Scroll untuk baca artikel
Provinsi Jawa Barat

Rumah Kayu yang Tetap Berdiri dalam Hujan Lebat

9
×

Rumah Kayu yang Tetap Berdiri dalam Hujan Lebat

Share this article

Rumah Kayu yang Tetap Berdiri dalam Hujan Lebat

Rumah Kayu di Atas Jurang: Kisah Keabadian yang Mengerikan

Angin mendesah seperti bisikan kematian, merayap menembus celah-celah jendela usang. Malam itu, di puncak tebing terpencil, Arya mencari inspirasi untuk novel terbarunya. Namun, yang ia temukan adalah sesuatu yang jauh lebih gelap dari imajinasinya.

Rumah kayu itu, tua dan terpencil, berdiri tegak di tengah kehampaan. Pepohonan di sekitarnya meliuk-liuk seperti penari kesurupan, namun struktur kayunya tetap kokoh. Ada aura aneh, seolah rumah itu menolak tunduk pada waktu atau cuaca.

Arya menyewa rumah itu, tertarik oleh kisah-kisah desas-desus penduduk lokal. Mereka berbisik tentang penghuni sebelumnya yang menghilang, tentang malam-malam badai di mana rumah itu seolah bernapas. Arya, sang penulis skeptis, hanya melihatnya sebagai latar sempurna.

Namun, langit mulai menangis. Tetesan pertama membelah kesunyian, lalu berubah menjadi deru hujan lebat. Petir menyambar, menerangi siluet rumah yang semakin misterius. Hujan itu bukan sekadar air, melainkan amarah alam yang menggelegar.

Arya duduk di dekat jendela, secangkir kopi di tangannya. Ia mengamati badai yang mengamuk, menampar dinding kayu dengan kekuatan brutal. Angin meraung, mencoba merobohkan setiap panel, namun rumah itu tak bergeming.

Biasanya, rumah kayu tua akan mengeluh, berderit, atau bahkan retak di bawah tekanan badai semacam itu. Namun, rumah ini diam. Tak ada goyangan, tak ada erangan. Hanya keheningan yang menakutkan dari dalam, berlawanan dengan kegilaan di luar.

Jam menunjukkan pukul dua pagi. Badai mencapai puncaknya. Arya melihat kilatan petir yang menyambar pohon-pohon di kejauhan, membelah batang tebal. Namun, rumah ini, di atas jurang yang rawan longsor, tetap berdiri tegak tanpa cacat.

Ada sesuatu yang tidak wajar. Arya merasakan dingin yang menusuk, bukan dari suhu, melainkan dari kehadiran tak kasat mata. Seolah-olah rumah itu sendiri adalah entitas hidup, menatap balik badai dengan sorot mata yang tak gentar.

Ia mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin konstruksinya luar biasa. Mungkin kayu yang digunakan adalah jenis langka yang tak lekang. Namun, hatinya berbisik, ada kekuatan lain yang bekerja, sesuatu yang melampaui arsitektur dan fisika.

Arya teringat cerita Pak Karto, penjaga toko desa. Ia pernah berkata, "Rumah itu… ia memilih siapa yang bisa tinggal. Dan ia tidak suka ditinggalkan." Arya mengabaikannya sebagai takhayul, namun kini, kata-kata itu menggema di benaknya.

Cahaya senter Arya menyapu sudut-sudut ruangan. Debu tebal menutupi segalanya, namun tak ada tanda-tanda kerusakan. Bahkan jendela yang menghadap langsung ke badai tetap utuh, seolah dilindungi perisai tak terlihat.

Di tengah badai, Arya memutuskan untuk melangkah keluar, hanya beberapa langkah dari ambang pintu. Dinginnya air hujan langsung merasuk tulang. Ia menatap rumah itu, yang kini tampak lebih menyeramkan di bawah cahaya petir yang sporadis.

Ada kilatan aneh dari salah satu jendela di lantai atas, seperti pantulan cahaya yang bukan berasal dari petir. Arya memicingkan mata, mencoba memahami apa yang ia lihat. Itu seperti cahaya lilin, berkedip pelan, lalu menghilang.

Tidak mungkin ada orang lain di sana. Arya adalah satu-satunya penyewa. Rumah itu sudah kosong selama bertahun-tahun sebelum ia datang. Kecuali, tentu saja, jika Pak Karto tidak berbohong tentang "penghuni" lain.

Arya kembali masuk, napasnya terengah-engah. Jantungnya berdebar kencang. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ilusi optik, pantulan petir yang aneh. Namun, rasa takut yang merayap tidak bisa ia hilangkan.

Ia memutuskan untuk menjelajahi lantai atas. Tangga kayu berderit di bawah langkahnya, namun bukan karena usianya, melainkan seolah menyambut atau memperingatkan. Udara di lantai atas terasa lebih dingin, lebih berat.

Di ujung koridor, ada sebuah pintu yang tertutup rapat. Arya belum pernah membukanya. Konon, itu adalah kamar tidur utama, tempat penghuni terakhir menghilang. Badai di luar semakin mengganas, seolah mendorongnya untuk membuka pintu itu.

Tangan Arya gemetar saat menyentuh kenop dingin. Ia merasakan tarikan aneh, seperti ada sesuatu di baliknya yang memanggilnya. Suara hujan yang menghantam atap kini terdengar seperti bisikan-bisikan yang tak jelas.

Ia memutar kenop, dan pintu itu terbuka dengan enggan, menampilkan kegelapan pekat. Aroma apek, bercampur dengan bau tanah basah dan sesuatu yang tidak bisa ia definisikan, menyeruak keluar.

Arya menyalakan senternya, cahayanya menari di dalam ruangan. Sebuah tempat tidur dengan seprai lusuh, lemari pakaian tua, dan meja rias berdebu. Tidak ada yang aneh, namun ada nuansa yang sangat tidak nyaman.

Kemudian, ia melihatnya. Di dinding di atas tempat tidur, terukir dengan kasar, adalah simbol aneh. Sebuah lingkaran dengan garis-garis yang melengkung ke dalam, seperti mata yang menatap. Simbol itu tampak kuno, hampir primitif.

Arya mendekat, menyentuh ukiran itu. Permukaannya terasa dingin, meskipun ruangan itu tidak. Tiba-tiba, ia mendengar suara. Bukan deru badai, bukan tetesan air. Itu adalah suara desahan, sangat pelan, seolah dari dalam dinding itu sendiri.

Ia melompat mundur, jantungnya berpacu. Suara itu menghilang secepat ia muncul. Arya menyapu senternya lagi, mencari sumber suara, namun tak ada apa-apa. Hanya dinding kayu yang dingin dan simbol aneh itu.

Di luar, badai masih tak henti-hentinya. Rumah itu masih tak bergerak. Arya menyadari sesuatu yang mengerikan: setiap kali badai mencapai puncaknya, sesuatu yang aneh terjadi di dalam rumah. Seolah badai itu adalah katalis.

Arya kembali ke lantai bawah, mencoba menjauh dari kamar itu. Namun, rasa ingin tahu bercampur ketakutan menariknya kembali. Ia mulai percaya bahwa rumah ini tidak hanya kokoh, tetapi juga hidup, dengan kehendaknya sendiri.

Ia membuka buku-buku lama yang ia temukan di perpustakaan kecil rumah itu. Kebanyakan adalah jurnal dan catatan tentang botani, namun ada satu buku dengan sampul kulit hitam tanpa judul. Halaman-halamannya dipenuhi tulisan tangan yang kabur.

Arya membaca sekilas, sebagian besar tentang ritual kuno dan perlindungan terhadap "elemental" dan "kekuatan purba." Ada juga beberapa sketsa, dan salah satunya persis seperti simbol yang ia temukan di dinding kamar atas.

Penulis jurnal itu, seorang wanita bernama Elara, adalah penghuni asli rumah ini. Ia menulis tentang "menjangkar" rumah itu ke bumi, menggunakan energi alam untuk melindunginya dari kehancuran, bahkan dari waktu itu sendiri.

Namun, bagian-bagian terakhir jurnal itu menjadi semakin gila. Elara menulis tentang "pengorbanan" yang dibutuhkan, tentang "perjanjian" dengan entitas yang mendiami tanah itu. Kata-katanya kabur, penuh ketakutan dan obsesi.

"Rumah ini… bukan hanya kayu dan paku," tulis Elara. "Ia memiliki darahku, jiwaku. Ia akan berdiri selamanya, bahkan ketika aku tidak lagi di sini." Kata-kata itu membuat bulu kuduk Arya merinding.

Badai di luar mulai mereda, namun intensitas misteri di dalam rumah semakin pekat. Arya menatap jurnal itu, lalu ke jendela, tempat ia bisa melihat siluet rumah yang menantang badai. Rumah itu memang tidak roboh.

Ia menyadari bahwa Elara tidak menghilang. Ia menjadi bagian dari rumah itu. Jiwanya, atau mungkin esensinya, telah menyatu dengan kayu-kayu tua itu, memberikan kehidupan abadi pada struktur yang seharusnya hancur.

Arya merasakan dingin yang ekstrem dari lantai kayu di bawah kakinya. Ia melihat bayangan bergerak di sudut matanya, terlalu cepat untuk ditangkap. Itu bukan bayangan petir, melainkan sesuatu yang merayap.

Ia menoleh, dan untuk sesaat, ia bersumpah melihat siluet seorang wanita berdiri di pintu kamar atas, menatapnya. Matanya kosong, namun dipenuhi sesuatu yang sangat kuno dan tak terbatas.

Detik berikutnya, bayangan itu lenyap. Arya menggosok matanya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia hanya berhalusinasi, akibat kurang tidur dan ketakutan. Namun, perasaan dingin itu masih ada, menempel di kulitnya.

Badai akhirnya berhenti. Keheningan yang tiba-tiba terasa lebih memekakkan daripada raungan angin. Arya melangkah ke luar, melihat langit yang kini mulai bersih, menampakkan bintang-bintang.

Rumah kayu itu berdiri di belakangnya, tak tersentuh, tak tergores. Tidak ada satu pun tanda badai yang baru saja berlalu. Seolah-olah badai itu tak pernah ada, atau rumah itu mampu menolaknya.

Arya menatap kembali rumah itu, kini dengan rasa hormat yang menakutkan. Ia tidak lagi melihatnya sebagai latar cerita, melainkan sebagai karakter utama yang abadi, terikat oleh perjanjian kuno.

Ia tahu ia harus pergi. Ia tahu ia tidak bisa tinggal. Rumah ini tidak akan membiarkannya menulis. Ia akan menjadi bagian dari kisah rumah itu, terhisap ke dalam misterinya yang tak berkesudahan.

Namun, saat ia berbalik untuk pergi, ia merasakan tarikan yang kuat. Kakinya terasa berat, seolah berakar ke tanah. Bisikan-bisikan dingin merayap di telinganya, memanggil namanya.

Ia menoleh lagi ke rumah itu. Jendela di lantai atas, tempat ia melihat cahaya aneh, kini bersinar samar. Kali ini, ia tidak bisa mengabaikannya. Cahaya itu memanggilnya, mengundangnya kembali.

Rumah itu tidak akan membiarkannya pergi. Ia telah memilih Arya. Dan di tengah fajar yang mulai menyingsing, Arya tahu bahwa ia akan menjadi penghuni baru dalam kisah keabadian yang mengerikan ini.

Mungkin, suatu hari nanti, di tengah hujan lebat lainnya, rumah kayu itu akan tetap berdiri, menantang badai, sementara jiwa Arya, sama seperti Elara, akan menjadi bagian dari setiap kayu dan setiap bisikan anginnya.

Rumah Kayu yang Tetap Berdiri dalam Hujan Lebat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *