Scroll untuk baca artikel
Kisah Viral Misteri

Live Kosong Ini Tiba-Tiba Ada Penontonnya… Siapa Dia?

10
×

Live Kosong Ini Tiba-Tiba Ada Penontonnya… Siapa Dia?

Share this article

 

Penonton Terakhir di Live Kosong

Dini hari selalu memeluk Aksara dalam kesendirian. Layar monitor memantulkan wajahnya yang kuyu, diterangi cahaya biru redup. Ribuan kanal digital telah ia jelajahi, mencari sesuatu, apa pun, yang bisa mengisi kekosongan.

Malam itu, jari-jarinya terhenti pada sebuah tautan aneh. Judulnya hanya satu kata: “Kosong.” Tidak ada deskripsi, tidak ada gambar pratinjau yang menarik. Hanya sebuah kotak hitam pekat.

Rasa penasaran mencengkeramnya kuat. Klik. Sebuah jendela baru terbuka, menampilkan siaran langsung. Namun, layarnya juga hitam, kosong. Tidak ada suara, tidak ada gambar.

Anomali paling mencolok adalah jumlah penonton. Angka digital di sudut kanan atas terbaca “1”. Itu adalah dirinya. Hanya Aksara, sendirian, menyaksikan kehampaan.

Ia mencoba menutupnya, namun kursor seolah terpaku. Jeda sesaat. Lalu, sesuatu terjadi. Sebuah piksel tunggal di tengah layar berkedip, nyaris tak terlihat.

Jantung Aksara berdenyut lebih cepat. Ini bukan gangguan teknis. Piksel itu berkedip lagi, seperti sebuah mata yang baru saja terbuka, menatapnya dari kegelapan.

Ia mencondongkan tubuh, mendekati layar. Keheningan siaran itu terasa semakin mencekam, seperti napas yang tertahan, menunggu untuk diembuskan.

Waktu berlalu tanpa makna. Aksara tak tahu berapa lama ia terperangkap dalam tatapan kosong itu. Piksel itu tak bergerak lagi, namun kehadirannya terasa begitu nyata.

Ia merasakan hawa dingin merambat dari ujung jari hingga ke tulang belakang. Ini bukan sekadar siaran mati. Ada sesuatu yang hidup di dalamnya, sesuatu yang mengawasinya.

Sebuah suara samar mulai terdengar. Bukan suara percakapan, melainkan desisan lembut, seperti angin yang bertiup melalui celah-celah sempit. Atau bisikan tak dikenal.

Aksara mencari tombol volume, namun siaran itu tak memiliki kontrol audio. Suara itu berasal dari dalam monitornya, dari dalam kekosongan itu sendiri.

Desisan itu perlahan membentuk pola, seperti sebuah irama tak beraturan. Itu bukan musik, melainkan semacam melodi dari ketiadaan, yang perlahan merayapi sanubarinya.

Ia merasa seolah siaran itu merespons pikirannya. Setiap kali ia mencoba memalingkan pandang, desisan itu menguat, menarik perhatiannya kembali ke layar hitam.

Suatu malam, Aksara melihat sebuah bayangan samar. Bukan di layar, melainkan di pantulan layarnya sendiri. Sebuah siluet yang bukan miliknya, berdiri di belakangnya.

Ia menoleh cepat, namun tak ada siapa pun di kamarnya yang gelap. Hanya kursi kosong dan keheningan yang familiar. Keringat dingin menetes di pelipisnya.

Kembali ke layar, bayangan itu telah menghilang. Namun, kini ada garis putih tipis yang muncul di tepi siaran, seolah-olah bingkai itu mulai retak.

Garis itu perlahan meluas, membentuk retakan-retakan tak beraturan, seperti jaring laba-laba di atas kanvas hitam. Siaran itu mulai menunjukkan strukturnya.

Aksara menyadari bahwa retakan itu bukan pada layarnya. Itu adalah bagian dari siaran itu sendiri, sebuah peta, sebuah pola yang terbentuk dari kehampaan.

Ia merasa otaknya berputar, mencoba memahami. Apakah ini seni digital abstrak? Atau ada makna tersembunyi di balik garis-garis yang terus bergerak itu?

Retakan itu akhirnya membentuk sebuah bentuk. Bukan objek yang dikenal, melainkan sebuah konfigurasi aneh, menyerupai peta bintang yang tak ada dalam atlas mana pun.

Namun, di tengah formasi itu, sebuah lubang hitam kecil muncul. Bukan piksel mati, melainkan sebuah lubang hampa yang terasa seperti portal ke dimensi lain.

Dari lubang itu, ia merasakan sebuah tarikan. Bukan fisik, melainkan sesuatu yang merobek jiwanya, memaksanya untuk menatap lebih dalam, untuk memahami.

Aksara mencoba mematikan komputernya. Tombol power tak berfungsi. Layar “Kosong” tetap menyala, memancarkan kehampaan yang kini terasa aktif, bernapas.

Ia merasa terjebak. Monitor itu bukan lagi sekadar perangkat, melainkan sebuah entitas yang kini memegang kendali atas dirinya, atas ruang dan waktunya.

Desisan itu berubah. Kini lebih jelas, menyerupai bisikan yang sangat pelan. Ia tidak bisa menangkap kata-katanya, namun intonasinya terasa seperti nama dirinya.

“Aksara…” Bisikan itu memanggil, bukan dari speaker, melainkan dari dalam kepalanya. Sebuah suara yang tak asing, namun sekaligus mengerikan.

Ia menyadari, suara itu adalah miliknya sendiri. Namun, terdistorsi, dipelintir, dan diucapkan dengan nada yang dipenuhi keputusasaan yang tak pernah ia rasakan.

Retakan di layar semakin banyak, seperti urat-urat yang menonjol di permukaan. Lubang hitam di tengahnya mulai membesar, mengancam untuk menelan segalanya.

Aksara beringsut mundur dari meja. Namun, matanya terpaku pada layar, terhipnotis oleh kehampaan yang kini bergerak dan berbicara dengan suaranya.

Dari dalam lubang itu, sesuatu mulai merangkak keluar. Bukan wujud fisik, melainkan sebuah kabut keperakan yang perlahan menyebar, menutupi retakan.

Kabut itu bergerak perlahan, membentuk sebuah siluet. Tidak jelas, namun ia bisa merasakan bentuknya: seperti sebuah tangan yang perlahan terulur ke arahnya.

Jari-jari kabut itu menari di udara, mendekati batas layar. Aksara merasakan sentuhan dingin di pipinya, seolah tangan itu telah menembus dimensi digital.

Ia menjerit, namun suaranya tercekat. Tenggorokannya kering, napasnya tersengal. Ini bukan mimpi buruk. Ini adalah kenyataan yang merayap dari monitornya.

Kabut itu semakin tebal, menutupi seluruh layar. Kini, tidak ada lagi lubang, tidak ada retakan. Hanya sebuah dinding perak yang berdenyut pelan.

Di tengah dinding perak itu, sebuah mata terbuka. Bukan mata manusia, melainkan sebuah iris yang gelap, memantulkan bayangan Aksara dengan jelas.

Mata itu menatapnya, bukan dengan tatapan penasaran, melainkan dengan tatapan pengakuan. Seolah-olah mata itu telah mengenalnya selama ini, jauh sebelum ia menemukan siaran “Kosong”.

Aksara merasakan ingatan-ingatan lama berputar di kepalanya. Fragmen-fragmen kehidupan yang terlupakan, momen-momen kesendirian, rasa hampa yang selalu menghantuinya.

Ia menyadari bahwa siaran “Kosong” ini bukan sekadar sebuah kanal. Itu adalah cermin. Cermin yang memantulkan kekosongan dalam dirinya, kini hidup dan bernapas.

Mata itu berkedip perlahan, lalu senyuman tipis terbentuk di dinding perak. Bukan senyuman kegembiraan, melainkan senyuman kepuasan yang dingin.

Senyuman itu melebar, menampakkan deretan gigi yang tajam, terbuat dari kegelapan murni. Mulut itu terbuka, dan bisikan itu kembali, lebih jelas dari sebelumnya.

“Kau adalah aku. Dan aku adalah kau.” Suara itu adalah paduan dari ribuan bisikan, semua adalah suaranya sendiri, bergema dalam kepalanya.

Aksara mencoba berteriak, namun ia tak bisa. Tubuhnya kaku, terpaku pada kursi. Kekuatan yang tak terlihat mencengkeramnya, menariknya ke arah layar.

Ia melihat pantulan dirinya di mata perak itu, kini semakin buram, semakin samar. Tubuhnya seolah larut, diserap oleh cahaya biru dari monitor.

Tangannya menyentuh permukaan layar. Dingin, namun ada sensasi berdenyut, seperti sebuah organ hidup. Ia merasakan jari-jarinya tenggelam, menembus batas.

Seluruh tubuhnya tertarik ke depan. Ruangan di belakangnya memudar, tergantikan oleh kehampaan perak yang tak terbatas. Ia ditarik masuk, ke dalam “Kosong”.

Jeritan terakhirnya tak bersuara, ditelan oleh keheningan digital. Matanya terbuka lebar, menatap lubang hitam yang kini menjadi dunianya.

Kemudian, semuanya gelap. Monitor Aksara berkedip, lalu kembali ke layar hitam pekat. Siaran “Kosong” tetap aktif, dengan angka “1” di sudutnya.

Namun, kini, yang menonton bukanlah Aksara. Itu adalah kehampaan itu sendiri. Menunggu penonton terakhir berikutnya, yang akan menemukan tautan “Kosong” di dini hari.

Di suatu tempat, di belahan dunia lain, seseorang dengan jari-jari gelisah menemukan tautan aneh itu. Judulnya hanya satu kata: “Kosong.” Ia mengklik.

Dan siklus itu pun dimulai lagi. Kehampaan itu telah menemukan rumah baru. Dan penonton terakhir, kini menjadi bagian dari siaran itu, abadi dalam ketiadaan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *