Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Kursi 45B Selalu Dipesan, Tapi Tak Pernah Ada yang Naik — Apa yang Sebenarnya Terjadi?

10
×

Kursi 45B Selalu Dipesan, Tapi Tak Pernah Ada yang Naik — Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Share this article

Kursi 45B Selalu Dipesan, Tapi Tak Pernah Ada yang Naik — Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Penumpang Kursi 45B: Bisikan Malam di Ketinggian Tiga Puluh Ribu Kaki

Anya, seorang pramugari senior, telah terbiasa dengan rutinitas penerbangan malam. Deru mesin yang konstan, aroma kopi yang mengepul, dan wajah-wajah lelah para penumpang adalah bagian dari kehidupannya. Namun, penerbangan MH377 tujuan London malam itu terasa berbeda, diselimuti aura aneh yang tak bisa ia jelaskan.

Jam menunjukkan pukul 23:00, pesawat baru saja mencapai ketinggian jelajah. Anya melakukan pemeriksaan terakhir sebelum layanan makan dimulai. Ia menyusuri lorong, mata jeli mengamati setiap wajah, memastikan semua penumpang nyaman dan aman.

Langkahnya terhenti di baris 45. Kursi 45A diduduki seorang wanita paruh baya yang tertidur pulas. Namun, saat tatapannya jatuh ke kursi 45B, denyut jantung Anya berpacu tak keruan.

Menurut manifes penerbangan, kursi 45B seharusnya diisi oleh Nyonya Kartika Harjanto, seorang wanita berusia 60-an tahun. Namanya tercetak jelas di tiket yang ia periksa saat boarding. Namun, yang kini duduk di sana bukanlah Nyonya Kartika.

Seorang pria muda, mungkin awal tiga puluhan, duduk tegak di kursi itu. Rambutnya tersisir rapi, setelan jasnya tanpa cela, dan wajahnya datar tanpa ekspresi. Ia tidak membaca, tidak tidur, hanya menatap lurus ke depan seolah terpaku pada sesuatu yang tak terlihat.

Anya merasakan gelombang dingin merayapi punggungnya. Ada sesuatu yang sangat tidak tepat di sana. Pria itu tampak terlalu sempurna, terlalu tenang, seolah ia adalah patung lilin yang baru saja diletakkan.

Dengan profesionalisme yang terlatih, Anya mendekat. “Permisi, Tuan. Apakah Anda memerlukan sesuatu?” suaranya lembut, namun penuh pertanyaan yang tak terucap. Pria itu menoleh perlahan, matanya yang gelap menatap Anya.

Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibirnya. “Tidak, terima kasih, Nona. Saya baik-baik saja,” jawabnya. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan, namun terdengar sangat jelas di tengah dengung mesin pesawat.

Anya menyadari sesuatu: suara itu. Terlalu halus, terlalu… tidak nyata. Ia mencoba mengintip kartu boarding pass yang terjepit di kantung kursi di depannya. Matanya membelalak. Nama yang tercetak di sana adalah: KARTIKA HARJANTO.

Pria itu seolah tahu apa yang dilihat Anya. Senyumnya sedikit melebar, menampilkan deretan gigi yang terlalu putih. Anya merasakan udara di sekitarnya menipis, seolah ada beban tak kasat mata yang menekan.

“Maaf, Tuan,” Anya mencoba lagi, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. “Saya hanya memastikan semua penumpang berada di kursi yang benar.” Ia menunjuk ke kartu boarding pass itu. “Ini atas nama Nyonya Kartika Harjanto.”

Pria itu mengangguk pelan. “Benar. Itu adalah tiket saya,” katanya, nadanya datar. “Nyonya Kartika Harjanto adalah… saya.” Matanya berkilat aneh, seperti pantulan cahaya dari sebuah rahasia gelap.

Anya mundur selangkah. Mustahil. Nyonya Kartika adalah seorang wanita tua yang rapuh. Pria ini adalah kebalikannya: muda, tegap, dan penuh aura misterius yang mengancam. Otaknya berputar cepat mencari penjelasan.

Ia tahu harus memeriksa manifes lagi, mencari nama pria ini, atau setidaknya mencari Nyonya Kartika di kursi lain. Namun, ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang menahannya, seolah ia memperingatkan Anya untuk tidak mengorek terlalu dalam.

Anya melanjutkan layanan makan, namun pikirannya terus tertuju pada kursi 45B. Setiap kali ia melewati baris itu, ia merasakan tatapan pria itu mengikutinya, dingin dan tanpa emosi. Ia mencoba mencari kapten atau pramugari senior lainnya, namun mereka semua sibuk.

Saat ia menuangkan air untuk penumpang di baris 44, ia melirik lagi ke 45B. Pria itu masih di sana, dalam posisi yang sama persis. Namun, kali ini, Anya melihat sesuatu yang berbeda.

Sebuah bros perak kuno, berukir motif bunga melati, tersangkut di kerah jasnya. Bros itu tampak usang, peninggalan masa lalu, sama sekali tidak cocok dengan setelan modern yang ia kenakan.

Anya ingat. Bros itu. Nyonya Kartika Harjanto saat boarding tadi mengenakan bros serupa di blus batiknya. Sebuah bros unik, warisan keluarga, yang sempat ia puji saat Nyonya Kartika menunjukkan tiketnya.

Jantung Anya berdegup kencang. Ini bukan sekadar kesalahan penempatan kursi. Ada sesuatu yang mengerikan sedang terjadi. Apakah pria itu menyakiti Nyonya Kartika? Mengapa ia memiliki bros itu?

Ketakutan mulai menyelimuti akal sehat Anya. Ia harus bertindak. Dengan tangan gemetar, ia mengambil nampan makanan terakhir dan berjalan kembali menuju galai. Ia bertekad untuk memberitahu kapten tentang keanehan ini, tidak peduli seberapa gila kedengarannya.

Namun, saat ia melewati baris 45 lagi, ia melihat pria itu tersenyum padanya. Bukan senyum tipis seperti sebelumnya, melainkan senyum lebar yang memamerkan gigi-gigi putihnya. Dan kali ini, senyum itu terasa dingin, membeku, dan sangat menakutkan.

Matanya, yang sebelumnya tenang, kini memancarkan kilatan aneh. Seolah ia bukan manusia, melainkan sesuatu yang lain, sesuatu yang tak seharusnya ada di dalam pesawat ini. Anya mempercepat langkahnya, keringat dingin membasahi pelipis.

Ia tiba di galai belakang, napasnya tersengal. Pramugari senior, Devi, menatapnya khawatir. “Anya, ada apa? Kau terlihat pucat sekali.”

“Devi, aku… aku harus bicara dengan Kapten,” bisik Anya, suaranya tercekat. “Ini tentang penumpang di 45B.”

Belum sempat Devi menjawab, pesawat tiba-tiba terguncang hebat. Guncangan udara yang kuat membuat semua orang terhuyung. Lampu-lampu kabin berkedip-kedip, menciptakan bayangan aneh di lorong. Barang-barang di troli makan berjatuhan dengan suara berisik.

“Turbulensi!” teriak Kapten melalui interkom. “Mohon tetap di kursi Anda dan kencangkan sabuk pengaman!”

Anya berpegangan erat pada dinding galai. Guncangan itu berlangsung beberapa detik, terasa seperti keabadian. Ketika pesawat kembali stabil, ia segera menoleh ke arah baris 45.

Kursi 45B.

Kursi itu kini kosong.

Benar-benar kosong. Tidak ada pria muda, tidak ada jejak Nyonya Kartika. Hanya bantal dan selimut yang terlipat rapi, seolah tidak pernah diduduki siapa pun.

Anya berlari ke depan, mengabaikan teriakan Devi di belakangnya. Ia tiba di baris 45, menatap tak percaya ke kursi kosong itu. Ia menyentuh sandaran kursi, berharap menemukan sisa kehangatan atau jejak apa pun.

Tidak ada.

Lalu matanya menangkap sesuatu. Di antara celah sandaran kursi dan bantalan, tergeletak sebuah benda kecil yang berkilauan. Sebuah bros perak kuno, berukir motif bunga melati. Bros milik Nyonya Kartika Harjanto.

Anya mengambilnya, tangannya gemetar hebat. Bros itu terasa dingin, seolah menyerap seluruh kehangatan dari sekitarnya. Ini adalah satu-satunya bukti bahwa pria itu, atau apa pun dia, pernah ada di sana.

Ketika pesawat mendarat di Heathrow, Anya segera melaporkan kejadian ini kepada Kapten. Kapten dan tim keamanan memeriksa kursi 45B dengan saksama. Mereka memeriksa manifest lagi, menghubungi maskapai di bandara asal.

Hasilnya membuat bulu kuduk Anya merinding. Nyonya Kartika Harjanto memang terdaftar untuk penerbangan MH377, kursi 45B. Namun, ia tidak pernah melakukan boarding. Rekaman CCTV di gerbang keberangkatan tidak menunjukkan Nyonya Kartika melewati pintu.

Tidak ada pria muda dengan ciri-ciri yang disebutkan Anya dalam daftar penumpang. Tidak ada jejak mereka berdua di pesawat selain bros tua yang kini tergeletak di meja penyelidikan.

Penyelidikan dilakukan berhari-hari, namun tidak ada jawaban. Maskapai menyatakan itu adalah “insiden yang tidak dapat dijelaskan.” Kapten dan kru lainnya mencoba meyakinkan Anya bahwa ia mungkin terlalu lelah, berhalusinasi.

Namun, Anya tahu apa yang ia lihat. Ia tahu apa yang ia rasakan. Pria di kursi 45B, senyum dinginnya, bros kuno itu, dan bisikan suaranya yang halus. Itu semua terlalu nyata.

Hingga kini, bertahun-tahun kemudian, Anya masih sering terbang. Namun, setiap kali ia melihat nomor kursi 45B, ia merasakan dingin menusuk tulang. Ia tidak tahu siapa pria itu, atau mengapa ia duduk di kursi Nyonya Kartika. Ia hanya tahu bahwa ada misteri di ketinggian tiga puluh ribu kaki yang tak akan pernah terpecahkan. Dan terkadang, di tengah malam yang sunyi, ia merasa tatapan dingin itu masih mengikutinya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *