Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Warga Percaya Patung Ini Hidup… Aku Awalnya Tak Percaya, Sampai…

10
×

Warga Percaya Patung Ini Hidup… Aku Awalnya Tak Percaya, Sampai…

Share this article

Warga Percaya Patung Ini Hidup… Aku Awalnya Tak Percaya, Sampai…

Patung Sang Penjaga: Misteri Tatapan yang Berubah

Arka, sang sejarawan, terpikat pada bisikan masa lalu. Ia mencari cerita yang terlupakan, jejak-jejak yang ditinggalkan zaman. Kali ini, sebuah desas-desus aneh menariknya ke Dukuh Merana. Sebuah desa yang diselimuti kabut dan rahasia kelam.

Dukuh Merana tersembunyi di balik pegunungan, nyaris terputus dari dunia luar. Jalannya sempit, berkelok, diselimuti pepohonan tua. Udara di sana selalu terasa lembap, dingin, dan sarat dengan keheningan yang mencekam.

Konon, di tengah alun-alun usang desa itu, berdiri sebuah patung. Patung Sang Penjaga, begitu masyarakat setempat menyebutnya. Bukan karena keindahan arsitekturnya, melainkan karena kemisteriusannya yang melegenda.

Patung itu terbuat dari batu granit hitam pekat, tingginya menjulang hampir lima meter. Bentuknya seorang pria berjubah dengan tudung yang dalam, menyembunyikan wajahnya. Hanya bagian dagu dan bibir yang samar terlihat, seolah sedang menggumamkan sesuatu.

Yang paling aneh adalah kepalanya. Masyarakat Dukuh Merana percaya, kepala patung itu bisa menoleh sendiri. Bergerak perlahan, tanpa sentuhan tangan manusia, seolah mencari sesuatu. Atau mungkin, memperingatkan sesuatu.

Arka, dengan skeptisisme seorang akademisi, menganggapnya takhayul belaka. Namun, rasa penasaran yang menggebu-gebu mendorongnya. Ia harus membuktikan, atau setidaknya, menemukan penjelasan logis di balik legenda tersebut.

Setibanya di Dukuh Merana, Arka segera merasakan aura aneh desa itu. Penduduknya ramah, tetapi tatapan mereka selalu menyiratkan ketakutan. Mereka bicara dengan suara berbisik, seolah takut didengar oleh sesuatu yang tak kasat mata.

“Jangan terlalu dekat dengan Penjaga, Nak,” bisik seorang nenek tua bernama Mbah Darmi. “Ia hanya menoleh jika ada yang tidak beres. Jika ada yang melanggar batas, atau jika rahasia terkutuk mulai terkuak.”

Arka menginap di satu-satunya penginapan sederhana desa itu, yang dikelola sepasang suami istri paruh baya. Kamarnya menghadap langsung ke alun-alun. Dari jendelanya, Patung Sang Penjaga tampak menjulang di tengah kegelapan malam.

Malam pertama Arka di Dukuh Merana, ia merasa gelisah. Samar-samar, dari jendela penginapan, ia melihat siluet patung. Sebuah ilusi optik? Atau mungkin, kepala patung itu sedikit bergeser. Hanya sepersekian inci, nyaris tak terlihat.

Ia menggosok matanya, mencoba meyakinkan diri. Angin mungkin, atau bayangan awan. Namun, desiran dingin menjalari punggungnya. Perasaan tidak nyaman itu bertahan hingga fajar menyingsing.

Keesokan harinya, Arka menghabiskan waktu di perpustakaan desa. Sebuah ruangan kecil yang dipenuhi buku-buku usang dan arsip berdebu. Ia mencari catatan sejarah, legenda lokal, apa pun yang bisa menjelaskan fenomena patung itu.

Ia menemukan beberapa tulisan kuno yang menyebutkan “Sumpah Penjaga”. Sebuah ritual kuno yang dilakukan para leluhur desa. Konon, patung itu didirikan sebagai manifestasi dari sumpah tersebut, sebuah janji yang tak boleh dilanggar.

“Jika sumpah itu dilanggar,” demikian bunyi salah satu naskah. “Sang Penjaga akan bangkit dari tidurnya. Tatapannya akan bergeser, mencari sang pelanggar. Dan malapetaka akan menimpa seluruh Dukuh Merana.”

Arka tersenyum tipis. Legenda yang menarik, tetapi tetap saja, hanya legenda. Ia kembali ke penginapan, pikiran dipenuhi spekulasi. Namun, keraguan itu mulai merayap, menembus dinding skeptisisme.

Pada malam ketiga, tak ada lagi keraguan. Arka menyaksikannya sendiri, dari jarak dekat. Kepala Sang Penjaga berputar perlahan, wajahnya kini menghadap ke arah barat. Udara di sekelilingnya terasa berat, dingin menusuk tulang.

Ia bukan satu-satunya saksi. Beberapa penduduk desa yang masih terjaga juga melihatnya. Mereka berteriak, panik, lalu bergegas masuk ke dalam rumah. Mengunci pintu, mematikan lampu, seolah bersembunyi dari tatapan patung.

Arka berdiri mematung di alun-alun, jantungnya berdegup kencang. Ia merasakan aura yang tidak menyenangkan memancar dari patung itu. Sebuah kekuatan kuno, gelap, dan tak terlukiskan.

Keesokan harinya, sebuah musibah menimpa. Sumur utama desa mengering secara misterius. Sumber air yang selama ini tak pernah habis, kini hanya menyisakan lumpur. Kekeringan tiba-tiba melanda Dukuh Merana.

Mbah Darmi menatap Arka dengan mata sendu. “Sudah kubilang, Nak. Ia sudah menoleh. Sumpah itu telah dilanggar. Dan ini baru permulaan dari kemurkaannya.”

Arka mulai merasakan kengerian yang nyata. Ia tidak bisa lagi mengabaikannya sebagai kebetulan. Ada hubungan langsung antara pergerakan patung dan malapetaka yang terjadi. Ia harus mencari tahu apa sumpah itu, dan siapa yang melanggarnya.

Ia kembali ke perpustakaan desa, menggali lebih dalam. Ia menemukan catatan-catatan yang lebih rahasia, tersembunyi di balik dinding palsu. Dokumen-dokumen yang ditulis tangan dengan tinta pudar, menceritakan sejarah kelam Dukuh Merana.

Ratusan tahun lalu, Dukuh Merana dilanda wabah. Untuk menghentikan wabah, para leluhur melakukan ritual pengorbanan. Mereka mengorbankan seorang gadis muda, seorang perawan suci, untuk menenangkan “Penunggu Tanah”.

Namun, pengorbanan itu tidak menghentikan wabah. Sebaliknya, wabah semakin parah. Para tetua desa, dalam keputusasaan, mengkhianati janji mereka. Mereka menyalahkan keluarga gadis itu, mengusir mereka, dan membiarkan mereka mati di luar desa.

“Patung itu adalah peringatan,” bunyi salah satu catatan. “Sebuah kutukan bagi mereka yang melanggar janji kesucian. Selama darah tak berdosa masih berteriak dari tanah, Sang Penjaga akan menuntut balas.”

Arka terkesiap. Kutukan itu bukanlah tentang sumpah pengorbanan, melainkan tentang pengkhianatan setelahnya. Tentang darah yang ditumpahkan dan disembunyikan. Patung itu bukanlah pelindung, melainkan penuntut keadilan.

Malam itu, kepala patung kembali bergerak. Kali ini, lebih cepat, lebih tegas. Menghadap ke arah timur laut, ke arah perkebunan tembakau yang subur. Di sana, seorang pemuda ditemukan tewas mengenaskan, tubuhnya membiru tanpa sebab.

Kepanikan melanda seluruh Dukuh Merana. Penduduk desa mulai saling mencurigai. Mereka tahu, patung itu bereaksi terhadap sesuatu yang tersembunyi. Sebuah rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh generasi demi generasi.

Arka menyadari, ia terjebak dalam lingkaran misteri yang mematikan. Patung itu menoleh bukan karena kebetulan, melainkan karena ada yang sedang terkuak. Rahasia kelam yang kini mulai menuntut korban.

Ia kembali ke Mbah Darmi, yang terlihat semakin kurus dan ketakutan. “Mbah, siapa yang melanggar sumpah? Apa yang sebenarnya terjadi?” desak Arka.

Mbah Darmi menatapnya dengan mata kosong. “Sumpah itu adalah tentang menjaga kebenaran, Nak. Tentang tidak menyembunyikan kejahatan. Tapi mereka menyembunyikannya. Demi nama baik desa, mereka mengubur kebenaran.”

Arka menggigil. Ia memahami. Setiap kali seseorang mendekati kebenaran, setiap kali rahasia itu nyaris terkuak, Patung Sang Penjaga akan menoleh. Memberi peringatan, atau mungkin, memberi tanda pada sang penuntut keadilan.

Ia teringat sebuah cerita dari arsip, tentang seorang anak kecil yang hilang puluhan tahun lalu. Anak itu adalah keturunan langsung dari keluarga yang diusir. Sebuah noda yang tak pernah bisa dihapus dari sejarah desa.

Dan kini, Arka tahu mengapa patung itu menoleh padanya. Karena ia, seorang asing, telah terlalu dekat dengan kebenaran. Ia telah menggali apa yang seharusnya tetap terkubur. Ia telah mengusik Sang Penjaga.

Malam berikutnya, badai hebat melanda Dukuh Merana. Petir menyambar-nyambar, angin menderu-deru. Arka melihat dari jendela, kepala Patung Sang Penjaga berputar liar. Bukan hanya menoleh, tetapi berputar penuh.

Wajahnya yang tertutup tudung kini seolah menatap langsung ke arah penginapan Arka. Mata patung itu, yang tadinya kosong, kini seperti memancarkan cahaya merah samar. Sebuah tatapan yang penuh amarah dan tuduhan.

Arka mundur perlahan, ketakutan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu, ia telah menjadi target. Ia telah menjadi “pelanggar batas” terakhir yang diincar Sang Penjaga.

Ia bergegas keluar dari penginapan, menerobos badai. Ia harus pergi dari Dukuh Merana. Ia harus melarikan diri dari tatapan patung yang kini seolah hidup, mengejarnya dalam kegelapan.

Di tengah derasnya hujan, ia berlari tanpa tujuan. Suara-suara aneh mengikuti, bisikan-bisikan dingin yang memanggil namanya. Apakah itu hanya imajinasinya, ataukah kutukan Sang Penjaga telah merasukinya?

Ia berhasil mencapai batas desa, terengah-engah. Patung Sang Penjaga masih terlihat di kejauhan, menatapnya dari balik kabut. Kepalanya kini kembali menghadap ke depan, seolah puas dengan apa yang telah terjadi.

Arka tidak pernah kembali ke Dukuh Merana. Ia membawa serta rahasia kelam itu, dan juga ketakutan yang mendalam. Ia tahu, ada kekuatan di luar logika manusia, kekuatan yang tak bisa dijelaskan.

Dukuh Merana kini terdiam, lebih sunyi dari sebelumnya. Patung Sang Penjaga berdiri tegak, kepalanya kembali menghadap ke depan. Namun, Arka tahu, tatapan itu tidak lagi kosong. Ia menyimpan rahasia kelam, menanti pelanggaran berikutnya.

Dan di suatu tempat, di antara bisikan angin dan bayangan malam, sebuah patung kuno masih menanti. Menanti saatnya untuk kembali menoleh, menuntut keadilan, atau mungkin, mengumumkan kehancuran yang tak terhindarkan. Karena sumpah itu, tak pernah benar-benar mati.

Patung yang Menoleh Sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *