Di jantung Sulawesi, tersembunyi sebuah negeri di atas awan, Tana Toraja. Lanskapnya memukau, dihiasi tongkonan gagah dan tebing menjulang tinggi. Namun, di balik keindahan itu, bersemayam tradisi kuno yang menghantui. Sebuah ritual kematian yang memintal benang tipis antara hidup dan alam baka, Rambu Solo’.
Inilah perhelatan agung yang merayakan kematian, namun dengan cara tak terduga. Di Toraja, seseorang belum dianggap meninggal dunia seutuhnya. Ia hanyalah ‘Toma Kula’ – orang sakit – yang masih berbagi atap dengan keluarga, kadang berbulan, bahkan bertahun-tahun lamanya.
Jasad yang telah tiada itu diperlakukan layaknya orang hidup. Disediakan makanan dan minuman, diajak bicara, bahkan sesekali diganti pakaiannya. Formalin dan ramuan tradisional menyamarkan, namun tak sepenuhnya menghilangkan, aroma aneh yang menguar.
Bagi orang luar, praktik ini mungkin mengerikan, bahkan tak masuk akal. Namun, bagi masyarakat Toraja, ini adalah bentuk penghormatan tertinggi. Sebuah masa transisi, di mana arwah diyakini masih berada di rumah, menanti upacara pelepasan yang sempurna.
Tapi bagaimana jika batas antara ‘Toma Kula’ dan arwah yang sesungguhnya mulai kabur? Bagaimana jika penantian panjang itu, alih-alih menenangkan, justru memerangkap sesuatu yang tak seharusnya ada? Cerita-cerita bisikan di Toraja jauh lebih gelap dari apa yang terlihat di permukaan.
Seorang peneliti antropologi muda bernama Clara datang untuk mendokumentasikan Rambu Solo’. Awalnya ia terpesona oleh keunikan budaya ini. Namun, semakin lama ia tinggal, semakin kuat pula perasaan tak nyaman yang merayapinya.
Malam-malam sunyi di Toraja menyimpan rahasia yang tak terucap. Clara sering mendengar suara langkah pelan di lorong kosong Tongkonan tempat ia menginap. Bayangan melintas di sudut matanya, menghilang begitu cepat setiap kali ia menoleh.
Keheningan itu sendiri terasa sarat dengan kehadiran yang tak kasat mata, menekan jiwa. Aroma dupa dan tanah basah bercampur dengan sesuatu yang lebih busuk, samar namun menusuk, seolah ada napas tua yang tertahan di udara.
Suatu dini hari, Clara terbangun oleh suara gemerisik dari kamar sebelah, tempat jenazah ‘Toma Kula’ ditempatkan. Itu bukan suara tikus, melainkan seperti kain yang digeser pelan, atau jari yang menggaruk dinding. Jantungnya berdebar kencang, ia tak berani bergerak.
Keesokan harinya, ia mencoba bertanya pada pemilik rumah, seorang wanita tua dengan tatapan mata teduh. Wanita itu hanya tersenyum tipis, “Arwah mereka belum pergi, Nak. Mereka masih di sini, menunggu.” Senyum itu tak menenangkan, justru menambah misteri.
Rambu Solo’ sendiri adalah perhelatan yang luar biasa megah. Ribuan kerbau dan babi dikorbankan, darah membasahi tanah suci. Jeritan hewan menyayat udara, membentuk simfoni mengerikan yang bergaung di lembah-lembah.
Konon, jumlah kurban yang banyak itu bukan hanya untuk kehormatan. Ada yang mengatakan, itu adalah santapan bagi entitas yang bersemayam di antara mereka, yang menuntut persembahan agar tak mengganggu perjalanan arwah.
Patung-patung kayu Tau-Tau, replika para mendiang, berjajar di balkon tebing atau goa pemakaman. Mata mereka kosong, namun seolah mengawasi tanpa henti. Clara merasakan tatapan mereka saat ia berkunjung ke Lemo, sebuah bukit batu berukir liang lahat.
Di sana, di antara deretan Tau-Tau, Clara merasa seolah ada sepasang mata yang mengikutinya. Bukan hanya imajinasinya, ia bersumpah salah satu patung itu seolah memiringkan kepalanya sedikit, seolah ingin berbisik padanya. Dingin menjalari punggungnya.
Cerita-cerita lama berbisik tentang keluarga yang gagal menyelenggarakan Rambu Solo’ tepat waktu. Entah karena kemiskinan, atau musibah tak terduga. Konon, arwah yang terkatung-katung menuntut penebusan.
Musibah demi musibah menimpa mereka. Penyakit misterius, kematian mendadak, atau kegagalan panen yang tak kunjung usai. Seolah ada kutukan yang melekat, karena arwah yang tak dilepas sempurna, kini marah.
Seorang pemuda lokal, Markus, bercerita pada Clara tentang pamannya yang meninggal mendadak. Keluarganya terlalu miskin untuk segera mengadakan Rambu Solo’. Berbulan-bulan jenazah pamannya terbaring di rumah, hanya dirawat seadanya.
Markus mengaku sering mendengar suara-suara aneh dari kamar pamannya. Terkadang seperti batuk, kadang seperti erangan pelan. Suatu malam, ia melihat pintu kamar itu sedikit terbuka, dan ia bersumpah melihat siluet gelap bergerak di dalamnya.
Puncaknya, mereka menemukan noda darah segar di lantai kamar, padahal pamannya sudah diawetkan dan tidak memiliki luka. Keluarga itu panik. Mereka akhirnya nekat meminjam uang besar untuk segera melaksanakan Rambu Solo’, berharap mengusir kutukan.
Ritual itu pun dilaksanakan dengan tergesa. Namun, ketenangan tak pernah kembali sepenuhnya. Markus sering merasa diawasi, bahkan di siang bolong. Ia yakin, ada sesuatu yang telah terbangun, sesuatu yang tak bisa lagi tidur pulas.
Liang kubur di tebing-tebing curam adalah pintu gerbang terakhir. Gelap dan lembap, penuh dengan tulang belulang purba yang berserakan. Bau tanah dan kematian begitu pekat, mencekik indra.
Di kedalaman goa-goa itu, konon ada bisikan yang tak pernah padam. Ratapan arwah yang belum sepenuhnya tenang, mencari jalan pulang, atau mungkin, mencari pendamping untuk tetap tinggal di dunia fana.
Clara pernah mencoba masuk lebih dalam ke salah satu goa pemakaman. Lampu senternya berkedip-kedip, seolah tak kuat menembus kegelapan. Ia mendengar suara tetesan air, namun juga suara lain, seperti tarikan napas panjang di balik batu.
Ia merasa ada tangan dingin yang menyentuh pergelangan kakinya. Clara menjerit, berlari keluar sekuat tenaga. Ia tak pernah menoleh, tak ingin tahu apa yang mungkin ia lihat di balik kegelapan abadi itu.
Penduduk lokal memiliki kepercayaan kuat akan adanya ‘Puya’, alam baka. Namun, jika ritual tak sempurna, atau ada dendam yang belum terbalaskan, arwah bisa saja tertahan di antara dua dunia. Bergentayangan, mencari penyelesaian.
Rambu Solo’ bukan sekadar ritual kematian, melainkan tirai tipis yang memisahkan dua dunia. Sebuah upaya manusia untuk mengendalikan takdir arwah, memastikan mereka sampai pada tempatnya. Namun, kadang, kendali itu bisa lepas.
Di Toraja, batas antara hidup dan mati begitu tipis. Terkadang, ia tak benar-benar ada. Dan di balik keindahan adat istiadat yang memukau, kegelapan menanti. Sebuah misteri yang terus menghantui, bisikan dari dunia yang tak kasat mata.
Apakah ‘Toma Kula’ benar-benar hanya tubuh tanpa jiwa? Atau adakah secercah kesadaran yang masih terperangkap, menunggu pembebasan yang tak pasti? Pertanyaan itu menggantung di udara Toraja, selamanya menjadi bagian dari warisan mistisnya.
Mungkin, lain kali Anda mengunjungi Tana Toraja, Anda akan merasakan hal yang sama. Sebuah tatapan dingin dari Tau-Tau, bisikan angin di malam hari, atau aroma aneh yang tak bisa Anda jelaskan. Karena di sana, yang mati, mungkin belum sepenuhnya pergi.





