Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sumatera Selatan

Misteri Wanita Tua di Jembatan Air Lintang: Sebuah Bisikan Tengah Malam

9
×

Misteri Wanita Tua di Jembatan Air Lintang: Sebuah Bisikan Tengah Malam

Share this article

Misteri Wanita Tua di Jembatan Air Lintang: Sebuah Bisikan Tengah Malam

Misteri Wanita Tua di Jembatan Air Lintang: Sebuah Bisikan Tengah Malam

Di jantung Sumatera, tersembunyi sebuah jembatan tua yang membentang di atas Sungai Air Lintang. Jembatan ini, seolah fosil dari masa lalu, seringkali diselimuti kabut tipis di kala senja.

Namun, bukan hanya kabut yang menjadikannya angker. Ada kisah-kisah bisikan, desas-desus yang merayap di antara penduduk lokal, tentang sosok misterius. Sosok yang hanya menampakkan diri di saat paling sunyi.

Tepat saat jarum jam menunjuk angka dua belas malam, saat dunia terlelap dalam kegelapan pekat. Di situlah ia muncul, sesosok wanita tua.

Kemunculannya selalu serupa, menghantui setiap ingatan yang pernah menyaksikannya. Ia adalah bayangan, mitos, atau mungkin, kenyataan yang tak terpecahkan.

Ardi, seorang jurnalis foto muda dengan mata tajam untuk cerita-cerita lokal, mendengar desas-desus ini. Awalnya ia skeptis, menganggapnya hanya bualan belaka.

Namun, ada sesuatu yang memanggilnya, dorongan tak kasat mata untuk membuktikan kebenaran di balik legenda. Dengan kamera di tangan, ia memutuskan untuk menantang malam.

Malam pertama ia tiba di Jembatan Air Lintang, udara dingin menusuk kulit. Kesunyian begitu mutlak, hanya suara jangkrik dan gemericik air sungai yang memecah keheningan.

Kabut mulai turun, perlahan memeluk jembatan, mengubahnya menjadi siluet suram. Ardi menunggu, napasnya tertahan, matanya menyapu setiap sudut.

Lalu, di tengah pekatnya malam, di ujung jembatan yang samar, ia melihatnya. Sesosok figur ringkih, berdiri tak bergerak di bawah cahaya rembulan yang redup.

Itu adalah wanita tua, persis seperti yang digambarkan. Pakaian tradisionalnya tampak usang, rambutnya yang putih tergerai panjang, menutupi sebagian wajahnya.

Ia berdiri menghadap sungai, punggungnya lurus, seolah patung. Tak ada gerakan, tak ada suara. Hanya keberadaannya yang begitu nyata, namun terasa ghaib.

Ardi mengangkat kameranya, tangannya sedikit bergetar. Ia mencoba fokus, namun kabut dan kegelapan seolah bersekongkol melindunginya dari pandangan.

Sesaat kemudian, saat Ardi berkedip, wanita itu lenyap. Tak ada jejak, tak ada bayangan. Seolah ia tak pernah ada di sana, hanya ilusi semata.

Jantung Ardi berdegup kencang. Skeptisisme yang ia bawa perlahan runtuh, digantikan oleh rasa penasaran yang mendalam, bercampur dengan sedikit ketakutan.

Ia kembali malam demi malam, mencoba menangkap sosok itu dengan lensanya. Namun, wanita tua itu selalu selangkah di depannya, menghilang secepat ia muncul.

Penduduk desa yang ia temui enggan bercerita banyak. Mata mereka menyiratkan ketakutan, bibir mereka hanya mengeluarkan bisikan tentang kutukan dan arwah gentayangan.

"Jangan dekati dia, Nak," seorang kakek tua memperingatkan, matanya menerawang. "Dia bukan dari dunia kita. Dia adalah penjaga, atau mungkin, penyesalan."

Beberapa cerita menyebutkan bahwa wanita itu adalah arwah seorang ibu yang kehilangan anaknya di sungai itu puluhan tahun silam. Ia menunggu, tak pernah lelah.

Yang lain mengatakan ia adalah penanda, harbinger dari bencana yang akan datang, muncul sebelum ada musibah besar di daerah tersebut.

Ardi mencoba mencari tahu lebih dalam. Ia menyelami arsip lama, mencari berita kecelakaan atau insiden tragis di Jembatan Air Lintang.

Ia menemukan beberapa kasus tenggelam, beberapa kecelakaan lalu lintas, namun tak ada yang secara spesifik mengaitkan dengan kemunculan wanita tua.

Misteri itu semakin pekat, mengikat Ardi dalam obsesi. Ia harus mengetahui siapa wanita ini, apa yang dicarinya, dan mengapa ia hanya muncul di tengah malam.

Suatu malam, Ardi memutuskan untuk lebih berani. Ia memarkir mobilnya lebih dekat, bersembunyi di balik semak-semak yang rimbun di tepi jembatan.

Ia menunggu, jantungnya berdetak tak karuan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seolah seluruh panas telah tersedot dari lingkungan.

Tepat pukul dua belas, sosok itu muncul kembali. Kali ini, Ardi bisa melihatnya lebih jelas. Ia mengenakan kebaya lusuh berwarna gelap, dan kain batik yang pudar.

Rambutnya yang panjang, seputih salju, sedikit berkibar ditiup angin malam. Wajahnya, meski samar, terlihat sangat tua, dengan kerutan dalam yang menutupi kulit pucat.

Wanita itu perlahan mengangkat tangannya, menunjuk ke arah sungai. Sebuah gerakan yang begitu pelan, namun sarat makna. Ardi merasakan hawa dingin merambat di tulang punggungnya.

Tangannya tidak kosong. Ia memegang sebuah benda kecil, terlihat seperti keranjang anyaman yang sudah lapuk, digenggam erat di dekapannya.

Ardi mencoba melihat apa isi keranjang itu, namun kegelapan terlalu pekat. Ia hanya bisa melihat siluetnya, seolah ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.

Tidak ada suara, tidak ada isakan. Hanya keheningan yang mencekam, dan aura kesedihan yang begitu mendalam memancar dari sosok itu.

Ia tidak melihat ke arah Ardi. Pandangannya terpaku pada aliran sungai yang gelap, seolah mencari sesuatu yang telah lama hilang ditelan waktu.

Ardi mengangkat kameranya lagi, tangannya kini stabil. Ia mengambil beberapa gambar, berharap bisa menangkap detail yang lebih jelas.

Kilatan flash kamera memecah keheningan malam. Sesaat, wajah wanita tua itu terpampang jelas, namun hanya sesaat.

Matanya kosong, hampa, namun memancarkan kesedihan yang tak terhingga. Kulitnya pucat pasi, seperti mayat yang baru bangkit dari kubur.

Saat flash itu padam, wanita itu menoleh. Perlahan, kepalanya berputar, menatap lurus ke arah Ardi, menembus persembunyiannya.

Tidak ada kemarahan di matanya, hanya kehampaan yang tak berujung. Namun, tatapan itu cukup untuk membuat darah Ardi berdesir dingin.

Ia merasakan bisikan, bukan dengan telinga, melainkan langsung ke dalam benaknya. Sebuah suara yang melengking, namun tak berwujud kata.

Itu adalah suara tangisan, rintihan pilu yang bergema di relung jiwanya. Sebuah kesedihan yang begitu murni, begitu menyakitkan.

Jembatan itu seolah bergetar. Kabut menebal, menelan pandangan Ardi. Ia merasakan kehadiran yang begitu kuat, menekan, mencekiknya.

Ketika kabut mulai menipis, wanita tua itu kembali lenyap. Tak ada jejak, tak ada bayangan. Hanya kekosongan yang ia tinggalkan.

Ardi memeriksa kameranya. Gambar-gambar yang ia ambil tadi pagi jelas. Namun, kini, layarnya hanya menampilkan noise dan distorsi.

Gambar wanita tua itu hilang, seolah tak pernah terekam. Hanya beberapa foto kabut tebal dan kegelapan yang tersisa.

Ia kembali ke Jembatan Air Lintang berkali-kali setelah itu, namun wanita tua itu tak pernah muncul lagi di hadapannya. Seolah ia telah menyelesaikan tugasnya.

Ardi mencoba menceritakan kisahnya, namun tak ada yang sepenuhnya percaya. Mereka menganggapnya halusinasi, atau sekadar cerita yang dibuat-buat.

Namun, Ardi tahu. Ia telah melihatnya, merasakan kedinginannya, mendengar bisikan kesedihannya. Pengalaman itu mengubah dirinya.

Jembatan Air Lintang tetap berdiri, sunyi dan misterius. Kabut masih menyelimutinya di tengah malam, dan desas-desus masih beredar.

Wanita tua itu, sosoknya yang menghantui, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari legenda. Sebuah misteri yang tak terpecahkan.

Ia adalah penjaga rahasia, penanti yang abadi. Atau mungkin, sekadar pengingat bahwa beberapa kesedihan begitu dalam, hingga merobek batas antara hidup dan mati.

Hingga kini, siapa wanita tua itu dan apa yang dicarinya di tengah malam di Jembatan Air Lintang, tetap menjadi teka-teki. Sebuah bisikan dari masa lalu, menghantui setiap malam yang sunyi.

Misteri Wanita Tua di Jembatan Air Lintang: Sebuah Bisikan Tengah Malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *