
Rumah Kayu yang Selalu Dingin: Bisikan dari Kegelapan Abadi
Ardi mencari ketenangan, sebuah tempat sunyi untuk menulis. Sebuah iklan membawanya ke rumah kayu tua di pelosok desa. Bangunan itu tampak menawan, tersembunyi di balik rerimbunan pohon pinus yang menjulang.
Namun, ada yang aneh sejak awal. Udara dingin menusuk, bahkan di bawah terik matahari siang. Bukan dingin biasa, melainkan seperti napas es yang tak kasat mata. Dingin yang menembus hingga ke tulang.
Ardi mencoba mengabaikannya, berpikir itu hanya karena usia rumah. Dinding-dinding kayu tebal, jendela-jendela tua yang mungkin tidak rapat. Ia menyalakan perapian, tetapi hawa dingin itu tetap ada.
Malam pertama, dingin itu semakin menjadi. Ardi meringkuk di bawah selimut tebal, napasnya berembun di udara kamar. Ia mendengar suara-suara samar, seperti bisikan jauh yang dibawa angin.
Ketukan-ketukan lembut terdengar dari dinding, seolah ada jari-jari tak terlihat yang meraba kayu. Kemudian, suara langkah kaki yang berat, melintasi lantai atas yang kosong. Ardi menahan napas, jantungnya berdegup kencang.
Ia meyakinkan dirinya bahwa itu hanya suara rumah tua yang berderit. Kayu yang memuai dan menyusut. Angin yang bertiup kencang. Namun, sensasi dingin itu semakin pekat, mengungkung seluruh ruangan.
Pagi hari, ia menemukan vas bunga di meja dapur telah bergeser. Jendela di ruang tamu yang ia pastikan tertutup rapat, kini sedikit terbuka. Hawa dingin menerpa wajahnya, lebih menusuk dari sebelumnya.
Ardi mulai merasa gelisah. Ia mencoba mencari tahu sejarah rumah itu dari penduduk desa. Orang-orang tua menatapnya dengan pandangan aneh, enggan berbicara banyak. Mereka hanya menyebut “Rumah Beku.”
Ada bisikan tentang keluarga yang pernah tinggal di sana, menghilang tanpa jejak puluhan tahun lalu. Beberapa mengatakan mereka pergi. Lainnya berbisik tentang nasib yang lebih gelap, terperangkap oleh dingin abadi.
Ardi menemukan arsip lama di perpustakaan desa. Rumah itu dulunya milik keluarga Wijaya, yang dikenal tertutup. Pada suatu musim dingin yang parah, mereka lenyap, meninggalkan semua harta benda mereka.
Yang lebih aneh, laporan polisi saat itu mencatat suhu di dalam rumah Wijaya sangat rendah, bahkan di bawah titik beku. Penyelidik menganggapnya anomali, mungkin karena ventilasi yang buruk atau kelembaban ekstrem.
Namun, Ardi tahu itu bukan anomali biasa. Dingin itu hidup. Dingin itu berniat. Semakin ia menyelidiki, semakin dingin udara di sekitarnya. Seolah rumah itu menolak rahasianya digali.
Suatu malam, Ardi tertidur di kursi ruang tamu. Ia terbangun oleh rasa dingin yang membakar kulitnya. Ia melihat embun tipis terbentuk di permukaan meja kayu, seolah ia berada di dalam freezer raksasa.
Sebuah bayangan tipis melintas di ambang pintu dapur. Bukan bayangan manusia, lebih seperti kabut gelap yang bergerak perlahan. Ardi merasakan hawa dingin itu mengikatnya, melumpuhkan otot-ototnya.
Bisikan-bisikan itu kini lebih jelas, membentuk kata-kata samar. “Tinggalkan… kami… sendiri…” Suara itu berdesir, seperti angin yang melewati celah-celah tulang.
Ardi memberanikan diri. Ia mencoba melangkah menuju bayangan itu, tetapi kakinya terasa membeku. Dingin itu seperti rantai tak terlihat, menahan setiap gerakannya. Ia terperangkap dalam teror.
Ia teringat cerita penduduk desa tentang seorang gadis kecil dari keluarga Wijaya. Gadis itu sakit-sakitan, sangat peka terhadap dingin. Ia sering mengeluh tidak pernah merasa hangat di rumah itu.
Konon, gadis itu meninggal di musim dingin yang paling parah, sendirian di kamarnya. Jasadnya ditemukan membeku, bahkan setelah perapian dinyalakan sepanjang hari. Kematian yang misterius.
Apakah dingin ini adalah manifestasi kesepiannya? Ataukah kemarahan dari arwah yang terperangkap? Ardi merasakan sensasi menusuk di lehernya, seolah tangan es mencengkeramnya.
Ia melihat pantulan samar di jendela. Sosok kecil, pucat, dengan mata kosong yang memancarkan dingin tak berujung. Sosok itu perlahan mendekat, setiap langkahnya menghembuskan kabut tipis.
Ardi menjerit, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mencoba merangkak mundur, menjauh dari sosok itu. Ketakutan yang membekukan melumpuhkan seluruh tubuhnya.
Sosok itu berhenti di hadapannya. Hawa dingin yang dipancarkannya kini begitu intens, membuat Ardi kesulitan bernapas. Ia bisa melihat detail wajahnya yang membiru, bibir pucat yang sedikit terbuka.
Bisikan itu kembali, kini lebih jelas, seolah langsung di telinganya. “Kamu… tidak… bisa… pergi…” Suara itu adalah ratapan, isak tangis yang terperangkap dalam es.
Ardi tahu ia harus melarikan diri. Dengan sisa kekuatan yang tersisa, ia mendorong dirinya. Ia berhasil berdiri, terhuyung-huyung, dan berlari menuju pintu depan.
Dingin itu mengejarnya, merayap di kakinya, mencoba menariknya kembali. Ia membuka pintu dengan panik, udara luar yang hangat terasa seperti api yang membakar kulitnya.
Ia terus berlari, tanpa menoleh ke belakang. Menembus kegelapan hutan pinus, hingga mencapai jalan raya. Napasnya terengah-engah, tubuhnya menggigil hebat.
Ia tak pernah kembali ke rumah itu. Kisah tentang rumah kayu yang selalu dingin menjadi legenda di desa. Sebuah peringatan tentang masa lalu yang tak pernah pergi.
Ardi kini tinggal jauh, tetapi dingin itu tak pernah sepenuhnya hilang dari ingatannya. Terkadang, di malam yang hening, ia masih merasakan sentuhan es.
Ia mendengar bisikan samar di sela-sela angin. Sebuah pengingat akan rumah kayu itu, yang tersembunyi di balik pinus. Sebuah misteri abadi yang membekukan jiwa.
Rumah itu masih berdiri, sunyi dan gelap. Menanti korban berikutnya yang mencari ketenangan. Menawarkan dingin yang tak akan pernah bisa dihangatkan.
Dan di dalam sana, di antara dinding-dinding kayu tua, dingin itu terus hidup. Menjaga rahasianya. Selamanya membeku dalam kegelapan yang tak terpecahkan.





