Scroll untuk baca artikel
Cerita Profesi

Pesawat Belum Mendarat, Tapi Kursi Ini Tiba-Tiba Kosong… Siapa Penumpangnya?

10
×

Pesawat Belum Mendarat, Tapi Kursi Ini Tiba-Tiba Kosong… Siapa Penumpangnya?

Share this article

Misteri Kursi Kosong Penerbangan 713: Penumpang yang Turun Sebelum Mendarat

Langit malam membentang kelam di luar jendela, dihiasi ribuan bintang yang seolah memata-matai. Di dalam kabin pesawat Boeing 737 Penerbangan 713 tujuan Surabaya, suasana mulai lengang. Lampu kabin diredupkan, dan desiran mesin menjadi melodi pengantar tidur.

Ardi, seorang jurnalis lepas yang sedang dalam perjalanan dinas, mencoba memejamkan mata. Namun, kegelisahan aneh mencengkeramnya. Ia melirik ke kursi di seberangnya, tempat seorang pria tua duduk tegak sejak awal penerbangan.

Pria itu berambut putih rapi, mengenakan setelan cokelat kuno, dan memegang tas kulit usang di pangkuannya. Wajahnya tenang, seolah tak terpengaruh oleh turbulensi sesekali. Ardi mengagumi ketenangannya yang tak biasa.

Tiba-tiba, sebuah keanehan mengusik penglihatan Ardi. Saat pesawat mulai menurunkan ketinggian, dengan suara roda gigi yang khas, ia melihatnya. Sosok pria tua itu, Pak Wijoyo, mulai terlihat samar.

Bukan karena kantuk atau ilusi, tapi seolah tubuhnya perlahan kehilangan kepadatan. Cahaya remang dari lampu darurat memantul aneh, menciptakan bayangan yang menipu mata. Jantung Ardi berdegup kencang.

Dalam hitungan detik, Ardi bersumpah melihat Pak Wijoyo berdiri. Ia tidak membuka sabuk pengaman, tidak ada gerakan tangan, hanya bangkit. Seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata ke arah jendela pesawat.

Ardi ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak tak percaya. Ia melihat Pak Wijoyo, sosoknya yang memudar, seolah melangkah menembus dinding kabin.

Sebuah riak tipis di udara, seperti tetesan air yang jatuh ke permukaan tenang. Lalu, ia lenyap. Kursi di seberang Ardi kini kosong melompong, tas kulit usang itu pun tak ada.

Keringat dingin membasahi punggung Ardi. Ia mengucek mata, berharap itu hanya mimpi buruk. Namun, kenyataan pahit tetap terpampang: kursi di seberangnya benar-benar kosong.

Beberapa menit kemudian, roda pesawat menyentuh landasan dengan guncangan halus. Lampu kabin menyala terang, dan suara pengumuman mendarat menggema. Ardi segera memanggil pramugari.

“Maaf, Bu… penumpang di kursi 12A… dia…” Ardi menunjuk dengan tangan gemetar. Pramugari muda bernama Sarah mengerutkan kening, bingung dengan gelagatnya.

Sarah menoleh ke kursi 12A yang kosong. “Ada apa, Pak? Kursi itu memang kosong dari awal.” Suaranya terdengar normal, namun mata Ardi menangkap sedikit keraguan di sana.

“Tidak! Dia ada di sana! Seorang pria tua… Pak Wijoyo! Dia menghilang sebelum kita mendarat!” Ardi menuntut, suaranya naik beberapa oktaf. Pramugari Sarah tampak terkejut.

“Pak, tolong tenang. Semua penumpang tercatat di daftar manifest. Tidak mungkin ada yang menghilang begitu saja,” ujar Sarah, mencoba menenangkan. Namun, keraguan di matanya semakin kentara.

Petugas keamanan bandara segera naik ke pesawat setelah semua penumpang turun. Ardi diminta untuk memberikan keterangan, sementara kursi 12A diperiksa dengan cermat. Tidak ada jejak.

Manifest penerbangan diperiksa ulang. Nama “Wijoyo, B.” dengan nomor kursi 12A memang tertera jelas. Bahkan, tanda centang di sebelahnya menunjukkan bahwa ia sudah check-in dan naik.

“Tapi dia tidak ada di sini, Pak. Tidak ada yang turun dari kursi itu,” kata seorang petugas, bingung. CCTV di jembatan garbarata hanya merekam penumpang yang turun satu per satu, tanpa anomali.

Ardi merasa seperti orang gila. Bagaimana mungkin ia melihat sesuatu yang begitu nyata, namun tak ada bukti fisiknya? Misteri ini menggerogoti pikirannya.

Ia tidak bisa tidur malam itu. Bayangan Pak Wijoyo yang memudar terus menghantuinya. Ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika.

Keesokan harinya, Ardi memutuskan untuk menyelidiki sendiri. Ia melacak alamat Pak Wijoyo yang tertera di manifest: sebuah desa terpencil di kaki Gunung Merapi, Jawa Tengah.

Perjalanan itu panjang dan melelahkan. Desa itu tersembunyi di balik perbukitan hijau, dikelilingi kabut tipis yang seolah menyembunyikan rahasia. Suasana terasa kuno dan mistis.

Ardi bertemu dengan kepala desa yang tua, dengan sorot mata bijaksana. Ketika Ardi menyebut nama Wijoyo, kepala desa itu menghela napas panjang, seolah menunggu kedatangannya.

“Wijoyo… dia bukan sembarang orang, Nak,” ujar kepala desa, suaranya serak. “Dia adalah penjaga. Penjaga batas antara dunia kita dan yang lain.”

Ardi menegang. “Apa maksud Bapak? Saya melihatnya menghilang dari pesawat, sebelum mendarat.” Kepala desa mengangguk pelan, seolah kejadian itu adalah hal biasa.

“Rohnya terikat pada tanah leluhurnya ini. Ketika tanah memanggil, ia harus kembali. Apapun caranya, di manapun ia berada,” jelas kepala desa, menatap kosong ke kejauhan.

“Pesawat itu… itu hanya kendaraan. Tubuhnya mungkin ada di sana, tapi jiwanya… jiwanya sudah kembali ke sini, saat ia merasakan panggilan tanah.”

Ardi merasa seluruh darahnya membeku. Ini bukan cerita hantu, ini adalah legenda hidup yang diyakini oleh masyarakat setempat. Pak Wijoyo adalah entitas yang lebih dari sekadar penumpang.

“Sudah terjadi berkali-kali,” lanjut kepala desa. “Setiap generasi, akan ada Wijoyo yang menjaga. Dan ketika waktunya tiba, ia akan kembali ke sini, tak peduli di mana tubuhnya berada.”

Kepala desa mengatakan bahwa biasanya, tubuh “Wijoyo” yang lama akan ditemukan di tempat yang jauh, tanpa penjelasan. Seolah ia telah menyelesaikan tugas terakhirnya.

Ardi kembali ke kota dengan kepala penuh pertanyaan. Kisah kepala desa itu terlalu absurd untuk dicerna akal sehat, namun Ardi telah menyaksikan buktinya sendiri.

Pihak maskapai menutup kasus ini sebagai “kesalahan manifest” atau “halusinasi penumpang”. Ardi tahu mereka tidak akan pernah menerima cerita sebenarnya.

Ia menulis artikel, namun dengan versi yang disensor. Ia tidak bisa menceritakan kebenaran yang mengerikan tentang penumpang yang turun sebelum mendarat. Dunia belum siap untuk itu.

Setiap kali Ardi naik pesawat, ia selalu melirik kursi kosong di sebelahnya. Bisikan angin di ketinggian seolah membawa pesan dari dunia lain, tentang batas-batas yang tipis.

Misteri Pak Wijoyo tetap menjadi rahasia pribadinya, sebuah bayangan yang menakutkan di balik setiap penerbangan. Ia tahu, di suatu tempat, di antara awan, ada lebih banyak hal yang tersembunyi.

Dan entah di penerbangan mana, kapan pun itu, mungkin saja ada seorang “Wijoyo” lain yang sedang dalam perjalanan pulang. Menunggu panggilan tanah, untuk menghilang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *