Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Tengah

Pohon Tua yang Berdenyut Saat Dipegang

9
×

Pohon Tua yang Berdenyut Saat Dipegang

Share this article

Pohon Tua yang Berdenyut Saat Dipegang

Pohon Tua yang Berdenyut: Misteri Hutan Terlarang

Angin dingin berbisik di antara dedaunan tua. Hutan Lumut Hitam, namanya sudah cukup menggetarkan. Aku, Aris, seorang etnobotanis yang haus akan keunikan, telah mendengar desas-desus. Ada sesuatu yang bernapas di jantungnya.

Warga lokal menghindari tempat ini. Mereka bicara tentang energi kuno, tentang jiwa yang terperangkap. Aku hanya seorang ilmuwan, mencari spesimen langka, bukan legenda usang.

Namun, udara di sana berbeda. Lebih berat, lebih pekat. Cahaya matahari nyaris tak menembus kanopi rapat. Bau tanah basah dan lumut tua mendominasi indraku.

Setelah berhari-hari menyusuri jejak samar, aku menemukannya. Sebuah pohon raksasa, akarnya melilit tanah bagai naga purba. Batangnya tebal, ditutupi lumut hijau kehitaman.

Usianya pasti ribuan tahun. Aura misterius terpancar darinya, memanggil sekaligus memperingatkan. Aku mendekat, perlahan, jantungku berdegup kencang.

Tanganku terulur, menyentuh kulit kayunya yang kasar. Dingin, seperti yang kuduga. Namun, sedetik kemudian, sesuatu terjadi.

Sebuah denyutan. Lembut pada awalnya, namun jelas terasa di telapak tanganku. Seperti jantung raksasa yang berdetak di bawah kulit bumi.

Aku menarik tanganku, terkejut. Otakku mencari penjelasan logis. Getaran tanah? Resonansi alami? Tidak, ini terlalu spesifik, terlalu… hidup.

Aku menyentuhnya lagi. Denyutan itu kembali, lebih jelas kali ini. Ritmis, konsisten. Sebuah denyutan yang bukan milik pohon biasa.

Rasa takut bercampur rasa penasaran yang membakar. Aku mengeluarkan peralatan perekam suaraku. Apakah ada suara yang menyertainya?

Hanya keheningan hutan. Tapi denyutan itu nyata. Aku meletakkan telingaku ke batang pohon. Sebuah bisikan samar, seperti dengungan rendah, terdengar.

Bukan suara angin, bukan serangga. Lebih dalam, lebih… organik. Seolah pohon itu bernyanyi dalam frekuensi yang tak biasa.

Aku menghabiskan sisa hari itu di sana. Mencoba berbagai titik di batang pohon. Denyutan itu terasa di mana-mana, tapi paling kuat di bagian bawah, dekat akar.

Malam tiba, dan aku terpaksa kembali ke perkemahan sementaraku. Pikiranku dipenuhi denyutan itu. Ilmuwan dalam diriku menolak, tapi naluriku berteriak.

Esoknya, aku kembali. Rasa kantuk tak menyentuhku. Aku membawa lebih banyak alat: sensor getaran, mikrofon sensitif. Aku harus mengungkapnya.

Denyutan itu menyambutku. Seolah pohon itu tahu aku akan kembali. Kali ini, denyutannya terasa lebih hangat, seolah ada darah yang mengalir di dalamnya.

Aku memasang sensor. Data mulai masuk. Grafik menunjukkan pola denyutan yang teratur. Ada ritme, ada irama. Tidak acak.

Aku merekam suara. Mikrofon menangkap dengungan itu lebih jelas. Terdengar seperti resonansi yang sangat rendah, hampir tak terdengar telinga manusia.

Saat aku memutar rekaman itu, sesuatu aneh terjadi. Pohon itu seolah bergetar lebih kuat. Denyutannya meningkat, membalas rekaman suaraku.

Aku mematikan rekaman. Denyutan kembali ke ritme normalnya. Sebuah reaksi? Apakah pohon ini hidup dalam cara yang tak pernah kita pahami?

Hari-hari berikutnya berubah menjadi obsesi. Aku tidur di dekat pohon itu. Mimpi-mimpiku dipenuhi hutan, akar yang melilit, dan denyutan yang konstan.

Terkadang, aku mendengar bisikan dalam mimpiku. Bukan kata-kata, tapi impresi. Perasaan kuno, kesendirian yang mendalam, dan sebuah penantian.

Aku mulai merasa lemah. Energi seolah terkuras dari tubuhku. Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya. Aku harus tahu.

Suatu sore, saat senja mulai merayap, aku menyentuh pohon itu lagi. Denyutannya lebih kuat dari sebelumnya, hampir memabukkan.

Hangat itu kini membakar. Aku merasa seolah energi mengalir dari pohon ke dalam diriku, namun juga menguras sesuatu dariku.

Pandanganku berkunang-kunang. Aku melihat kilasan. Bukan gambar jelas, tapi siluet. Bayangan bergerak di antara akar-akar pohon.

Wajah-wajah tanpa mata. Tangan-tangan kurus yang menjulur. Mereka bukan bagian dari dunia nyata. Atau, mereka adalah bagian dari dunia yang lebih tua?

Aku tersentak mundur. Jantungku berdebar tak karuan. Ini bukan sekadar fenomena alam. Ada sesuatu yang lain di sini.

Malam itu, aku tak bisa tidur. Bisikan di telingaku tak hanya dalam mimpi. Itu nyata. Sebuah suara lembut, beresonansi dengan denyutan pohon.

"Kau… telah… menemukan…" Suara itu tak membentuk kata, tapi maknanya jelas. Sebuah entitas sedang berbicara padaku.

Pagi harinya, aku kembali ke pohon dengan perasaan campur aduk. Takut, tapi juga terpanggil. Aku harus tahu apa yang ada di balik denyutan ini.

Aku duduk di akarnya, menyentuh batang pohon dengan kedua telapak tanganku. Menutup mata, aku memfokuskan diriku pada denyutan itu.

Denyutan itu melingkupiku. Aku merasa seolah tubuhku menyatu dengan pohon. Dinding antara diriku dan pohon itu runtuh.

Visi-visi membanjiri pikiranku. Bukan kilasan lagi, tapi aliran gambar yang jelas. Hutan ini ribuan tahun lalu. Suku-suku kuno menyembah pohon ini.

Mereka memberikan persembahan. Bukan barang, tapi energi. Jiwa-jiwa yang tenang, yang beresonansi dengan pohon. Pohon itu adalah penjaga.

Tapi lalu datang kegelapan. Sebuah kekuatan asing mencoba mengklaim pohon itu. Mereka ingin menguras energinya, menggunakannya untuk tujuan jahat.

Pohon itu melawan. Ia menyerap kegelapan itu ke dalam dirinya, mengurungnya. Tapi harga yang dibayar sangat mahal.

Ia terjebak. Setengah hidup, setengah mati. Denyutan itu adalah detak jantungnya yang berjuang. Bisikan itu adalah jeritannya yang teredam.

Dan bayangan-bayangan itu… mereka adalah sisa-sisa dari kegelapan yang terperangkap. Jiwa-jiwa yang tersedot ke dalam pohon.

Aku merasakan penderitaan pohon itu. Kesendiriannya. Penantiannya. Ia membutuhkan seseorang untuk memahami, untuk membebaskannya.

Tapi bagaimana? Aku hanya seorang manusia. Aku tak punya kekuatan untuk melepaskan entitas kuno yang terperangkap.

Tiba-tiba, denyutan itu berubah. Menjadi lebih cepat, lebih panik. Visi kegelapan yang mencoba keluar kembali muncul.

Pohon itu melemah. Pertahanannya goyah. Bisikan di telingaku berubah menjadi raungan. "Tolong… jangan… biarkan…"

Aku merasakan dorongan kuat untuk menjauh. Energi kegelapan itu terasa dingin, busuk. Itu mencoba menjangkauku.

Aku berteriak. Aku menarik diri dengan sekuat tenaga dari pohon itu. Ikatan yang terbentuk hancur, menyisakan kekosongan.

Aku terhuyung mundur, ambruk di tanah. Tubuhku gemetar, napasku tersengal. Aku hampir saja tersedot masuk.

Pohon itu kembali tenang. Denyutannya kembali ke ritme normal, tapi kini terdengar lebih lelah, lebih putus asa.

Aku bangkit, lari. Aku tidak menoleh ke belakang. Aku meninggalkan hutan itu, meninggalkan misteri yang tak terpecahkan.

Aku tidak kembali ke sana. Tidak pernah lagi. Tapi denyutan itu… itu tidak pernah hilang dari diriku.

Kadang, di tengah malam yang sunyi, aku masih merasakannya. Sebuah denyutan samar di telapak tanganku. Sebuah bisikan di sudut pikiranku.

Hutan Lumut Hitam masih ada. Pohon tua itu masih berdiri di sana. Dan aku tahu, ia masih berdenyut.

Menunggu. Menanti. Entah untuk kebebasan, atau untuk korban berikutnya yang berani menyentuhnya. Dan misterinya tetap tersembunyi, di jantung hutan yang bernapas itu.

Pohon Tua yang Berdenyut Saat Dipegang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *