Scroll untuk baca artikel
DIY

Gunung Merapi Menyimpan Rahasia — Dan Aku Hampir Jadi Korbannya

9
×

Gunung Merapi Menyimpan Rahasia — Dan Aku Hampir Jadi Korbannya

Share this article

Gunung Merapi Menyimpan Rahasia — Dan Aku Hampir Jadi Korbannya

Penunggu Merapi yang Mengintai: Bisikan Rimba, Bayangan Kuno

Merapi, gunung berapi paling aktif di Jawa. Ia adalah simbol kekuatan alam. Keagungan dan kengeriannya menyatu.

Bagi penduduk sekitar, Merapi bukan sekadar gundukan tanah. Ia adalah entitas hidup. Penjaga rahasia abadi.

Legenda tentang Penunggu Merapi telah lama beredar. Sosok tak kasat mata, penjaga kawah suci. Konon, ia mengintai setiap gerak-gerik.

Bisikan angin di lerengnya membawa kisah. Tentang mereka yang berani melampaui batas. Lalu tak pernah kembali.

Dr. Ardan, seorang vulkanolog muda, skeptis. Ilmu pengetahuan adalah pedomannya. Ia percaya pada data, bukan dongeng.

Timnya, Sari si etnografer dan Bima si pemandu lokal, memiliki pandangan berbeda. Mereka menghormati kearifan lokal.

Sebuah anomali seismik baru-baru ini terjadi. Bukan erupsi besar. Hanya getaran aneh, lebih dari biasanya.

Ardan melihatnya sebagai peluang riset. Kesempatan memahami Merapi lebih dalam. Ia tak tahu, Merapi akan memahami dirinya.

Ekspedisi dimulai saat fajar menyingsing. Kabut tipis menyelimuti punggung gunung. Udara dingin menusuk tulang.

Langkah kaki mereka membelah hutan pinus. Aroma tanah basah dan belerang samar tercium. Keheningan yang mencekam.

Bima memimpin jalan. Matanya tajam mengawasi. Ia tahu setiap jengkal Merapi. Dan juga apa yang tersembunyi.

Sari sesekali berhenti. Mendengarkan bisikan tak kasat mata. Hatinya merasakan sesuatu yang aneh.

“Ada yang berbeda, Dok,” bisik Sari. “Merapi seperti sedang mengamati kita.” Ardan tersenyum, menganggapnya firasat biasa.

Alat-alat mereka mulai menunjukkan keanehan. GPS sesekali error. Kompas berputar tak menentu. Sinyal radio menghilang.

Ardan mengira itu gangguan magnetik biasa. Pengaruh aktivitas gunung berapi. Ia mencoba rasionalisasi setiap kejadian.

Namun, perasaan diawasi semakin kuat. Bulu kuduk Ardan merinding. Padahal ia tak percaya hal-hal mistis.

Mereka mencapai posko kedua. Sebuah pondok kecil, kosong melompong. Dulu sering digunakan pendaki.

Di dinding pondok, ada coretan kuno. Simbol-simbol tak dikenal. Sari mengatakan itu adalah peringatan.

“Ini tulisan para tetua,” jelas Sari. “Tentang area terlarang. Di mana batas dunia kita menipis.”

Malam tiba dengan cepat. Dinginnya menusuk hingga ke tulang. Api unggun mereka menari-nari, mengusir kegelapan.

Suara-suara aneh mulai terdengar. Desir angin yang bukan angin. Bisikan samar tanpa sumber.

Bima menggumamkan doa-doa. Wajahnya tegang. Ia tahu ini bukan suara binatang malam.

Ardan mencoba merekam suara. Namun alatnya tak berfungsi. Hanya suara statis yang terekam.

Ia merasa ada bayangan melintas. Di antara pepohonan yang gelap. Sekilas, lalu lenyap.

Ketegangan mencengkeram. Tidur malam itu tak nyenyak. Mimpi buruk menghantui Ardan.

Ia melihat sosok tinggi, diselimuti asap. Matanya menyala seperti bara. Memandangnya tanpa ekspresi.

Pagi harinya, Ardan bangun dengan gelisah. Kepalanya terasa berat. Ia tak menceritakan mimpinya.

Mereka melanjutkan perjalanan. Memasuki area yang lebih tinggi. Vegetasi semakin menipis.

Bima mendadak berhenti. Menunjuk ke tanah. Ada jejak kaki yang aneh.

Bukan jejak manusia atau hewan. Ukurannya besar. Bentuknya tak lazim. Seolah cap kaki tanpa jari.

“Ini bukan jejak biasa,” kata Bima. “Jejak para penjaga. Kita terlalu jauh.”

Ardan memeriksanya. Bingung. Tak ada penjelasan ilmiah yang pas. Ia mengambil foto.

Udara menjadi lebih berat. Aroma belerang semakin kuat. Kabut tebal tiba-tiba turun.

Pandangan terbatas. Mereka berjalan perlahan. Merasa terisolasi dari dunia luar.

Sari merasakan hawa dingin menusuk. Bukan dingin suhu. Tapi dingin yang menggerogoti jiwa.

“Rasakan, Dok?” bisik Sari. “Ada sesuatu di sekitar kita. Sangat dekat.”

Tiba-tiba, suara langkah terdengar. Bukan langkah mereka. Lebih berat. Lebih lambat.

Berjalan di antara kabut. Mengelilingi mereka. Tak terlihat, namun terasa kehadirannya.

Ardan meraih senternya. Menyorot ke segala arah. Hanya kabut putih pekat.

Jantungnya berdebar kencang. Naluri ilmiahnya berteriak. Namun akal sehatnya membeku.

“Siapa di sana?” teriak Ardan. Suaranya bergema hampa. Lalu ditelan keheningan.

Langkah itu berhenti. Tepat di dekat mereka. Udara terasa berat, menekan.

Sari menggenggam tangan Bima erat. Wajahnya pucat pasi. Ia merasakan kekuatan kuno.

Ardan merasakan napasnya tertahan. Ia merasakan hembusan udara dingin di tengkuknya. Seolah ada yang berdiri tepat di belakang.

Ia berbalik dengan cepat. Tak ada siapa-siapa. Hanya kabut yang bergulung.

Namun, di tanah, tepat di tempat ia berbalik. Ada simbol kuno tergambar. Menggunakan arang atau abu.

Sama persis dengan simbol di pondok. Peringatan itu. Kini muncul di depan mata.

“Ini peringatan terakhir,” bisik Sari, gemetar. “Kita harus kembali, Dok. Sekarang.”

Ardan masih mencoba memahami. Otaknya berputar. Menganalisis fenomena tak masuk akal.

Tiba-tiba, tanah bergetar hebat. Bukan gempa vulkanik. Lebih seperti getaran yang disengaja.

Pohon-pohon di sekitar mereka bergoyang keras. Dahan-dahan patah. Suara gemuruh memenuhi udara.

Dari dalam kabut, sebuah siluet raksasa muncul. Tinggi, kurus, namun kokoh. Seperti terbuat dari asap dan batu.

Matanya bersinar merah. Menatap langsung ke arah mereka. Tanpa emosi, namun penuh kekuatan.

Itu bukan monster fisik. Lebih seperti manifestasi energi. Bentuk dari esensi Merapi itu sendiri.

Penunggu Merapi. Kini berdiri di hadapan mereka. Memperingatkan dengan kehadirannya.

Bima langsung bersujud. Mengucapkan mantra-mantra kuno. Memohon pengampunan.

Sari tak bisa bergerak. Terpaku oleh kekuatan yang terpancar. Jiwanya terguncang.

Ardan, sang ilmuwan, akhirnya menyerah. Akal sehatnya hancur. Di hadapan kekuatan yang tak bisa dijelaskan.

Sosok itu tak menyerang. Ia hanya berdiri. Mengirimkan pesan tanpa kata.

Pesan tentang batas. Tentang rasa hormat. Tentang rahasia yang tak boleh diganggu.

Kemudian, perlahan, sosok itu memudar. Kembali menyatu dengan kabut. Seolah tak pernah ada.

Getaran tanah mereda. Suara gemuruh menghilang. Hutan kembali hening.

Namun, keheningan itu berbeda. Lebih berat. Lebih pekat. Menyisakan ketakutan mendalam.

Mereka tak membuang waktu. Berlari menuruni gunung. Tanpa bicara. Tanpa melihat ke belakang.

Setiap langkah terasa seperti dikejar. Ketakutan yang membekas. Pengalaman yang mengubah segalanya.

Ketika mencapai kaki gunung, Ardan ambruk. Napasnya terengah-engah. Wajahnya pucat pasi.

Skepticismenya telah hancur. Berganti dengan rasa hormat. Dan ketakutan yang mendalam.

Merapi tetap berdiri agung. Seolah tak ada yang terjadi. Namun, di baliknya, Penunggu itu mengintai.

Menjaga rahasianya. Mengawasi setiap langkah. Menunggu siapa lagi yang berani melanggar batas.

Kisah mereka menjadi bisikan baru. Tentang ilmuwan yang bertemu mitos. Dan tak pernah sama lagi.

Penunggu Merapi tak pernah benar-benar pergi. Ia selalu ada. Mengintai dari balik kabut. Menunggu.

Dan setiap kali Merapi bergemuruh, penduduk tahu. Bukan hanya batu dan lava yang bergerak. Tapi juga Penunggu.

Ia mengingatkan dunia. Bahwa ada kekuatan yang lebih tua dari waktu. Dan lebih misterius dari ilmu pengetahuan.

Rahasia Merapi tetap terkunci. Dilindungi oleh penjaga abadi. Dalam keheningan yang mencekam.

Dan setiap orang yang pernah menatap puncaknya. Akan selalu bertanya. Apa yang sebenarnya tersembunyi.

Di antara kabut dan bisikan angin. Penunggu Merapi terus mengintai. Selamanya.

Penunggu Merapi yang Mengintai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *