Scroll untuk baca artikel
Kabupaten Bandung

Ada yang Berbisik di Kedalaman Rimba Juanda… Siapa Sangka?

10
×

Ada yang Berbisik di Kedalaman Rimba Juanda… Siapa Sangka?

Share this article

Ada yang Berbisik di Kedalaman Rimba Juanda… Siapa Sangka?

Penunggu Rimba Ir. H. Juanda: Bisikan Abadi dari Kedalaman Hutan

Hutan Raya Ir. H. Juanda, permata hijau di jantung Bandung, selalu memanggil jiwa-jiwa pengelana. Pepohonan menjulang, udara sejuk membelai kulit, dan kicau burung menjadi simfoni abadi yang menenangkan. Namun di balik keindahan itu, tersimpan tabir misteri yang pekat, kisah-kisah bisu yang tak pernah terucap sempurna.

Ada sesuatu yang menunggu di sana, tersembunyi di balik kabut dan rimbunnya dedaunan. Bukan sekadar cerita rakyat atau mitos yang diwariskan, melainkan sebuah keberadaan purba yang menolak untuk lenyap. Sebuah entitas yang terjalin dengan serat-serat tanah, akar-akar pohon, dan bisikan angin.

Arif, seorang peneliti urban legend dan fotografer alam, datang dengan kamera dan rasa penasaran yang membara. Ia mendengar desas-desus, bisikan dari mulut ke mulut tentang “penunggu” yang mendiami hutan ini. Sebuah tantangan, sebuah daya tarik gelap yang tak bisa ia tolak.

Ia menganggapnya sebagai folklore belaka, kisah-kisah pengantar tidur yang dilebih-lebihkan. Namun, langkah pertamanya memasuki gerbang, udara terasa lebih dingin dari seharusnya. Bukan sekadar hawa pegunungan, tapi dingin yang menusuk tulang, seolah menyambut kedatangannya dengan bisikan tak terlihat.

Suara dahan patah di kejauhan, padahal tak ada angin berembus kencang. Bayangan-bayangan menari di ujung pandang, terlalu cepat untuk ditangkap oleh retinanya. Sebuah firasat aneh merayap, rasa diawasi yang menusuk, seolah ada mata-mata tak kasat mata yang mengikutinya.

Semakin dalam Arif melangkah, semakin pekat bayangan menelan cahaya. Pohon-pohon tua dengan akar mencengkeram tanah seolah menjadi saksi bisu ribuan tahun. Sebuah keheningan aneh mulai menyelimuti, menelan kicau burung dan suara alam lainnya, meninggalkan hanya detak jantungnya sendiri.

Jalur setapak yang ia ikuti terasa semakin sempit, dinding pepohonan seolah merapat, menghimpitnya. Lumut tebal menyelimuti batu-batu, udara lembap dan berat, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih tua, lebih busuk, namun tak teridentifikasi.

Ia melewati Curug Dago, air terjun yang mengalir deras, namun gemuruhnya terasa aneh, seolah berusaha menutupi suara lain. Kabut tipis mulai turun, merayap dari dasar jurang, memeluk pepohonan dengan pelukan dingin yang misterius, menambah nuansa suram.

Tujuan utamanya adalah Goa Jepang dan Goa Belanda, saksi bisu kekejaman masa lalu. Aura kelam langsung menyergap di mulut Goa Jepang. Lubang hitam yang menganga, seolah mulut raksasa siap menelan siapa saja yang berani masuk, menguak sejarah kelam pendudukan.

Lampu senter Arif menari-nari di kegelapan, menerangi ukiran kasar dan stalaktit yang menjuntai. Udara di dalam terasa pengap, berat, seolah dipenuhi napas-napas tertahan dari masa lalu. Bisikan-bisikan samar mulai terdengar, seperti hembusan angin yang membawa rintihan.

Bukan bahasa manusia, bukan kata-kata yang bisa ia pahami. Itu adalah gema penderitaan, suara-suara pilu yang terperangkap dalam batu. Rasa dingin yang menusuk semakin menjadi, bukan dingin alam, melainkan dingin yang membakar, menusuk hingga ke sumsum tulang.

Langkah kakinya menggema, namun terasa ada langkah lain yang mengikuti. Setiap kali ia berhenti, langkah itu juga terhenti, seolah menguji keberaniannya. Sebuah bayangan melintas di ujung pandang, terlalu cepat untuk diidentifikasi, namun cukup nyata untuk membuat bulu kuduknya merinding.

Ia menyalakan senter ke arah bayangan itu, namun tak ada apa-apa selain dinding batu yang lembap. Jantungnya berdebar kencang, menabuh di rongga dada. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi, kelelahan, atau imajinasinya yang terlalu liar.

Namun, indranya berteriak bahwa ia tidak sendirian. Sebuah sensasi sentuhan dingin di tengkuknya membuat Arif tersentak. Ia memutar kepala, namun hanya kegelapan yang menyambut, kegelapan yang terasa menatapnya balik dengan ribuan mata tak terlihat.

Rasa takut mulai menjalar, bukan lagi sekadar rasa penasaran. Ini adalah teror yang nyata, rasa terancam yang primitif. Ia tahu ia harus keluar, harus meninggalkan tempat itu secepatnya sebelum kegelapan menelannya sepenuhnya, sebelum ia menjadi bagian dari bisikan itu.

Arif bergegas keluar, merasakan desakan panik yang tak tertahankan. Namun, kelegaan itu semu belaka. Dingin yang menusuk itu masih ada, mengikuti setiap jejaknya, seolah melekat pada pori-pori kulitnya, tak mau melepaskan mangsanya.

Ia melarikan diri dari Goa Jepang, mencoba mencari jalan keluar. Namun, hutan itu seolah berubah, jalur yang tadi ia lewati kini tampak asing. Pohon-pohon raksasa berjejer rapat, membentuk dinding-dinding alami yang menyesatkan, tak ada tanda-tanda jalur utama.

Kabut tebal turun tanpa peringatan, menelan pepohonan dan arah. Arif merasa disorientasi, seolah hutan itu sendiri berputar dan berubah bentuk, bermain-main dengan akal sehatnya. Jalan setapak yang tadi ia lewati, kini lenyap tak berbekas, tertelan ke dalam kabut.

Suara-suara mulai bermunculan dari segala arah: tawa menyeramkan, tangisan pilu, bisikan nama-nya yang samar namun jelas. Ia melihat sekilas sosok-sosok samar di balik kabut, berkelebat, menghilang sebelum bisa ia tangkap, seperti hantu-hantu masa lalu yang menari.

Waktu terasa melar, detik menjadi keabadian, menit terasa seperti jam. Setiap langkah yang diambil terasa berat, seolah ada beban tak terlihat yang menahannya. Ia merasa kehabisan napas, bukan karena berlari, tetapi karena ketakutan yang mencekik paru-parunya.

Pikirannya kalut, ia tak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ilusi. Pohon-pohon di sekelilingnya tampak hidup, dahan-dahan panjang menyerupai tangan yang siap meraihnya. Mata-mata tersembunyi berkedip di antara dedaunan, mengawasinya setiap gerakan.

Bukan hantu prajurit atau arwah penasaran yang ia rasakan. Ini adalah sesuatu yang lebih tua, lebih mendalam, terjalin dengan serat-serat bumi itu sendiri. Sebuah entitas primordial, penunggu sejati yang tak terdefinisikan, tak berbentuk namun terasa nyata.

Ia adalah esensi dari hutan itu sendiri, gabungan dari energi purba dan jejak-jejak emosi manusia yang tertinggal. Rasa sakit, ketakutan, keputusasaan dari ribuan jiwa yang pernah melewati atau terkubur di sana, semua terakumulasi menjadi satu wujud yang mengerikan.

Di tengah kabut, sebuah siluet terbentuk, bukan manusia, bukan hewan, tapi perpaduan yang mengerikan. Sebuah wujud yang tak beraturan, mata-mata gelap yang tak terhitung jumlahnya menatapnya tajam, menusuk jiwanya. Dingin itu berubah menjadi nyeri membakar.

Arif merasa lumpuh, tak bisa bergerak, terperangkap dalam tatapan mata yang tak berujung itu. Sebuah bisikan, lebih seperti raungan tanpa suara, menggaung di kepalanya. “Kau hanyalah tamu… dan kini kau adalah bagian dari kami…”

Dengan sisa tenaga, Arif berlari, tanpa arah, hanya ingin menjauh dari keberadaan itu. Ia merasakan cengkeraman tak terlihat di pergelangan kakinya, tarikan kuat yang mencoba menahannya, seolah akar-akar pohon itu hidup dan menariknya ke bawah tanah.

Napasnya terengah, paru-parunya serasa terbakar, namun ia terus berlari. Suara-suara di belakangnya semakin keras, semakin mendesak, seolah ribuan makhluk tak kasat mata mengejarnya. Ia mendengar suara desisan, erangan, dan tawa yang menggema di balik kabut.

Ia tak tahu berapa lama ia berlari, hingga akhirnya samar-samar ia melihat cahaya. Gerbang hutan raya itu, muncul seperti oasis di tengah mimpi buruk yang tak berkesudahan. Arif ambruk di tanah, gemetar, namun merasa hidup kembali.

Ia terbatuk-batuk, menghirup udara bebas yang terasa begitu asing, namun sangat berharga. Pakaiannya kotor, tubuhnya lelah, namun yang lebih parah adalah jiwanya yang terguncang. Ia telah melihat dan merasakan sesuatu yang melampaui batas pemahamannya.

Sejak hari itu, Arif tak pernah lagi sama. Kamera-nya tetap teronggok, tak lagi ia sentuh, tak ada lagi hasrat untuk mengabadikan keindahan alam. Setiap malam, bisikan dan bayangan hutan itu menghantuinya, membuktikan bahwa ia tak pernah benar-benar lolos.

Penunggu itu, entitas purba dari Cagar Alam Ir. H. Juanda, selalu ada di sana. Ia menunggu, mengawasi, dan siap menyambut siapa saja yang berani melangkah terlalu jauh ke dalam wilayahnya. Ia adalah rahasia gelap yang abadi, bisikan misterius di jantung hutan.

Dan setiap kali kabut turun di Dago Pakar, penduduk lokal hanya bisa bergidik. Mereka tahu, penunggu itu sedang berpatroli, menjaga wilayahnya, dan mengingatkan semua orang bahwa ada batas yang tak boleh dilampaui. Batas antara dunia manusia dan dunia lain yang tersembunyi.

Hingga kini, Cagar Alam Ir. H. Juanda tetap menjadi magnet bagi wisatawan. Namun bagi mereka yang pernah merasakan kehadirannya, hutan itu bukan lagi sekadar tempat rekreasi. Ia adalah gerbang menuju misteri, sebuah peringatan akan kekuatan tak terlihat yang bersemayam di sana.

Misteri itu tetap hidup, berbisik melalui angin yang berdesir di antara pepohonan tua. Penunggu Rimba Juanda, sebuah legenda yang menjadi kenyataan, sebuah teror yang abadi, menunggu di balik tabir kabut, siap menyambut jiwa-jiwa penasaran yang berani.

Penunggu Rimba Ir. H. Juanda: Bisikan Abadi dari Kedalaman Hutan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *