Penampakan Nyi Mas Gandasari di Sawah Setengah Hening
Udara di Telaga Hening selalu membawa bisikan. Bukan bisikan angin biasa, melainkan desau samar dari cerita-cerita lama. Di desa terpencil ini, yang nyaris terisolasi dari hiruk-pikuk kota, legenda berakar lebih dalam dari padi di sawah. Malam itu, Arifin merasakan getaran lain.
Ia seorang peneliti folklore, datang untuk mengumpulkan kisah-kisah lisan. Sawah di pinggir desa, yang penduduknya sebut "Sawah Setengah Hening," menjadi tempat favoritnya. Di sana, suara jangkrik dan embusan angin seperti orkestra gaib, namun selalu ada jeda aneh, keheningan yang tak wajar.
Arifin sering menghabiskan senja di pematang sawah itu. Mencatat, merenung, atau sekadar menikmati ketenangan. Ia percaya pada logika, pada apa yang bisa dijelaskan oleh nalar. Namun, Telaga Hening perlahan mengikis keyakinannya.
Malam itu, bulan sabit menggantung tipis di langit. Cahayanya samar, hanya cukup menerangi siluet pepohonan kelapa. Aroma tanah basah dan padi muda memenuhi udara, bercampur dengan sesuatu yang asing, wangi melati yang sangat kuat, namun anehnya, dingin.
Arifin menghentikan langkah. Aroma itu bukan dari bunga di sekitarnya. Terlalu pekat, terlalu memikat. Ia merasakan bulu kuduknya meremang, seolah ada mata yang mengawasinya dari kejauhan. Sebuah sensasi yang tak pernah ia alami sebelumnya.
Lalu, terdengar desiran. Bukan desiran angin pada padi, melainkan seperti helaan napas panjang. Sangat dekat, namun tak terlihat. Arifin memutar pandangan, mencari sumber suara, tetapi hanya gelap yang menyambutnya. Keheningan tiba-tiba menjadi mencekam.
Ia memutuskan untuk kembali, namun kakinya seolah terpaku. Sebuah bayangan samar melintas di antara barisan padi yang tinggi. Bukan bayangan manusia, lebih menyerupai kabut tipis yang bergerak anggun. Arifin mengedipkan mata, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya fatamorgana.
Namun, bayangan itu semakin jelas. Bukan kabut lagi, melainkan siluet seorang wanita. Berdiri tegak di tengah sawah, seolah mengambang di atas genangan air. Jantung Arifin berdegup kencang, memompa darah dingin ke seluruh tubuhnya. Ia merasakan ketakutan yang murni.
Wanita itu mengenakan kebaya klasik berwarna gelap, dengan selendang panjang yang menjuntai. Rambutnya terurai panjang, disanggul sederhana, memancarkan aura kuno. Ia tampak begitu nyata, namun sekaligus begitu tembus pandang, seperti lukisan yang ditiup angin.
Ini pasti Nyi Mas Gandasari, pikir Arifin. Legenda yang sering ia dengar dari penduduk desa. Roh penjaga sawah, penunggu yang muncul saat keseimbangan alam terganggu. Kisahnya selalu diwarnai tragedi, cinta tak sampai, dan janji yang tak terpenuhi.
Penduduk desa percaya, Nyi Mas Gandasari adalah putri seorang kepala desa di masa lampau. Ia menolak pinangan bangsawan kaya, memilih mencintai seorang pemuda petani miskin. Kisah mereka berakhir tragis, ia lenyap di sawah ini, dan arwahnya diyakini menjadi penjaga.
Arifin selalu menganggapnya sebagai mitos lokal yang menarik. Sebuah bumbu untuk penelitiannya. Kini, mitos itu berdiri di hadapannya, nyata dan membeku dalam waktu. Ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok misterius itu.
Wanita itu perlahan berbalik. Wajahnya samar, tertutup kegelapan. Namun Arifin bisa merasakan tatapannya, sebuah tatapan yang memancarkan kesedihan mendalam, dan juga sebuah peringatan. Selendangnya, yang kini tampak berwarna keemasan, berkibar pelan tanpa angin.
Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah gundukan tanah di kejauhan. Sebuah gundukan yang baru saja ditancapi patok-patok kayu. Patok-patok tanda proyek pembangunan perumahan yang rencananya akan mengalihfungsikan sebagian sawah.
Arifin teringat perdebatan di balai desa. Beberapa warga menolak, khawatir sawah itu adalah jantung kehidupan mereka. Namun, sebagian besar tergiur janji keuntungan dan modernisasi. Kini, isyarat Nyi Mas Gandasari terasa seperti pesan langsung.
Wanita itu kembali menghadap ke depan, ke arah hamparan padi. Lalu, seolah terbuat dari asap, ia perlahan menghilang. Menyatu dengan kabut tipis yang tiba-tiba muncul. Hanya wangi melati yang semakin kuat, dan keheningan yang lebih pekat, tertinggal di udara.
Arifin berdiri mematung, lututnya lemas. Ia tidak bisa lagi menyangkal apa yang dilihatnya. Nyi Mas Gandasari adalah nyata. Dan ia muncul karena suatu alasan penting. Sawah Setengah Hening ini menyembunyikan lebih dari sekadar legenda.
Keesokan harinya, Arifin menemui Mbah Rejo, sesepuh desa yang paling disegani. Ia menceritakan pengalamannya dengan hati-hati. Mbah Rejo hanya mengangguk pelan, tatapannya menerawang. "Nyi Mas Gandasari tak pernah muncul tanpa sebab, Nak," katanya lirih.
"Sawah ini adalah jantung desa," lanjut Mbah Rejo. "Darahnya adalah air yang mengalir. Jiwanya adalah padi yang tumbuh. Jika sawah ini sakit, desa ini akan sakit." Ia menatap Arifin dengan mata penuh makna. "Roh leluhur tidak akan tinggal diam jika rumahnya diusik."
Arifin semakin yakin. Penampakan itu adalah peringatan. Ia mulai mengumpulkan informasi tentang proyek pembangunan itu. Ternyata, ada kejanggalan dalam perizinannya, dan banyak warga yang dipaksa menjual tanah mereka dengan harga murah.
Beberapa malam berikutnya, Arifin kembali ke Sawah Setengah Hening. Ia merasa terpanggil, seolah Nyi Mas Gandasari ingin berbicara lagi dengannya. Kali ini, ia membawa kamera, berharap bisa menangkap bukti. Namun, ia tahu, roh tak bisa direkam lensa.
Pada malam ketiga, ia melihatnya lagi. Lebih jelas, lebih dekat. Nyi Mas Gandasari berdiri di tepian sawah, dekat sebuah pohon beringin tua. Wajahnya kini terlihat, meski samar. Cantik, namun dipenuhi kesedihan yang tak terhingga. Matanya memancarkan cahaya remang.
Ia tidak menunjuk lagi. Kali ini, ia hanya menatap Arifin, lalu perlahan menundukkan kepala. Sebuah isyarat keputusasaan, atau mungkin permohonan. Udara di sekitarnya terasa dingin, seolah ia membawa hawa dari dunia lain. Arifin merasakan empati yang dalam.
"Apa yang harus kulakukan?" bisik Arifin, suaranya tercekat. Nyi Mas Gandasari tidak menjawab, tentu saja. Ia hanya memancarkan aura melankolis yang semakin kuat. Kemudian, perlahan, sosoknya kembali memudar, seiring dengan wangi melati yang menguap.
Arifin tahu ia harus bertindak. Ia menulis artikel tentang kejanggalan proyek pembangunan itu, menyertakan kisah Nyi Mas Gandasari sebagai peringatan. Ia mempublikasikannya di blog pribadinya dan mengirimkannya ke beberapa media lokal.
Tentu saja, banyak yang skeptis. Beberapa menganggapnya gila, terpengaruh takhayul. Namun, kisah Nyi Mas Gandasari mulai menyebar, menyentuh hati penduduk Telaga Hening. Kisah itu membangkitkan kembali rasa hormat mereka terhadap sawah dan leluhur.
Kejadian aneh mulai terjadi di lokasi proyek. Alat berat mogok tanpa sebab. Pekerja mengalami demam misterius. Ada yang mengaku mendengar tangisan wanita di malam hari. Ketakutan mulai merayap, bahkan di kalangan para pengembang.
Pada akhirnya, proyek itu ditunda, lalu dibatalkan. Bukan hanya karena artikel Arifin, tetapi juga karena serangkaian peristiwa tak masuk akal yang mengiringinya. Penduduk desa bernapas lega. Sawah Setengah Hening kembali tenang, namun dengan makna yang lebih dalam.
Arifin tidak pernah lagi melihat Nyi Mas Gandasari sejelas itu. Kadang, di senja hari, ia masih mencium wangi melati yang samar. Kadang, ia merasa seperti ada yang mengawasinya dari balik rimbun padi. Sebuah kehadiran yang menenangkan, sekaligus misterius.
Ia tahu, Nyi Mas Gandasari masih di sana. Menjaga Sawah Setengah Hening, memastikan keseimbangan alam tetap terjaga. Kisahnya menjadi lebih dari sekadar legenda; itu adalah pengingat abadi akan ikatan antara manusia dan tanah.
Dan Arifin, si peneliti skeptis, kini menjadi penjaga cerita. Ia mengerti bahwa ada hal-hal di dunia ini yang melampaui logika. Di balik keheningan sawah, bersemayam sebuah misteri abadi, dan seorang penjaga abadi, Nyi Mas Gandasari.





