Scroll untuk baca artikel
Provinsi Nusa Tenggara Barat

Kenapa Kampung Ini Selalu Sepi Setelah Maghrib? Jawabannya Mengejutkan

9
×

Kenapa Kampung Ini Selalu Sepi Setelah Maghrib? Jawabannya Mengejutkan

Share this article

Kenapa Kampung Ini Selalu Sepi Setelah Maghrib? Jawabannya Mengejutkan

Misteri Kampung Bayangan: Ketika Malam Menelan Segala Suara

Arif, seorang peneliti folklor dan legenda urban, selalu tertarik pada cerita-cerita yang tersembunyi di balik peta. Panggilan hatinya membawanya ke sebuah desa terpencil di jantung Kalimantan, jauh dari hiruk pikuk modernitas. Desa itu, yang dinamakan Kampung Bayangan oleh penduduk lokal, menyimpan reputasi yang aneh.

Reputasinya bukan tentang hantu gentayangan atau penampakan seram. Melainkan tentang kesunyian yang mencekam. Sebuah keheningan yang bukan sekadar absennya suara, tapi sesuatu yang terasa lebih dalam, lebih menekan. Sebuah keheningan yang hanya datang setelah matahari terbenam.

Arif tiba di Kampung Bayangan pada sore hari, disambut oleh udara lembap dan bau tanah basah. Rumah-rumah kayu tampak tua dan lapuk, namun terawat rapi. Penduduknya, meski ramah, terlihat menyimpan rahasia. Mata mereka selalu tampak waspada, seperti menunggu sesuatu.

Ia menyewa sebuah kamar di rumah Pak Kadir, kepala desa yang telah sepuh. Pak Kadir, dengan tatapan yang sarat pengalaman, menyambutnya dengan senyum tipis. “Selamat datang, Nak Arif. Semoga betah di sini,” ucapnya, namun ada nada yang tak terucap, sebuah peringatan halus.

Saat Arif menjelajahi desa di siang hari, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Bahkan di tengah hari, kampung itu terasa terlalu tenang. Tidak ada suara tawa anak-anak yang bermain di halaman, tidak ada kicauan burung yang riuh, atau gonggongan anjing yang biasanya menemani siang di pedesaan.

Hanya ada suara desiran angin tipis yang melambai-lambai di antara pepohonan kelapa. Seolah-olah alam sendiri menahan napasnya. Arif mencatat setiap detail ini dalam buku catatannya, rasa penasarannya semakin membuncah.

Menjelang senja, langit di atas Kampung Bayangan mulai memerah. Cahaya oranye yang lembut menyelimuti desa, menciptakan siluet rumah-rumah kayu yang dramatis. Namun, di balik keindahan itu, Arif merasakan perubahan yang perlahan namun pasti.

Suara-suara yang tadinya samar, kini benar-benar menghilang. Jangkrik berhenti berderik. Angin pun seolah enggan berdesir. Hawa dingin merambat naik, bukan dingin yang menusuk tulang, melainkan dingin yang membekukan pikiran.

Azan Maghrib berkumandang dari surau kecil di ujung desa. Suara itu, yang seharusnya menenangkan, justru terdengar seperti sebuah peringatan. Gema azan itu memantul di antara rumah-rumah, lalu perlahan meredup, seolah ditelan oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Begitu azan selesai, suasana berubah drastis. Seluruh desa seolah-olah menekan tombol “mati”. Lampu-lampu di rumah-rumah dipadamkan satu per satu, bukan karena listrik mati, melainkan sengaja dimatikan. Pintu-pintu dikunci rapat.

Arif menyaksikan semua ini dari jendela kamarnya, jantungnya berdegup kencang. Dalam hitungan menit, Kampung Bayangan berubah menjadi bayangan itu sendiri. Sebuah entitas yang gelap dan bisu.

Ia mencoba menyalakan lampu kamarnya, namun Pak Kadir dengan cepat mengetuk pintu. “Nak Arif, jangan menyalakan lampu setelah Maghrib,” bisiknya dari balik pintu. “Itu akan menarik perhatian mereka.”

“Mereka siapa, Pak?” tanya Arif, suaranya sedikit bergetar.

Namun, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang semakin pekat. Arif memutuskan untuk mematuhi. Ia duduk di kegelapan, matanya menatap ke luar jendela yang hanya memperlihatkan kegelapan absolut.

Di luar sana, tidak ada satu pun suara. Tidak ada desau daun, tidak ada suara binatang malam, bahkan suara napasnya sendiri terasa terlalu keras dalam keheningan itu. Ini bukan keheningan alami. Ini adalah keheningan yang dipaksakan.

Malam pertama adalah ujian berat bagi Arif. Ia merasa terperangkap dalam kepompong sunyi yang menekan. Setiap detiknya terasa seperti berjam-jam. Pikirannya melayang, mencoba mencari penjelasan logis, namun gagal.

Pagi harinya, saat fajar menyingsing dan azan Subuh berkumandang, keajaiban terjadi. Perlahan, satu per satu, suara kembali. Kicauan burung mulai terdengar samar, disusul suara ayam berkokok, dan akhirnya, suara manusia.

Penduduk desa keluar dari rumah mereka, seolah tidak terjadi apa-apa. Wajah mereka kembali menunjukkan keramahan, namun Arif melihat kelelahan yang mendalam di mata mereka. Seolah-olah mereka telah melewati malam yang panjang dan mengerikan.

Arif menghampiri Pak Kadir. “Pak, apa yang terjadi setelah Maghrib? Mengapa semua orang mematikan lampu dan tidak ada suara sama sekali?” tanyanya, tak bisa menahan rasa penasarannya.

Pak Kadir menghela napas panjang. “Ada yang menjaga kampung ini, Nak Arif. Sejak dulu kala. Mereka tidak suka suara, tidak suka cahaya. Mereka menginginkan ketenangan mutlak.”

“Siapa mereka, Pak?” desak Arif.

“Kami menyebutnya ‘Sang Penelan Suara’,” jawab Pak Kadir, matanya menerawang jauh. “Mereka tidak terlihat, tidak berwujud. Tapi kehadiran mereka sangat nyata. Mereka akan mengambil siapa saja yang berani mengganggu keheningan mereka.”

Arif menghabiskan beberapa hari berikutnya mencoba menggali informasi lebih dalam. Namun, setiap kali ia bertanya, penduduk desa hanya memberikan jawaban samar atau mengubah topik pembicaraan. Mereka jelas-jelas enggan membahasnya.

Ia menemukan beberapa ukiran kuno di dinding surau yang sudah usang. Ukiran itu menggambarkan sosok-sosok tanpa wajah yang dikelilingi oleh simbol-simbol spiral yang menelan. Di bawahnya, ada tulisan kuno yang sulit diartikan.

Rasa penasarannya, yang bercampur dengan ketakutan, mendorong Arif untuk mengambil risiko. Ia ingin menyaksikan sendiri apa yang terjadi di malam hari. Ia ingin menguak misteri Sang Penelan Suara.

Malam berikutnya, tepat setelah Maghrib, saat keheningan mulai merayap, Arif menyiapkan senter kecil yang dibungkus kain tebal agar cahayanya redup. Ia menunggu beberapa menit, memastikan semua rumah telah gelap dan sunyi.

Dengan langkah hati-hati, ia membuka pintu kamarnya. Udara di luar terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang. Keheningan itu begitu pekat, seolah-olah bisa disentuh. Setiap langkahnya terasa sangat keras, mengganggu kesunyian yang mencekam.

Arif berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di tengah desa. Rumah-rumah di kanan dan kirinya berdiri seperti patung batu, gelap dan tak bernyawa. Jendela-jendela yang tertutup rapat terasa seperti mata yang mengawasi dalam kegelapan.

Ia berhenti di tengah jalan, mencoba mendengarkan. Tidak ada apa-apa. Hanya suara napasnya sendiri, yang kini terasa begitu bising. Rasa takut mulai menyelimutinya, namun dorongan untuk mencari tahu lebih kuat.

Tiba-tiba, ia merasakan hawa dingin yang luar biasa di belakang lehernya. Dingin yang bukan dari angin, melainkan dari sesuatu yang dekat. Ia berbalik, namun tidak ada apa-apa di sana. Hanya kegelapan.

Kemudian, ia mendengar sesuatu. Bukan suara, melainkan getaran. Sebuah getaran rendah, seperti bisikan yang sangat dalam, yang tidak berasal dari telinganya, melainkan langsung meresap ke dalam otaknya.

Bisikan itu semakin kuat, bukan dalam volume, melainkan dalam intensitasnya. Seolah-olah ribuan suara yang tertelan kini berbisik dalam pikirannya, sebuah simfoni horor yang tak terucapkan.

Arif merasakan kepalanya pusing, pandangannya kabur. Ia ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mencoba menyalakan senter, namun tangannya bergetar hebat.

Di depannya, kegelapan mulai menggeliat. Bukan kegelapan yang kosong, melainkan kegelapan yang memiliki bentuk. Sebuah bayangan tanpa wujud yang merambat di tanah, perlahan mendekat.

Bayangan itu tidak memiliki mata, tidak memiliki mulut, namun Arif bisa merasakan tatapan yang menusuk, sebuah kehadiran yang mengancam. Bisikan di kepalanya semakin tak tertahankan, mengancam untuk merobek kewarasannya.

Ia melihat sesuatu bergerak di dalam bayangan itu. Bukan anggota tubuh, melainkan distorsi. Seolah-olah kegelapan itu sendiri sedang bernapas, menarik semua udara dan suara dari sekitarnya.

Arif jatuh berlutut, menekan telinganya, berusaha menghentikan bisikan yang menghancurkan. Ia tahu, ini adalah Sang Penelan Suara. Entitas yang memakan keheningan, dan mungkin, juga jiwa.

Ia merasakan cengkeraman dingin di pergelangan kakinya. Bukan sentuhan fisik, melainkan rasa beku yang menyebar cepat. Panik mengambil alih. Ia harus lari.

Dengan sisa tenaga, Arif bangkit dan berlari. Ia tidak tahu ke mana, hanya berlari menjauhi bayangan yang kini merayap lebih cepat di belakangnya. Bisikan itu semakin memekakkan, bahkan tanpa suara.

Ia melihat cahaya redup di kejauhan – kamar Pak Kadir. Ia berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal-sengal, paru-parunya seperti terbakar.

Tepat saat ia mencapai pintu kamar, ia merasakan hembusan dingin yang sangat dekat di belakangnya. Ia berhasil membuka pintu dan melompat masuk, mengunci pintu secepat kilat.

Arif terengah-engah di lantai, tubuhnya bergetar hebat. Bisikan itu perlahan mereda, digantikan oleh detak jantungnya yang bergemuruh. Ia selamat, entah bagaimana.

Ia menghabiskan sisa malam meringkuk di sudut ruangan, tidak berani bergerak. Setiap bayangan, setiap suara samar yang ia dengar (atau ia bayangkan), membuatnya melompat ketakutan.

Ketika fajar menyingsing, dan suara-suara kembali merayap ke Kampung Bayangan, Arif keluar dari kamarnya dengan wajah pucat pasi dan mata yang bengkak. Pak Kadir sudah menunggunya di teras.

“Kamu melihatnya, Nak Arif?” tanya Pak Kadir, nada suaranya lembut, penuh pengertian.

Arif mengangguk lemah, tidak mampu berkata-kata.

“Mereka tidak suka diusik,” lanjut Pak Kadir. “Mereka sudah ada di sini sebelum kami. Kami hanya hidup berdampingan, dengan syarat.”

Arif tidak bertanya lagi. Ia tahu ia telah melihat cukup. Misteri Kampung Bayangan telah terkuak, namun dengan harga yang mahal. Ia telah merasakan kengerian keheningan yang absolut.

Pagi itu juga, Arif memutuskan untuk meninggalkan Kampung Bayangan. Ia tidak akan pernah menulis tentang apa yang ia alami. Kisah ini terlalu personal, terlalu mengerikan untuk dibagikan.

Ia meninggalkan desa itu dengan membawa beban yang berat di jiwanya. Meskipun ia telah kembali ke dunia yang bising, keheningan Kampung Bayangan setelah Maghrib akan selamanya menghantuinya. Bisikan tanpa suara itu, akan selalu menggema di benaknya.

Misteri Kampung yang Sunyi Setelah Maghrib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *