Scroll untuk baca artikel
Provinsi Sulawesi Selatan

Sosok Wanita Ini Tertangkap di Toraja… Tapi Semua Orang Bilang Tak Ada Siapa-Siapa

9
×

Sosok Wanita Ini Tertangkap di Toraja… Tapi Semua Orang Bilang Tak Ada Siapa-Siapa

Share this article

Sosok Wanita Ini Tertangkap di Toraja… Tapi Semua Orang Bilang Tak Ada Siapa-Siapa

Puang Malandak: Kisah Misteri Wanita Bergaun Putih di Tanah Toraja

Toraja, sebuah permata tersembunyi di jantung Sulawesi. Keindahan alamnya memukau, dihiasi Tongkonan megah dan hamparan sawah berundak. Namun, di balik pesona itu, tersembunyi misteri yang tak terucapkan. Bisikan legenda dan penampakan hantu wanita.

Di antara kabut pagi yang menyelimuti perbukitan, atau di bawah rembulan purnama yang menerangi pekuburan tebing, cerita tentang “Puang Malandak” — Nona Pucat — sering terdengar. Bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan kisah nyata yang menghantui.

Saya, Ardi, seorang penulis lepas yang haus akan cerita-cerita unik, tiba di Toraja dengan hati penuh skeptisisme. Tujuanku adalah mendokumentasikan kebudayaan lokal yang kaya, bukan mengejar bayangan tak kasat mata. Namun, Toraja punya rencana lain.

Sejak hari pertama, aku merasakan aura aneh. Bukan horor yang gamblang, melainkan rasa hormat yang mendalam bercampur ketakutan tersembunyi. Setiap sudut, setiap pahatan, seolah menyimpan rahasia berabad-abad yang siap terbuka.

Malam pertama di sebuah penginapan tradisional, desiran angin seolah membawa bisikan. Aku mengabaikannya sebagai kelelahan, efek jet lag yang membingungkan pikiran. Namun, perasaan diperhatikan itu tak kunjung hilang.

Penduduk lokal, ramah namun menyimpan jarak, seringkali melirikku dengan tatapan penuh arti. Ketika aku bertanya tentang cerita hantu, wajah mereka berubah. Senyum menghilang, diganti ekspresi serius dan sedikit ketakutan.

“Ada yang tidak boleh diganggu, Nak,” kata seorang tetua adat dengan suara serak. “Mereka adalah penjaga Toraja, sekaligus peringatan bagi yang lupa.” Kata-katanya menggantung di udara, dingin dan menusuk.

Beberapa hari kemudian, aku mulai menjelajahi Lakkian dan Liang, makam-makam tebing yang ikonik. Udara di sana terasa dingin, meskipun matahari bersinar terik. Aroma tanah basah dan melati layu menusuk hidung.

Saat memotret sebuah tau-tau kuno, aku merasa rambut di tengkukku berdiri. Sebuah bayangan putih melintas di ujung mataku, terlalu cepat untuk diidentifikasi. Aku berbalik, hanya menemukan kesunyian dan deru angin.

Malam itu, dalam kegelapan kamar penginapan, aku mendengar suara. Bukan bisikan angin lagi, tapi isakan pelan, seolah seorang wanita menangis. Suara itu berasal dari luar, namun terasa begitu dekat, seolah di ambang pintu.

Jantungku berdebar kencang. Aku mencoba rasionalisasi: kucing, hewan malam, imajinasi. Tapi isakan itu terlalu jelas, terlalu pilu, untuk diabaikan begitu saja. Aku memberanikan diri, mengintip dari balik tirai jendela.

Tidak ada siapa-siapa. Jalan setapak di depan penginapan sepi, diterangi cahaya rembulan. Namun, isakan itu masih terdengar, samar kini, seolah menjauh dan memudar ke dalam kabut malam. Aku merinding hebat.

Keesokan harinya, aku bertemu dengan Pak Lukas, seorang pemandu lokal yang berpengetahuan luas. Aku menceritakan pengalamanku, mencoba menjaga nada suaraku tetap skeptis. Namun, Pak Lukas hanya mengangguk pelan.

“Itu Puang Malandak,” katanya tanpa ragu. “Banyak yang pernah merasakannya. Dia bukan hantu jahat, tapi dia kesepian. Mencari sesuatu yang hilang.” Penjelasannya semakin membangkitkan rasa penasaranku.

Pak Lukas kemudian menceritakan legenda Puang Malandak. Konon, ia adalah seorang putri bangsawan di masa lalu, bernama Risa. Ia jatuh cinta pada seorang pemuda biasa, cinta yang tak direstui keluarganya.

Tragisnya, Risa dipaksa menikah dengan pria lain dari kasta yang lebih tinggi. Sebelum pernikahan itu terjadi, ia nekat mengakhiri hidupnya di dekat sebuah Tongkonan tua yang kini sudah runtuh, tepat di tepi jurang.

Rohnya diyakini tidak pernah menemukan kedamaian. Ia terus berkeliaran, mencari kekasihnya yang tak bisa ia miliki, atau mungkin, sekadar mencari keadilan atas nasibnya yang tragis. Ia sering terlihat memakai gaun putih pernikahannya.

Semakin aku mendengar, semakin aku tergelitik. Ini bukan hanya cerita hantu, ini adalah tragedi. Aku memutuskan untuk mencari lokasi Tongkonan tua yang disebutkan Pak Lukas, tempat di mana Risa mengakhiri hidupnya.

Pak Lukas awalnya enggan, namun kegigihanku meluluhkan hatinya. “Tapi jangan sendirian, Ardi,” pesannya. “Dan jangan pernah bicara padanya jika kau melihatnya. Hanya tatap, dan lewati.” Nasihatnya terdengar seperti mantra.

Perjalanan ke lokasi itu cukup menantang. Kami harus melewati jalan setapak licin dan semak belukar lebat. Udara semakin dingin, dan kabut tipis mulai turun, menyelimuti hutan seperti selimut misterius.

Akhirnya, kami tiba di sebuah tanah lapang yang dulunya berdiri Tongkonan. Hanya tersisa fondasi batu dan beberapa ukiran kayu lapuk. Suasana di sana sangat hening, seolah waktu berhenti berputar.

Aku mengeluarkan kameraku, mulai mengambil gambar. Tiba-tiba, kamera mati. Baterai penuh, namun layar gelap. Aku mencoba menyalakannya lagi, tetapi tidak ada respon. Rasa dingin menjalar di punggungku.

Pak Lukas menatapku dengan wajah serius. “Dia ada di sini,” bisiknya. “Kau harus merasakannya.” Aku menelan ludah, mencoba menenangkan detak jantungku yang berpacu kencang.

Lalu, aku melihatnya. Di kejauhan, di antara pepohonan yang diselimuti kabut, sebuah siluet putih samar mulai terbentuk. Tinggi, ramping, dengan rambut panjang tergerai yang menari-nari ditiup angin tak terlihat.

Dia perlahan melangkah maju, tanpa suara. Setiap langkahnya terasa seperti gema di dalam kepalaku. Wajahnya pucat pasi, matanya cekung namun memancarkan kesedihan yang mendalam. Ia mengenakan gaun putih usang, seperti gaun pengantin.

Aku terpaku, tidak bisa bergerak. Ketakutan melumpuhkanku. Ini bukan imajinasi, bukan trik cahaya. Ini nyata. Puang Malandak berdiri di hadapanku, sebuah entitas dari masa lalu yang kini hadir di masa kini.

Dia mendekat, satu langkah demi satu langkah. Aku bisa merasakan hawa dingin yang menusuk, jauh lebih dingin dari kabut di sekeliling kami. Aroma melati layu yang kini sangat kuat menusuk hidungku.

Matanya menatap lurus ke arahku, seolah menembus jiwaku. Aku bisa melihat kesedihan yang tak terhingga, kerinduan yang abadi, dan keputusasaan yang tak pernah terobati. Itu adalah tatapan yang akan menghantuiku selamanya.

Jarak kami kini hanya beberapa meter. Aku bisa melihat detail gaunnya yang robek, rambutnya yang kusut. Ia tidak tampak mengancam, namun kehadirannya begitu mencekam, begitu menyayat hati.

Pak Lukas menarik tanganku. “Jangan bicara,” bisiknya. “Kita harus pergi.” Dengan susah payah, aku memaksa kakiku untuk bergerak, mundur perlahan, tidak pernah melepaskan pandangan dari Puang Malandak.

Dia tidak bergerak, hanya berdiri di sana, menatap kami pergi. Tatapannya mengikuti kami hingga siluetnya kembali memudar dalam kabut, menyatu dengan pepohonan tua dan keheningan yang mencekam.

Perjalanan pulang terasa panjang dan dingin. Aku tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya memproses apa yang baru saja kualami. Skeptisisme hancur berkeping-keping, digantikan oleh kengerian dan keheranan.

Toraja memang menyimpan rahasia. Bukan hanya keindahan budayanya, tapi juga kisah-kisah tak kasat mata yang hidup di antara kita. Kisah-kisah yang menunggu untuk ditemukan, atau mungkin, yang tak ingin ditemukan.

Aku meninggalkan Toraja beberapa hari kemudian, dengan cerita yang jauh lebih dalam dari yang kubayangkan. Puang Malandak bukan lagi sekadar legenda bagiku. Dia adalah sebuah realitas, sebuah pengalaman yang mengubah cara pandangku.

Kadang, di malam hari, saat aku menulis, aku masih bisa merasakan hawa dingin yang menusuk. Aku masih bisa mencium aroma melati layu. Dan aku masih bisa melihat sepasang mata cekung yang memancarkan kesedihan abadi.

Apakah Puang Malandak masih berkeliaran di antara makam-makam kuno dan Tongkonan yang megah? Apakah dia masih mencari kekasihnya yang hilang, atau hanya menunggu, dalam kesepian, di tengah kabut Toraja?

Misteri itu tetap ada, abadi seperti legenda itu sendiri. Dan Toraja, dengan segala pesona dan kengeriannya, akan selalu menjadi tempat di mana batas antara dunia nyata dan dunia gaib menjadi begitu tipis, begitu samar, begitu menghantui.

Penampakan Hantu Wanita di Toraja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *