneh terpancar dari tempat itu, seolah menyerap kehangatan di sekitarnya.

Di antara reruntuhan, ia menemukan ukiran-ukiran aneh pada batu. Bentuknya bukan manusia, bukan pula hewan. Lebih menyerupai siluet yang membingungkan, dengan mata kosong yang seolah mengikuti setiap gerakannya. Rasa tidak nyaman mulai merayapi benaknya.

Saat ia menyentuh salah satu ukiran, udara di sekitarnya terasa menipis. Sebuah hawa dingin yang menusuk tiba-tiba menyergap, membuat napasnya tercekat. Arya segera menarik tangannya, perasaan aneh merayap di kulitnya seperti serangga tak terlihat.

Ia merasakan dirinya tidak sendirian. Bukan hanya perasaan biasa, melainkan sensasi nyata bahwa sepasang mata mengawasinya dari balik bayangan. Setiap kali ia menoleh, tak ada apa-apa, namun perasaan itu tak pernah hilang. Lembah ini memang memiliki “mata.”

Malam kedua membawa kengerian yang lebih nyata. Arya kembali ke tendanya, menyalakan api unggun, mencoba menenangkan diri. Namun, keheningan kali ini terasa lebih pekat, lebih menekan. Bahkan suara jangkrik pun seolah enggan bersuara.

Tiba-tiba, bayangan hitam melintas di tepi pandangannya. Cepat, hampir tak terlihat. Arya berputar, senternya menyapu hutan. Tidak ada apa-apa. Ia mengira itu hanya ilusi optik, akibat kelelahan dan ketegangan yang menumpuk.

Namun, kemudian suara langkah kaki terdengar. Bukan langkah manusia yang berat, melainkan langkah-langkah ringan yang menyeret, seolah tak memiliki bobot. Suara itu berputar mengelilingi tendanya, semakin dekat, semakin jelas.

Arya meraih pisau kecilnya, keringat dingin membasahi dahinya. Ia bisa mendengar napasnya sendiri yang terengah-engah. Suara langkah itu berhenti tepat di depan tendanya. Jantung Arya berpacu tak keruan, darahnya terasa membeku.

Sebuah tangan dingin, transparan, seolah muncul dari balik kain tenda. Jari-jarinya kurus dan panjang, mencoba meraba kain tenda. Arya menjerit tertahan, mundur hingga punggungnya menabrak dinding tenda. Ia memejamkan mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk.

Ketika ia memberanikan diri membuka mata, tangan itu telah lenyap. Suara langkah juga menghilang. Hanya ada keheningan yang memekakkan telinga, dan bau tanah basah yang bercampur dengan aroma amis yang aneh. Arya mulai mempertanyakan kewarasannya.

Ia tidak bisa tidur lagi. Setiap bisikan angin, setiap retakan ranting, seolah adalah pertanda. Ia mulai percaya pada cerita Pak Tua Harun. Lembah Londa bukan sekadar hutan biasa, ia adalah gerbang menuju sesuatu yang tak bisa dijelaskan akal sehat.

Pagi harinya, Arya menemukan jejak aneh di tanah basah di depan tendanya. Bukan jejak kaki, melainkan guratan-guratan tak beraturan yang membentuk pola rumit, seolah digambar oleh sesuatu yang tak memiliki jari. Bentuknya samar, namun meninggalkan rasa ngeri.

Ia memutuskan untuk tidak menyerah. Rasa penasaran bercampur dengan ketakutan mendorongnya lebih jauh. Ia harus melihat apa yang menghantui lembah ini. Ia harus membuktikan keberadaan mereka, meskipun risikonya adalah nyawanya sendiri.

Ia mengikuti jejak kuno yang lebih samar, menuju bagian terdalam lembah. Pepohonan di sana jauh lebih tua, kanopi daunnya begitu rapat hingga sinar matahari nyaris tak bisa menembus. Tempat itu gelap dan lembap, seolah tak pernah tersentuh cahaya.

Di tengah kegelapan itu, ia menemukan sebuah altar batu yang sangat tua, berlumut tebal, dan di sekitarnya terhampar tulang-belulang hewan. Beberapa tulang tampak sangat besar, bukan milik hewan yang biasa ditemukan di hutan. Aura mistis menyelimuti tempat itu.

Saat ia mendekat, udara tiba-tiba menjadi sangat dingin, lebih dingin dari sebelumnya. Napasnya mengepul putih di hadapannya. Ia merasakan kehadiran yang sangat kuat, bukan lagi bisikan, melainkan tekanan yang menindih seluruh tubuhnya.

Dari balik altar, sebuah bayangan mulai terbentuk. Mula-mula hanya gumpalan kegelapan yang lebih pekat dari sekitarnya. Kemudian, gumpalan itu memanjang, meruncing, membentuk siluet yang samar namun menakutkan.

Bukan manusia, bukan hewan. Sosok itu tinggi, kurus, dengan anggota badan yang terlalu panjang. Ia seolah terbuat dari asap, bergerak tanpa suara, mengambang beberapa inci dari tanah. Dan kemudian, dua titik merah menyala terlihat di bagian atas bayangan itu.

Mata. Sepasang mata merah menyala yang menatap langsung ke arah Arya, tanpa berkedip. Mata itu kosong, namun memancarkan kedinginan yang membekukan jiwa. Arya terdiam, tak mampu bergerak, kakinya seolah terpaku ke tanah.

Sosok itu bergerak mendekat. Sangat lambat, namun setiap gerakannya memancarkan aura ancaman yang tak terlukiskan. Udara di sekitar Arya terasa semakin dingin, seolah seluruh panas di tubuhnya tersedot habis oleh kehadiran makhluk itu.

Arya mencoba berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mencoba lari, namun tubuhnya tak mau menuruti. Ia hanya bisa menatap ngeri pada sosok yang semakin dekat, matanya yang merah membesar di tengah kegelapan.

Kemudian, sebuah suara memenuhi kepalanya. Bukan suara yang terdengar di telinga, melainkan getaran langsung di otaknya. Suara itu adalah kombinasi dari desisan, ratapan, dan bisikan dari jutaan jiwa yang tersiksa. Suara itu nyaris merobek akal sehatnya.

Pada saat terakhir, ketika sosok itu hanya berjarak beberapa langkah darinya, naluri bertahan hidup Arya mengambil alih. Ia berbalik dan lari, tak peduli ke mana arahnya. Ia berlari sekuat tenaga, melewati pepohonan, melompati akar, tak menoleh sedikit pun.

Suara desisan dan bisikan itu mengejarnya, seolah membisikkan kutukan di belakangnya. Ia bisa merasakan hawa dingin yang mengikutinya, seolah makhluk itu masih berada di belakangnya, hanya beberapa inci dari punggungnya.

Ia berlari tanpa henti, hingga akhirnya ia melihat samar-samar cahaya di kejauhan. Itu adalah batas Lembah Londa, batas antara dunia yang ia kenal dan kegelapan yang baru saja ia saksikan. Ia tak pernah merasa sebahagia itu melihat sinar matahari.

Arya keluar dari lembah dengan tubuh gemetar, wajah pucat pasi, dan mata yang dipenuhi kengerian. Ia tak lagi skeptis. Pengalamannya di Lembah Londa telah meruntuhkan semua keyakinannya. Makhluk gaib itu nyata, dan ia telah melihatnya.

Ketika ia kembali ke desa, Pak Tua Harun menatapnya dengan tatapan penuh pengertian, seolah sudah tahu apa yang terjadi. Arya tak perlu berkata apa-apa. Wajahnya yang kelelahan dan ketakutan sudah menceritakan segalanya.

Arya meninggalkan Lembah Londa, namun Lembah Londa tidak pernah meninggalkannya. Bayangan sosok itu, mata merah menyala, dan bisikan mengerikan itu menghantuinya dalam mimpi dan saat terjaga. Ia tak pernah lagi menjadi dirinya yang dulu.

Kisah Arya menjadi satu lagi tambahan pada legenda Lembah Londa yang menakutkan. Lembah itu tetap di sana, diselimuti kabut dan misteri, menunggu korban selanjutnya. Sebuah tempat di mana batas antara dunia nyata dan dunia gaib menjadi sangat tipis.

Dan di kedalaman hutan purba itu, konon, sosok itu masih bersemayam. Menatap dengan mata merah menyala, menunggu siapa saja yang cukup berani untuk melangkahkan kaki ke dalam wilayahnya. Sebuah misteri abadi yang tak akan pernah terpecahkan.

Misteri Abadi Lembah Londa: Jejak Sosok Gaib yang Menghantui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *