Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bali

Tak Ada yang Pernah Bisa Membuka Gerbang Ini—Dan Alasannya Menyeramkan

12
×

Tak Ada yang Pernah Bisa Membuka Gerbang Ini—Dan Alasannya Menyeramkan

Share this article

Tak Ada yang Pernah Bisa Membuka Gerbang Ini—Dan Alasannya Menyeramkan

Di kedalaman Hutan Lumina yang tak terjamah, di mana pepohonan purba menjulang menembus kanopi awan, tersembunyi sebuah enigma. Bukan reruntuhan kota kuno, bukan pula artefak berharga, melainkan sesuatu yang jauh lebih membingungkan: sebuah gerbang.

Dikenal penduduk lokal sebagai Gerbang Obsidian, ia berdiri tegak, menjulang tinggi dua kali lipat pohon tertinggi sekalipun. Terbuat dari batu hitam pekat yang memancarkan kilau aneh, permukaannya begitu mulus, tanpa celah, tanpa engsel, seolah menyatu sempurna dengan tebing di belakangnya.

Pahatan kuno yang tak dapat diuraikan mengukir permukaannya, membentuk pola rumit yang menari-nari dalam cahaya remang hutan. Mereka bercerita tentang sesuatu yang terlupakan, sebuah bahasa yang tak lagi dimengerti manusia modern. Gerbang itu memancarkan aura bisu, namun sarat dengan janji dan ancaman yang tak terucap.

Legenda kuno membisikkan kutukan. Siapa pun yang berani mencoba membukanya, konon akan lenyap ditelan kegelapan abadi, atau kembali dengan jiwa yang hampa, mata yang dipenuhi bayangan kengerian yang tak terlukiskan. Kisah-kisah seram ini telah mengusir sebagian besar penjelajah, namun memanggil mereka yang paling nekat.

Ekspedisi pertama, dipimpin oleh Lord Ashworth, seorang bangsawan Inggris yang terobsesi dengan misteri. Ia membawa tim dengan peralatan canggih, bertekad menyingkap rahasia Gerbang Obsidian. Mereka mencoba menggores permukaannya, namun baja terkuat sekalipun tak mampu meninggalkan jejak.

Ledakan dinamit hanya meninggalkan kawah dangkal di tanah, sementara gerbang itu sendiri tetap tak bergerak, seolah menertawakan usaha keras manusia. Beberapa anggota tim Lord Ashworth menghilang tanpa jejak, yang lain kembali dengan demam tinggi dan bisikan aneh tentang “penjaga” yang tak terlihat.

Sejak saat itu, Gerbang Obsidian menjadi subjek mitos dan spekulasi. Para ilmuwan menertawakan, menyebutnya formasi batuan alami yang unik. Namun, bisikan dari hutan tak pernah berhenti, dan setiap tahun, beberapa individu pemberani masih mencoba peruntungan mereka. Mereka semua menemui kegagalan, dan beberapa tak pernah kembali.

Dr. Aris, seorang ahli arkeologi yang terkenal skeptis namun haus akan misteri, mendengar kisah Gerbang Obsidian. Dengan reputasi yang dibangun di atas penemuan-penemuan yang mengguncang dunia, ia memutuskan untuk terjun langsung. Ia membawa tim elit, peralatan tercanggih, dan pikiran yang terbuka.

“Mitos hanyalah mitos sampai ada bukti,” gumamnya pada dirinya sendiri saat timnya mulai mendirikan kemah. “Dan gerbang ini, Aris, adalah misteri yang menantimu untuk dipecahkan.”

Hari-hari pertama dihabiskan untuk analisis ilmiah. Sampel batuan diambil, meskipun sulit. Analisis spektrum menunjukkan komposisi yang tak dikenal, bukan batuan bumi biasa, bukan logam yang dikenal. Ada unsur-unsur yang tidak cocok dengan tabel periodik.

Suhu permukaannya aneh, selalu dingin menusuk, bahkan di bawah terik matahari hutan tropis. Sistem sonar gagal menembus ketebalannya, seolah gerbang itu adalah void, kehampaan yang sempurna. Kompas berputar liar di dekatnya, jarumnya bergetar panik seolah ada medan magnet tak terlihat.

“Ini aneh, Aris,” kata Lena, ahli geologi tim, dengan kening berkerut. “Tidak ada data yang masuk akal. Ini seperti… melawan semua hukum fisika yang kita kenal.”

Aris mengangguk, matanya menatap gerbang. Ada desiran samar, seperti bisikan kuno yang terbawa angin, namun terlalu halus untuk ditangkap alat rekaman. Ia mencoba meyakinkan dirinya itu hanyalah imajinasi, kelelahan, atau efek psikologis dari legenda yang beredar.

Mereka mencoba memotongnya dengan laser industri, namun sinar paling kuat sekalipun hanya memantul, tak meninggalkan bekas. Bor berlian hancur berkeping-keping. Usaha untuk melumerkannya dengan panas ekstrem hanya menghasilkan uap dan bau aneh yang membuat tenggorokan perih.

Pada malam hari, suasana di sekitar gerbang berubah. Hutan menjadi lebih sunyi, suara serangga dan binatang lenyap. Hanya ada keheningan mencekam, kadang disela oleh bisikan yang seolah berasal dari dalam gerbang itu sendiri. Bisikan tanpa kata, hanya resonansi kegelapan.

Anggota tim mulai menunjukkan gejala aneh. Insomnia parah melanda mereka, diikuti halusinasi visual dan auditori. Teknisi bernama Bima bersikeras mendengar tawa dari balik gerbang, tawa yang menusuk tulang dan tak berhenti bahkan saat ia mencoba tidur.

Jono, ahli botani, mulai berbicara sendiri, menunjuk-nunjuk ke arah gerbang seolah ada seseorang di sana yang tak terlihat. Wajahnya pucat, matanya cekung, dipenuhi ketakutan yang tak dapat dijelaskan. Ia bersikeras bahwa gerbang itu “mengawasinya.”

Satu per satu, mereka memutuskan mundur. Lena, dengan wajah pucat, menyatakan bahwa ia tak bisa lagi bekerja di bawah tekanan seperti itu. “Ada sesuatu di sini, Aris,” bisiknya, suaranya bergetar. “Sesuatu yang tak ingin kita ganggu.”

Aris sendirian. Obsesinya semakin menguat, mencengkeramnya erat. Ia merasa gerbang itu memanggilnya, menantangnya secara pribadi. Malam-malamnya dipenuhi mimpi buruk tentang kegelapan yang merayap, entitas tak berbentuk yang mengawasinya dari balik bayangan.

Ia menelusuri naskah-naskah kuno yang nyaris punah dari arsip digitalnya. Ia menemukan korelasi antara simbol pada gerbang dengan tulisan-tulisan dari peradaban yang lenyap, jauh sebelum sejarah tercatat. Mereka menyebutnya “Ka’tar,” yang berarti “Penjara Bayangan” dalam bahasa kuno.

Naskah itu berbicara tentang entitas kuno yang diasingkan, kengerian yang begitu besar sehingga harus disegel dari realitas. Gerbang ini bukan pintu, melainkan segel. Bukan untuk dibuka, melainkan untuk menjaga. Sebuah benteng terakhir yang didirikan oleh nenek moyang mereka untuk melindungi dunia dari kehancuran.

Pada suatu malam badai, petir menyambar di atas kanopi hutan, menerangi pahatan kuno pada gerbang dengan cahaya yang berkedip-kedip. Aris mendekati gerbang, hatinya berdebar tak karuan. Bisikan yang selama ini samar, tiba-tiba menjadi jelas, menusuk langsung ke dalam pikirannya.

Bukan bahasa manusia, melainkan resonansi ketakutan purba. Gelombang energi dingin menyapu dirinya, dan Gerbang Obsidian seolah memproyeksikan gambaran mengerikan langsung ke dalam benaknya.

Ia melihat dunia yang hancur, kekacauan tak terbayangkan. Ribuan makhluk berbayang, dengan mata merah menyala, merayap keluar dari celah-celah di antara dimensi. Mereka adalah entitas yang tidak memiliki bentuk, hanya kehampaan yang hidup, lapar akan cahaya dan kehidupan.

Gerbang ini, yang selama ini ia coba buka, adalah satu-satunya benteng. Sebuah segel abadi, penjara bagi kengerian yang tak berwujud. Bukan kunci yang dibutuhkan, melainkan pemahaman bahwa gerbang itu harus tetap tertutup, selamanya.

Aris ambruk di depan gerbang, napasnya tersengal. Ia telah menemukan kebenaran, namun kebenaran itu jauh lebih menakutkan daripada yang bisa ia bayangkan. Gerbang itu tidak bisa dibuka karena ia tidak boleh dibuka. Tujuannya adalah untuk tetap terkunci, melindungi realitas dari ancaman yang jauh lebih tua dari waktu.

Ia kembali dari hutan, bukan sebagai penemu yang berjaya, melainkan sebagai saksi kebenaran yang mengerikan. Matanya dipenuhi bayangan, jiwanya terbebani oleh pengetahuan yang tak bisa ia bagikan sepenuhnya. Bagaimana ia bisa menjelaskan kengerian yang tersembunyi di balik sebuah gerbang batu?

Dr. Aris tak lagi mencari jawaban. Ia hanya mencari kedamaian, meskipun ia tahu ia tak akan pernah menemukannya sepenuhnya. Suara bisikan dan bayangan kengerian itu akan selamanya menghantuinya, pengingat akan apa yang tersembunyi di balik Gerbang Obsidian.

Gerbang itu tetap di sana, abadi, tak tersentuh oleh waktu atau usaha manusia. Sebuah monumen kebisuan, penjaga rahasia tergelap alam semesta. Setiap malam, bisikan samar masih terbawa angin, mengingatkan kita pada batas tipis antara realitas dan mimpi buruk.

Akankah suatu hari segel itu retak? Akankah kegelapan di baliknya menemukan jalan? Gerbang yang tak bisa dibuka ini, mungkin bukan penjara bagi mereka yang di dalamnya, melainkan peringatan bagi kita semua, akan bahaya yang tak terlihat, yang selalu menanti di ambang batas.

Pintu Gerbang yang Tak Bisa Dibuka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *