Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Ada yang Berbeda dari Rumah Ini di Cipanas — Selalu Dingin, Bahkan di Siang Hari

9
×

Ada yang Berbeda dari Rumah Ini di Cipanas — Selalu Dingin, Bahkan di Siang Hari

Share this article

 

Di jantung Desa Cipanas, sebuah nama yang seharusnya melambangkan kehangatan, tersembunyi sebuah anomali yang menusuk jiwa. Bukan panas bumi atau uap hangat yang menyelimuti tempat ini, melainkan dingin yang membeku, tak wajar, abadi. Berdirilah sebuah rumah, dikenal penduduk setempat dengan bisikan takut: Rumah Dingin.

Rumah itu tak pernah disentuh sinar mentari. Pepohonan rimbun di sekelilingnya seperti sengaja memeluknya dalam bayangan. Bahkan di tengah hari, embun beku melapisi jendela, seolah musim dingin tak pernah berlalu dari ambang pintunya. Udara di sekitarnya terasa hampa, mematikan.

Penduduk desa, dengan mata nanar dan bibir bergetar, enggan menyebut namanya. Kisah-kisah beredar, dari generasi ke generasi, tentang aura mistis yang meresap ke setiap inci bangunannya. Mereka percaya, ada sesuatu yang terjebak di sana, sebuah tragedi yang tak pernah menemukan kedamaian.

Ardi, seorang peneliti fenomena supranatural dengan reputasi yang cukup dikenal, tiba di Cipanas. Ia tertarik oleh kontradiksi nama desa dengan legenda dinginnya rumah itu. Rasa penasaran mengalahkan naluri takutnya, mendorongnya mendekat ke pusat misteri.

Begitu menginjakkan kaki di tanah pekarangan, Ardi merasakan sensasi menusuk. Dingin itu bukan seperti hawa pegunungan biasa; ia merayap di bawah kulit, menembus tulang, membawa serta beban kesedihan yang pekat. Udara di sekitarnya terasa berat, menyesakkan.

Dedaunan kering di halaman tak bergeming, seolah waktu berhenti di ambang kehampaan. Keheningan yang mencekam menelan setiap suara, hanya menyisakan detak jantung Ardi yang kian cepat. Rumah itu berdiri kokoh, namun memancarkan aura kerentaan yang menyeramkan.

Dengan keberanian yang terkumpul, Ardi mendorong pintu kayu yang sudah lapuk. Suara deritnya memecah kesunyian, menggemakan lolongan tak terlihat. Di dalamnya, kegelapan abadi menyambutnya, diselingi siluet perabot usang yang samar-samar.

Seketika, napasnya memutih. Suhu di dalam ruangan jauh lebih ekstrem dari luar, seolah ia melangkah ke dalam freezer raksasa. Bulu kuduknya meremang, namun rasa ingin tahu tetap membimbing langkahnya maju, menembus selubung dingin yang pekat.

Debu tebal melapisi segalanya, namun tak ada jejak kehidupan. Hanya jejak dingin yang tak kasat mata, mengalir di antara dinding-dinding. Ardi mengeluarkan senter, sinarnya menari di kegelapan, mengungkap detail-detail yang mengerikan.

Ada jam dinding yang berhenti pada pukul tiga pagi, jarumnya membeku. Sebuah cangkir teh kosong teronggok di meja, seolah baru ditinggalkan sesaat lalu. Namun lapisan es tipis yang menyelimutinya menceritakan kisah yang berbeda.

Ardi melangkah ke ruang keluarga, hawa dingin semakin menusuk. Ia merasakan sensasi diawasi, sebuah kehadiran yang tak terlihat namun terasa nyata. Bisikan samar mulai terdengar, seperti hembusan angin beku yang melayang di telinganya.

Bisikan itu tak membentuk kata, hanya desiran pilu yang membawa melodi kesedihan. Ia mencari sumbernya, menyorotkan senter ke setiap sudut. Namun tak ada apa pun, hanya bayangan yang menari mengikuti gerak cahayanya.

Di sebuah sudut, Ardi menemukan sebuah mainan kuda-kudaan kayu yang tergeletak. Warnanya pudar, namun masih terlihat sisa-sisa cat biru cerah. Aura melankolis yang terpancar darinya kian memperkuat firasat Ardi tentang sebuah tragedi.

Ia melangkah ke lantai atas, setiap pijakan tangga kayu berderit nyaring. Dingin di sini bahkan lebih intens, seolah sumber utamanya berada di puncak rumah. Sebuah lorong gelap membentang di hadapannya, mengundang dengan janji misteri.

Di ujung lorong, sebuah kamar tidur tampak lebih dingin dari yang lain. Pintu kamarnya sedikit terbuka, mengundang Ardi masuk. Di dalamnya, sebuah ranjang besi tua dengan selimut yang berserakan, seolah baru ditinggalkan tergesa-gesa.

Di atas meja samping ranjang, sebuah buku harian usang tergeletak. Ardi meraihnya, jemarinya gemetar. Halamannya menguning, namun tulisan tangan di dalamnya masih terbaca jelas, menceritakan kisah sebuah keluarga bernama keluarga Darma.

Buku harian itu milik seorang wanita bernama Kartika, ibu dari seorang anak perempuan bernama Putri. Mereka adalah penghuni terakhir Rumah Dingin. Kartika menulis tentang kebahagiaan sederhana, tawa Putri, dan cinta suaminya, Budi.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, muncul tulisan tentang hawa dingin aneh yang mulai menyelimuti rumah mereka. Awalnya hanya dingin biasa, namun kian hari kian menusuk, tak peduli berapa banyak api yang mereka nyalakan. Dingin itu membawa serta penyakit.

Putri, sang buah hati, adalah yang pertama merasakan dampaknya. Demamnya tak kunjung turun, tubuhnya kedinginan, bahkan di balik selimut tebal. Kartika menulis tentang keputusasaan mereka mencari kehangatan, namun dingin itu tak dapat diusir.

Entri terakhir Kartika begitu menyayat hati. Ia menulis tentang Putri yang semakin lemah, tubuhnya membeku. Tangisan terakhir Putri adalah sebuah bisikan tentang kedinginan yang tak tertahankan, sebuah rasa sakit yang melampaui batas.

Di penghujung entri, Kartika menuliskan sebuah kalimat yang membekukan darah Ardi: “Dingin ini adalah jiwanya. Ia tak akan pernah pergi.” Setelah itu, tak ada lagi tulisan, hanya halaman kosong, seolah kehidupan Kartika pun berhenti di sana.

Tiba-tiba, suara tawa anak kecil yang melengking terdengar. Tawa itu polos, namun dibalut oleh lapisan kesedihan yang menusuk. Ardi menoleh, senternya bergetar di tangannya. Di ambang pintu, sesosok bayangan kecil terlihat samar.

Siluet itu menyerupai seorang gadis kecil, berdiri diam, memancarkan aura dingin yang luar biasa. Matanya, jika itu memang mata, terlihat kosong, namun dipenuhi kesedihan yang mendalam. Ia adalah Putri, jiwanya yang terjebak.

Ardi merasakan kedinginan yang tak pernah ia bayangkan. Dingin itu bukan hanya fisik, melainkan psikologis, merayap ke dalam pikirannya, membekukan ketakutannya. Udara di sekitarnya mengental, seolah waktu dan ruang berhenti.

Bayangan Putri melayang mendekat, tanpa suara. Setiap langkahnya, suhu di ruangan itu anjlok drastis. Embun beku mulai terbentuk di dinding, merambat, menciptakan pola-pola aneh yang menyerupai wajah-wajah ketakutan.

Sebuah bisikan kini terdengar jelas, langsung di telinga Ardi. “Dingin… aku sangat dingin…” Suara itu kecil, namun membawa kekuatan yang mampu meruntuhkan jiwa. Itu adalah suara Putri, meratap dari keabadian.

Ardi tak bisa bergerak, tubuhnya seolah membeku. Ia merasakan jemari dingin menyentuh pipinya, membawa serta sensasi terbakar es. Itu adalah sentuhan Putri, mencari kehangatan yang tak pernah ia temukan dalam kematiannya.

Pandangannya mulai kabur, tubuhnya menggigil tak terkendali. Ia tahu, jika ia tinggal lebih lama, ia akan menjadi bagian dari dingin abadi rumah itu. Ia akan menjadi korban selanjutnya dari tragedi yang tak terpecahkan.

Dengan sisa kekuatan terakhir, Ardi menjerit. Jeritan itu terdengar seperti pecahan es di keheningan. Ia berbalik, berlari menuruni tangga, tak peduli pada suara derit atau bayangan yang mengikutinya di setiap langkah.

Ia menerobos pintu depan, tanpa menoleh ke belakang. Dingin itu mengejarnya hingga ke pekarangan, namun perlahan menghilang saat ia mencapai batas desa. Ardi terengah-engah, terhuyung, tubuhnya menggigil hebat.

Penduduk desa yang melihatnya keluar dari Rumah Dingin hanya menatapnya dengan tatapan penuh iba. Mereka tahu, Ardi telah melihat apa yang seharusnya tidak dilihat. Ia telah merasakan dingin yang membekukan jiwa.

Ardi tak pernah kembali ke Rumah Dingin. Namun, dingin itu tak pernah meninggalkannya. Ia sering terbangun di tengah malam dengan gigilan tak terkendali, merasakan sentuhan es yang samar di pipinya.

Rumah Dingin di Desa Cipanas tetap berdiri, diselimuti keheningan dan embun beku abadi. Legenda Putri dan keluarga Darma terus hidup, menjadi pengingat tragis akan kehangatan yang tak pernah ditemukan. Dan Ardi, ia kini tahu, beberapa misteri lebih baik tetap tak terpecahkan, terkubur dalam dingin yang tak berkesudahan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *